
"Iya," jawab Yuna tanpa dosa.
"Gue setuju," tambah Fika sambil mengacuhkan jarinya dan kali ini ia juga terlihat semangat. Untuk kali ini ia tak masalah jika ia tak bisa datang ke rumah Adelio, karena yang terpenting ia bisa datang ke rumah Cia bersama dengan Adelio.
"Kamu gimana, Rin?" tanya Yuna.
"Gue juga setuju," tambah Faririn kegirangan.
"Wah mantap, kalau kamu gimana Adelio?" tanya Yuna.
Semuanya kini terdiam lalu menatap Adelio yang kini terdiam, menghentikan gerakan pulpen dari jarinya. Mereka semua terdiam menanti Adelio angkat bicara dan setuju untuk datang sepulang sekolah ke rumah Cia.
"Please Adelio jangan setuju! Jangan setuju! Jangan!" Tatap Cia penuh harap.
Adelio terdiam sambil memikirkan sesuatu di otaknya dan ...
"Yah Saya setuju."
"Mati gue!"
"Yeeee!!!" sorak Faririn dan Yuna sambil melompat kegirangan, sementara Fika hanya tersenyum tipis dan disatu sisi yang lain Cia nampak cemas dengan pikiran yang telah bercampur aduk.
Cia tak tahu apa yang akan terjadi nanti jika semuanya datang ke rumah dan bertemu dengan Devan. Cia takut jika Devan sampai berbicara yang tidak-tidak kepada mereka semua mengenai ia dan Devan. Yang paling penting Devan adalah pria yang kadang suka bercanda dengan cara bicaranya. Bagaimana jika ia berbicara melebih-lebihkan dia di hadapan Faririn dan Yuna, hah, mereka semua pasti akan tambah menyukai Ayahnya itu.
Siswa dan siswi nampak melangkah keluar dari kelas setelah bel jam pulang dibunyikan menandakan jam pelajaran berakhir.
Cia terdiam, menjinjing kresek hitam berisi titipan untuk Ayahnya itu sambil menatap Fika yang duduk di atas jok motor milik Fika sambil memasang helm ke kepalanya. Sekarang perasaaan Cia sangat campur aduk.
Cia bahagia karena untuk pertama kalinya mereka ingin datang kerumah untuk kerja kelompok tetapi disatu sisi mereka pasti akan bertemu dengan Devan tapi Cia harap kali ini Devan tak ada di rumah sekarang. Jika jam seperti ini Devan memang tak ada di rumah, melainkan Devan sedang ada di bengkel.
"Ayo Ci!" ajak Yuna semangat setelah menghentikan motornya yang tak jauh dari motor Faririn yang sudah ada sejak tadi menunggu.
Cia hanya mengangguk lalu segera duduk di atas jok motor Fika setelah mesinnya di nyalakan.
"Eh tunggu si Adelio dulu!" Ujar Fika menoleh menatap Adelio dari kejauhan yang tengah memasang helm hitam ke kepalanya.
"Ah lama banget sih tuh bocah!!!" ujar Faririn kesal.
"Sabar dong!" kesal Fika yang tak terima ujaran Faririn.
Jaket hitam bercampur abu-abu nampak sedang dipasang oleh Adelio ke tubuhnya diiringi hembusan angin yang membuat sedikit rambut depannya yang terkena angin itu berhembus membuat Yuna, Faririn dan Fika melongo.
"Guys, Adelio ganteng, yah!" ujar Yuna membuat Faririn dan Fika menoleh.
"Mata lo tuh di jaga!" Kesal Fika.
...___***___...
... ...
Angin berhembus menerpa wajah gelisah Cia sambil memeluk erat kresek hitam di pangkuannya. Sekarang Cia sangat berharap agar Devan tak berada di rumah saat ini tapi rasanya tak mungin Devan tak ada di rumah dan juga tidak. Hah, bahkan sekarang ia tak mampu berpikir. Devan pasti sedang di rumah karena mamanya yang sakit, jika Devan tak ada di rumah lalu siapa yang akan menjaga Mamanya itu.
