Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 75



Cia berlari melewati cairan cat yang mengalir ke arah tasnya berusaha menyelamatkan tasnya itu.


Tas itu mahal!


Cia takut jika hal yang tak Cia inginkan terjadi kepadanya.


"Aaaa!!!" teriak Cia ketika kaki kanannya terpeleset di permukaan lantai yang dipenuhi cat ungu yang licin.


Bruk!!!


Tubuh Cia terhempas di atas permukaan lantai bercat ungu itu membuatnya bertiarap di lantai seperti seekor cicak yang menempel di dinding rumah.


"Aduh!" Cia bangkit lalu terduduk di lantai berisi tumpahan cat, separuh tubuh Cia kini telah menjadi ungu. Wajah Cia kini di penuhi cat berwarna ungu persis seperti kue donat yang telah dicelup ke dalam cream anggur.


Bidadari itu kini tertawa setelah melihat wajah Cia yang berwarna ungu di sana. Cia membuka mata lalu ikut tertawa.


Bidadari itu semakin tertawa melihat wajah Cia yang terlihat lucu, hanya bola mata dan giginya yang bewarna putih bersih sementara yang lainnya penuh dengan cat.


Firdha menutup mulutnya berusaha menahan tawa dari luar setelah melihat kejadian tadi. Firdha penasaran dengan lukisan yang putrinya itu lukis seperti apa yang Jef beri tau kepadanya hingga membawanya kembali ke tempat ini.


Ada air mata kebahagiaan yang mengalir di pipi Firdha, pasalnya baru kali ini Firdha melihat Putrinya itu kembali tertawa setelah bertahun-tahun lamanya dan itu semua karena gadis bernama Cia.


Cia menyiram wajah dan seluruh tubuhnya yang berwarna ungu dengan air yang mengalir dari kerang air di taman belakang sebelum cat itu mengering di seragam pramukanya.


Cia melangkah menghampiri bidadari itu yang kini telah duduk di kursi panjang. Naini telah mengganti pakaian bidadari dengan pakaian yang bersih walaupun bidadari itu sempat memberontak tadi, yah harus bagaimana lagi pakaian bidadari juga kotor karena terkena cat.


Naini sempat menawarkan kepada Cia untuk menukar seragam pramukanya dengan pakaian bersih tapi Cia menolak.


Cia duduk di kursi panjang tepat di sebelah bidadari dengan rambut yang terlihat basah, yah Naini telah memandikan bidadari tadi. Bidadari itu tersenyum tipis menatap bunga-bunga berwarna pink yang terlihat bermekaran, terlihat sangat cantik, yah Cia mampu melihat itu.


Cia meraih pemotong kuku dari tas hitam miliknya, bagian atas tas hitamnya itu kini terdapat bercakan cat berwarna ungu. Niatnya untuk menyelamatkan tasnya tadi gagal total.


Cia meraih jari-jari lentik dengan kuku-kuku yang panjang itu dengan hati-hati, Cia takut jika bidadari itu memukulnya seperti bidadari itu yang telah menampar Naini cukup keras kemarin. 


"Cia potong kuku bidadari, yah?" tanya Cia dengan hati-hati.


Bidadari hanya terdiam, membisu.


Cia tersenyum lalu memotong kuku yang sangat panjang dan kotor itu dengan hati-hati.


"Setelah ini Ayah Cia nggak bakalan bilang kalau kakak bidadari itu kuntilanak," ujar Cia.


Firdha terdiam mematung di balkon menatap Putrinya dan Cia yang nampak duduk di taman bagian bawah. Baru kali ini ada yang berhasil memotong kuku putrinya itu, selama ini tak ada yang berhasil memotong kuku panjang Putrinya itu. Tapi melihat ini semua rasanya tak mungkin. Siapa gadis bernama Cia ini?


Cia menuangkan minyak kemiri ke kedua telapak tangannya itu lalu mengosoknya pelan.


"Ini minyak kemiri, Cia usap di rambut bidadari, yah?" ujar Cia sambil memperlihatkan telapak tangannya yang berminyak.


Bidadari itu hanya terdiam, tanpa ekspresi.


Dengan pelan Cia mengusap rambut bidadari yang panjang dengan lembut lalu menyisir rambut bidadari dengan sisir yang Cia gunakan tadi pagi. Cia sangat bahagia hari ini, rasanya Cia punya seorang kakak yang sangat cantik seperti bidadari.


