Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 67



"AAAAAAAA!!!" Pria bertubuh besar itu berteriak di hadapan Devan dan Cia sembari memperlihatkan otot tangannya yang sangat besar menunjukkan kekuatannya kepada Devan dan Cia yang kini terbelakkan kaget.


Apa yang dia lakukan?


Bruak


Batu bata itu hancur seketika di hantam pukulan keras dari tinju pria berotot itu.


"Hahhhhh!!!" pria itu menghembusankan nafas berusaha mengatur nafasnya dengan hembusan nafas yang terdengar seperti berteriak.


Cia terbelalak setelah menatap pria itu. Oh tuhan bukan ini yang Cia butuhkan diacara ulang tahun Loli.


Cia menoleh menatap Mamat yang nampak menganga setelah melihat aksi ekstrim tersebut. Bahkan Mamat saja melongo melihat ini.


"Mat!" panggil Cia membuat Mamat menoleh.


"Bagaimana?" bisik Mamat membuat Cia menggeleng.


"Ok selanjutnya!!!" teriak Mamat.


Cia menghembuskan nafas berat seakan tak sanggup lagi untuk menghadapi tingkah-tingkah pria yang mendaftarkan diri untuk menjadi pacar sementara Cia. Tak ada satu pun yang dapat menyita perhatian Cia, tak ada pria satu pun yang dapat menjadi tipe yang cocok untuk Cia bawah ke ulang tahun Loli.


Cia menggeleng lelah. Entah berapa ratusan kali Cia menggeleng untuk menolak pria-pria yang telah dengan susah payah meyakinkan Cia dan menujukkan segala kelebihannya di hadapan Cia.


Kelebihan yang mereka tunjukkan berbeda-beda, ada yang menyanyi dengan suara cemprengnya, ada yang mengaji, ada yang menari ala-ala Korea, ada yang sulap, karate dan masih banyak lagi.


Jujur Cia hanya mencari pria tampan dengan pesona yang mengoda untuk membungkam mulut Loli, tapi melihat ini semua rasanya sulit untuk mendapatkan pria seperti yang Cia inginkan. 


"Ok selanjutnya!!!" teriak Mamat dengan suara yang sudah serak.


Tak lama kemudian Jojon berlari masuk sambil tersenyum menatap Cia dan Devan sementara Mamat nampak mengkerutkan alisnya kebingungan.


"Jon lo ngapain sih? Cepetan panggil peserta nomor urut 140!" pintah Mamat dengan wajahnya yang begitu lemah.


"Nah ini!" tunjuk Jojon sambil membentangkan nomor urut 140 yang terpasang di bajunya menunjukan Jojon juga telah mendaftar untuk menjadi pacar Cia.


"Ngapain sih lo, Jon?" tatap Mamat dengan wajah begitu lemas.


"Loh, kok nanya sih? Mau jadi pacar Cia dong, iya kan Dek Cia?" jawab Jojon semangat lalu menatap Cia sambil mengedipkan sebelah matanya. 


Cia menghela nafas lalu menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


"Gimana Dek Cia?"


"Gue tolak!!!" Jawab Cia dengan teriakannya membuat Jojon tersentak kaget.


"Loh kok gitu sih, Dek Cia?"


"Tuh dengar tuh, Jon!" ujar Mamat sambil menarik telinga Jojon membuat Jojon menepis tangan Mamat dan melototinya.


"Jangan gitu dong Ci! Kakak Jojon udah capek nunggu loh dari sore sampai tengah malam begini."


"Lo emangnya bisa apa diacara ulang tahun temen gue?" tanya Cia dengan wajah bosan menatap Jojon yang kini tersenyum semangat.


"Kakak Jojon bisa ngegombal, Dek Cia."


"Gue butuh yang ganteng!" ujar Cia.


"Nggak perlu ganteng yang penting bisa ngegombal, Dek Cia, Iyakan Mat?" ujar Jojon sembari mengangkat sebelah alisnya menatap Mamat.


Jojon tertawa lalu menghentakan ujung sepatu ikatnya. Jojon mengusap jambul cetar membahananya yang cukup tinggi sambil tersenyum sok ganteng.


Cia menopang dahinya tak sanggup menghadapi perkataan bodoh Jojon yang mengatakan jika tubuh Cia bau bunga mawar, apa lagi Jojon mengibaratkannya seperti bunga mawar Mita, si janda itu.


