Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 122



"Gi!!!" teriak Bastian dan Dirga kompak menghampiri Ogi yang nampak begitu kesal dengan sorotan mata tajamnya.


"Lo nggak apa-apa kan?" tanya Dirga peduli sambil menyentuh bahu Ogi yang kini nampak menggerutu kesal.


"Gi, gue liat murid baru itu ngehempas tangan lo tadi. Lo yakin nggak apa-apa?" tanya Bastian.


"Jangan sentuh gue!" bentak Ogi dengan kejam berhasil membuat semua orang terkejut terutama Dirga yang kini menjauhkan tangannya dari bahu Ogi yang dipenuhi dengan amarah yang membara.


Ogi tak menyangka jika murid baru itu berani melakukan ini kepadanya. Seumur hidupnya tak ada yang pernah berani menghempas tangan seorang Ogi si ketua geng Torak.


"Gue nggak nyangka murid baru itu berani ngehempas tangan gue, dia nggak tahu gue siapa." Ogi tertawa licik dengan tatapan marahnya.


Di sisi lain rasa kekesalan Fika kini semakin bertambah setelah lagi dan lagi Adelio datang untung menolong Cia dan kini keduanya pergi keluar dari kantin sambil berpegangan tangan. Tak lama Fika bangkit dari kursinya membuat Yuna dan Faririn mendongak.


"Lo mau kemana, Fik?" tanya Faririn.


Tanpa sepatah kata Fika segera berlari mengejar kepergian Adelio dan Cia tanpa memperdulikan Yuna dan Faririn yang masih berteriak memanggil namanya.


Fika sama sekali tak mengerti mengapa Adelio begitu sangat peduli dengan si gadis berandal itu, Cia. Entah mengapa Adelio seakan sangat peduli dengan Cia padahal jelas-jelas Cia telah punya pacar. Apakah Adelio tak mengerti dan sadar jika ia sangat suka dengan dia.


"Adelio!" Tahan Fika meraih pergelangan tangan Adelio.


Adelio menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Fika yang kini menatapnya dengan tatapan serius. Cia ikut terdiam menatap Fika yang kini memegang tangan Adelio begitu erat seakan tak rela jika Cia pergi bersama dengan Adelio.


Adelio terdiam menatap jari-jari Fika yang nampak memegang pergelangan tangannya dengan erat. Fika yang hendak bertanya sesuatu kini menatap serius ke arah tangan Adelio yang masih mengengam tangan cia.


"Lo-"


"Adelio!" panggil Pak Yanto sambil berlari dengan wajah gelisahnya sambil memegang handphonenya dari kejauhan. 


Fika yang berniat mengatakan sesuatu untuk kesekian kalinya terhenti lalu menoleh menatap Pak Yanto yang masih berlari.


"Tuh si botak kenapa pake lari-lari segala?" bisik Cia heran.


Pak Yanto kini berlari tetap dengan wajah pucatnya menghampiri Adelio yang nampak berdiri di tengah-tengah kedua gadis sambil bergandengan tangan.


"Adelio," ujar Pak Yanto yang masih mengatur nafasnya.


"Ada apa?" tanya Adelio khawatir.


Adelio terdiam masih menunggu pak Yanto kembali mengatakan sesuatu kepadanya. Kelihatanya ini benar-benar serius.


"Ibu kamu masuk rumah sakit," ujar Pak Yanto akhirnya.


"Ibu kamu masuk rumah sakit, Adelio," ulangnya lagi.


"Apa?" Tatap Adelio tak menyangka.


"Dia kena seragam jantung dan sekarang ada di ruang UGD di rumah sakit Bakti Negara," jelas Pak Yanto.


Adelio terbelalak kaget. Rasanya ada sesuatu yang menghantam dadanya cukup keras setelah mendengar apa yang baru saja Pak Yanto katakan kepadanya.


Apa yang dikatakan Pak Yanto itu benar? Rasanya Ibunya itu baik-baik saja tadi pagi tapi mengapa kabar menyedihkan itu datang dan membuatnya seakan disambar petir di siang bolong.


"Ayo, Adelio! Kita ke rumah sakit!"


Adelio masih mematung dengan tatapan kosongnya. Rasanya kabar buruk ini telah membuat kakinya terasa ngilu dan tak kuat untuk menopang tubuhnya.


"Adelio! Cepat!!!" teriak Pak Yanto yang kini telah berlari.


Dengan cepat Adelio mengangguk lalu berlari menyusul langkah Pak Yanto membuat dua gadis yang kini berada di kedua tangannya, Cia dan Fika ikut berlari dengan raut wajah panik. Adelio yang masih berlari itu kini menoleh menatap Cia dan Fika secara bergantian.


Adelio tak mungkin membawa Cia dan Fika ke rumah sakit dengan hanya menggunakan satu motor. Tetap dengan larinya itu Adelio melepas genggaman jari-jari Fika yang memegang pergelangan tangannya dengan erat lalu tetap memegang pergelangan tangan Cia dengan erat.


