
"Heh!!!" panggil Devan dengan nada berteriak.
"Em," sahut Cia sambil terus tersenyum. Bahkan kini Devan merasa jika putrinya itu sudah gila.
" Lo ngapain baring sih? Gue belum selesai ngomong sama lo," Ujar Devan kesal.
Kini suasana menjadi sunyi, Devan tak mengoceh lagi ketika Cia telah terbaring di kasurnya sambil menutup kedua matanya.
"Aaaaaa!!!! Hahahaha!!!" jerit Cia diakhiri suara tawa yang terlontar secara tiba-tiba.
Devan mengkerutkan alisnya ketika suara yang terdengar dari luar tadi dan membawanya masuk ke sini terdengar lagi.
Devan melangkah maju menghampiri Cia yang kini masih tertawa. Bocah ini sepertinya semakin gila.
"Lo gila yah?" tanya Devan.
Tak ada jawaban dari Cia. Cia kini mengerak-gerakkan kaki dan tangannya di permukaan kasur seperti orang yang tengah merasakan lautan bunga yang merekah indah. Cia bahagia.
Cia kembali tertawa membuat Devan terdiam heran menatap Cia.
"Ih, gila nih bocah ketawa melulu, kenapa sih?" tanya Devan yang malah ikut tertawa.
"Aaaaaaaah!!!" teriak Cia dengan wajah kegiragannya lalu mengeliat seperti cacing kepanasan di atas kasur.
Senyum Devan sirna melihat Cia yang menggeliat. Ia mengkerutkan alisnya lalu memasang wajah jijik menatap tingkah konyol Cia.
"Heh! Lo tuh kenapa sih?" tanya Devan dengan nada khawatir.
"Heh!!! Cia!" panggil Devan lalu menarik kedua tangan Cia, membuat separuh tubuh Cia bangkit dan menatapnya dengan tatapan serius.
Kini wajah Cia yang masih tersenyum itu dan wajah Devan kini begitu sangat dekat.
"Lo kenapa?" tanya Devan dengan wajah yang begitu sangat serius.
"Ayah mau tahu aku kenapa?" tanya Cia sambil tersenyum.
Devan mengkerutkan alisnya setelah mendengar Cia memanggilnya dengan sebutan Ayah.
"Ih manggil Ayah," ujar Devan yang seakan takut dengan ujaran Cia.
"Ayah mau tahu aku kenapa?" tanya Cia.
Devan melepas pegangannya membuat Cia terhempas ke kasur.
"Ih jijik banget gue," ujar Devan.
"Cia bahagia, Aaaaaa!!!" jerit Cia.
"Kemarin lo nangis dan sekarang malah seneng, bahagia. Bahagia karena apa sih?"
Cia tersipu malu lalu segera bangkit dari kasurnya. Kini Cia melangkah lalu berdiri menatap ke luar jendela.
"Tahu nggak, Van?" tanya Cia.
"Emmm," sahut Devan malas lalu duduk di pinggir kasur Cia.
Cia kini menoleh menatap Devan yang kini masih terdiam.
"Adelioooo," bisik Cia.
Devan menoleh menatap Cia cepat.
"Adelao kenapa ?"
"Adelio bukan Adelao," ujar Cia membenarkan.
"Em iya terserah, emang dia kenapa?" Tatap Devan penasaran.
"Adelioo," bisik Cia membuat bibir Devan terbuka karena penasaran.
"Adelio, Suka sama Cia," ujar Cia kegirangan lalu kembali berteriak.
"Hah?" Tatap Devan tak percaya.
"Aaaaaaaaa!!!" jerit Cia lagi lalu melompat-lompat kegirangan.
Devan kini terdiam. Apakah Adelio telah mengungkapkan perasaanya itu kepada Cia tapi yang Devan ingat Devan telah memukul Adelio agar menjauhi Cia. Tapi melihat kebahagian di wajah Cia seakan menyadarkan jika kali ini Devan salah jika menyuruh Adelio untuk menjauhi Cia.
"Dia bilang gitu ke lo?" tanya Devan.
Cia menggeleng.
"Loh terus?"
"Fika? Bukannya Fika pacaran sama Adelao?"
"Adelio, Van bukan Adelao!" Tatap Cia sinis.
"Iya, iya, iya."
"Adelio nggak suka sama si Fika terus kata Fika katanya Adelio suka sama Cia," jelas Cia.
"Yah berarti fika sedih banget dong."
