Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 131



Adelio berusaha membuka matanya namun sayangnya Adelio tak berhasil karena kepalanya terasa pusing hingga membuat pandangannya berputar tak karuan. Adelio beberapa kali mencoba tapi Adelio tak mampu melihat wajah Devan dengan jelas.


Devan menjambak kerah baju Adelio cukup kasar lalu menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan. Pria ini yang telah membuat putrinya menangis.


"Heh!! Lo dengerin gue!!!" teriak Devan.


"Jangan pernah lo berani nyakitin hati Cia!!!"


"Ngerti lo!!!" teriak Devan lagi.


Satu pukulan keras kembali mendarat di pipi Adelio membuat Adelio terhempas ke tanah membuat wajahnya itu kotor. Devan kembali menjambak kerah baju Adelio dan mengangkatnya.


"Gue nggak bakalan biarin hati Cia sakit cuman karena lo!!!"


"Gue bahkan bisa ngebunuh lo sekarang juga!!!" teriak Devan lagi.


BUK


Pukulan keras itu kembali menghantam pipi Adelio setelah Devan berhasil duduk di atas tubuh Adelio yang nampak mengeliat kesakitan di bawah sana.


"Lo dengerin gue!!!"


"Jauhin Cia!!!" teriak Devan membuat urat nadinya menegang karena marah.


"Gue bakalan ngehancurin orang yang udah berani buat Cia nangis!!!"


"Ngerti lo!!!" teriak Devan.


Buk


buk


Buk


Lagi dan lagi pukulan yang membabi buta itu menghantam wajah Adelio berulang kali menimbulkan percikan darah dari sobekan di pelipis wajah dan pipi Adelio yang telah terbaring lemas.


"Hey! Hey! Hey! Berhenti!" Suara teriakan itu terdengar dari sana ketika salah satu pria melihat pertengkaran itu dari jauh. Namun sayangnya suara teriakannya itu tak berhasil membuat Devan menghentikan pukulan yang telah berhasil membuat darah Adelio membasahi tanah.


"Berhenti!!!" teriak pria itu lalu berusaha menarik Devan yang masih mati-matian memukul Adelio.


Sepertinya sudah terlambat nampaknya Devan kini telah dikuasai oleh amarahnya hingga pria yang bertubuh besar itu pun tak mampu menghentikan Devan.


"Tolong!!!" teriak pria itu kewalahan.


"Tolong siapa pun di sana tolong!!!" teriaknya lagi.


Tak lama setelah teriakan itu, gerombolan pria yang berlarian dari segala arah berdatangan lalu berusaha menghentikan pukulan Devan.


Devan menghempas tangan mereka satu persatu lalu segera bangkit dari tubuh Adelio yang kini wajahnya telah bersimbah darah segar yang kini mengalir.


"Gue peringatan sama lo jangan pernah ganggu Cia!!!" teriak Devan sambil menunjuk.


Beberapa pria kini menghampiri Adelio dan membantunya untuk duduk.


"Lo dengerin gue!!!" teriak Devan sambil berusaha untuk kembali mendekati Adelio namun dicegah oleh beberapa orang dan dua satpam.


"Kalau gue liat lo ngedeketin Cia lagi, gue jamin lo bakalan mati di tangan gue sendiri!!!"


"Anggap aja pukulan ini sebagai balasan karena lo udah buat Cia nangis dan darah yang ada di muka lo adalah pengganti air mata Cia yang udah keluar!!!"


"Ngerti lo!!!" teriak Devan.


Devan menghempas tangan-tangan yang memegangnya lalu dengan gagahnya ia melangkah pergi ke arah motornya yang masih berada di parkiran sana. Devan segera beranjak pergi meninggalkan gerombolan pria itu yang kini tengah mengerumuni Adelio.


Pria bertubuh gemuk itu kini membantu Adelio yang kesakitan itu bangkit dari tanah dan membantunya untuk berdiri.


"Kamu nggak apa-apa, Dek?" tanya pria itu.


Adelio terdiam bahkan kepalanya masih terasa pusing dan sekujur wajahnya terasa berdenyut-denyut tanpa henti, ini sangat sakit.


"Muka kamu ngeluarin banyak darah," ujar pria lainnya dengan wajah khawatir.


Adelio masih terdiam.


