
"Cia capek!!!"
"Cia haus!!!"
"Cia lapar!!!"
"Cia pengen pulang!!!" Tangis Cia pecah diiringi air mata yang dibiarkan jatuh begitu saja membasahi pipinya.
Devan terdiam memikirkan sesuatu sembari terus menatap wajah Cia yang kini semakin menyedihkan.
...____***____...
Langkah berat Devan terus berjalan sambil menggedong tubuh Cia yang sudah kelelahan ditambah lagi dengan boneka beruang yang berukuran lebih besar dibandingkan tubuh Cia. Devan sedari tadi sudah memaksa Cia untuk membuang boneka beruang itu tetapi, Cia menolak. Kresek hitam nan besar itu nampak masih ada di genggaman Cia hingga menambah beban yang harus dibawa Devan.
Hari semakin gelap setelah secara perlahan matahari nampak terbenang membuat langit berwarna oranye, terlihat sangat indah. Beberapa orang-orang dengan pakaian kokoh nampak berlalu setelah menyelesaikan sholat Maghrib di masjid.
"Van, lo katanya nggak punya uang, tapi bisa beliin gue pop ice?" tanya Cia sembari sesekali menyeruput pop ice itu dengan sedotan.
Devan terdiam sepertinya Cia tak sadar jika tadi Devan menukarkan beberapa coklat dan biskuit yang ada di kresek hitam itu kepada penjual pop ice di pinggir jalan.
"Van!" panggil Cia lagi.
"Emm," sahut Devan malas.
"Van," panggil Cia lagi.
"Cek, apa sih?"
"Bilang iya dong! Masa bilangnya cuman em doang?"
"Iya, apa Cia?" ujar Devan dengan kesal.
"Nah gitu dong. Cia berat nggak?"
"Lo nggak berat tapi boneka lo tuh yang berat."
Cia memoyongkan bibirnya ke depan setelah mendengar ucapan Devan yang begitu terdengar sangat kesal kepada boneka beruangnya. Cia mendecapkan bibirnya lalu kembali menyeruput pop ice dinginnya.
"Van!"
Tak ada sahutan dari Devan lagi membuat suasana menjadi sunyi dan sepi.
"Van! Mau nggak?" ujar Cia menyodorkan sedotan dengan pop ice itu ke arah mulut Devan.
Tanpa sepatah kata Devan memasukkan sedotan itu ke dalam mulutnya dan meneguk pop ice rasa coklat yang masih dingin beberapa kali.
"Enak nggak?"
"Emm, rasa jeruk," ujar Devan bercanda.
"Hah?" Tatap Cia kebingungan.
Bagaimana bisa Devan mengatakan jika pop ice ini rasa jeruk sementara pop ice yang telah masuk ke mulut Cia rasa coklat. Mungkin kepala Devan terbentur sehingga ia tak mampu membedakan rasa.
"Gila!" bisik Cia penuh tekanan.
Devan hanya terdiam diiringi senyum tipis di bibirnya.
"Van, lari dong biar cepet!".l
"Gue bukan super hero yang bisa lari sambil gendong lo kayak gini. Lo kira lo nggak berat? Terutama sama boneka lo itu yang nambah berat!" ujar Devan sinis melirik boneka beruang itu yang berada di samping wajahnya dengan wajah sinis membuat Cia sedikit terkejut dengan tatapan sinis itu lalu segera menutup mata boneka beruang.
"Jangan diliat, yah! Ayah Devan emang kayak gitu, suka marah-marah soalnya dia itu orang jahat," bisik Cia pelan ke arah telinga beruang itu tetapi tetap saja suara itu mampu Devan dengar bahkan sangat jelas, karena Cia mengujarkannya nyaris menyentuh telinga Devan.
"Heh! Lo kok malah ngefitnah gue?"
"Loh, Fitnah apa?"
"Yah itu tadi!"
"Itu bukan fitnah tapi kenyataan."
"Kenyataan apa?"
"Yah, kenyataan kalau Devan itu suka marah-marah," jelas Cia.
"Nggak enak aja."
"Boneka beruang, Ayah Devan itu pemarah. Tuh liat sendiri dia sekarang marah-marah!"
