
Adelio terdiam sesaat lalu segera menarik pergelangan tangan Cia dan berlari ke sebuah tempat, entah dimana itu. Cia hanya mengikut, membiarkan Adelio membawanya pergi.
Cia tersenyum. Cia mampu merasakan hangat gengaman tangan Adelio yang menyelimuti pergelangan tangannya. Cia yang masih berlari itu kini melongo menatap sebuah jejeran balon berwarna-warni yang berbaris rapi di kedua sisi kanan dan kiri nampak membentang indah seakan menyambut kedatangan Adelio dan Cia. Jejeran balon ini seperti sebuah lorong yang di ujungnya terdapat ruang yang dikelilingi sebuah balon berbentuk hati.
Cia yang masih berlari itu kini terbalalak terkagum ditambah lagi dengan karpet merah yang membentang.
Lari Adelio terhenti ketika sudah berada di sekeliling balon yang mengelilinginya bersama dengan Cia. Adelio tersenyum malu lalu segera melepas pegangannya dari pergelangan tangan Cia.
Cia yang masih terpukau itu kini menatap ke sekelilingya. Tempat ini merupakan semak-semak yang gersang itu, tempat di mana Cia dan Adelio bersembunyi dari kejaran mang Adang. Tempat yang gersang itu kini telah disulap menjadi tempat yang begitu sangat indah.
"Cia," panggil Adelio.
Cia menoleh membuatnya terkejut ketika ia mendapati Adelio yang tengah berlutut di hadapannya sambil memegang sebuah tas hitam, sapu tangan dan highheels berwarna hitam.
"Lo mau ngapain? Dan-"
Cia membulatkan kedua matanya. Cia kenal dengan badang-barang yang Adelio pegang sekarang. Tas hitam itu adalah tas miliknya yang dulu hilang entah kemana, sapu tangan itu merupakan sapu tangan yang Cia berikan untuk Adelio yang hidungnya berdarah kerena ia pukul dulu dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah highheels hitam yang Adelio pegang merupakan high heels milik Baby yang ia pinjam untuk pergi ke acara ulang tahun Loli. Entah mengapa semua barang-barang yang Cia cari-cari selama ini ada pada Adelio.
"Ya ampun Lio," ujar Cia sembari meraih tas, sapu tangan dan highheels dari tangan Adelio.
Tak disangka-sangka ketika Cia meraih semua barang-barang miliknya terselip setangkai bunga mawar berwarna merah segar. Cia menoleh menatap Adelio sejenak seakan menanyakan tentang semua ini.
"Ini maksudnya apa sih Lio?" tanya Cia.
Adelio memejamkan kedua matanya sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan penuh damai lalu ia membuka kedua matanya menatap Cia sambil tersenyum.
"Cia," ujar Adelio sambil terus berlutut dan mendongak menatap Cia yang kini terlihat kebingungan.
"Kamu mau tidak jadi pacar aku?" tanya Adelio dengan penuh lembut.
"Hah?" Tatap Cia, terkejut.
"Lo serius?" tanya Cia lagi dengan kedua matanya yang terbelalak.
"Tadi lo ngomong apa? kayaknya gue salah denger," ujar Cia.
Cia terdiam. Suhu tubuhnya kini terasa hangat menjalar ke sekujur tubuhnya yang kini terasa lemas di hadapan Adelio yang masih berlutut. Cia mengigit bibir bawahnya, rasanya Cia tak mampu menahan rasa haru yang mendalam, membuatnya meneteskan air mata.
Adelio tersenyum lalu segera bangkit.
"Kamu mau kan jadi pacar aku?" tanya Adelio membuat Cia kembali terbalalak.
"Kenapa?" bisik Adelio dengan suara Adelio yang terdengar begitu lembut.
Cia menggeleng cepat. Tak ada yang pernah melakukan hal seperti ini kepadanya. Cia mengira jika Adelio adalah pria pendiam serta kaku yang tak pandai bersikap romantis tapi, melihat ini semua membuat Cia tersadar jika apa yang ia pikirkan mengenai Adelio itu salah.
"Jangan nangis Ci!" bisik Adelio lalu segera menyentuh kedua pipi Cia yang basah karena air mata. Yah Cia menangis.
Cia tersenyum sembari menyentuh punggung kedua tangan Adelio yang masih menyentuh pipinya.
"Aku salah ngomong yah?" tanya Adelio.
Cia menggeleng membuatnya kini meledakkan tangisannya.
"Eh, eh loh kok nangis sih?" tanya Adelio lalu sedikit tertawa. Wajah Cia begitu imut ketika menangis seperti ini.
"I..i..ini kok tas sama ba...ba...barang-barang gue yang lain ada sama lo?" tanya Cia sambil terisak.
"Jangan nangis dong Ci!" bisik Adelio.
