
Cia yang begitu terkejut setelah mendengar suara yang berhasil membuat bulu kuduk Cia merinding tak karuan. Dengan cepat Cia berlari tanpa menoleh ke arah belakangnya.
Kaki Cia tersandung oleh kakinya sendiri membuatnya terhempas ke lantai dengan sangat keras.
Bruak
Tubuh Cia ambruk di lantai mewah berukuran besar dan berkilau membuat dagunya juga terhempas ke lantai dengan sangat keras.
"Astaga!!!" teriak Naini begitu sangat terkejut melihat tamu dengan paras cantik itu yang kini bertiarap di lantai seperti cicak yang terhempas ke lantai.
"Non nggak apa-apa?" tanya Naini cepat sambil berlari mendekati Cia yang masih bertiarap.
Naini berlutut lalu menatap cemas kepada Cia yang meringis kesakitan. Dagunya terasa ngilu setelah terbentur di lantai.
"Non nggak apa-apa?"
Cia menoleh menatap Naini. Cia ingat betul dengan wanita itu, wanita yang berseragam hitam yang telah memberikannya segelas teh di ruang tamu.
Cia bangkit dari lantai di bantu oleh wanita itu, yah jujur rasanya Cia ingin menangis tapi Cia malu jika, harus menangis di depan wanita itu. Jika saja Cia ada di rumah dan jatuh ke lantai seperti ini sudah pasti Cia akan menangis keras dan memanggil nama Devan.
"Non nggak apa-apa?" Tanya Naini khawatir.
Cia menggeleng cepat berusaha memberi tahu wanita yang menatapnya cemas itu jika, ia sedang baik-baik saja, tetapi wajah Cia nampak menahan ringis kesakitan seakan mengatakan jika, dia sedang kesakitan.
"Non mau kemana?"
"Sa...saya mau ke toilet, Bu."
"Oh, ke toilet, sini Non biar saya antar."
Naini yang berniat berpaling kini menatap dagu gadis itu yang nampak memerah dan berdarah, mungkin karena terbentur di lantai.
"Itu dagunya kenapa?" Tunjuknya.
"Aa?" Tatap Cia heran.
"Itu dagunya berdarah gitu, mungkin karena jatuh tadi, mau saya obati?"
Cia yang mendengar perkataan wanita itu dengan cepat menyentuh dagunya dan benar saja dagunya terasa sakit dan terdapat bercak darah di ujung jarinya yang telah menyentuh dagunya.
"Saya obati, yah?"
"Nggak usah!" jawab Cia cepat.
"Beneran nggak usah?"
Cia mengangguk menyakinkan.
"Ya sudah, mari saya antar ke toilet!"
Cia mengangguk diiringi senyuman dari bibirnya lalu menatap wanita yang kini melangkah membuat Cia mengikut di belakang wanita itu. Jujur saja Cia sangat malu setelah kejadian tadi di mana ia jatuh ke lantai seperti buah nangka busuk yang jatuh ke tanah.
Memalukan!
Cia yang masih melangkah itu kini menyentuh dagunya yang kini semakin terasa sakit membuatnya mendesah sakit.
"Nama kamu siapa?"
"Cia," jawabannya singkat.
"Cia?" Naini terheran lalu menghentikan langkahnya hingga keduanya berdiri sejajar.
"Em, maksudnya Ashia Akankasha, kalau nama Cia itu panggilan di rumah," jelas Cia membuat Naini mengangguk.
"Nama panggilan rumah kamu lucu sekali." Naini tertawa lalu mencubit gemas pipi Cia membuat wajah Cia sedari tadi meringis kini berubah menjadi datar mendapati cubitan gemas dari seorang wanita yang telah berumur.
Langkah Cia seketika terhenti membiarkan wanita itu melangkah meninggalkannya. Cia dengan perlahan tersenyum lalu menyentuh pipin bekas tangan wanita itu. Cia ingin menangis, baru kali ini ada yang memperlakukannya seperti ini.
"Kenapa?"
Cia tersadar dari lamunannya menatap Naini yang kini menatapnya. Cia menggeleng lalu segera melangkah mendekati Naini.
Cia tersenyum, yah nama lucu ini adalah pemberian dari Devan. Cia sering bertanya mengapa namanya adalah Cia sedangkan nama lengkapnya adalah Ashia. Lebih parahnya lagi dengan santai Devan mengatakan jika, namanya itu sudah bagus dan bahkan Devan mengatakan kepada Cia jika, dulu Devan berniat untuk memberinya nama Abdul.
"Nama ibu siapa?"
Naini menoleh lalu memelangkan langkahnya membuatnya kini melangkah beriringan dengan Cia.
