
Zandi dan Revan menoleh menatap para murid-murid perempuan yang nampak berteriak kompak bahkan zandi dan Revan tak pernah menatap kekompakan ini sebelumnya.
Adelio tersenyum lalu sedikit mengangguk menghentikan ucapannya ketika murid-murid yang kebanyakan perempuan ini menyahuti ucapannya dengan kompak.
"Aaaaaaaaa!!!!!" Teriak histeris gadis-gadis yang duduk paling belakang.
"Aaaaa !!!"
"Ya ampun !!!"
"Ih, ya ampun senyumnya itu, loh"
"Ya ampun manis banget."
"Gula kali manis," ujar zandi sambil menatap ke arah murid-murid perempuan dengan tatapan sinis.
"Perkenalkan nama saya Adelio Dzaky Aruf bisa dipanggil Adelio, asal dari Makassar." jelasnya.
"Kalau panggil sayang boleh nggak ?" Teriak cahaya sambil menopang dagunya menatap dengan senyuman kearah Adelio.
"Gatel, lu !" Teriak loli sinis.
"Husst, udah-udah ! Adelio sekarang kamu duduk di-"
Bu Nani terdiam menatap kesekeliling ruangan mencari kursi yang kosong.
"Duduk di sini ajah, Bu !" Teriak loli sambil menepuk kursi yang didudukki Marisa duduk Ki.
"Enak ajah terus gue dimana ?"
"Tu duduk di kursi cia, lagian si cia nggak ada!" Loli memajukan bibirnya seakan menunjuk kursi cia di samping jendela.
"Enak aja, gue nggak mau berurusan sama si Cia, lu nggak tau kalau si cia marah tuh nyeremin tau nggak, kayak mau makan orang," jelas Marisa.
"Baik Adelio, kamu duduk di kursi sana, yah !" Bu Nani menunjuk kursi yang berada di samping jendela paling belakang.
Adelio mengangguk lalu melangkah melintasi murid-murid yang menatapnya disetiap langkah yang Adelio lakukan. Sesampainya Adelio langsung duduk meletak kan tas hitamnya di kursi yang berada di sebelahnya yang nampak berdebu. Adelio sedikit mengkerutkan alisnya menatap debu yang nampak menghiasi bangku tersebut.
"Ini tisyu buat lap bangkunya maklum yang punya bangku agak jorok!" Ucap cahaya sambil menjulurkan tisyu ke hadapan Adelio sambil tersenyum. Adelio tersenyum sambil meraih tisyu yang cahaya julurkan untuknya.
"Nama ku, Cahaya. Hehehe salam kenal, yah."
"Minggir, Lo!" Ujar loli sambil menyenggol kasar tubuh cahaya.
"Tau nih gatel banget," tambah Marisa.
"Hay Adelio, Kenalin nama aku Loli anak dari kepala sekolah SMA Garuda bangsa."
Loli menjulurkan jari-jari lentiknya sambil tersenyum manis.
Adelio tak peduli ia tak menyambut jari-jari gadis cantik itu yang kini terdiam. Adelio hanya terus mengusap permukaan meja dengan tisyu ke bangku yang memang sangat kotor. Entah siapa pemilik bangku ini sampai-sampai membiarkan bangku ini sangat kotor dan berdebu.
"Helloooo, ada orang disini !" Ujar loli lagi.
Adelio masih terdiam. ia sudah janji dengan Harni untuk tidak berhubungan dengan perempuan di Jakarta.
"Selamat pagi !!!" Pak Yanto melangkah masuk kedalam kelas sambil membawa buku di tangannya.
Loli, Marisa dan Medika segera berlari menuju bangkunya ketika pak Yanto si guru botak itu melangkah masuk kedalam kelas.
Cia menyandarkan tubuhnya ke dinding tepat di bawa jendela yang tak lain adalah jendela kelasnya, Cia membuka tasnya lalu meraih buku catatan agamanya dan merobek kertas tersebut. Cia menulis kata ready di kertas tersebut lalu meremuk nya dan kembali memasukan buku dan pulpen ke dalam tasnya.
