Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 110



Suara dentuman musik rock terdengar dari speaker kecil di sudut ruangan mandi yang mengiringi sosok Devan yang tengah asik mengosok rambutnya dengan sampo yang menutupi semua rambutnya.


Rasanya mandi dengan air hangat itu sungguh menyenangkan dan membuatnya merasa nyaman. Rasanya lelah pada seluruh otot dan tubuhnya setelah lari-larian kemarin terasa membantunya.


"Yeeee Rock'n'Roll!!! Huuuuuuu!!! Yeeeeee!!!" Nyanyi Devan yabg terdengar seperti teriakan penyanyi rock asli yang tengah bernyanyi di atas panggung dengan semangat diiringi suara deras air yang mengalir dari kerang memenuhi bak mandi.


Devan menyiram kepalanya yang berbusa itu lalu kembali menuangkan shampo dan menggosoknya hingga berbusa. Devan melangkah ke arah cermin berukuran besar di depan wastafel dan membentang rambutnya memanjang ke atas seperti halnya rambut Rock'n'Roll.


"Yeeeeee!!!" teriak Devan sambil menjulurkan lidahnya, layaknya seorang penyanyi rock yang bernyanyi di depan penonton banyak.


"Hay Devan Alwiyora." Tatapnya ke depan cermin dan tersenyum sendiri seakan menikmati senyum indahnya di depan cermin. Sesekali Devan menggerakkan tubuhnya memperlihatkan otot-otot layaknya binaraga.


"Gila, Gue ganteng banget," ujarnya sambil menatap wajahnya di cermin.


Devan mulai berpose di depan cermin menatap perut kotak-kotaknya lengkap dengan tubuh berototnya. Devan kembali menggeleng pelan seakan sangat bangga dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Gila, pantes aja mereka semua tergila-gila sama gue."


"Gue ganteng banget, Ck ck ck wah," Kagum Devan parah.


"Devan, Devan, kenapa sih lo ganteng banget?"


"Hah?"


"Kalau punya muka itu jangan terlalu ganteng, nah ini kan lo jadi sengsara kayak gini."


"Tiap hari lo dikejar-kejar kayak maling yang mau digebukin, yah, maling karena lo udah curi hati temen-temen Cia."


"Undur sedikit lah kadar ketampanan lo! Ah tapi nggak bisa, ini udah takdir, iya kan, hahaha."


Devan yang telanjang itu kini menari-nari mengikuti dentuman musik rock yang membangkitkan jiwa lelah Devan sambil mengerakkan kepala yang berbusa. Sesekali ia melompat-lompat dan bergerak seakan ia sedang bermain gitar dan drum.


"Rock'n'Roll!!! Yeeeee!!!" Nyanyi Devan lagi.


...____****____...


Motor Fika kini berhenti tepat di depan pagar rumah Cia yang nampak tertutup rapat. Dengan perasaan khawatir Cia melangkah turun dari motor lalu membuka pagar yang kini tertutup itu dengan penuh hati-hati seperti akan meledak.


Prak


Dorong Yuna dengan cepat membuat pagar itu terbuka lebar membuat Cia terbelalak kaget. Sebenarnya tujuan Cia membuka pagar ini pelan agar ia semakin lama di luar.


Sedari tadi Cia memanjatkan doa-doa agar semua temannya itu tak bertemu dengan Devan. Semoga saja Devan tak ada di rumah. Tujuan tolonglah!!!


Beberapa motor kini telah terparkir di pekarangan rumah Cia yang nampak bersih, tak ada dedaunan di sana. Mungkin Devan telah membersihkannya karena seingat Cia pekarangan ini tadi kotor.


"Yuk masuk!" ujar Yuna semangat lalu melangkah ke teras rumah dengan santai.


Cia terbelalak. Jika Yuna masuk dan ada Devan di sana, entah apa yang akan mereka pikirkan mengenai Cia. Mungin mereka akan menganggap jika Cia ini adalah gadis mesum yang satu rumah dengan pacarnya. Cia tak mau itu terjadi.


"Eits!" Tahan Cia berdiri di depan pintu rumah sambil menatap mereka dengan tatapan takut. Kedua tangannya nampak menempel di dinding layaknya seperti seekor cicak yang sedang merayap.


Yuna terdiam menatap tingkah Cia yang nampak aneh. Yuna yang nampak kebingungan itu kini mengerakkan kepalanya menatap Faririn, Fika dan Adelio yang ikut terdiam di belakang.


