
Devan melangkah dengan tatapan kosong sambil menggendong tubuh bayi yang kini masih berada di dalam pelukannya. Kini Devan tak tahu harus pergi ke mana lagi.
Kini arah langkahnya sudah tak berarah, tak ada lagi arah pulang untuknya. Devan sudah pulang ke rumah tetapi Devan mampu melihat rumahnya yang kini tengah dijaga oleh Anak buah Abraham. Devan takut jika ia juga di tembak seperti Bapaknya, kini hanya bayi ini yang Devan punya.
Hari kini semakin gelap membuat Devan kini memutuskan untuk duduk di sebuah supermarket yang begitu sangat ramai. Bayi itu kini menangis membuat Devan tersentak kaget, dengan cepat Devan memeluk bayi itu namun tak berhasil membuat bayi itu berhenti menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Devan.
Bayi itu masih menangis membuat Devan segera mengguncang pelan tubuh bayi itu berusaha untuk menenangkan bayi yang masih terbalut dengan sarung batik.
Semua orang-orang yang berada di sekitar Devan kini menatap Devan serta bayi yang masih menangis cukup kencang itu berada di pelukan Devan.
Devan terdiam lalu segera melangkah pergi dari tatapan orang-orang yang masih menatapnya dengan tatapan yang penuh keseriusan.
Langkah lelah Devan kini terus melangkah cukup jauh bahkan Devan kini tak tahu ia sedang berada dimana, ia tak pernah datang ke tempat ini sebelumnya. Bayi itu masih menangis bahkan sudah sejam lebih bayi ini menangis tanpa henti. Devan tak tahu harus melakukan apa pada bayi ini agar segera berhenti.
Langkah Devan terhenti ketika ia melihat sesuatu di balik kaca cafe yang memperlihatkan sebuah iklan di tv yang memperlihatkan seorang ibu yang tengah memberikan susu bayi ke pada bocah kecil yang berada di pelukannya.
Devan kini terdiam lalu segera menatap bayi yang kini masih menangis.
"Kamu haus?" tanya Devan.
"Kita cari susu yah buat kamu," ujar Devan lagi.
Devan kini menoleh ke seluruh sekitarnya yang terlihat sangat ramai. Devan terdiam memikirkan sesuatu.
...____***____...
... ...
Lari Devan cukup kencang sambil memeluk kotak susu serta sebuah dot yang telah ia curi di sebuah supermarket. Lari Devan begitu sangat kencang ketika segerombolan pria penjaga keamanan supermarket itu mengejarnya tanpa henti dan meneriakinya dengan kata pencuri.
Lari Devan terus ia lakukan membuatnya nampak terengah-engah dengan cucuran keringat yang membasahi sekujur tubuhnya melewati jalan gang yang sempit, sunyi dan gelap.
Devan kini bersembunyi di balik sebuah semak-semak yang gersang, tak ada satupun orang yang dapat melihatnya di sini karena tempatnya yang gelap. Tak lama Devan bersembunyi tiba-tiba suara lari gerombolan pria pun melintas melintasi semak-semak tanpa ada yang curiga jika Devan sembunyi di balik semak-semak itu.
Devan yang kini telah merasa aman mulai menghembuskan nafas lelah sambil melangkah keluar dari balik semak-semak tetap dengan kotak susu dan dot bayi itu.
Langkahnya yang cepat itu kini melangkah pergi keluar dari gang sempit dan segera melangkah ke arah pinggiran toko yang sunyi. Ada banyak orang di sana yang dihuni oleh para peminta-minta dan pemulung jalanan yang tidur dengan alas kardus seadanya.
Devan kini duduk tepat di samping kardus bekas mi instan, ada bayi kecilnya di sana yang kini sedang tertidur. Di saat bayi itu menangis tanpa henti tadi, Devan terpaksa meminumkannya air mineral yang ia dapat di sebuah tong sampah. Devan tak berniat untuk meminumkan minuman sisa tapi ini terpaksa Devan lakukan agar bayi itu berhenti menangis.
Devan yang kini duduk di tengah ke sunyian itu mulai memasukkan bubuk susu ke dalam dot yang telah ia curi tadi dan segera diisi oleh air mineral.
Devan tertunduk menatap wajah bayi yang mungil itu, wajahnya mirip dengan Devan hanya saja rambutnya mirip dengan kasya yang nampak tumbuh begitu lebat. Devan menangis, membuat pipinya basah. Kisah seperti apa yang akan ia hadapi kali ini.
Rasanya penyesalan ini kini bermunculan Tanpa henti membuat Devan terisak.
Andai saja ia tak melakukan hal bodoh itu di gudang dan membuat Kasya mengandung mungkin ini tak akan pernah terjadi. Ini semua karena pengaruh buruk dari Vidio yang Dava tunjukkan kepadanya.
Seorang pria dengan pakaian kumuh kini melangkah lalu duduk tepat di samping Devan yang masih memangku bayinya.
Pria itu nampaknya sudah berumur, Devan mampu melihatnya dari uban di rambutnya serta kulitnya yang nampak sudah keriput. Kulitnya juga terlihat gelap karena sengatan panas matahari. Baju hitam yang ia pakai nampak terlihat kotor dengan banyak sobekan di sana.
Devan yang melihat pria itu dengan cepat menghapus air matanya yang membasahi pipinya. Pria itu sedikit tersenyum lalu segera menjulurkan sebuah roti yang masih utuh di dalam kemasan tanpa menatap Devan, ini sepertinya bukan sisa.
Devan tak meraih roti itu, Devan takut jika roti itu telah diberi obat dan akan membuatnya pingsang dan setelah itu bayinya akan diambil. Devan takut jika bayi ini diambil oleh pria ini membuat Devan semakin memeluk tubuh bayi itu dan bergerak sedikit menjauh dari pria dengan penampilan kumuh.
Pria itu tertawa, Devan tahu jika pria itu merasa tak nyaman dengan respon Devan yang terlalu berlebihan tapi ini hanya kewaspadaan. Devan takut.
"Ini bukan racun," ujar pria itu sambil mendekatkan bungkusan roti itu lagi ke arah Devan.
Devan tak menoleh, ia hanya sibuk menepuk pelan tubuh bayinya agar lebih tenang di dalam pelukannya. Devan takut jika bayi ini menangis dan membangunkan orang-orang yang kini tengah tertidur lelap.
"Kamu tak percaya kepadaku?" tanya pria itu.
Devan tak merespon ia masih berpura-pura sibuk dengan bayinya.
Pria itu tersenyum lalu segera membuka bungkusan roti dan membelahnya menjadi dua bagian.
"Ini," ujar pria itu lalu menjulurkan potongan roti ke arah Devan.
Devan melirik, membuatnya menelan ludah, Jujur Devan kini tengah sangat kelaparan.
"Ini bukan racun," ujar pria itu lagi sambil memakan bagian potongan roti yang berada di tangan kirinya seakan ingin membuktikan jika roti yang ia sedang julurkan memang tak diberi racun.
Devan melirik pelan, sepertinya roti itu memang tak ada racunnya.
"Ayo ambil!" suruh pria itu sambil tersenyum tulus.
Devan kini meraih potongan roti itu dengan perasaan yang masih ragu.
Pria itu tersenyum lagi lalu segera menatap ke arah depan dimana sebuah jejeran toko-toko telah tertutup rapat di depan sana. Kini malam sudah semakin larut dan kendaraan yang berlalu lalang juga berangsur berkurang.