"Nama saya Naini."
Cia mengangguk sembari tersenyum.
"Oh, iya toiletnya ada di sebelah sana!" Tunjuk Naini ke arah pintu megah.
Cia melongo. Apa benar ini toiletnya? Dasar gila pintu semegah itu dijadikan pintu toilet? Cia sama sekali tak mengerti mengapa ada orang kaya yang segila ini menjadikan pintu megah berwarna kuning emas dengan motif indah bertabur serbuk emas menjadi pintu toilet.
"Saya tinggal dulu, yah."
Cia mengangguk diiringi senyuman dari bibirnya sambil menatap naini yang kini melangkah pergi.
"Aduh." Cia berlari ke dalam toilet seakan tak sanggup lagi menahan pipisnya yang membuat bagian bawah perutnya seakan terasa sakit.
5 menit kemudian...
Cia menatap dagunya yang kini terlihat membiru dan darahnya yang telah mengering di permukaan cermin yang berukuran besar. Jika Devan melihat dagu Cia seperti ini pasti Devan akan menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.
Cia juga bodoh mengapa Cia harus lari ketika Naini menepuknya dan mengira Naini adalah sosok hantu yang menakutkan.
"kurang ajar!!!"
Cia menoleh ke arah pintu ketika Cia mendengar suara gadis dengan nada marah di luar toilet, mungkin itu Naini tapi suaranya terdengar berbeda.
"Awas ajah kamu, yah!"
Suara itu terdengar mendekat membuat cia berlari dan bersembunyi di balik vas besar, mengenai dengan vas besar dan megah ini Cia tak tau mengapa ada vas besar di dalam toilet.
Kadang orang kaya itu agak sedikit gila.
Seorang wanita melangkah masuk ke dalam toilet dan berdiri tepat di depan cermin tanpa menyadari ada Cia di balik Vas besar yang tak jauh darinya.
Cia menyipitkan matanya menatap wanita ini yang ternyata bukan Naini. Seragam hitam yang wanita ini pakai sama dengan seragam yang Naini pakaian, mungkin wanita ini adalah pembantu di rumah pemilik mall Brahmana tapi mengapa wanita ini terlihat sangat marah.
"Dasar bodoh!!!" teriak wanita itu.
"Berani-beraninya dia meludah di wajah ku? Haaaaaa!!!" teriak wanita itu membuat Cia terheran.
Cia yang masih bersembunyi di belakang vas itu hanya mampu memikirkan siapa yang telah meludahi wanita itu. kalau Cia yang diludahi pasti Cia akan menghajarnya habis-habisan.
Wanita itu meraih cambuk dari sudut ruangan toilet tak jauh dari cermin membuat Cia terbelalak.
Sejak kapan ada cambuk di sana?
"Lihat saja! aku akan mengajarkanmu cara sopan santun yang baik, dasar wanita gila."
Wanita itu melangkah keluar dari toilet membuat Cia melangkah keluar dari balik vas besar yang menjadi tempat persembunyiannya.
Entah kemana wanita itu pergi dan untuk apa cambuk itu? Mata Cia seketika terbelalak. Apakah dia akan mencambuk orang yang telah meludahinya tapi apakah harus dicambuk dengan cambuk yang berukuran panjang? Mengapa tidak dibicarakan dengan baik-baik?
Cia berlari keluar toilet menatap wanita berseragam hitam yang belum melangkah jauh darinya. Cia terus mengikuti ke mana wanita itu pergi dengan cambuknya yang kini di sembunyikan di balik tubuhnya.
Wanita itu menghilang dari balik sudut tembok lorong di ujung ruangan membuat Cia kebingungan, entah kemana dia pergi. Cia dengan rasa penasaran berlari mengikuti wanita itu dengan langkah yang diusahakannya tak bersuara.
Mata Cia terbelalak menatap anakan tangga yang begitu gelap. Apakah ini tangga bawah tanah tapi mengapa wanita itu pergi ke tempat ini dan membawa cambuk? Mungkin sebaiknya Cia tak turung ke bawah sana. Dengan langkah pelan Cia memutar tubuhnya berniat melangkah pergi dan mengurungkan niatnya untuk melihat apa yang wanita itu lakukan di bawah sana.
"Aaaaaaaaaa!!!" jeritan wanita terdengar begitu menggelegar membuat Cia menoleh setelah mendengar teriakan seorang wanita yang sepertinya berasal dari bawah, tapi mengapa wanita itu menjerit seperti orang yang sedang kesakitan?
Langkah Cia dengan perlahan dan rasa cemas menggerakkan kakinya pelan menyentuh anakan tangga tanpa bersuara sedikitpun.
"Cia!"