Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 160



Suasana malam ini begitu sangat sunyi dimana udara dingin angin malam seakan membuat kulit Cia yang terkena darah itu mendingin dan perih menjadi satu. Tatapan Cia kosong menatap jalanan beraspal yang diterangi lampu jalan yang berada di pinggir jalan. Kini jam telah menunjukkan pukul 01.00 yah malam telah larut hingga hanya ada sedikit kendaraan yang berlalu lalang.


Motor kini menepi di pinggir jalan tepat di depan rumah. Cia kini melangkah turung dari motor dan terdiam tepat di samping Devan yang kini masih berada di atas motornya.


Devan mengkerutkan alisnya menatap Cia yang kini hanya terdiam.


"Cia!" panggil Devan membuat Cia menoleh.


"Apa?" tanya Cia.


"Pagarnya dibuka!" pintah Devan.


Cia yang tanpa ekspresi itu kini membuka pagar besi sementara Devan segera memasukkan motor ke teras rumah. Devan yang melangkah turung itu kini segera melepas helm dari kepalanya dan setelah ia meletakkan helm ke jok motor, Devan menoleh menatap Cia yang kini melangkah ke dalam rumah.


Devan menghela nafas panjang. Sepertinya Cia ingin menyendiri, yah pasti kejadian tadi sangat membuat Cia menjadi trauma. Devan yang ingin ikut melangkah masuk ke dalam rumah kini menghentikan langkahnya menatap pagar yang tak ditutup oleh Cia.


"Oh Tuhan, Mau marah dia anak gue, nggak dimarah makin nyusahin haaaah," keluh Devan lalu melangkah mendekati pagar dan menutupnya dengan rapat.


Devan kini melangkah mundur sembari menatap pagar yang telah ia tutup. Devan menghela nafas lalu mendongak menatap bintang-bintang di langit malam yang begitu sangat indah. Senyum Devan kini terukir indah dengan kedua matanya tak pernah lepas memandangi pemandangan indah itu.


"Selamat malam kakak osis yang pemarah," ujar Devan sambil menatap bintang yang paling cerah di atas sana.


"Apa kabar?"


"Kamu baik?"


Devan tertawa lalu tertunduk seakan merasa bodoh setelah berbicara dengan bintang. Devan kembali mendongak menatap bintang itu lagi.


"Putri kita sudah besar."


"Iya Anak kita, aku dan kamu."


"Hahaha, bahkan sekarang aku ngomong udah kayak seorang Ayah, yah aku memang telah menjadi seorang Ayah."


"Kakak OSIS, aku hampir tak layak menjadi seorang Ayah yang baik untuk Cia, anak kita."


"Maaf, aku tidak bisa menolong mu dulu."


Devan tertunduk. Tak sadar air mata Devan kini mentes membasahi pipinya hingga Devan terisak mengingat kisah lama dan pahit itu.


"Aku minta maaf."


.


...____***____...


Cia terpatung menatap langit-langit kamarnya dengan air mata yang mengalir membiarkan bantal yang menggalas kepalanya itu basah ketika Cia mengigat kejadian tadi dimana Ogi berbuat kasar kepadanya. Dia menjambak rambut Cia, mencengkram, mencium bahkan nyaris merusaknya. Cia tak mampu membayangkan apa jadinya jika Devan tak datang pada saat itu mungkin, kini Cia akan membunuh dirinya karena telah dikotori oleh Ogi.


Suara pintu terbuka terdengar membuat Cia bergerak lalu menutup tubuhnya dengan selimut.


Dari balik pintu itu kini Devan terlihat berdiri dengan pintu yang dibuka tidak terlalu luas. Devan menghela nafas lalu segera menutup pintu dengan rapat. Devan melangkah ke arah Cia dan duduk pinggir kasur setelah meletakkan gelas berisi air di atas meja belajar milik Cia.


