Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 231



"Saya nggak tahu," jawab Firdha.


Adelio kini terdiam hingga ingatan tentang gadis yang ia lihat di pinggir jalan itu kini teringat di pikiran Adelio. Apa mungkin gadis itu adalah Cia? Kini hal itu yang muncul di pikiran Adelio.


"Ada apa?" tanya Firdha yang nampaknya menatap Adelio sedari tadi.


Adelio menggeleng dan tanpa jawaban ia segera berlari meninggalkan Firdha yang kini bangkit dari kursinya.


"Adelio! Ada apa?!!" teriak Firdha.


Adelio terus berlari melewati koridor rumah sakit dengan tergesa-gesa hingga ia tiba di area parkiran dan menghampiri motornya. Rasanya Adelio begitu sangat khawatir dengan Cia, mungkin di saat ini Cia tak akan berpikir jernih, pikiran Cia pasti sedang kacau.


Adelio memasang helm hitam ke kepalanya dan menyalakan mesin motornya dan lalu menancapkan gas meninggalkan area parkiran rumah sakit.


Adelio melanjutkan motornya ke arah di mana ia terakhir kali melihat Cia yang berlari. Adelio menghentikan motornya tepat di tempat di mana ia terakhir melihat Cia. Kini suasana telah sunyi, tak ada Cia di sana. Adelio menghembuskan nafas berat dan kembali menancapkan gas. Rasanya ada penyesalan di hati Adelio, seharusnya ia mengejar Cia saat ia berlari tapi mengapa ia sampai tak tahu jika gadis yang ia lihat itu adalah Cia.


Adelio menghentikan motornya di tepian jalan dan menghampiri beberapa pria yang sepertinya sebaya dengan Adelio yang sedang duduk nongkrong di pinggir jalan sambil duduk di atas motornya.


"Maaf, bisa saya bertanya?" tanya Adelio membuat mereka kini dengan cepat menghentikan komunikasinya.


"Ada apa?" tanya salah satu dari mereka.


"Em begini, Apa tadi ada perempuan yang lewati sini?" tanya Adelio.


"Perempuan?"


"Iya, Mas," jawab Adelio.


"Bro, kalau perempuan yang lewat di sini ada banyak terus kita nggak merhatiin juga sih dari tadi," jawab salah satu dari mereka.


"Betul Bro, itu sana perempuan!" Tunjuk salah satu pria muda yang berada di paling pinggir sambil menunjuk ke arah kanan membuat Adelio menoleh menatap wanita gemuk yang sedang menggendong anak kecil yang kini sedang tertidur.


"Bukan, Mas," jawab Adelio sambil menggeleng.


"Atau yang itu?" Tunjuk pria itu lagi ke arah kiri membuat Adelio kembali menoleh menatap seorang wanita dengan penampilan seksi yang berdiri di pinggir jalan.


Adelio menoleh menatap pria itu dan kemudian ia menggeleng.


"Bukan, Mas," jawab Adelio.


"Terus yang mana?" tanya salah satu pria yang kini mulai bangkit dari motornya dan mendekati Adelio.


"Dia perempuan, mungkin tingginya hanya sampai segini," jelas Adelio sambil menunjuk dadanya.


"Dia juga pakai baju seragam sekolah SMA dan dia mungkin lari melewati tempat ini," sambung Adelio lagi.


"Kalau itu saya tidak lihat, Bro," jawab pria itu.


"Yang nangis tadi?!!" teriak salah satu pria yang duduk di atas motor sambil menghisap rokok nya.


"Nangis?" tanya Adelio dengan wajah bingungnya.


"Iya, gue lihat tadi ada perempuan cantik pakai baju SMA lari lewat sini sambil nangis-nangis, kayak nya sedih banget sih gue lihat," jelas pria itu lalu mengusap rokok nya dalam-dalam dan menghembuskan nya.


"Jadi di di mana?" tanya Adelio.


"Terimakasih," ujar Adelio lalu segera berlari menghampiri motor nya yang tak jauh darinya.


