Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 40



"Kemarin saya mendapat informasi jika, ada pasangan yang bersedia menjadi model," jelas Jef sembari menunduk.


"Lalu?"


"Sa...sa...saya mengisikannya bos."


"Tanpa bertanya kepada ku?" tanya Abraham dengan suara beraknya.


"I...iya, bos," jawab Jef ragu.


Abraham menghembuskan nafas berat mendengar jawaban anak buahnya itu.


"Panggil orang yang memotret pria dan gadis itu!" pintanya.


"Baik bos."


Jef melangkah meninggalkan Abraham dengan langkah cepat meninggalkan ruangan Abraham yang kini sunyi.


Abraham menggerakkan pulpen biru di jarinya itu pelan dengan perlahan matanya menatap sebuah foto yang terpampang di dinding ruangannya. Foto seorang gadis cantik dengan rambut hitam yang dibiarkan terurai menyentuh kedua bahunya. Gadis berbaju biru dengan rok hitam sebatas lutut yang kira-kira berumur sebelas tahun nampak tersenyum manis sambil memegang sebuah boneka beruang yang ia pangku sambil duduk di kursi kayu.


Senyum indah yang menawan dengan wajah periangnya begitu menyejukkan hati siapa saja yang melihat senyum gadis itu.


"Berdoalah! semoga yang ada di foto itu bukan bocah ingusan yang terkutk itu."


Abraham memutar tubuhnya mengalihkan pandangannya dari foto gadis kecil yang cantik itu.


Kriiiiiiiiiiing!!!


Abraham menoleh menatap telfon berwarna putih yang terdengar berbunyi di atas meja tak jauh dari sisi Abraham. Abraham meraih telfon itu lalu mendekatkannya ke telinga hingga suara dari sebrang.


"Tuan-"


"Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Ha...ha...halo Tuan, maaf saya menganggu Tuan dan harus menelfon Tuan dijam seperti ini." Suara wanita tergagap dan terdengar gemetar terdengar dari sebrang.


"Ada apa?"


"Itu Tuan, non kasya."


Abraham kini menghembuskan nafas berat seakan bosan dengan apa yang ia dengar dari pembantunya itu.


"Kenapa dia?"


"Non kasya ngamuk lagi tuan dan....ituuuuu-" Akhir kalimat itu terdengar memajang membuat alis Abraham mengkerut kebingungan.


"Kenapa?"


"Maaf Tuan sebelumya, non Kasya memukul perawatnya dan-"


"Dan apa?"


"Anu Tuan pe...pe...perawatnya mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pengasuh non Kasya," Jelas pembantu itu.


"Mama mana, Bi?"


Hening, tak ada jawaban dari sana.


"Bi!, Dia ada di rumahkan?"


"Maaf Tuan, tapi, non Firdhanya sedang keluar."


"Keluar ke mana, Bi?"


"Nggak tau Tuan tapi, non Firdha keluarnya sudah dari tadi."


Abraham menarik nafas panjang lalu menggosok pelan kedua alisnya berusaha menahan amarah dengan tingkah istrinya itu.


"Minta perawat itu untuk kembali bekerja! kalau perlu beri tahu dia, kalau aku akan membayar gajinya empat kali lipat dari gaji sebelumnya," pintanya.


"Maaf Tuan, bukannya saya ingin membantah perintah dan kemauan Tuan tapi, sepertinya ini tidak bisa."


"Kenapa?"


"A...a...anu Tu...tu...tuan, perawatnya mengundurkan diri sebelum dia dibawa ke rumah sakit."


Abraham bangkit dari kursi mendengar kata rumah sakit yang baru saja pembantunya itu katakan.


"Rumah sakit?"


"Maaf Tuan, non Kasya memukul kepala perawat pakai guci, Tuan dan kepala perawat itu langsung berdarah, Tuan."


Abraham memejamkan kedua matanya lalu dengan cepat menutup telpon putih itu. Perawat yang baru bekerja tiga hari rapi, kini perawat itu memundurkan diri menjadi, perawat putrinya yang kini mengalami gangguan kelainan jiwa. Jika, dihitung-hitung sudah lima belas orang yang merawat putri satu-satunya itu dalam sebulan dan ujung-ujungnya mereka semua mengundurkan diri dengan alasan yang sama.


Abraham meraih telepon putih itu lagi lalu mendekatkan ke pipinya sambil menekan nomor telpon beberapa kali.


