Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 37



Adelio terdiam. Jujur Adelio juga tak tau bagaimana bisa ia bertanya banyak seperti itu kepada Cia. Biasanya adelio hanya banyak bicara dengan orang yang sangat dekat saja. Apakah Adelio sudah merasa nyaman dengan Cia tapi, bagaimana bisa Adelio nyaman dengan seseorang yang hanya dalam waktu tiga hari saja.


"Masih mending gue ngeidolain si Ogi dari pada si Fika yang ngeidolain oppa Korea."


"Cia!"


Cia dan Adelio menoleh menatap mang Adang yang berdiri di depan meja sambil memegan buku dan pulpen bertinta hitam. Cia begitu terkejut melihat Mang Adang yang memegang buku catatan pinjam kantin, ini sudah jelas jika, Mang Adang akan menagih utang bakso.


"Bayar pinjam, Ci!"


"Aa?" Tatap Cia sok polos dan tak tau apa-apa.


Betul saja dugaan Cia jika, Mang Adang kini menagih utang kepadanya. Entah apa yang Cia harus lakukan sekarang sementara Cia tak punya uang banyak di saku bajunya.


"Utang bakso lu bayar!" Jelas Mang Adang lagi.


"Be...be...berapa Mang Adang?" Tanya Cia ragu.


"Lima juta doang kok."


"Hah!!!" Tatap Cia tak percaya.


Jujur Cia tak menyangka jika, utangnya akan sebanyak itu di kantin. Lima juta itu bukan jumlah yang sedikit. Dengan lima juta Cia bisa membeli gaun kuning emas di mall brahmana yang Cia lihat kemarin.


Adelio terbelalak mendengar jumlah utang yang pria berkumis itu katakan kepada Cia. Bagaimana bisa seorang murid bisa mempunyai utang bakso sebanyak itu.


"Gila Banyak banget!"


"Kok bisa sih?" Bisik gadis-gadis yang mendengar ucapan Mang Adang.


"Kok banyak banget?" Tanya Cia lagi.


"Gimana nggak banyak Cia orang utang lu dari kelas satu SMA sampai sekarang belum lo bayar," jelas Mang Adang.


"Yang bener Mang?" Cia menatap tak percaya lagi.


"Gimana? mau di bayar sekarang?" Mang Adang terseyum.


Cia menghembuskan nafas berat lalu tak sengaja melihat Ogi yang kini melangkah pergi bersama para sahabat-sahabatnya. Cia baru ingat jika, hari ini jadwal Ogi bermain bola basket.


"Eh... hehehe, gini ajah deh Mang Adang, Cia janji bakalan bayar taaaaapiiiiii-"


"Emm, tapi?"


"Emm, hehehe, Cia nggak bawa duit, hahaha gimana dong?" Cia sedikit tertawa lalu menatap Mang Adang yang nampak terdiam sementara Adelio juga nampak terdiam menatap Cia yang tertawa sendiri. Cia kembali terdiam lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Huh, pokoknya elu harus bayar!" Tegas Mang Adang.


"Oh, gitu yah," ujar Cia lalu meraih pergelangan tangan Adelio dan mengajaknya untuk berdiri dari kursi.


Adelio menoleh menatap Cia yang nampak mengedipkan sebelah matanya seakan memberi kode kepada Adelio tapi, jujur Adelio masih tak mengerti.


"Lari!" Bibir Cia bergerak tanpa mengeluarkan suara membuat Adelio menganga masih tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Cia.


"Mau kemana kalian?" Tanya mang Adang yang menatap Cia dan Adelio yang kini berdiri.


"Lari!!!" Teriak Cia menarik kuat tangan Adelio yang kini juga ikut berlari.


"Heh, berhenti kalian!!!" Teriak Mang Adang sambil menunjuk ke arah Cia dan Adelio yang nampak berlari keluar dari kantin .


Semua murid-murid yang ada di kantin melongo menatap kejadian itu.


Lari Cia begitu sangat kencang menuruni tangga lantai satu sambil terus menarik pergelangan tangan Adelio. Nafas Cia ngos-ngosan berlari keluar dari pintu utama kantin sementara semua murid-murid menatap heran kepada Cia yang berlari dengan seorang pria yang mereka belum kenal. Entah masalah apa yang Cia hadapi sehingga harus berlari seperti itu. Mereka semakin terheran ketika Mang Adang yang ikut berlari sambil meneriaki nama Cia. Ada masalah apa lagi yang Cia perbuat sehingga harus dikejar seperti seorang pencuri.


