
Hari-hari berlalu begitu saja tanpa ada yang mengetahui kehamilan Kasya yang kini janin yang berada di rahimnya semakin berkembang dan membuat perutnya berangsur agak membesar walau masih bisa ditutupi oleh baju.
Kasya harus melewati hari-harinya dengan sebuah kecemasan. Ia bahkan tak mampu untuk ikut pelajaran olahraga karena tak mampu untuk berlari keliling lapangan seperti apa yang selalu ia lakukan.
Kasya juga selalu tak masuk sekolah karena selalu mengeluh pusing dan mual. Kasya kini selalu menjauhi teman-temannya yang mengajaknya untuk jalan-jalan ke mall atau ke tempat liburan. Kasya tak mau kalau mereka semua curiga kepadanya. Kasya juga selalu membeli baju yang berukuran agak besar dan menghindari baju yang ketat agar perutnya yang agak membesar itu tak dilihat oleh orang banyak.
Kehidupan yang penuh penyiksaan bagi Kasya yang harus menjalaninya sendiri sementara Devan, Devan tak mungkin ada untuknya disetiap hari. Ukuran badan Kasya yang dulunya ramping kini harus terlihat agak berisi karena Kasya yang sering sekali makan makanan yang ia suka.
Kasya membuka jendela dengan wajahnya yang terlihat polos tak menggunakan makeup menatap taman belakang rumahnya yang kini terlihat sangat indah.
Kasya menunduk menatap perut yang mulai membesar dengan tatapan sedih. Seperti inikah rasanya wanita hamil yang harus merasakan berat di perut dan rasa sesak bahkan tidur Kasya tak pernah nyenyak disetiap malam.
Penuh penderitaan.
...___***___...
Devan berlari menuju sebuah bangku dimana Kasya duduk di sana sambil membawa sebuah mangga yang Kasya minta.
"Kak Kasya," ujar Devan lalu menjulurkan sebiji mangga membuat Kasya tersenyum.
"Kakak mau mangga kan?" tanya Devan membuat Kasya mengangguk lalu meraih mangga itu dengan rasa bahagia.
Devan duduk di samping Kasya yang kini tersenyum menatap mangga yang kini ada dalam genggamannya.
"Ini juga," ujar Devan menjulurkan kertas ke arah Kasya.
Kasya terdiam menatap heran ke arah kertas yang dijulurkan Devan kepadanya.
"Apa ini?" tanya Kasya.
"Ambil dulu!" pintah Devan sambil menggerak-gerakkan kertas itu di hadapan Kasya.
Kasya kini meraih kertas itu membuat Devan duduk di samping Kasya namun menjaga jarak dari Devan. Setelah kejadian di gudang itu, kini Kasya seakan membatasi Devan untuk dekat dengannya.
kasya kini menatap kertas yang telah berada di tangannya. Sebuah lukisan di kertas yang memperlihatkan tiga ekor kupu-kupu berwarna biru bercorak kuning emas, salah satu dari ketiga kupu-kupu itu terlihat berukuran sangat kecil.
"Ini kamu yang gambar?" tanya Kasya.
Devan mengangguk.
"Kasya tau nggak? Ini Devan." Tunjuk Devan ke permukaan kertas yang terdapat kupu-kupu yang paling besar itu.
"Yang ini kasya." Tunjuk Devan lagi ke arah kupu-kupu yang lain.
Kasya mengangguk paham, lalu menatap kupu-kupu dengan ukuran yang paling kecil.
"Kalau ini?" Tunjuk kasya.
Devan tersenyum simpul.
"Ini....ini yang ada di perut kasya," ujar Devan lalu tertunduk malu.
Kasya kini ikut tertunduk lalu menatap perutnya yang belum membesar.
"Oh iya Kak Kasya, emmm ini kartu tanda pengenal OSIS kakak," ujar Devan lalu menjulurkan kartu itu.
"Loh?" Tatap kasya heran menatap kartu tanda pengenalnya yang sudah tak lengkap. Tak ada fotonya lagi di sana.
"Foto aku mana?"
Devan tersenyum malu lalu meraih foto Kasya yang ada di saku bajunya.
"Aku simpan."
"Yah kok gitu sih?"
"Aku suka," jawab Devan.
...___***____...
5 Bulan kemudian...
Kasya kini berdiri menatap perutnya di depan cermin yang kini semakin membuncit ke depan. Kasya menelan ludah, kini umur kehamilannya sudah memasuki sembilan bulan lebih tanpa membuat orang-orang curiga jika ia mengandung.
