Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 119



Devan menoleh menatap seorang gadis yang berdiri paling depan di antara gerombolan orang-orang yang nampak menatapnya. Devan tersenyum menatap Cia yang kini berdiri dari kejauhan.


Semua orang yang berada di belakang Cia kini terbelalak kaget menatap kedatangan pria tampan yang kini sedang berlari.


"Oh my Goat!" Tatap Faririn kagum sambil memegang pipinya seakan membayangkan seorang pangeran yang berlari ke arahnya dengan begitu sangat gagah. Apa ini sebuah mimpi?


Cia sama sekali tak menyangka jika Devan akan datang ke sekolah. Bagamana bisa Devan punya nyali sebesar itu hingga mau datang ke sekolah. Apakah ia lupa jika dia hampir mati setelah dikejar oleh ribuan gadis. Dasar Bodoh!


Tak berfikir panjang Cia segera berlari menghampiri Devan yang masih berlari ke arahnya.


"Ciaaa!!!" teriak Devan ngos-ngosan setibanya ia di depan Cia yang kini menatap Devan tajam.


"Lo ngapain ke sini?" tanya Cia cepat sementara ribuan gadis-gadis masih berlari ke arah mereka berdua.


"Cia...Ci...Ci...Ci, gue...gue-"


"Apaan sih lo? Lo mau ngapain ke sini? Hah?" cerocos Cia dengan tatapan tajamnya.


"Lo mau mati? Hah?"


"Lo nggak ingat kejadian yang kita dikejar sama mereka?"


"Lo emang suka dikejar-kejar atau gimana sih?"


"Lo mau mati dicium sama mereka? Hah?"


"Gu...gu...gue-"


"Hah apa?" potong Cia.


Oceh Cia cepat tanpa menunggu Devan berkata lagi dengan wajah yang ngos-ngosan itu.


"Bos Ceo!!!" teriak Tara.


Cia dan Devan dengan cepat menoleh menatap Tara yang kini berlari ketakutan berusaha menjauhi kerumunan itu yang semakin mendekat.


"Bos Ceooo!!! Saya takut bos!!!" teriak Tara yang kini menggeliat di lengan Devan degan suara tangisan.


Devan tak menyangka jika Tara si galak dan tubuh kekarnya serta tampan preman itu bisa menangis dengan wajah ketakutan hanya karena gerombolan gadis-gadis yang kini semakin mendekat. Betul pikir Devan jika serangan gadis lebih menakutkan.


"Apaan sih lo?" tanya Devan dengan wajah tak senangnya.


"Van! Lo ngapain sih ke sini?" tanya Cia.


"Gue datang ke sini itu karena terpaksa. Nih, ini tugas kelompok lo. Lo lupa ambil di atas meja," ujar Devan cepat menyerahkan gulungan kertas itu ke tangan Cia.


"Ceoooo!!!"jerit mereka setibanya di tempat Devan berdiri.


"Eits!" teriak dan tahan Cia cepat lalu berdiri melindungi Devan yang kini bersembunyi di balik tubuh Cia.


"Apa sih lo, Cia?"


"Iya, apa sih? Ganggu aja!"


"Minggir Cia!!!" teriak mereka.


Cia yang berdiri dengan merentangkan tangannya berusaha melindungi Devan yang kini berada di balik tubuhnya.


"Lo... lo jangan sentuh pacar gue!" teriak Cia ketakutan.


"Minggir Cia!!!"


"Iya, minggir, Ci!!"


"Ini bukan urusan lo!"


Amuk mereka.


"Ya, kalian semua nggak bisa kayak gitu dong!"


"Ini sama aja dengan penyiksaan!"


"Penyiksaan?"


"Penyiksaan apa sih, Cia?"


"Iya, kita nggak siksa kok."


"Kita cuman mau minta foto." Suara teriakan itu yang terdengar.


"Ini itu penyiksaan. Kalian lupa kejadian yang kalian ngejar-ngejar pacar gue sampai baju yang dia pakai sobek dan kotor? Itu bukan penyiksaan menurut kalian?"


Semuanya kini terdiam, tak ada suara teriakan di sana, sementara Cia kini sedang mengatur nafas dan detak jantungnya yang tak beraturan.


"Kalian bisa aja dipenjara atas gangguan kenyamanan seseorang."


"Coba bayangin kalau pacar lo dikejar-kejar kayak gitu? Kalian semua nggak bakalan marah atau bahkan malah risih?"


"Kalian semua nggak bisa apa? Bersikap biasa aja sama pacar gue?"


