Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 130



Cia terdiam menatap langit yang gelap di atas sana nampak dihiasi dengan bintang-bintang yang berkelap-kerlip serta bulan yang nampak membulat sempurna menemani wajah sedih Cia.


Cia kini hanya diam duduk di jendela sambil memeluk kakinya, menyandarkan kepalanya yang lelah itu di sisi jendela kamarnya. Kali ini pintu jendelanya di biarkan terbuka lebar dan membiarkan hembusan angin malam menyentuh lembut wajahnya. Saat ini Cia butuh ketenangan dan kesunyian. Kejadian tadi sore benar-benar sangat membuatnya sakit.


"Tuhan." Cia mendongak menatap langit dengan matanya yang bengkak.


"Sekarang Adelio dan Fika udah jadi pacaran."


"Hah." Keluh Cia meghembuskan nafas berat.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" ujar Cia memukul kepalanya sendiri.


"Lo kenapa harus cemburu sih, Ci?"


"Kenapa lo harus cemburu ngeliat mereka pelukan?"


"Lo cuman Cia si gadis berandal yang nggak pantas buat Adelio dan lo nggak punya hubungan sama Adelio, jadi lo nggak usah cemburu!"


"Tapi kenapa gue cemburu?"


"Kenapa?"


"Hah?"


"Lo harusnya bisa terima!"


Cia kini mengeluh lagi lalu menopang dagunya menatap langit gelap di atas sana.


Ting


Suara pemberitahuan pesan terdengar dari handphone Cia cukup jelas namun saat ini Cia tak peduli dengan suara pesan itu. Saat ini Cia benar-benar tidak ingin diganggu.


Ting !


Ting !


Ting !


Ting !


Suara pemberitahuan itu kini semakin manjadi-jadi, berbunyi tanpa henti. Cia mendecapkan bibirnya lalu meraih handphonenya yang berada di saku celananya itu. Entah siapa yang mengirim pesan seagresif itu bahkan tak berhenti sama sekali sampai berada di genggaman Cia.


"Ogi." Tatap Cia heran ketika mendapat pesan dari pria itu. Nana pria itu terpampang di sana.


Cia begitu sangat heran, entah hantu apa yang telah merasuki pria fuckboy itu hingga mengirim pesan sebanyak ini kepadanya. Apa dia gila?


Cia kini membuka pesan Ogi dengan tatapan malasnya. Entah berapa ratus kalimat maaf yang pria itu tulis di sana. Cia menghembuskan nafas berat lalu kembali memasukkan handphonenya ke saku celananya.


Cia kembali terdiam lalu kembali menatap langit yang indah itu dengan raut wajah sedihnya.


TRIING !


Suara nada dering handphone Cia kini berdering cukup jelas dan hal ini berhasil menyadarkan Cia dari lamunannya. Cia mendecapkan bibirnya kesal lalu menoleh menatap layar handphonenya, nama Ogi terpampang di sana.


Devan perasaan kesal Cia kini meraih handphonenya. Entah mengapa pria itu sangat menyebalkan di malam ini, di mana saat ini ia butuh ketenangan malah dia datang dan menganggu.


"Halo," hjar Cia mendekatkan handphonenya ke telinga.


"Hay Cia, selamat malam." Suara dari sebrang itu terdengar jelas, terdengar begitu bahagia dan sudah jelas jika pria yang bicara itu adalah Ogi, Cia kenal dengan suara itu.


"Lo apa kabar?"


Cia terdiam, tak tertarik untuk menjawab.


"Kok Lo diem?" tanya Ogi.


"Lo masih marah sama gue?"


Tak ada jawaban dari Cia lagi.


"Yah sorry deh kalau gue punya salah sama lo lagian gue nggak bermaksud buat nyakitin lo di kantin. Gue minta maaf."


TUT TUT TUT


Suara yang mengakhiri ocehan Ogi ketika Cia mematikan teleponnya. Cia menghembuskan nafas berat lalu kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya itu. Suara berisik Ogi tak membuatnya dapat bertahan.


Ogi tersenyum sinis ketika menyadari Cia telah memutuskan telponnya. Ogi yang masih tersenyum sinis itu kini menghempas handphonenya ke dinding menghasilkan suara hempasan keras di sana.


"Berani lo sama gue Cia?"


"Lo berani matiin telfon dari Ogi si pria ketua geng Torak?"


"Aaaaaaaaaaaaa!!!" teriak Ogi cukup keras.


Bastian dan Dirga kini saling bertatapan seakan berusaha menanyakan tentang apa yang membuat Ogi marah besar.