"Ke...kenapa Ci?" Tanya Fika ragu.


"Emmm, gue...eh anu emmmm..." Cia terdiam sementara bola matanya bergerak-gerak memikirkan alasan yang harus ia ucapkan kali ini.


"Oh iya, lo tunggu dulu di sini!" pintah Cia.


"Em oh iya itu anu emmm, gue mau liat dulu rumah gue, soalnya kadang ada anjing tetangga di dalam yang sering masuk."


"Anjing?" Tatap Faririn keherangan.


"Iya anjing, lo mau digigit?"


Faririn dan Yuna dengan serentak menggeleng membuat Cia tersenyum gelisah.


"Nah itu makanya gue mau masuk dulu terus usir anjingnya dari pada kalian digigit."


"Mending kita usir sama-sama, Ci dari pada lo nanti digigit," ujar Yuna khawatir.


"Oh nggak. Hahaha, gue usah akrap sama anjingnya jadi anjingnya nggak bakalan gigit, yah, tunggu yah!" Tanpa menunggu jawaban dari mereka, dengan cepat Cia berlari masuk ke dalam rumah tak lupa juga ia menutup pintu rumah dengan rapat diiringi suara hentakan kunci yang di putar.


Semuanya kini terdiam, mereka nampak bingung menatap sikap aneh Cia. Entah apa yang cia sembunyikan di dalam sana.


Devan dengan rambut berbusaya itu mematikan musik dari handphonenya yang tersambung lewat bluethooth, Kini suasana hening tak ada lagi suara musik rock yang terdengar. Kini ujung telunjuk jari Devan mengeser daftar lagu yang akan ia putar dari handphonenya.


Cia berlari masuk ke dalam ruangan tv mencari sosok Devan di sana. Cia benar-benar gelisah saat ini di tambah lagi Devan yang tak ada di ruang tamu, ruang tv, ruang keluarga dan kamarnya. Entah di mana Devan sekarang berada.


Sekarang Cia berharap Devan ada di bengkel. Cia melangkah masuk ke dalam kamar Fatima, membuka pintu pelan.


"Cia?" Tatap Fatima heran.


"Ma!" ujar Cia mendekat lalu duduk di pinggir kasur.


Cia beberapa kali melirik ke arah pintu berusaha memastikan teman-temannya itu tak masuk ke dalam rumah.


"Kenapa, Ci?"


"Ma, Ayah mana?" bisiknya seperti pencuri yang takut ketahuan.


"Oh sebelum Mama tidur Ayah Cia tadi bilang katanya mau mandi terus ke bengkel," jawabnya.


Mendengar perkataan Fatima, tanpa sepata kata Cia berlari menuju dapur yang tak jauh dari WC dan tempat mandi yang terpisah.


Cia terdiam ketika telah sampai di meja makan menatap ke arah pintu tempat mandi yang nampak tertutup. tak ada suara di sana, mungin Devan telah mandi dan sekarang sedang berada di bengkel.


Cia menghembuskan nafas lega, sekarang Cia bisa mengisingkan teman-temannya untuk masuk ke dalam rumah tanpa takut jika Devan ada.


Cia tersenyum menampakkan gigi putihnya sambil memperlihatkan separuh tubuhnya di balik pintu utama. Wajah lelah keempat teman-temannya itu nampak terlihat setelah Cia membuka pintu.


"Yuk masuk!" Ajak Cia dengan penuh gembira.


"Ah lama banget sih." Kesal Yuna lalu melangkah masuk ke dalam rumah Cia.


Fika melongo menatap seisi rumah Cia yang nampak rapi dan bersih. Sekian lama Fika dan Cia bersahabat akhirnya Fika bisa masuk ke dalam rumah Cia. Sebuah foto pria berpakaian putuh yang terpajang di dinding berhasil membuat Fika menghentikan langkah.


"Cia, ini Ayah lo, yah?"


Cia yang membelakangi fika sambil mempersilahkan Yuna, Faririn dan Adelio duduk di kursi ruangan tamu langsung terbelalak dan menoleh dengan cepat. Cia takut jika Fika menyebut tentang Ayah setelah melihat Devan di sana.


"Hah?" Kejut cia dengan wajah pucat.


"Itu bukannya ayah lo kan?" Tunjuk Fika.