Fika menghentikan larinya dengan tatapan kosong menatap kepergian Adelio dan Cia yang kini semakin menjauh meninggalkannya sendiri. Apa kejadian di mana Adelio menghempasnya tangannya adalah sebuah mimpi.


Nafas Fika terasa sesak ditekan sebuah rasa yang terasa menyakitkan, menghantam dadanya bertubi-tubi. Tatapan Fika kini samar setelah diselimuti dengan genangan air yang menghalangi pandangannya. Rasanya sakit.


Fika tak menyangka jika Adelio akan melakukan ini kepadanya. Ini terasa sakit.


"Kamu meninggalkan ku?"


"Mengapa kamu tega Adelio?"


"Aku nggak nyangka kamu lebih memilih Cia dari pada aku."


"Apa yang kamu lihat dari Cia, si gadis berandal itu?"


"Buka mata kamu Adelio! Di sini aku yang suka dan cinta kamu dengan tulus, bukan Cia."


"Kenapa kamu nggak bisa ngerti?"


"Hati aku sakit ngeliat kamu pergi sama Cia."


"Aku sakit."


Air mata Fika kini menetes dan tumpah ruah membasahi pipinya begitu saja. Rasanya ini benar-benar sangat perih.


Cia yang masih berlari dengan pergelangan tangannya yang masih dipegang oleh Adelio dengan erat itu dengan cepat menoleh menatap Fika yang nampak mematung di belakang sana.


Cia tak tahu mengapa Fika tak ikut bersamanya dan memilih untuk berdiri di sana. Cia menyipitkan kedua matanya menatap lebih jelas kedua mata Fika. Apa Fika menangis?


...___***___...


Lari Cia dan Adelio sangat cepat ketika keduanya telah tiba di area parkiran rumah sakit Bakti negara, Gedung tinggi dan besar dengan 16 lantai itu begitu sangat lengkap fasilitasnya.


Lari mereka kini memasuki sebuah ruangan UGD dengan langkah yang tergesa-gesa. Pria dengan seragam putih nampak bangkit dari kursinya menatap pria dan wanita yang nampak melewatinya dengan berlari.


"Dek! Dek!" teriak pria itu.


"Lio!" bisik Cia lalu menghentikan langkahnya menatap pria berseragam putih  yang baru saja berteriak membuat Adelio ikut menghentikan langkahnya.


"Dek, mau apa?" tanya pria itu.


"Kak apa di sini ada pasien bernama Julia yang masuk ruang UGD?" tanya Adelio dengan raut wajah khawatir.


"Adelio!" panggil Pak Yanto menghampiri.


"Ibu kamu sudah ada di ruangan kamar 372 anggrek," jelas Pak Yanto lalu melangkah pergi.


Adelio mengangguk lalu dengan langkah cepat sedikit berlari ia beranjak mengikuti langkah Pak Yanto tanpa pernah melepas pergelangan tangan Cia.


Cia mengkerutkan alisnya menatap heran ke arah Pak Yanto yang nampak begitu sangat khawatir dengan Ibu dari Adelio. Sebenarnya hubungan Pak Yanto dan Ibu Adelio apa?


Mereka bertiga kini berlari dengan tergesa-gesa melewati beberapa ruangan pasien yang berurutan sesuatu dengan nomor kamar, memasuki pintu life lalu kembali berlari. Langkah terburu-buru mereka kini berakhir tepat di depan pintu ruangan dengan nomor 372.


Adelio dan Cia kini melangkah masuk ke dalam ruangan itu setelah Pak Yanto membuka pintu ruangan.


Disebuah ranjang pasien nampak wanita dengan wajah pucat terbaring di atas kasur putih lengkap dengan pakaian pasien berwarna biru serta selang infus yang terpasang di pergelangan tangannya.


"Adelio." Suara kecil dari Julia terdengar samar-samar begitu lemah.


"Bu," ujar Adelio cepat lalu melangkah menghampiri Julia setelah melepas pegangannya dari tangan Cia.


Cia kini hanya mampu terdiam menatap bahu Adelio yang nampak gemetar. Cia tahu jika pria yang selalu menolongnya itu sedang menangis, yah semuanya pasti akan merasa sedih jika orang mereka sayang akan sakit seperti ini.


Rasanya Cia ingin melangkah lalu mengusap bahu Adelio, tapi melihat Pak Yanto yang nampaknya belum beranjak pergi dari ruangan membuat Cia seakan ragu untuk melakukan itu.


"Bu, Ibu kenapa?" tanya Adelio dengan suara yang gemetar.


Julia hanya tersenyum sambil mengelus rambut hitam putranya itu tanpa menjawab pertanyaan dari Adelio.


"Om, Ibu Adelio nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Adelio sambil menatap Pak Yanto yang masih berdiri di belakang Adelio.


Cia terbelalak, kaget setelah mendengar perkataan Adelio yang memanggil guru botak ini dengan sebutan om. Jadi Pak Yanto adalah Om dari Adelio.


"What?"