Adelio segera menunggangi motornya dan menancapkan gas meninggalkan tempat nongkrongan itu.


Adelio menatap setiap jalan dengan laju motor nya yang pelan dan dengan kedua mata nya yang meraba ke segala arah berusaha untuk mencari Cia. Adelio sesekali menghentikan motor nya dan menanyakan kepada orang-orang yang berada di pinggir jalan yang mungkin saja telah melihat Cia dan mengetahui di mana Cia berada.


Pedagang pinggir jalan, supir angkot, supir bajai, pejalan kaki kini telah menjadi petunjuk arah bagi Adelio untuk mencari Cia. Lebih buruk dari apa yang Adelio lakukan adalah ia lupa membawa handphone sehingga ia tak bisa menghubungi Cia.


Adelio kini masih setia dan sabar menulusuri jalan hingga dari kejauhan Adelio dapat melihat belasan orang-orang yang kini sedang berdiri di depan sebuah gerbang perkuburan umum, Adelio tak tau apa nama tempat perkuburan itu karena ia masih terlalu baru tinggal dan menetap di kota Jakarta. Adelio tak mengerti mengapa ada begitu sangat banyak orang di sana dan bahkan dari mereka ada yang saling berbisik sambil menatap dan bahkan ada yang menunjuk ke dalam area perkuburan. Adelio tak mengerti mengapa orang-orang di sini datang dan berdiri di depan perkuburan umum.


Adelio kini menghentikan motornya dan menghampiri salah satu wanita yang sedang berbisik pada ibu-ibu berdasar yang sedang memakai helm hitam.


"Maaf Ibu jika saya mengganggu, ini ada apa yah? Kok ramai begini?" tanya Adelio.


"Oh itu, ada perempuan yang nangis-nangis di kuburan, udah dari tadi saya dengar," jawab wanita itu.


"Perempuan?" tanya Adelio.


"Iya, Dek. Perempuan," jawab nya.


Mendengar hal itu kini Adelio menoleh menatap ke arah tatapan semua orang yang kini menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Adelio menyipit kan kedua mata nya berusaha untuk melihat sosok wanita yang kini terlihat terbaring di atas kuburan. Adelio melangkah maju melewati gerbang berusaha untuk melihat wajah wanita itu.


"Dek mau kemana Dek?" tanya salah satu pria.


"Dek! Jangan ke sana! Mungkin saja dia orang gila!" tegur pria yang satu lagi.


Adelio tak menghiraukan ujaran mereka. Adelio tetap saja melangkah hingga wajah wanita itu terlihat saat wanita itu menatap kayu nisan dengan kedua mata nya yang kini membengkak.


Kedua mata Adelio langsung terbalalak kaget setelah berhasil melihat wajah itu, itu sudah jelas jika itu adalah Cia.


"Cia!" teriak Adelio lalu segera berlari dan menghampiri Cia yang kini tak henti-henti nya menangis sambil berbicara tak jelas.


Adelio berlutut dan segera memegang bahu Cia yang kini terasa dingin, yah hawa dingin dari angin malam memang rasa sekarang.


"Cia!" panggil Adelio.


Cia tak menghiraukan ujaran Adelio tetap saja menangis sambil berteriak memanggil nama Mama dengan suara celah tangisan di sana.


"Cia!" panggil Adelio.


"Mamaaa!!!" teriak Cia.


"Cia!" panggil Adelio yang semakin mempererat kedua tangannya menyentuh bahu Cia yang masih terbaring di atas kuburan.


Adelio menoleh menatap kayu nisan yang kini bertuliskan nama Fatima di sana dan ini semua membuat Adelio tau jika Cia sedang menangisi makam seorang wanita yang Adelio pun tak tahu siapa wanita yang bernama Fatima itu. Adelio tak pernah melihatnya.


"Mamaaaa!!!" teriak Cia.


"Cia!!!" panggil Adelio sambil mengguncang pelan bahu Cia yang kini seakan tak peduli siapa yang menyentuhnya.


"Cia, ini aku Adelio," ujar Adelio membuat suara tangisan Cia langsung terhenti.