"Dek Cia maukan terima kakak Jojon sebagai pacar, yah walaupun hanya satu hari? Yah nggak papa sih, tapi mana taukan Dek Cia nyaman sama Bang Jon dan kita bisa pacaran terus. Ah cie...cieeeee...Cieeee!!!" teriak Jojon sambil mencolek lengan Mamat.


"Ngapain sih lo? kayak orang gila!" Sorong Mamat.


"Dek Cia di luar tinggal satu peserta lagi loh, mending pilih Abang Jojon Ajah!" ujar Jojon lagi dengan nada hasutnya.


"Nggak!!!" terial Cia cepat.


"Loh kok gitu sih, Dek Cia sama Bang Jojon? Dek Cia mau, yah, yah?!"


"Heh!!! Jon!!!" teriak Mamat membuat Jojon menoleh menatap Mamat.


"Ngapa sih lo?"


"Jon!!! Nih, yah lo denger baik-baik! Menurut buku trisakti perbengkelan pasal delapan ayat tujuh, peserta dilarang memaksa!" jelas Mamat.


"Ok selanjutnya!!!" teriak Mamat.


"Aaaaaa!!!" teriak Jojon dengan nada serak yang menangis setelah mendengar hal tersebut membuatnya segera berlari dan memeluk kaki Cia yang terbelakkan kaget.


"Dek Ciaaaa!!! Tolong terima Bang Jojon menjadi pacar Cia! Satu hari ajah nggak apa-apa, kalau selamanya juga nggak apa-apa kok!!!" teriak Jojon yang masih memeluk kaki Cia.


"Nggak gue nggak mau!!!" teriak Cia.


Mamat menghela nafas dan segera berlari keluar ruangan dan kembali masuk bersama Tara dan Deon.


"Cepetan bawah Jojon keluar!" pintah Mamat sembari menunjuk membuat keduanya berlari dan menarik Jojon keluar.


"Dek Cia!!! Terima Abang, Dek!!! Di luar sisa satu lagi!!!" teriak Jojon.


Cia terdiam. Kini sisa satu peserta di luar sana. Cia berharap semoga saja peserta yang terakhir ini merupakan tipe Cia yang memiliki wajah tampan seperti yang Cia inginkan.


"Nak Cia!!!" teriak pria tua berbaju kokoh putih panjang berlari masuk kedalam ruangan.


Cia terbelalak begitu tak menyangka jika peserta yang terakhir itu adalah pak Haji Sulaiman, Ayah Adam.


"Nak Cia pilih saya saja!!!" teriak Pak Aji Sulaiman mengengam jari-jari Cia.


Devan tertawa tak mampu menahan tawa melihat wajah Cia yang nampak kebingungan tak tau harus berbuat apa. Jujur Cia ingin memukul pria tua ini karena telah berani memegang jari-jari Cia tapi pria ini adalah Pak haji sulaiman, Ayah Adam.


"Abiiiiiiii!!!" teriak Adam sambil berlari mengejar Ayahnya lalu menarik tangan Ayahnya itu dengan kuat setelah berhasil menggapainya.


Adam tak menyangka jika ayahnya juga mendaftar dan berniat menjadi pacar Cia, yah walau hanya sementara tapi Adam tak mungkin membiarkan Ayahnya berulah.


"Pilih saya saja, yah?!!!" teriak Pak haji sulaiman lagi.


"Hahaha!!!" Tawa Devan mengelegar di dalam ruangan sementara Mamat melipat bibirnya ke dalam berusaha menahan tawa.


Cia yang mendengar tawa Devan langsung menoleh menatap Devan dengan tatapan tajam. Bisa-bisanya Devan tertawa saat Cia dalam sebuah masalah yang harus membawanya berhadapan dengan pria tua, rambut beruban dan peci haji yang selalu ada di kepalanya.


Cia yang berniat ingin memarahi Devan mendadak diam ketika ia menatap wajah Devan yang nampak begitu tampan di sana, gigi Devan yang putih, lesung pipinya, mata yang indah, hidung yang mancung dan semuanya.


Ini yang Cia cari.


"Cia udah dapet pacar!!!" teriak Cia membuat mereka semua terdiam.


Siapa pacar Cia?