"Gi, lo kenapa?" tanya Bastian yang kini menyentuh punggung Ogi.


"Jangan sentuh gue!!!" teriak Ogi dengan gemetar membuat Bastian tersentak kaget.


Dirga menghela nafas setelah meneguk habis minuman kerasnya lalu meletakkannya di meja kayu bundar.


"Lo kenapa sih? Hah? Marah-marah gitu?" tanya Dirga.


"Iya, Gi. Lo kalau punya masalah lo cerita ke kita, kita berdua bakalan bantu lo," sahut Bastian.


"Seorang Ogi baru saja disepelekan oleh gadis yang biasa-biasa aja," ujar Ogi.


"Hah?" Tatap Dirga dan Bastian heran.


"Lo nggak tahu Ci. Lo nggak tahu kalau lo sedang berhadapan dengan siapa."


"Lo jangan coba-coba untuk bermain-main dengan gue."


"Gue Ogi dan gue bakalan ngehancurin lo. Sekarang, besok atau nanti. Gue jamin lo nggak bakalan nangis darah di kaki gue," ujar Ogi penuh tekanan.


...____***____...


Entah sudah berapa jam Devan menunggu di area parkiran ini, bahkan kini tubuhnya telaj lelah duduk di atas motornya sendiri, matanya pun kini telah lelah menatap ke arah pintu utama rumah sakit yang kini telah sepi, yah jam besuk telah habis.


Devan mendecapkan bibirnya, entah sampai kapan ia akan menunggu di sini bahkan kini rasanya nyamuk sudah terlihat kekenyangan setelah berhasil menghisap darahnya.


Walau pun seperti ini tapi tetap saja tak membuat dirinya menyerah untuk menuggu pria itu. Sudah sejak tadi dua satpam yang duduk di pos itu menatapnya seperti mencurigai Devan sebagai seorang pencuri.


Tak berselang lama Devan kini tersentak kaget setelah menatap pria bertubuh tinggi yang nampak keluar dari pintu masuk rumah sakit. Devan kenal dengan pria itu, pria yang Devan dorong cukup keras karena telah berani menyentuh lengan Cia di acara ulang tahun Loli di malam itu. Sudah jelas itu adalah Adelio, pria yang ia tunggu-tunggu sejak tadi. Karena pria itu putrinya menangis.


Tanpa pikir panjang Devan kini turung dari motor hitamnya lalu segera melangkah mendekati pria yang masih melangkah dengan santai itu.


"Tunggu!!!" teriak Devan.


Adelio yang masih melangkah itu kini menghentikan langkahnya setelah mendengar teriakan seseorang. Adelio menoleh menatap pria yang baru saja berteriak di belakang sana.


Adelio kenal dengan pria itu, pria yang berada di acara ulang tahun Loli, pria yang ada di rumah Cia dan sudah jelas di adalah pacar Cia. Apa perlu pria itu hingga menatapnya dan berteriak di sana.


Adelio menoleh berusaha memastikan jika bukan ia yang diteriaki oleh pria itu. Tak ada orang di belakang Adelio membuatnya kembali menatap pria itu.


"Saya?" Tunjuk Adelio ke arah wajahnya.


Devan menghentikan langkahnya setelah jaraknya sudah dekat dengan Adelio yang masih menanti jawabannya.


"Lo adelao?" tanya Devan sambil menunjuk.


"Adelao?" Tatap Adelio tak mengerti.


Devan mendecapkan bibirnya. Bagaimana bisa ia lupa dengan nama pria yang kini sudah berada di hadapannya.


"Nama lo Adelia?"


"Bukan," jawab Adelio sambil menggeleng.


"Adalia?" tebak Devan membuat Adelio menggeleng seperti orang bodoh.


Devan mendecaokan bibirnya seakan ingin mencekik lehernya sendiri setelah sejak tadi tak mampu menyebut nama pria itu.


"Nama lo siapa?" tanya Devan kesal.


"Nama saya?" tanya Adelio.


Devan mengangguk cepat.


"Nama saya Adelio," jawab Adelio.


Devan tersenyum manis setelah mendapatkan jawaban dari pria yang kini nampak kebigungan menatapnya. Akhirnya penantian Devan tak sia-sia dan...


Devan tertawa bahagia sembari membunyikan sendi jari-jari tangannya membuat Adelio mengkerutkan alisnya keherangan.


"Memangnya kenapa kak?" tanya Adelio sopan.


"Kakak, kakak, enak aja lo!!!" teriak Devan dan...


BRUK


Tubuh Adelio terhempas ke tanah cukup keras setelah pipinya dihantam pukulan tinju yang cukup keras dari Devan.