"Mama Cia sering loh sisir rambut Cia," ujar Cia memberi tau namun, bidadari itu hanya terdiam.     


"Rambut bidadari cantik."


Cia kembali menyisir rambut bidadari dengan penuh kasih sayang, sesekali tiupan angin menghembus rambut panjang bidadari membuatnya terlihat sangat cantik.


...____****____...


Cia berdiri menatap Abraham dan Firdha dengan senyuman tepat di depan pintu utama. Tetesan air nampak menetes di seragam pramuka Cia membuat genangan air di lantai.


Tas hitam Cia yang terdapat bercakan cat berwarna ungu kini sudah berada di punggung Cia.


Cia mengkerutkan alisnya keherangan  menatap Firdha yang nampak tersenyum, entah mengapa wanita berwajah Nenek sihir ini tersenyum kepadanya. Apa dia amnesia?


"Saya lamit dulu, Pak," Ujar Cia sembari menatap Abraham yang berdiri di samping Firdha.


"Besok kamu ke sini lagi, yah!"


"Lagi?"


Abraham mengangguk.


"Jadi besok Cia bisa ke sini lagi, Pak?" tanya Cia dengan tatapan tak percaya.


"Beneran, Pak," tanya Cia lagi.


"Em, Cia!" Firdha melangkah maju menyentuh bahu Cia pelan membuat Cia terkejut hingga membuatnya melangkah mundur berusaha untuk menghindar.


"Maafin saya, yah, karena saya udah marahin kamu tadi," ujar Firdha.


Cia tak percaya jika Nenek sihir ini mengatakan maaf kepadanya, apakah ini benar tapi mengapa Firdha meminta maaf secara tiba-tiba kepada Cia?


"Kamu mau kan maafin saya?"


"I...iya Tant... eeh nyonya," ujar Cia sembari mengigit bibir bawahnya karena kembali memanggil Firdha dengan sebutan Tante.


"Nggak apa-apa kok, kalau Cia panggil saya dengan sebutan Tante!" Firdha tertawa membuat Abraham ikut tertawa sementara Cia hanya tersenyum kaku.


"Mungkin jika ada waktu, Tante pengen deh ketemu sama Ibu dan Ayah kamu."


"Mama saya sakit Tante."


"Oh, yah?"


Cia mengagguk pelan lalu menunduk.


"Ayah kamu?"


Cia mengangkat pandangannya menatap Firdha yang kembali berucap.


"Emm, Ayah saya ada kok Tante."


"Kalau begitu Tante pengen banget ketemu sama Ayah kamu, boleh?"


"Mungkin untuk minggu ini dan minggu depan Ayah saya nggak bisa keluar rumah dulu karena harus ngejagain Mama Cia yang sakit," jelas Cia. 


Cia menoleh menatap jam hitam di tangannya yang telah menujukkan pukul setengah enam, yah sudah hampir gelap. Cia bahkan hampir lupa dengan acara ulang tahun Loli.


"Cia pamit dulu, yah, Pak, Tante," ujar Cia lalu berpaling meninggalkan Abraham dan Firdha dengan berlari cukup kencang.


"Dia sepertinya terburu-buru," ujar firdha menatap Cia yang kini semakin menjauh.


"Entah lah."


"Tapi Mas, aku sangat bahagia jika Cia selalu ada di samping Kasya."


Abraham mengangguk.


"Cia membawa kebahagian tersendiri bagi Kasya," ujar Firdha lagi.


...____****____...


"Bagaimana bos?" bisik Jef yang telah berdiri di samping Abraham.


Abraham melirik Jef lalu terdiam.


"Tapi kenapa bos?" ujar Jef tak percaya mendengar perkataan Abraham.


Abraham memutar kursi hitamnya lalu menatap Jef dengan tatapan yang masih ragu. Perlahan Abraham bangkit dari kursi ruangannya itu lalu menatap pemandangan taman dari balik kaca jendela.


"Saya rasa Cia tak perlu dikaitkan dengan pacarnya itu yang memliki nama dan berwajah mirip dengan bocah itu."


"Sampai di sini saja Jef!"


"Tapi bos-"


"Jef!"


Jef terdiam.


"Kasya merasa bahagia bersama gadis bernama Cia itu, lagi pula saya rasa bocah itu memang sudah meninggal."


"Jadi?"


"Yah cukup sampai di sini!"