
Devan menoleh ke kiri dan kananya menatap semua orang yang kini menatapnya dengan serius.
"Saya sebenarnya bukan pacar Cia tapi," Devan menoleh menatap Cia yang nampak mengigit bibirnya. Cia takut jika Devan mengatakan yang sebenarnya kepada semua orang, Cia belum siap untuk itu.
"Cia adalah Anak kandung saya," ujar Devan membuat Cia memejamkan matanya sambil tertunduk. Cia sangat takut dengan hal ini.
Semuanya terbelalak setelah mendengar ucapan Devan bahkan Loli, Marisa dan Medika juga terbelalak di sana, yah mereka sudah sejak tadi ada di sana dan mendengar semuanya dengan jelas.
"OMG, ini beneran?" tanya Loli yang kini membulatkan matanya.
"Aduh, ini nggak mimpi kan?" tanya Marisa sambil menyikut lengan Loli yang kini masih terkujut.
"Jadi Ceo itu bukan pacar Cia tapi Ayahnya Cia," ujar Loli.
Bruk
Tubuh Medika terhempas ke tanah setelah mendengarnya membuat Loli dan Marisa menoleh.
"Loh, Medika," ujar Marisa panik dan segera berlutut di samping tubuh Medika yang pingsang tak sadarkan diri.
Semuanya kini saling berbisik, mereka semua masih tak percaya dengan hal yang Devan ucapkan. Devan kini menoleh menatap Cia yang kini dengan perlahan membuka matanya.
"Sudah kan?" tanya Devan ke arah Cia dengan santainya.
"Sekarang cium tangan Ayah!" pintah Devan sambil menjulurkan jari-jari tangannya.
Cia mendecapkan bibirnya dan dengan cepat ia menundukkan kepalanya lalu segera mengecup punggung tangan Devan dengan wajahnya yang masih pucat. Devan tersenyum lalu segera mengelus rambut Cia seperti Anak kucing.
"Udah sana masuk nanti telat!" suruh Devan.
Cia tersenyum, senyum yang lumayan hambar lalu segera melangkah pergi meninggalkan Devan. Cia menelan ludah saat menatap semua orang yang kini menatapnya dengan wajah yang terlihat sangat syok. Yah persis seperti apa yang Cia bayangkan selama ini. Cia melangkahkan kakinya pelan sementara Semua orang nampak sedang mengintainya.
"Dadah Anak Ayah!!!" teriak Devan lagi.
Cia menutup kedua matanya seakan tak sanggup untuk mendengar kalimat Devan di tambah lagi mereka semua yang nampak menatapnya dengan tatapan yang lebih syok lagi.
"Dadah Anak Ayah!!!" teriak Pak Martin sambil ikut melambaikan tangannya.
"Heh, Anak saya itu!" tegur Devan dengan kedua matanya yang melotot.
...___***___ ...
Cia terdiam sambil meletakkan kepalanya di pinggir meja. Kini upacara telah selesai di laksanakan, tatapan semua orang-orang tadi disaat upacara semuanya mengarah kepadanya, ini memalukan. Kini semua orang telah tau jika Devan adalah Ayahnya dan bukan pacarnya.
Adelio menoleh menatap Cia yang nampak tertunduk, Adelio sempat mendengar gosip siswi-siswi saat melintas di sampingnya mengenai Devan yang tarnyata merupakan Ayahnya. Yah mereka semua terkujut seperti dirinya yang terkujut saat mengetahui kalau Cia punya Ayah yang masih muda di malam itu.
Adelio terseyum lalu membalikkan posisi duduknya dan segera menopang dagunya sambil menatap serius ke arah Cia yang masih tertunduk.
Rasanya Adelio ingin mengelus rambut Cia sekali saja tapi rasanya ia tak berani mengelus rambut gadis pemarah itu. Adelio takut jika Cia akan marah. Cia seperti monster jika marah, sangat menyeramkan.
"Hah," Keluh Cia lalu membangkitkan kepalanya.
Mata Cia terbelalak menatap Adelio yang ternyata sedari tadi menatapnya bahkan Adelio masih menatapnya sambil menopang dagunya. Kini keduanya saling bertatapan cukup lama tanpa ada satu dari mereka yang bicara.
"Minggir! Minggir! Minggir!" Suara teriakan itu terdengar memperlihatkan Loli dan kedua sahabatnya itu melangkah ke arah Cia bahkan puluhan siswi-siswi dari berbagai kelas juga melangkah ke arah Cia.