"Heh! Nggak! Nggak! Jangan percaya boneka beruang!" ujar Devan dengan wajah kesalnya dan tanpa ia sadar ia kini telah bicara dengan boneka beruang itu.
"Van, ini itu bukan boneka Cia loh tapi, bonekanya si Loli yang dikasi ke Cia buat Devan!"
"Van ini itu mahal lo!"
"Oh iya temen Cia yang namanya Medika ngasih Devan bunga terus ada surat cintanya gitu, ah cieee Devan," goda Cia sambil menusuk-nusuk pipi Devan.
"Em." Kesal Devan menjauhi pipinya.
"Nanti kalau udah sampe rumah bunganya buat Cia, yah?"
"Terserah!"
"Bunga mawarnya asli loh, Van!"
Cia tersenyum membayangkan bunga itu.
"Mahal tuh pasti!"
"Oh iya, Van, tadi Cia itu niatnya mau jual coklat, biskuit, terus apa lagi yah?"
Cia menghentikan ucapannya yang sedari tadi tak henti-hentinya berucap di telinga Devan yang kini hanya terdiam tak menangapi ucapan cia bahkan memotongnya pun tidak.
"Ada wafer juga," ujar Cia lagi dengan wajah yang begitu kegirangan sementara Devan masih terdiam.
"Oh iya nanti coklat yang di tas Cia buat Cia, yah, terus yang di kresek hitam buat Devan terus...".
"Mamat."
"Yuang."
"Dan...."
Langkah kaki Devan terus melangkah menyusuri Trotoar menuju rumah yang nampaknya masih jauh di iringi suara ocehan Cia di belakang tubuhnya itu.
...___***___...
"Ye ye ye sampai! Sampai!" Nyanyi Cia begitu gembira sambil melompat menuju ke dalam rumah setelah pintu di buka oleh Devan yang nampak begitu kelelahan.
"Van, Devan!!!" teriak Cia.
"Apa lagi sih?" tanya Devan dengan wajah lelahnya.
"Bonekanya buat Cia, yah? Boleh yah? Yah?"
Devan yang tengah mengunci pintu kini menoleh menatap Cia yang masih berdiri sambil menunggu jawaban dari Devan.
"Emm," sahut devan malas.
"Yeee!!! Cia punya boneka lagi!!! Cia punya boneka beruang!!!!" Nyanyi Cia lagi sambil melompat kegirangan.
"Cia mandi!!!" teriak Devan.
Devan meletakkan nasi berbau hangus itu di piring Cia yang berwarna putih diiringi tatapan melongo dari Cia.
Rambut Cia nampak basah setelah mandi tadi, kini baju nya pun telah diganti dengan baju kaos hitam serta celana pendek sebetis.
"Kok hangus lagi?"
Devan yang tengah menuangkan saus di piringnya kini terdiam menatap Cia yang mengangkat piring putih memperlihatkan nasi masakannya.
"Lo sebenarnya niat nggak sih ngasih makan gue?"
"Yah niat lah," Jawabnya jujur.
"Niat tapi kok hangus?" Tatap Devan kecewa.
Devan tak menanggapi ucapan Cia yang lagi-lagi terlontar dari mulut cerewetnya.
"Udah lah nikmatin aja! Nggak usah banyak cerewet!"
Cia cemberut lagi, dengan berat hati Cia menyantap nasi berbau hangus itu ditambah telur dengan rasa hambar tanpa rasa, bagaimana bisa ada makanan seperti ini?
Cia meletakkan kepalanya di atas bantalnya sambil menatap langit-langit kamarnya dengan wajah lelah. Wah hari ini memang sangat melelahkan bagi Cia.
Hari ini Cia tak berkunjung di rumah bidadari tapi mungkin besok Cia bisa datang dan membawa bunga mawar merah itu untuk bidadari, bidadari pasti akan bahagia, yah, semoga saja Cia harap seperti itu.
"Ahhh semoga hari esok membahagiakan!!!"
"Nggak ada permbersihan!!! Nggak ada bully!!! Nggak ada gadis-gadis yang ngejar-ngejar Devan kayak tadi. Aaaahh!!! Gue capek banget!!!" teriak Cia.
"Beruang, temenin gue tidur, yah!" ujar Cia lalu memeluk boneka beruang pemberian Loli untuk Devan dengan begitu sangat erat.