
Cia menghembuskan nafas lega, ternyata yang Fika maksud itu adalah dokter Yusuf, untung saja bukan Devan.
"Iya itu Ayah gue," jawab Cia terseyum.
"Terus Ayah lo di mana?" tanya Faririn tanpa dosa.
Yuna degan cepat menyikut perut Faririn mengigatkannya jika Ayah Cia telah meninggal dunia sudah lama. Faririn hanya melotot sambil menahan sakit di perutnya.
"Emang kenapa?"
"Kok lo ngomong gitu?" bisik Yuna penuh tekanan.
"Kenapa sih?" bisik Faririn.
"Lo lupa? Ayah Cia kan udah meninggal?"
Faririn mengigit bibirnya menyesal setelah apa yang baru saja ia katakan kepada Cia.
Cia mengintip menatap bengkel yang nampak ramai dari kejauhan. Sejak tadi Cia tak melihat Devan di sana, di sana hanya ada montir-montir bobroknya yang tengah bekerja memperbaiki kendaraan.
"Cia!!!" teriak Fika yang nampaknya sudah sejak tadi memanggil Cia yang memperhatikan sesuatu dari balik jendela.
"Hah?" kejut Cia kebingungan.
"Lo kenapa sih?" tanya Fika menyentuh bahu Cia pelan.
Cia terdiam sejenak, memikirkan sesuatu. Jika teman-temannya ada di ruang tamu mungkin Devan akan melihat teman-teman ketika Devan pulang dari bengkel.
"Emm kita ke kamar gue aja yuk! Yuk! Yuk!" ajak Cia memaksa sambil menarik pergelangan tangan Fika dan sesekali menarik satu persatu pergelangan tangan Yuna, Faririn dan Adelio.
"Nggak usah Ci! Kita di sani aja," tolak Fika.
"Iya Cia, di sini juga empuk," tambah Faririn sambil menghempas-hempaskan pantatnya ke sofa membuat Yuna dan Adelio beberapa kali tersentak-sentak.
"Aduh nggak usah!" Tarik Cia ke pergelangan tangan Yuna dan Faririn berusaha membangkitkan kedua temannya itu.
Dengan malas Yuna dan Faririn bangkit di susul Adelio yang ikut bangkit dari sofa. Cia dengan tergesah-gesah mengarahkan teman-temannya itu masuk ke dalam kamarnya. Kamarnya sudah bersih, pasti Devan yang telah merapikannya. Yah pikirannya kini selalu mengarah kepada Devan.
"Wah, kamar lo bersih banget Ci," kagum Fika laku duduk di kasur Cia.
"Aaaaaah!!!" teriak Faririn membaringkan tubuhnya di atas kasur Cia yang empuk.
"He! He! Bagun lo! Ini mau kerja kelompok atau mau tidur sih?" Pukul Yuna pelan ke paha Faririn yang masih terbaring.
Cia melangkah lalu meletakkan laptopnya ke atas meja belajarnya, menyalakannya dan menekan tombol keyboard.
"Sini biar gue aja!" ujar Fika sambil sedikit menyenggol lengan Cia.
Cia hanya menurut lalu segera bangkit dari kursinya membiarkan Fika duduk di sana. Cia melangkah lalu berdiri tak jauh dari Adelio yang kini hanya terdiam sambil menatap seisi ruangan kamar Cia.
"Nggak pernah liat kamar lo?" tanya Cia melirik Adelio.
Adelio yang sedari tadi hanya menatap ke segala arah kini menatap satu titik yakni wajah Cia.
Adelio tersenyum.
"Lo itu kenapa sih pendiam banget?" tanya Cia penuh penasaran.
Sejujurnya ini adalah pertanyaan yang sudah lama ingin Cia tanyakan kepada Adelio tapi tak ada kesempatan untuk itu.
Adelio terdiam tak menangapi pertanyaan Cia yang baru saja berhasil membuatnya tersenyum.
Suara dentuman musik rock kembali terdengar dari speaker hitam di sudut ruangan mandi mengiiringi seluruh tubuh Devan yang kini tengah diguyur air yang membilas sampo di kepalanya.
Devan mulai mengenakan handuk ke tubuh bagian bawahnya hingga menutupi pinggang sampai ke lututnya. sebuah handuk putih berukuran kecil nampak berada di atas kepala Devan, beberapa kali Devan mengosokkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil itu.
Devan terdiam mengkerutkan alisnya menatap sebuah kutang dan ****** ***** yang berada di pinggir bak. Devan menghela nafas, sudah jelas ini milik Cia. Rasanya Devan sudah sering memberitahu Cia agar menjemur kutangnya sebelum ia berangkat ke sekolah.