Cia membulatkan matanya saat menatap kerumunan itu yang kini sedang mengerumuninya.
"Cia, jadi beneran si Ceo itu bukan pacar lo?"
"Cia, jadi yang gue denger itu bener?"
"Jadi bener, Ci?" tanya mereka satu persatu.
Semuanya kini terdiam setelah menanyakan semuanya sembari menanti Cia menjawab pertanyaan yang terlontar dari siswi-siswi yang kini masih mengerumuninya.
Cia menelan ludah lalu segera mengangguk pelan.
"Hah?"
"Yang bener?"
"Ya ampun."
"Kok bisa sih lo punya Ayah seganteng dan masih semuda itu, Ci?"
"Ya ampun!!!
"Kok bisa sih? Gimana caranya?"
"Cia, jodohin gue dong sama bokap lo!" ujar Loli.
"Huuuuu!!!" Sorak semuanya membuat Loli menutup kedua telinganya.
Cia menggaruk kepalanya, ini masalah lama yang kembali muncul. Ini benar-benar bencana bagi Cia tapi jika mereka tak tahu yang senarnya, entah sampai kapan Cia akan menyembunyikan kebenaran ini.
Cia menutup ke dua telinganya seakan tak kuat menahan kebisingan yang masih terjadi. Mereka bertanya tanpa henti tanpa memperdulikan Cia yang kini sudah resah mendegarnya.
"Selamat pagi! Loh ini ngapain kalian semua di sini?" tanya Bu Lia yang kini berdiri di pintu masuk sambil menatap gerombolan yang kini berlarian keluar dari kelas.
Cia menarik nafas lega, sekarang kehadiran Bu Lia telah berhasil menolongnya dari seribuan pertanyaan yang mendarat di telinganya. Ini benar-benar menyiksanya.
Seiring suasana kelas yang terasa sunyi membuat Cia terdiam lalu melirik pelan tubuh Adelio yang tak menoleh lagi. Cia tersenyum pelan ketika mengigat kejadian di mana ia mampu menatap kedua bola mata Adelio yang menatapnya cukup lama.
Entah sejak kapan Cia menyukai pria pendiam itu. Cia kembali tersenyum sambil menopang dagunya.
"Loh? Fika mana?" tanya Bu Lia yang kini baru tersadar jika Fika tak berada di tempat duduknya seperti biasa.
"Tidak ada keterangan Bu," jawab Yuna sambil mengacukan jari telunjuknya.
"Ashia," panggil Bu Lia membuat Cia tersentak dari kursinya lalu menatap ke arah Bu Lia.
"Isi bangku Fika!" pintah Bu Lia.
"Saya Bu?" Tunjuk Cia ke arah wajahnya.
"Yah iya lah, terus yang namanya kayak benua di sini siapa? Cuman kamu kan yang namanya Ashia di sini," celoteh Bu Lia.
Cia menelan ludah lalu segera bangkit dan meraih tasnya. Cia mulai melangkahkan kakinya lalu duduk di samping Adelio yang nampaknya tengah mencuri pandang ke arah Cia.
Cia melirik pelan lalu tertunduk ketika Adelio juga ikut meliriknya. Ternyata rasanya duduk dengan orang yang saling mencintai namun tak berani mengungkapkannya itu lumayan sulit.
Cia terdiam, rasanya ia begitu sangat gugup duduk berdekatan dengan Adelio. Entah mengapa perasaan ini muncul padahal ini bukan pertama kalinya ia duduk di bersama dengan Adelio.
Cia menghela nafas, ia harus bisa mengatur nafasnya yang berangsur sesak ini. Harusnya Cia tak seperti ini, Cia harus ingat jika Adelio pernah ia pukul hingga hidungnya berdarah, Cia harus mengigat itu semua. Tapi mengapa perasaanya begitu lemah sekarang.
Adelio melirik pelan, ia benar-benar sangat gerogi sekarang. Bahkan ia lupa kebiasannya yang selalu memaingkan pulpen di jarinya untuk mengisi waktu luangnya. Adelio menghela nafas kini ia memutuskan untuk menanyakan tentang keadaan Cia, Adelio tahu jika dagu Cia masih sakit.
"Emm-"
"Apa?" tanya Cia cepat sambil menatap Adelio yang menatapnya dengan tatapan serius.