"Kamu punya masalah apa sama ketua gang motor itu?" tanya pria itu lagi.


Yah pria itu tahu tentang Devan yang merupakan ketua gang motor, pasalnya pria itu sering melihat Devan yang ikut balapan liar antar geng motor dan dia selalu ikut untuk melihat balapan.


Adelio hanya terdiam. Entah mengapa secara tiba-tiba Devan datang dan memukulnya begitu saja dan menyuruhnya untuk menjauhi Cia. Mungkinkah pacar Cia itu melihatnya bersama Cia di rumah sakit dan dia cemburu. Adelio tak mengerti dengan masalah apa yang telah terjadi dan kesalahan ala yang telah ia perbuat hingga harus merasakan pukulan ini.


Adelio menoleh.


"Kamu punya masalah apa dengan pria itu?"


"Saya-"


"Ini, Dek. Dilap dulu darahnya!" ujar satpam yang kini menjulurkan tisu ke arah Adelio.


"Terimakasih, Pak," ujar Adelio lalu meraih tisu itu dan mengusap pelan ke arah pipinya yang terasa perih.


"Saya tidak tahu, Pak kenapa pria itu memukul saya," jawab Adelio.


"Terus kenapa dia pukul kamu sampai bonyok begini?" tanya pria lainnya.


"Dek, kamu harus hati-hati sama orang itu!"


"Iy, Dek. Kamu harus jaga diri!"


Adelio mengangguk. Ia berusaha untuk tersenyum namun sayangnya tak bisa.


"Mas, apa perlu kita lapor polisi?" tanya pria yang satu lagi.


"Betul itu. Ini supaya dia nggak ganggu kamu!"


"Tidak usah, Pak!" jawab Adelio.


...____***____ ...


Devan menghentikan motornya di dalam garasi lalu segera melangkah ke arah montir-montirnya yang nampak tengah merapikan peralatan yang telah mereka gunakan untuk memperbaiki motor.


"Bos Ceo!!!" jerit Baby lalu segera berlari menghampiri Devan yang kini melangkah ke arahnya.


Baby terdiam ketika Devan melewatinya begitu saja tanpa melihatnya atau bahkan menyapanya.


"Yuang!"


"Iya bos."


"Tutup bengkel terus kuncinya lo gantung di tempat biasa!" pintah Devan lalu melangkah pergi meninggalkan para montir yang kini nampak terdiam.


Entah mengapa malam ini bosnya terlihat sangat aneh bahkan bagian punggung jari-jari bosnya itu terlihat memar di tambah darah yang nampak menghiasi tangannya.


"Bos Ceo kenapa?" bisik Jojon keherangan.


"Lu olang liat nggak tadi?" Tatap Yuang.


Semuanya nampak terdiam sambil menatap kepergian bosnya itu.


"Bos Ceo kayaknya udah berantem," ujar Mamat yakin.


"Hih, siapa lagi yang dijadiin sasaran amukan manusia tulang besi itu?" Geliat Deon ketakutan.


"Apa mungkin bos Ceo ngamuk karena ngerebutin cewek, yah?" tebak Mamat.


"Lu olang liat tangannya kan?" tanya Yuang sembari mengangkat tangannya diiringi mata sipitnya yang dibelalakkan.


"Tuh, Bi!!!" teriak Tara sambil mendorong punggung Baby ke depan membuat Baby terhempas ke depan.


"Apaan sih lo?" tanyanya ganas.


"Katanya lo sayang sama bos Ceo? Tuh sana lo tanya kenapa tangannya luka!!!" pintah Tara dengan suara teriakannya.


"Iiiih, nggak yah," tolak Baby sambil menggeliat geli.


"Ekye mau tanya bos Ceo yang tangannya udah banyak darah? Nanti darah ekye yang ada di tangan bos Ceo."


"Nanti muka mulus ekye hancur and now chantik lagi gimana, you mau tanggung jawab, hah?!!!" kesal Baby membuat para montir tertawa.


...___***___...


Devan mengeluarkan obat khusus luka dari laci mejanya lalu segera mengobati luka di jari-jarinya yang merah itu.


Devan meghembuskan nafas berat lalu segera memasukkan obat itu ke dalam laci setelah mengolesi jari-jarinya. Devan kini terdiam lalu membaringkan tubuhnya ke kasur.


"Semoga pria itu baik-baik saja!"