
"Ah gue nggak tahu mau ngomong apa sama lo," keluh Ogi.
Cia mengkerutkan alisnya menatap heran pada sikap Ogi. Cia mendecapkan bibirnya, rasanya waktunya ini terbuang sia-sia begitu saja bersama Ogi.
"Ya udah," ujar Cia lalu segera bangkit dari kursi panjang berniat untuk melangkah pergi namun belum sempat Cia melangkah Ogi telah memegang pergelangan tangan Cia.
Cia terdiam, Ini sudah yang kedua kalinya seorang Ogi mencegahnya untuk pergi dari sini. Cia tak tahu sebenarnya Ogi ingin menyampaikan apa kepadanya hingga selalu mencegahnya.
"Cia," panggil Ogi.
"Apa lagi sih?" tanyanya kesal.
"Kasi gue waktu! Duduk dulu!" mintanya.
"Gi, gue udah ngasih lo waktu dan lo belum ngomong juga."
"Yah udah deh gue udah tau gue mau ngomong apa sama lo," ujar Ogi cepat. Rasanya kesempatan ini tak boleh ia sia-sia kan.
"Lepas!" Tatap Cia sinis ke arah tangannya yang masih digenggam oleh Ogi dengan erat.
Ogi mengangguk lalu segera melepas peganganya dari tangan Cia. Cia menghembuskan nafas lega setelah terbebas dari genggaman Ogi. Cia melangkah dan kembali duduk di samping Ogi.
Ogi mengacak-acak rambutnya itu seakan tak sanggup untuk melakukan hal ini tapi mengapa perasaan ini terjadi.
"Yah udah cepetan ngomong!" pintah Cia.
Ogi mengangguk pelan lalu kembali menundukkan pandangannya dan meremas tangannya sendiri dengan perasaan gugup. Jujur saja, baru kali ini ia merasakan hal sebodoh ini.
"Lo niat nggak sih mau ngomong?" tanya Cia dengan nada kesal. Cia sangat bosan untuk menunggu apa yang akan dikatakan Ogi.
"Iya, iya, iya, ini udah mau ngomong," ujar Ogi cepat sebelum Cia kembali bangkit dan pergi meninggalkannya.
Ogi menarik nafas panjang lalu segera bangkit dari kursi dan berlutut tepat di hadapan Cia yang kini nampak terbelalak. Cia tak tahu mengapa Ogi harus berlutut di hadapannya seperti ini. Mengapa Ogi harus berlutut seperti ini jika hanya ingin mengatakan sesuatu.
"Lo-" ujaran Cia terhenti ketika Ogi yang tertunduk itu nampak menjulurkan setangkai bunga mawar merah.
Kedua mata Cia kembali terbelak kaget dan ia sama sekali tak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Ogi kepadanya. Apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Ogi. Kini perasaan Cia tak karuan berada di hadapan pria yang berlutut serta setangkai bunga mawar di tangannya.
"Ma...ma...maksud lo apa?" tanya Cia kebigungan.
"Gue... Gue..." Ogi menghembuskan nafas berat rasanya mengungkapkan perasan suka kepada Cia itu rasanya sangat sukar.
Ogi tak tau mengapa jantungya berdetak cukup kencang seperti ini, apakah kemampuan fuckboynya itu sudah lenyap tapi kenapa harus hilang di hadapan seorang Cia. Seharunya perasaanya tak seperti ini, ini hanya pura-pura dan seharusnya Ogi bisa mengatakannya dengan mudah, tak seharusnya seperti ini.
"Lo mau ngomong apa sih?" tanya Cia lagi berhasil menyadarkan Ogi dari lamunannya.
"Iya, Cia?" tanya Ogi.
"Lo mau ngomong apa?" tanya Cia.
Ogi menarik nafas panjang dari hidungnya dan menghembuskannya dari ujung bibirnya.
"Ayo Ogi lo harus bisa bilang ini! Lo harus bisa bilang suka sama Cia."
"Tembak dia sekarang!"
"Tembak!"
"Ini cara biar rencana lo berhasil Ogi."
"Ayo Ogi!"
"Tapi kalau Cia marah bagaimana?"
"Bagaimana?"
"Nggak! Nggak! Dia nggak bakalan marah sama lo!"