Cia melempar kertas tersebut ke jendela dengan cepat.
Tak!
Adelio menutup matanya dengan cepat ketika sebuah benda mengenai kepalanya entah apa itu. Adelio kini menatap kertas yang kini menggelinding di meja dan jatuh ke lantai.
Adelio terdiam menatap kertas yang nampak terlah diremuk dan tergeletak di lantai yang entah datang dari mana. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari orang yang melemparnya namun, betul saja tak ada satu pun orang yang sedang menatapnya bahkan mereka sibuk menulis sesuatu entah apa itu.
Cia terdiam di bawah jendela sambil menengadahkan kepalanya menanti Fika melempar kertas tersebut, biasanya Fika tak selama ini melempar kertas tersebut ke luar kelas dan memberikan aba-aba untuk cia melompat ke dalam kelas tapi, apakah selama ini atau si bodoh itu sedang tidur di dalam kelas.
Cia menghembuskan nafas berat rasanya ia ingin memukul gadis bodoh itu, selain dia tidak membalas chat darinya dia juga tak mengerjakan tugas dari pak Yanto.
Adelio menggeleng pelan mungkin, saja kertas yang mengenai kepalanya itu hanya terbang di tiup angin atau entahlah Adelio tak peduli.
Adelio melempar kertas tersebut dengan malas ke luar jendela dan menatap ke arah pria tua berkepala botak yang nampak mengabsen murid-murid.
Senyum Cia nampak mengembang menatap kertas yang terlempar keluar dari jendela. Satu hal yang membuat Cia bahagia adalah Fika yang tidak apa-apa buktinya dia masih ke sekolah dan melempar kertas itu seperti biasanya. Cia kini terdiam di bawah jendela menanti Fika yang memberi aba-aba seperti biasanya namun tak kunjung terdengar.
"Ini si Fika kenapa nggak batuk sih ?"
Pikir Cia sambil berusaha mendengar dengan jelas suara batuk yang biasanya dilakukan oleh Fika sebagai pertanda bahwa waktu yang tepat untuk cia melompat ke dalam kelas.
"Ah, bodoh amat. Jangan sampe ada guru yang ngeliat gue di sini."
Cia bangkit lalu memanjat ke jendela kelas yang cukup tinggi itu rasanya berlama-lama di luar adalah hal yang buruk dan bisa-bisa dia dapat hukuman jika, ada yang melihatnya apa lagi jika pak Yanto bisa melihatnya pasti cia akan di marahi habis-habisan olehnya.
Tangan Cia memegang erat pinggir jendela berusaha menaikkan lututnya ke jendela kelas tanpa melihat ke depan dan terus menatap kebawah memastikan lututnya berada di permukaan bawah jendela, cia pun tak peduli dengan rambut hitamnya yang kini nampak menutupi wajahnya.
Adelio terdiam menatap satu persatu murid yang mengangkat tangannya ketika namanya di sebut oleh pria botak itu yang duduk di depan sana. Kedua alis Adelio nampak mengkerut ketika mendengar sesuatu yang berisik dari luar jendela entah apa itu. Ia menggeleng pelan mungkin itu suara kucing atau burung yang membuat kebisingan di luar atau entah lah yang jelas Adelio tak peduli.
Adelio menopang pipinya menatap ke jendela rasanya ia masih bisa merasakan kehangatan kota Makassar dari awan putih serta langit biru yang indah itu.
Adelio mengkerutkan alisnya. Rasanya kebisingan itu semakin menjadi-jadi.
Mata Adelio membulat menatap sosok berambut hitam dengan seragam sekolah SMA sedang memanjat ke jendela kelas tepat di sampingnya.
"Haaaaa!!!!!" Teriak Adelio lalu bangkit dari kursi menatap syok dengan apa yang sekarang ia lihat ini.
"Haaaaaaa!!!!!!" Teriak Cia ketika suara pria yang lantang itu berteriak yang berhasil membuatnya terkejut tepat di hadapannya.