Kini Kasya meraih sebuah kain panjang dan segera mengikat perutnya yang buncit itu dengan sangat kuat, membuat Kasya meringis merasakan sakit yang luar biasa setiap kali ia mengikat perutnya itu. Beberapa kali Kasya merasakan bayi yang di dalam perutnya itu menendang membuat Kasya semakin mempererat ikatannya.
Ini semua Kasya lakukan agar tak ada satupun yang curiga dengan perutnya yang besar.
"Aaaaah!" aduh Kasya kesakitan ketika dengan rasa yang begitu sangat sakit menghantam perutnya.
Rasanya seperti mulas tapi ini lebih menyakitkan, membuat lutut Kasya gemetar hebat diiringi cucuran dari dahinya. Kasya mengigit bibir sambil meremas rok sekolahnya yang kini basah karena keringatnya.
"Aaaaaah!!!" jerit Kasya menggeliat di lantai kamarnya. Jeritan kasya kini berangsur menghilang setelah dengan cepat tangannya membungkam mulutnya.
Kasya kini menarik nafas legah ketika rasa sakit itu kini mulai berangsur menghilang. Kasya kini bangkit dari lantai lalu merapikan seragamnya yang berantakan.
Kasya kini melangkah turung melewati anakan tangga lalu duduk di samping Firdha yang nampak tersenyum.
Kasya tertunduk seakan tak mampu menatap senyum tulus Ibunya yang telah ia kecewakan andai ia tahu semua jika tau anak kebanggaan Anaknya ini telah berbuat kotor dan kini telah mengandung.
"Makan Sya!" ajak Firdha sambil mengolesi selai di atas roti.
Kasya mengangguk sambil tersenyum. Tak lama dahi Kasya mengkerut ketika Kasya merasakan mulas yang menjalar di sekujur perutnya, ini sangat menyakitkan.
Kasya mengigit bibirnya cepat berusaha tak menjerit di hadapan kedua orang tuanya yang kini saling bercanda.
Kasya kini meremas roknya yang semakin basah kerena keringatnya. Kakinya kini gemetar hebat, tak tertahankan. Tanpa sadar tubuh Kasya kini meringkuk ke bawah seakan tak mampu untuk menahan sakit.
"Kasya." Tatap Firdha heran lalu segera menyentuh bahu Kasya yang gemetar menahan rasa sakit.
Kasya kini menarik nafas panjang lalu kembali menegakkan duduknya sambil tersenyum berusaha menutupi rasa sakitnya yang sudah menyelimutinya.
"Kamu sakit?" tanya Firdha setelah Menyadari wajah Kasya yang nampak pucat dengan cucuran keringat di dahinya.
Kasya menggeleng cepat.
Firdha kini menghembuskan nafas berat. Wajah pucat Anaknya itu seakan menandakan jika Kasya sedang sakit. Firdha kini berteriak memanggil Naini yang kini mendekat sambil membawa sebuah pel.
"Iya Nyonya."
"Bawa Kasya masuk ke kamarnya!" pintah Firdha membuat Naini mengangguk lalu mendekati Kasya yang kini semakin merasa kesakitan namun mencoba menutupinya dengan senyuman.
"Mari Non!" ujar Naini dengan nada lembut lalu membantu Kasya yang kini mulai bangkit dari kursinya.
Kasya kini melangkahkan kakinya dengan pelan. Tak sadar air mata kasya kini tumpah ruah membasahi pipinya tak sanggup menahan rasa sakit ini.
BRUK
Tubuh Kasya kini terhempas ke lantai membuat semuanya panik dan segera menghampiri Kasya.
"Aaaaaaaaa!!!" jerit Kasya ketika rasa sakit itu sudah tak mampu Kasya tahan. Membuatnya tak sadar meremas perutnya.
"Kasya." Tatap Firdha lalu memangku kepala Kasya yang masih terbaring ke lantai.
"Pe...pe...perut Ka...Ka...Kasya sakiiiit aaaaaaa!!!" jerit Kasya memberi tahu.
Degan cepat semuanya kini menatap perut kasya. Naini yang mendengar hal itu dengan cepat menyentuh perut kasya.
"Hah!!!" Kejut Naini menjauhkan jari-jarinya yang telah menyentuh perut kasya yang terasa keras.
Semuanya kini semakin terkejut ketika darah segar mengalir dari balik rok kasya yang kini mengotori lantai yang putih.
"Astaga, Kasyaaaaa!!!" jerit Firdha dengan tatapan panik.