"Cia itu adalah orang yang pernah suka sama lo dan ngeidolain lo, jadi dia nggak bakalan nolak."
"Ayo!"
"Ayo tembak Ogi!"
"Tembak!" Pikir Ogi seakan beradu dengan suara hatinya sendiri.
"Emm gu...gu...gue-" ungkap Ogi terbata-bata.
"Emm maksud gue-" Ogi menghentikan ucapannya lalu mengigit bibir bawah.
"Lo mau nggak jadi-"
"Ayo Gi bilang! Bilang! Lo bilang kalau Cia mau jadi pacar lo atau nggak!
"Tembak sekarang!"
"Tembak!"
Ogi memejamkan kedua matanya dan mengusap rambutnya yang basah karena keringat dan tangannya yang ikut gemetar. Gemetar? Hah,. bahkan ia baru sadar jika ia gemetar hanya karena mengatakan ini. Cia menatap wajah Cia dengan tatapan serius, wajah yang terlihat sangat cantik.
"Gi!!!" bentak Cia membuat suasana indah Ogi yang terus menatap wajah Cia terpecah begitu saja.
"Lo kok malah bengong sih?" tanya Cia kesal.
"Ma...ma...maaf Cia, gue....gue-"
"Apa?"
Ogi terdiam, ia kembali mengusap rambutnya berusaha menutupi kegugupannya.
"Lo bener-bener ngebuang waktu gue dengan sia-sia. Udah sana gue mau pergi!"
Cia bangkit dari kursi panjang lalu kembali melangkah membuat Ogi kembali memegang pergelangan tangan Cia.
"Apa lagi sih?" Kesal Cia yang kini menoleh menatap Ogi.
"Ok, ok, gue bakalan ngomong!"
"Lo udah ngomong ini dari tadi tapi lo nggak ngomong-ngomong juga."
"Ya ini gue udah mau ngomong, tapi please lo duduk dulu!" minta Ogi penuh harap.
"Tapi dari tadi lo nggak ngomong-ngomong!!!" teriak Cia kesal.
"Iya, iya gue janji, kali ini gue janji gue bakalan ngomong!"
Cia menghembuskan nafas berat lalu kembali duduk ke kursi panjang dan menatap Ogi dengan malas.
"Cia," sebut Ogi lembut.
"Em," sahut Cia malas.
"Lo mau nggak jadi pa...pa...pa...ca...ca...aehhh," keluh Ogi.
"Apa?" tanya Cia dengan ekspresi wajah datar seakan rak tertarik dengan apa yang akan dikatakan oleh Ogi.
"Lo mau nggak jadi sahabat gue!!!" teriak Ogi di akhir kalimatnya.
Suasana nampak begitu hening setelah kalimat itu terlontar dari mulut Ogi. Cia terpatung dari kursinya menatap Ogi yang masih berlutut di hadapannya tetap dengan bunga mawar yang berada di tangan Ogi.
"Apa?" Tatap Cia malas. Ternyata hanya itu yang ingin diungkapkan oleh Ogi dengan memakan waktu yang sangat panjang.
"Ah gila kenapa gue nggak bisa nembak sih?"
"*Ah kenapa gue malah salah ngomong?"
"Harusnya lo tanya Cia, apa dia mau jadi pacar
gue atau nggak bukan malah nanya dia mau jadi sahabat gue atap nggak*!" Gerutu Ogi kesal kepada dirinya sendiri.
"Gimana?" tanya Ogi ragu kepada Cia.
"Gue tolak," jawab Cia lalu segera bangkit dari kursinya.
Cia kini melangkah pergi meninggalkan Ogi yang hanya mampu menghembuskan nafas berat setelah menghentikan sebuah angkot berwarna biru.
Ogi bangkit lalu segera duduk di kursi panjang itu menatap kepergian Cia yang sama sekali tak pamit kepadanya.
Ogi sama sekali tak mengerti dengan dirinya sendiri, mengapa ini bisa terjadi. Seharunya Ogi bisa mengatakan hal yang sering ia lakukan dan katakan kepada ribuan gadis-gadis tapi mengapa mengatakan perkataan ini kepada Cia begitu sangat sulit untuk terucap.
"Kok gue bego sih?" kesal Ogi dikeheningan itu.