Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 217



Devan tak menjawab, ia ikut turun dari motornya dan memegang pergelangan tangan Cia begitu sangat erat setelah melepas helm dan meletakkannya di atas jok motor. Tatapan Devan kini berubah, entah mengapa ini terjadi tapi Devan terlihat bukan seperti Devan yang bisanya, dia berubah.


"Ayah kenapa?"


"Ini rumah Pak Brahmana."


"Ayah kenapa kita ke sini?" tanya Cia lagi.


Devan lagi dan lagi tak menjawab lalu, dengan langkah yang terasa sangat berat Devan melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah setelah pak Madi membuka gerbang rumah.


Cia yang masih ditarik itu hanya mampu mengikut ke mana Devan membawanya. Cia sama sekali tak mengerti mengapa Devan membawanya ke rumah ini lagi padahal yang Cia tahu Devan sangat membenci Tuan Abraham tapi, mengapa Devan ke sini dan membawanya. Apakah mungkin Devan akan menyerahkannya kepada orang jahat itu? Cia menggeleng cepat, ini tak mungkin terjadi. Devan tak mungkin melakukannya, Cia tahu Devan sangat menyayanginya.


Langkah Devan terhenti tepat di depan pintu rumah yang begitu besar dengan tatapannya yang nampak begitu berat menatap ke arah Cia.


Cia mengkerutkan alisnya, ia masih tak mengerti dengan hal ini.


Devan tertunduk seakan tak sanggup untuk mengatur nafasnya lalu segera mendorong permukaan pintu hingga terbuka cukup lebar.


Tatapan Cia meraba ke segala arah hingga tatapannya berpusat ke arah Tuan Abraham yang nampak duduk di sebuah kursi megah serta Jef yang terlihat berdiri di belakang kursi.


Devan kembali melangkah masuk sembari tangannya yang masih memegang pergelangan tangan Cia cukup erat.


Tuan Abraham tersenyum begitu hangat seakan menyambut ke datangan Devan dan Cia.


Langkah Devan terhenti membuat langkah Cia juga ikut terhenti. Devan terdiam dengan tatapannya yang menatap ke arah Tuan Abraham yang berada sedikit jauh darinya namun, Devan masih bisa melihat sorot mata tuan Abraham cukup jelas dari sini.


"Ayah," bisik Cia yang seakan ingin meminta penjelasan.


Devan tak menjawab membuat Cia tersentak ketika Devan semakin mempererat pegangannya, ditambah lagi dengan tangan Devan yang terasa bergetar hebat.


"Selamat datang ke istana Cia," sambut Tuan Abraham sembari merentangkan kedua tangannya ke kedua sisi.


Cia mengkerutkan kedua alisnya, tak mengerti dengan apa yang tuan Abraham katakan barusan kepadanya.


Devan tersenyum sinis lalu tertunduk. Ini cukup berat baginya untuk menyerahkan Cia kepada tuan Abraham. Devan tahu jika keputusan untuk memberikan Cia kepada tuan Abraham adalah hal yang paling bodoh yang pernah Devan lakukan seumur hidupnya. Tapi ini yang terbaik.


Devan terpaksa melakukan hal ini kepada Cia. Jujur Devan takut jika ia tak mampu membiyayai kehidupan Cia. Sekarang Devan tak punya uang lagi bahkan pekerjaan untuk menjadikannya sebuah harapan untuk mempertahankan Cia bersamanya.


"Selamat datang ke rumah mu Cia," ujar tuan Abraham lagi.


Cia menterbelalak-kan kedua matanya ketika kalimat itu terdengar. Cia menoleh menatap ke arah Devan yang nampak terpatung. Devan tak menoleh, ia sangat malu untuk menatap ke dua sorot mata Cia.


"Yah," panggil Cia.


"Diam Ci!" suruh Devan dengan nada yang begitu sangat berat.


Cia terdiam seribu bahasa, perkataan Devan seperti nada yang mengancam.


"Selamat tuan Abraham," ujar Devan.


"Selama,t" ujarnya lagi.


Tuan Abraham tersenyum, ia masih berada di kursi mewahnya yang megah itu dengan wajah kemenangan.


"Anda telah berhasil membuat saya menyerah."


"Anda telah berhasil membakar bengkel yang menjadi sember mata pencaharian saya, tuan Abraham."


Kedua mata Devan memerah, ia kini ingin menangis. Dadanya terasa sakit sekali.


"Anda berhasil."


Tuan Abraham menghilangkan senyum sinis-nya yang terlihat sejak tadi. Bagaimana bisa Devan tahu jika dia lah yang telah membuat bengkel Devan terbakar.