Keringatnya bercucuran membasahi dahinya yang mulus sementara Adelio juga ikut berlari degan nafas yang sudah ngos-ngosan sambil sesekali menoleh memastikan Mang Adang tak mengejar mereka lagi.


"Cia orangnya ngejar!!!" Teriak Adelio panik lalu berlari paling depan dan menarik tangan Cia.


Cia menoleh cepat lalu betul saja nampak di belakang sana Mang Adang mengejar dengan wajah yang pucat di sana.


Lari Adelio memelan di samping gudang sekolah, jujur Adelio hanya ingat dengan gudang sekolah pasalnya Adelio pernah dihukum bersama Cia untuk membersihkan gudang sekolah.


Cia terdiam sambil berusaha mengendalikan nafasnya yang ngos-ngosan itu. Cia menelan ludah di tenggorokannya yang mengering dan kembali mengendalikan nafasnya yang masih ngos-ngosan itu.


"Ci kita-"


"Hussst !" potong Cia sambil meletakkan jari telunjuknya di depan hidungnya sambil terus menatap di balik semak-semak.


Adelio terdiam menatap pipi kiri Cia yang begitu dekat dengannya. Baru kali ini Adelio begitu dekat dengan seorang gadis yang hanya berjarak lima centi saja.


"sadar Adelio! kamu sudah janji sama Harni untuk tidak terlalu dekat dengan seorang gadis di Jakarta!"


Adelio bangkit dari semak-semak ketika ia teringat dengan hal itu membuat Cia mendongak ke atas menatap Adelio.


"Jongkok bego! nanti lo di liat sama Mang Adang!"


"Mang Adang udah nggak ada!"


Cia bernafas lega lalu ikut bangkit dan berdiri di samping Adelio yang masih berkeringat.


"Kenapa harus lari?"


"Gue nggak bawa duit."


Cia menghela nafas sambil menopang pinggang.


"Gila gue nyangka kalau utang gue sebanyak itu," ujar Cia sambil mengeleng masih tak percaya.


"Kira-kira Devan marah nggak yah kalau, gue kasih tau utang gue lima juta?"


Cia tersadar dari lamunannya menatap Adelio yang kini melangkah pergi.


"Heh tungguin gue!!!" Teriak Cia.


...____****____...


Cia duduk menatap pak Yanto yang nampak menjelaskan materi matematika di papan tulis. Cia menghembuskan nafas berat, rasanya duduk berlama-lama itu melelahkan ditambah lagi harus berhadapan dengan guru paling galak di sekolah.


"Kira-kira Devan ngasih gue duit nggak yah buat bayar utang? kalau, misalnya gue nggak bawa duit dan bayar utang pasti mang Adang bakalan ngejer gue kayak tadi."


"Apa gue minta duit ajah yah sama mama tapi, pasti mama bakalan ngasih tau Devan kalau gue minta duit sebanyak itu."


"Atau gue minta duit aja sama si Yuang atau si Mamat? Yah tapi, nggak mungkin mereka pasti ngadu"


"Aaaaaaaa!!!!!" Teriak Cia.


Semua menoleh menatap Cia yang kini menganga menatap ke sekeliling. Cia benar-benar bodoh dan benar-benar lupa sehingga tak sengaja berteriak ketika Pak Yanto yang berada di dalam kelas dan sedang menjelaskan materi.


"Kamu Kenapa?" Tanya Pak Yanto sambil melangkah mendekati Cia.


"Sa...sa...saya-"


"Kamu ngantuk, hah?" Pak Yanto melotot.


"E...e...enggak, Pak!"


"Terus?"


"A...a...anu Pak, sa...saya itu Pak-"


Bruak


Cia tersentak kaget ketika Pak Yanto memukul meja dengan keras hingga berhasil membuat Cia memejamkan kedua matanya lalu mengigit pelan bibir bawahnya.


"Kalian saya hukum!!!" Teriak Pak Yanto.


Alis Cia mengekerut mendengar kata 'kalian' yang baru saja Pak Yanto ucapakan.


"Sama siapa pak?" tanya Cia kebingungan.