"Tapi Cia, masalahnya pacar lo itu terlalu ganteng!!!" teriak siswi paling belakang disusul teriakan dan sorakan tanda setuju membuat Cia mendecapkan bibirnya karena kesal.


"Kalau misalnya kalian tahu yang sebenarnya, kalian bakalan nggak suka sama pacar gue," ujar Cia.


Semuanya kini terdiam dengan saling bertatapan menanyakan perkataan yang baru saja Cia katakan.


"Lo nggak tau kan kalau sebenarnya Ceo itu...." Ucapan Cia terhenti memikirkan sesuatu.


Semuanya terdiam menanti Cia yang kini masih berfikir keras mengenai ucapannya itu. Tuhan tolong bantu Cia! Cia kini menoleh menatap Devan yang masih memasang wajah panik serta Tara yang kini telah menangis sambil memeluk lengan Devan persis seperti anak kecil.


"Kalau...Em, kalau sebenarnya pacar gue ini penyakitan!!!" teriak Cia asal-asalan.


Semuanya nampak terkejut dengan apa yang baru saja Cia ucapakan kepada mereka.


"Penyakitan?" Tatap Devan tak mengerti.


Devan menarik lengan Cia dan menatapnya penuh makna.


"Maksud lo apaan? Gue sakit apa?" bisik Devan.


"Lo diam aja!" bisik Cia dengan mata melotot, ia benar-benar sedang mengancam Devan.


"Sakit?"


"Sakit apa, Ci?"


"Iya sakit apa?" tanya mereka prihatin lalu segera melangkah mundur Seakan percaya dengan ucapan bohong Cia.


"Dia..." Cia menoleh menatap Devan yang masih menatapnya dengan tatapan kebigungan.


"Em, dia... dia sakit gatel siluman monyet!!!" teriak Cia berhasil membuat mereka terkejut lalu dengan cepat melangkah mundur.


"Monyet?" Tatap Devan yang lebih terkejut.


Cia menoleh menatap Devan dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Devan agar Devan berbuat sesuatu.


"Apa?" tanya Devan dengan bisikannya


Cia membulatkan matanya seakan mengancam Devan. Bola mata Cia bergerak-gerak seakan memberikan kode agar Devan segera berbuat sesuatu. Perlahan Devan menganggukkan kepalanya lalu segera menggaruk tubuhnya itu persis seekor anak monyet.


"Aduh! Hu hu hu hu!!!" jerit Devan sambil menggaruk tubuhnya seperti seekor monyet.


"Nah ini! Penyakitnya kambuh?" Tunjuk Cia dramatis.


Semuanya nampak begitu syok membuat langkah mereka semakin menjauhi Devan.


"Kalian kalau dekat-dekat sama dia bisa ketularan!" tambah Cia.


"Nah jadi kayak gini nih!" Tunjuk Cia ke arah Tara yang nampak kebigungan.


Semua orang kini menoleh menatap Tara, pria tinggi, berotot, bertubuh besar, berambut gondrong dan suara besar.


"Ini udah setengah monyet ini." Tunjuk Cia lagi.


Semuanya kini menatap Tara yang nampak terdiam dengan tatapan bodohnya. Cia kini menyikut perut Tara agar berbuat sesuatu.


"Uwo Hu Hu Hu Hu Hu!!!" teriak Tara sambil memukul dadanya yang lebih mirip dengan induk kingkong yang mengamuk.


Semuanya kini nampak ketakutan lalu semakin melangkah mundur untuk menjauhi Cia, Tara dan Devan.


"Tunggu apa lagi? Ayo lari!!!" teriak Cia.


Gerombolan gadis-gadis itu langsung berlari entah kemana menjauhi Devan. Cia dan Devan kini tersenyum, akhirnya cara Cia berhasil membuat mereka tak mengejar Devan lagi.


"Uwo Hu Hu Hu!!!" teriak Tara masih memukul dadanya.


Plak


Pukulan keras kini menghantam kepala Tara cukup keras dengan tangan Devan. Tara kini tersentak lalu menoleh menatap Devan, Cia dan semua gerombolan siswa dan siswi kelas XII IPA A yang nampak berdiri di pintu masuk dengan tatapan serius.


"Yuk balik!!!" ajak Devan singkat lalu beranjak pergi.


Tara menggaruk kepalanya dengan wajah kebigungan. Kini ia menoleh menatap gerombolan siswa dan siswi yang kini masih menatapnya, termasuk Cia.


"Hu hu huh hu!!!" teriak Tara sambil memukul dadanya layaknya seekor kingkong membuat semua orang terkejut dan menjerit ketakutan sementara Cia kini memasang wajah datar membuat Tara menghentikan gerakkannya.


"Taraaa!!!" teriak Devan.