Cia yang sedari tadi tersenyum bahagian kini terdiam setelah mendengar ucapan Devan. Yang dikatakan Devan ada benarnya juga pasti Fika sangat sedih dengan hal ini. Bagiamana bisa Cia bahagia di atas kesedihan Fika.
Devan kini ikut terdiam. Apakah ia telah salah berucap mengenai Fika hingga membuat raut wajah Cia berubah.
"Em, lo kenapa?" tanya Devan.
Cia kini menggeleng membuat Devan kini bangkit dari kasurnya lalu segera melangkah ke arah pintu. Rasanya ia tak nyaman setelah melontarkan kalimat itu.
"Emm gue...gue keluar dulu," ujar Devan lalu segera melangkah keluar dari kamar diakhiri dengan tutupan pintu.
Cia menghela nafas lelah. ini semua sangat rumit. Cia baru sadar jika Fika pasti sangat sedih lalu mengapa ia harus merasa senang? Ada Fika yang tersakiti dengan hal ini.
"Apa gue salah?" tanya Cia pada dirinya sendiri dengan nada lemah.
Cia terdiam dan kembali mengigat apa yang telah dikatakan oleh Devan kepadanya tadi.
"Gue nggak mungkin buat Fika sedih," ujar Cia.
"Kalau emang gue ngebuat Fika sedih karena gue sama Adelio maka gue boleh sama Adelio karena itu akan ngebuat Fika tambah sedih."
"Apalagi tadi Fika sampai sedih seperi itu."
Cia menghembuskan nafas berat. Ia kembali mengigat saat Fika marah besar dan berteriak sambil menjambak rambutnya.
"Apakah Fika benar-benar menyukai Adelio dan apakah gue salah kalau gue juga suka sama Adelio?"
...___***___...
Suara dentuman musik dangdut terdengar berasal dari speaker hitam yang di sambungkan melalui bluethooth handphone milik Haikal.
Suara azan Maghrib berkumandang membuat Adam bangkit dari sebuah bangku kecil yang ia gunakan untuk duduk di saat ia mengerjakan motor rusak.
"Mas Haikal!" langgil Adam menghampiri.
"Musiknya dimatiin! Lagi azan, Mas!" ujar Adam memberi tahu.
"Hah?" Tatap Haikal tak mengerti.
Haikal membuka mulutnya tak mengerti dengan apa yang Adam katakan, suara musiknya terlalu keras hingga suara Adam tak terdengar jelas.
"Hah?" Tatap Haikal tak mengerti.
"Musiknya dimatiin!" ujar Adam lagi.
PLAK
Pukulan keras sebuah handuk putih menghantam kepala Haikal cukup keras membuat Haikal tersetak lalu memegang belakang kepalanya dan menoleh cepat. Nampaklah tubuh kekar Tara yang berdiri kokoh sambil menopang pinggang.
"Kenapa sih lo?" Tatap Haikal kesal.
"Lagi azan goblok!!!" teriak Tara melotot.
Haikal yang mendengar ucapan Tara yang jelas itu kini dengan cepat mematikan musiknya.
"Nah gitu dong, Mas Kal," ujar Adam yang kini tengah mencuci tangannya di wastafel.
"Udah selesai, Dam?!!" Teriak Tara setelah menatap gerak-gerik Adam yang seakan menyudahi pekerjaannya dengan cucian tangan itu.
"Alhamdulillah udah selesai, Mas Tara. Mau ke masjid nggak, Mas Tara ? Mas Tara mau ikut?" tanya Adam lalu segera menghempas-hempaskan jari-jarinya yang basah.
"Cuih, si Tara nggak usah diajak ke masjid, dia nggak bakalan pergi. Cucu Dajjal diajak," cerocos Jojon berucap begitu saja.
"Enak aja ngatain gue cucu dajjal, tuh cucu dajjal!!!" teriak Tara sambil menunjuk Baby dengan bibir merah meronanya yang tengah asik menatap wajahnya di cermin lipat berwarna pink yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi.
Baby yang merasa dirinya sedang disorot kini melirik ke arah sekitarnya menatap semua montir-montir yang tengah menatapnya. Tatap ini sungguh serius.
"Apa sih? Liat ekye mulu deh ahhh," desah Baby diakhir kalimatnya lengkap dengan tatapan sinisnya.
"Cermin mululu lo, nggak bosan By liat muka lo di cermin?" tanya Haikal.