"Ah, gue...gue... ter...haru Lio!" harap Cia yang masih terisak.
"Nanti aku ceritain."
Cia yang masih terisak itu Kini menatap ke arah balon-balon yang begitu sangat indah.
"Ini siapa yang bikin?" Tunjuk Cia.
"Aku," jawab Adelio.
Cia terdiam.
"Adelio?" Tatap Cia dengan pandanganya yang sudah terhalang oleh genangan air mata.
Adelio mengangguk.
"Aaaaaa," tangis Cia pecah membuatnya kembali terisak.
"kok nangis sih Ci?" Tatap Adelio penuh perhatian.
"Adelio tiup sendiri?"
"Kok ketawa?"
"Yah masa balon sebanyak ini aku tiup sendiri, bengkak dong pipi aku nanti." Adelio tertawa lagi.
Cia tersenyum lalu kembali tertunduk.
"Kamu mau kan Ci?" bisik Adelio.
Cia mengangkat pandangannya menatap kedua sorot mata Adelio yang menatapnya begitu sangat dalam.
"Jadi pacar aku?" bisik Adelio lagi.
Cia tersenyum bahagia lalu kembali tertunduk.
"Kalau gue tolak, kamu sedih nggak?"
Adelio terdiam. Senyum yang sedari tadi membias kini menghilang dengan cepat dari sudut bibirnya.
"Kamu nolak aku?" tanya Adelio dengan raut wajahnya yang begitu sangat sedih.
Cia tertawa membuat Adelio mengkerutkan alisnya, tak mengerti.
"Kok ketawa?"
Cia masih tertawa bahkan tawanya kali ini cukup kencang bahkan terdengar terbahak.
Raut wajah Adelio jika sedang seperti ini begitu sangat lucu.
"Aku serius loh Ci." Tatap Adelio dengan penuh keseriusan.
Cia menarik nafas panjang dan tersenyum berusaha tak tertawa kali ini.
"Aku mau kok," ujar Cia sembari tertunduk malu di hadapan Adelio sambil meremas jarinya yang sudah berkeringat.
Adelio membulatkan matanya ketika jawaban berhasil ia dengar dari mulut Cia. Rasanya ini seperti mimpi. Adelio sedikit tertawa, ia lupa untuk mengengam jari-jari Cia dengan romantis saat mengucapkan kalimat ini. Tapi biarlah ini sudah terjadi lagi pula Cia sudah menerimanya.
Adelio menggaruk belakang telinganya yang tak gatal. Adelio sangat malu sekali hari ini.
Cia masih tertunduk.
"Kamu-"
Cia menoleh membuat Adelio menghentikan ucapannya. Adelio berdecap, ia tak tahu mau melakukan apa kali ini.
"Kenapa Lio?" tanya Cia.
"Kamu beneran mau kan jadi pacar aku?"
Cia yang mendengar kalimat Adelio langsung tertawa. Bagaimana bisa Adelio menanyakan hal yang baru saja ia katakan.
"Iya Adelioooo!!!" teriak Cia.
"Sekarang Cia jadi pacar adelio kan?" tanya Adelio.
Cia tertawa lagi. "Iya."
Keduanya yang masih saling bertatapan dengan perasaan bahagia itu kini tersentak kaget ketika suara alarm jam masuk terdengar, pelajaran pertama sepertinya akan segera di mulai.
"Yuk ke kelas," ajak Adelio lalu segera melangkah membelakangi Cia yang kini melongo. Baru saja Adelio mengungkapkan perasaanya dan bersikap romantis, sekarang Adelio Pergi tanpa memegang tangannya.
Langkah Adelio terhenti lalu menoleh menatap Cia yang masih berada di tempatnya berdiri tadi.
"Kok diem?" tanya Adelio.
"Cia mau digandeng," ujar Cia sembari mengerak-gerakkan jari-jarinya dengan tangan kanannya yang ia rentangkan ke arah Adelio.
Adelio tersenyum sembari melirik jari-jari lentik Cia.
"Cia mau digandeng, sekarang!" minta Cia lagi.
Adelio terdiam sesaat dan melangkah maju lalu dengan senyuman ia meraih jari-jari lentik Cia dan mulai merapatkan sela-sela jari Cia dengan jari-jarinya. Cia tersenyum malu ketika Adelio sedang mengandengnya dengan sorot mata yang begitu indah.
"Kita ke kelas sekarang yah sayang," ujar Adelio membuat Cia tertawa dan memukul lengan Adelio dengan pelan.
"Apaan sih?" malu Cia dengan kedua pipinya yang memerah.
"Yuk!" ajak Adelio lagi.
Cia tersenyum lalu mengangguk beberapa kali, membuat Adelio melangkah sambil menarik tangan Cia yang masih ia gandeng.