Devan segera meraih kutang hitam dan celana dalam itu lalu melangkah keluar dari tempat mandinya. Langkah Devan pelan sambil mengosok rambutnya yang basah itu dengan handuk.
Devan menghentikan langkahnya menatap kamar Cia yang nampak terbuka. Niat Devan yang ingin keluar rumah untuk menjemur kutang dan celana Cia pun terhenti.
"Cia!!!" teriak Devan cukup keras.
Mata Cia terbelalak, mulutnya nampak menganga ketika suara yang sangat ia kenal terdengar. Semuanya, Yuna, Faririn, Fika dan Adelio nampak terdiam sambil menatap ke arah luar pintu setelah mendengar teriakan itu.
"Cia!!!" teriak Devan lagi.
"Itu siapa yang teriak?" tanya Yuna.
"Tu...tu...tunggu di si...sini!" pintah Cia dengan gugup.
"Van, sekarang lo masuk ke kamar lo!" bisik Cia penuh kesal sambil mendorong perut Devan yang nampak berbentuk kotak-kotak nan berotot itu.
"Apa sih, Ci?" tanya Devan berusaha menahan tubuhnya yang didorong Cia dengan kuat.
"Van, untuk hari ini aja lo dengerin gue!" pinta Cia sangat memohon.
"Yah lo kenapa?"
Cia tak menjawab. Cia tetap saja berusaha mendorong tubuh Devan agar segera masuk ke dalam kamarnya diiringi suara rintihan gelisah mirip orang menangis.
"Tunggu dulu!"
"Apa lagi sih?"
"Gue mau ngomong!"
"Iya, kita ngomongnya di dalem aja yah!" Tatap Cia penuh harap.
"Nggak!" tolak Devan kuat.
Cia meghembuskan nafas berat lalu mengacak-acak rambutnya. Perustasi sangat prustasi, rasanya ia ingin menjambak rambut Devan yang sangat keras kepala itu.
"Ini apa?" tanya Devan mengangkat kutang dan ****** ***** di tangannya.
Mata Cia terbelalak menatap barang pribadinya yang kini ada di tangan Devan. Tunggu! Bagaimana bisa benda itu ada di tangan Devan?
"Sini!"
Cia melompat cepat berusaha meraih kutang dan ****** ******** dari tangan Devan namun sesekali Devan meninggikan barang tersebut setiap kali Cia melompat, membuat Cia tak mampu meraihnya.
"Sini!!!" teriak Cia kesal.
"Nggak!"
"Lo itu kenapa sih?" tanya Cia.
"Gue kan udah sering bilang sama lo, kalau udah mandi ****** ***** sama-" Ocehan Devan terhenti beberapa saat, ia lupa dengan nama benda yang ada di tangannya.
"Apa?* tanya Cia.
"Ini apa?" tanya Devan dengan wajah datarnya.
"Kutang," jawab Cia dengan wajah yang masih kesal.
"Nah iya. Lain kali lo jemur dong baru lo ke sekolah!"
"****** ***** sama kutang lo itu nggak bakalan kering, kalau lo cuman simpan di pinggir bak."
"Lo nggak tahu kan, kalau airnya netes terus kotorin air di bak."
"Lain kali lo jemur dong!"
"Apa susahnya sih Ci?".
"Nih Lo liat! Kering nggak? Kering nggak?"
Cia tak menjawab.
"Nggak kan?" jawab Devan sendiri sambil melambai-lambaikan ****** ***** dan kutang di hadapan Cia.
Kini wajah cia semakin gelisah, ocehan Devan itu kini menyambar cepat begitu saja tanpa memperdulikan Cia yang sesekali melompat-lompat kesal sambil meletakkan telunjuk di depan hidungnya, menyuruh Devan untuk diam.
"Lo kenapa?" tanya Devan heran.
"Te...te...Temen...Temen gue," bisik Cia penuh tekanan.
"Aa? Apa sih, Ci?"
Cia mendecapkan bibirnya kesal, nafas sesak seakan susah untuk ia keluarkan dari hidungnya.
Tanpa sepatah kata Cia yang menutup matanya itu kini menujuk ke belakang dengan jari telunjuknya.
Devan yang masih tak mengerti itu kini mengangkat pandangannya menatap arah tunjuk Cia.
Mata Devan melebar, ia benar-benar tak menyangka jika sejak tadi pria dan tiga wanita dengan seragam sekolah berdiri di pintu masuk kamar Cia. Wajah mereka nampak syok, mulut mereka nampak menganga menatap Devan yang hanya mengunakan selimut dan memperlihatkan perut kotak-kotaknya.