Di belakang sana nampak Yuna, Faririn dan Adelio yang menunggangi motornya masing-masing mengikuti ke mana motor Fika mengarah menuju rumah Cia.
"Ka, entar di sana lo Belok kiri, yah!" ujar Cia diiringi tepukan di bahu Fika.
"Loh kok belok kiri? Bukannya kita lurus yah?"
"Udah belok aja!"
Cia terdiam diiringi senyuman dari bibirnya di belakang sana. Hari ini Cia berniat untuk memberikan beberapa coklat untuk bidadari, Cia sangat rindu walau beberapa hari ia tak bertemu.
Motor yang melaju itu kini berhenti tepat di depan gerbang rumah pak Abraham, pintunya nampak tertutup rapat. Mungkin, tak ada orang di sana.
Cia melangkah turung dari motor Fika lalu melangkah ke arah Pak Madi yang nampak sedang bermain catur dengan seorang pria yang nampak mengenakan seragam hitam yang sama seperti yang Pak Madi gunakan.
"Wish, ternyata rumah Cia gede banget." kagum Yuna dengan kedua mata yang terbelalak.
"Eh, ternyata si Cia orang kaya raya," ungkap Faririn.
"Ternyata di balik Cia yang berandal dan penampilannya kayak preman pasar punya rumah segede ini," tambah Yuna.
"Ku kira orang utang ternyata anak sultan," ujar Yuna membuat Faririn tertawa cekikikan dan mengangguk setuju.
"Iya yah. Eh nanti kita basa foto-foto di dalam sana," ujar Faririn begitu semangat.
"Iya, Rin bener," ungkap Yuna.
"Kita foto terus caption nya lagi di rumah baru," ujarnya lalu tertawa seakan ujarannya itu akan berhasil.
"Eh, terus itu kita tag si Loli," usul Faririn.
"Ngapain Tag si Loli?" tanya Faririn.
"Yah biar dia tahu kalau Cia orang kaya," jelas Yuna.
"Ah, itu namanya ngadu domba," ujar Faririn dengan wajah kesalnya.
"Loh emang dombanya siapa?" tanya Yuna membuat Faririn mengggeleng.
"Pak!" teriak Cia ketika telah berdiri di depan pagar besar itu.
Pak madi tersenyum lalu segera bangkit dari kursinya meninggalkan temannya yang kini nampak melongo menatap rumah mewah itu.
"Eh Non Cia, masuk Non!"
"Nggak usah Pak," ujar Cia cepat.
"Pak, Cia titip ini buat bidadari!" ujar Cia menjulurkan beberapa coklat ke tangan pak madi yang nampak tersenyum hangat.
Tanpa sepatah kata Cia melangkah pergi meninggalkan Pak Madi di belakang sana.
"Yuk!" ajak Cia yang kini melangkah ke arah motor Fika dan naik di atas jok motor sementara Yuna dan Faririn yang sedari tadi tersenyum dengan rencananya itu kini melongo .
"Lah, lah, lah. Mau ke mana?" tanya Faririn dengan wajah syoknya.
"Loh, kok nggak masuk?" tanya Yuna sambil menunjuk.
"Iya, Cia. Gue udah nggak sabar nih mau masuk terus minum di atas gelas berwadah emas," tambah Faririn dengan wajah bahagianya.
"Aku juga nggak sabar, Ci. Yuk Cia kita masuk dan kebetulan kita berdua lapar, iya kan?" tanya Yuna sambil menunjuk Faririn, Fika dan Adelio yang terlihat melongo.
"Nggak! Ini bukan rumah gue," ujar Cia lalu segera menepuk bahu Fika membuat Fika segera melajukan motornya.
"Anjirt, gue kira ini rumahnya si Cia," ujar Faririn sedikit tertawa lalu kembali menancapkan gas ketika sedari tadi mengikut di belakang.
Madi tersenyum lalu menoleh berniat melangkah menemui Naini untuk memberikan coklat ini, namun baru selangkah Madi terhenti menatap putri tuannya itu yang nampak berdiri tak jauh darinya.