Tuan Abraham melirik menatap Jef yang nampak menggeleng pelan, seakan memberi tahu kan jika ia tak membocorkan rahasia ini ke pada Devan.


"Saya akui Anda ini pintar, cukup pintar tuan Abraham. Anda cukup pintar, saya akui itu."


Tuan Abraham semakin menatap terkejut ke arah Devan setelah kalimat itu terdengar . Entah dari mana Devan tahu jika dia lah penyebab Devan tak mendapatkan pekerjaan.


Devan tertunduk dengan nafasnya yang sedari tadi sudah sesak.


"Saya kalah Tuan Abraham, saya kalah."


"Sa...saya kalah dan Anda adalah pemenangnya, Anda tuan Abraham."


Tuan Abraham tersenyum lalu segera bangkit dari kursi mewahnya. Menatap dengan penuh makna ke arah Devan dan a yang masih berada tak jauh dari pintu utama.


"Serahkan Cia," ujar tuan Abraham sembari merentangkan tangan kanannya ke arah Devan.


Cia terbelalak kaget lalu menoleh menatap Devan yang kini tak menatapnya sejak tadi. Apa ini kenyataan?


Devan menghembuskan nafas berat. Devan akui jika ini cukup berat baginya namun ini semua terpaksa Devan lakukan demi kebaikan Cia. Devan tak mau membuat Cia tersiksa dan kelaparan.


Dengan langkah yang pelan Devan melangkahkan kakinya secara bergantian ke arah Tuan Abraham dengan tangannya yang masih memegang erat di pergelangan tangan Cia.


Sesekali Cia berusaha menghentikan langkahnya ketika dibawa oleh Devan. Cia tak mau jika harus hidup berdampingan dengan orang yang telah menjadi penyebab dokter Yusuf meninggal.


Langkah Devan terhenti tepat di hadapan Tuan Abraham yang terlihat tersenyum bahagia seakan menyambutnya dengan begitu bangga.


Devan menarik nafas yang begitu sesak lalu segera menjulurkan tangan Cia ke arah tuan Abraham. Dengan cepat Abraham meraih pergelangan tangan Cia dan memegangnya begitu erat.


Cia menoleh menatap Devan yang sama sekali tak menatapnya sedikit pun. Apakah ini sebuah kenyataan. Bagaimana bisa Ayahnya itu melanggar janjinya.


Devan memutar tubuhnya membelakangi Cia dan tuan Abraham serta Jef yang kini menatapnya. Langkah Devan kini bergerak Pelan, terasa sungguh berat dan sukar untuk di lakukan.


Tatapan cia terus menatap ke arah punggung Devan yang semakin jauh. Sorot mata Cia kini mulai memudar di halang oleh air mata yang kapan saja siap untuk tumpah. Cia sama sekali tak menyangka jika Devan benar-benar akan meninggalkannya.


"Ayaah!!!" panggil Cia begitu sangat histeris.


"Ayah mau kemana?!!!"


"Jangan tinggalkan Cia!!! Cia mohin Ayaaaah!!!"


Devan tak menoleh bahkan menghentikan langkahnya pun tidak. Ia tetap saja melangkah seakan tak mempedulikan Cia yang berteriak memanggilnya dengan begitu histeris.


Air mata Cia tumpah membasahi pipinya. Dengan sekuat tenaga Cia berusaha melepaskan pegangan tuan Abraham yang memegangnya cukup erat hingga tak berhasil lari dari pegangan tangan Tuan Abraham.


"Van!!! Devan!!!" teriak Cia cukup keras.


Devan memejamkan kedua matanya yang kini meneteskan air mata ketika kalimat yang selalu Cia ucapkan dulu kembali terlontar. Devan menarik nafas, ia harus kuat kali ini, membuatnya tak menghentikan langkahnya.


"Devan!!! Lo gila yah ngasih gue gitu aja ke orang jahat ini!!!" teriak Cia diiringi isak tangis.


"Ayah macam apaan lo?!!!"


"Nggak ada Ayah yang ngasih Anaknya sendiri ke orang lain!!!"


"Jangan tinggalin gueeeee!!!"


"Devaaaaan!!!" jeritnya.


Devan tak merespon, ia tetap saja melangkah.


"Van!!!" panggil Cia lagi, bahkan kali ini suaranya terdengar serak karena kehabisan suara sambil terus memberontak dari pegangan tangan Tuan Abraham.


"Ayaaaaaah!!!" teriak Cia.