"Kamu dimana?" Tanya Abraham tanpa basa-basih


"A...a...aku di rumah."


Abraham tersenyum sinis mendengar kebohongan istrinya itu.


"Bohong kamu!"


"Bohong? Bohong bagaimana sih, Mas?"


"Kamu berbohong, Firdha. Jelas-jelas Naini bilang kalau kamu keluar rumah sejak tadi dan belum pulang juga. Di mana kamu? Hah?" ocehnya.


Firdha kini terdiam membuat Abrahan juga ikut terdiam menanti jawaban dari istrinya.


"Aku sudah bilangkan untuk menjaga anak kita."


"Hust!!! bukan anak kita tapi, anakmu! lagian aku tidak punya anak gila seperti dia."


"Dia tidak gila!!!" teriak Abraham sangat keras membuat Firdha tersentak kaget.


"Ayolah Abraham, buka matamu ! gadis yang dulu kamu banggakan itu sekarang sudah gila."


"Tutup mulutmu, Firdha!!!"


Abraham meletakkan telepon putih itu dengan kasar lalu menyandarkan kembali tubuhnya ke sandaran kursi diiringi suara hempasan pada tubuhnya ke sandaran kursi hitam.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu dari luar terdengar membuat Abraham menoleh menatap pintu yang masih tertutup rapat itu. Sepertinya ada tamu yang datang di waktu yang tidak tepat.


"Masuk!" teriak Abraham masih menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


Pintu terbuka membuat Jef melangkah masuk ke dalam ruangan Abraham.Tak lama pria berkepala plontos itu juga melangkah masuk ke dalam ruangan Abraham tanpa tau apa alasan asisten Abraham bernama Jef itu membawanya ke sini.


"Berdiri di situ!" Jari telunjuk Jef menunjuk ke arah depan meja Abraham.


Pria berkepala plontos yang tak lain adalah pria yang telah memotret Devan dan Cia itu mengangguk lalu berdiri tepat di hadapan Abraham yang masih duduk di kursi. Jef memegang sandaran kursi hitam itu berniat untuk duduk.


"Hust, berdiri!" tegur Jef cepat.


Pria itu menelan ludah cepat lalu melepas pegangan tangannya dari sandaran kursi itu dengan cepat.


"Kamu yang memotret pria dan gadis bersweater kuning itu?" tanya Abraham.


"Si...siapa, pak?" Tatapnya heran.


Abraham tersenyum sinis lalu memutar kursi membelakangi pria berkepala plontos itu .


Jef melangkah mendekati pria itu lalu meraih foto dari lantai yang telah remuk dan membukanya tepat di hadapan pria berkepala plontos itu.


"Mereka!" Tunjuknya.


Pria itu meraih foto dari tangan Jef lalu menyipitkan matanya menatap pria dan gadis itu. Ia masih ingat dengan mereka yang ia potret kemarin di mall.


Gadis cantik dan pria tampan yang kemarin ia kagumi kemarin.


"Oh mereka, saya lihat mereka di mall dan saya sendiri yang memotretnya," ujarnya.


"Siapa namanya?" Tanya Abraham lagi yang kini sudah kembali memutar kursinya menatap pria itu.


"Maaf pak, saya tidak tau," jawab pria itu sambil mengeleng.


"Lalu mengapa pria dan wanita itu bisa kamu potret dan fotonya bisa dipajang di mall?" tanya Jef.


"Saya hanya memotretnya dan bukan saya yang meminta pria itu untuk menjadi model. Bahkan saya hanya bertemu dengan pria dan gadis itu di dalam ruangan pemotretan," jelas pria.


"Siapa nama pria itu?" Suara  Abraham terdengar berat dan menyeramkan terdengar.


"Saya tidak tau, pak," jawab pria itu jujur.


"Bagaimana kamu tidak tau?"


Pria itu menatap Jef yang berdiri di belakang Abraham yang masih duduk di kursi membuat pria itu tertunduk.


"Saya tidak menanyakan nama pria dan gadis itu, pak."


Jef kini menarik nafas panjang setelah mendengar hal yang dikatakan oleh pria itu kepadanya.


"Jika, kamu kedatangan seorang tamu ke rumahmu, apakah kamu tidak menanyakan namanya?"


"Saya akan menanyakannya."


"Lalu siapa nama pria yang kamu foto itu?"