Cia masih terdiam sambil menutup tubuhnya dengan selimut. Cia kini berusaha untuk tak memperlihatkan wajahnya kepada Devan. Cia akui jujur ia sangat malu.


"Cia," panggil Devan sambil menatap selimut yang menyelimuti tubuh Cia yang masih terbaring.


Devan melirik kaki Cia yang kini terluka dan berdarah bahkan tanpa Cia sadari banyak duri di kaki Cia. Mungkin duri ini menusuk Cia saat berlari berusaha menjauh dari kejaran Ogi, Bastian dan Dirga.


Devan kini bangkit dari pinggir kasur lalu segera melangkah keluar dari kamar Cia. Cia yang mendengar suara langkah itu kini membuka selumut dari wajahnya dan menatap ruangan kamarnya yang terlihat sunyi, tak ada Devan lagi di sini.


Tak berselang lama Devan kembali melangkah masuk sambil membawa kotak obat membuat Cia dengan cepat menarik selimut untuk menutupi wajahnya.


"Cia kenapa?" tanya Devan setelah duduk si samping Cia yang masih menyelimuti tubuhnya kecuali telapak kakinya.


Devan menghela nafas panjang saat Cia tak kunjung membalas pertanyaannya.


"Cepetan bangun, Ayah, eh maksudnya gue mau obatin luka Cia," ujar Devan seakan gugup untuk menyebut dirinya dengan sebutan Ayah.


"Ayo cepetan! Kalau luka lo emm maksudnya Cia yah nggak bakalan sembuh lukanya," jelas Devan.


Devan menghela nafas lelah saat Cia seakan tak memperdulikan penjelasannya.


"Lo tidur yah?" tanya Devan.


Cia tak menjawab.


"Cia!" panggil Devan tapi tetao saja Cia tak menyahut.


Devan kini tersenyum licik lalu dengan keahliannya yang bergerak dengan halud itu membuatnya berhasil membuka kotak obat tanpa didengar oleh Cia. Devan mengangkat pinset dari kotak obat itu lalu ia tersenyum jahat menatap pinset yang telah berada di tangannya. .


"Ayah tahu Cia pasti sedih," ujar Devan lalu segera menarik duri dari telapak kaki Cia menggunakan pinset.


"Aaaw!!!" jerit Cia lalu dengan cepat bangkit dari kasurnya.


"Apa-apaan sih?!!" kesal Cia dengan sorot matanya yang tajam menatap Devan yang kini tertawa.


"Ayah, eh maksudnya gue mau obatin luka lo biar cepat sembuh."


"Yah tapi nggak diem-diem narik duri juga dong! Ini itu sakit," kesal Cia dengan suara yang hampir menangis.


Devan tersenyum lalu menyentuh tangan Cia yang terluka itu dan mengusapnya dengan obat.


"Maaf," ujar Devan sambil memberikan obat pada luka Cia yang kini hanya terdiam sambil menatap Devan yang kini masih mengobati luka di telapak tangan Cia.


"Cia."


"Iya," sahut Cia.


"Mungkin Cia harus tahu kalau tujuan gue selalu ngelarang Cia buat pacaran atau dekat dengan laki-laki karena ini," jelas Devan.


Cia tak merespon, namun ia mampu mencerna matang-matang apa yang Devan katakan.


"Cia asal kamu tahu, gue nggak mau apa yang pernah gue lakuin ke dia juga kamu rasain Cia."


Cia mengkerutkan alisnya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Devan. Dia? Entah siapa yang dimaksud oleh Devan. Dengan cepat Cia bangkit dari kasurnya membuat Devan melirik pelan, namun penuh makna.


"Dia?" tanya Cia tak mengerti.


Devan tak merespon.


"Maksud lo dia siapa?" tanya Cia penuh penasaran.


Devan terdiam lalu bangkit dari kasur dan melangkah ke arah jendela lalu membukanya hingga bintang-bintang yang berkerlap-kerlip itu terlihat.


"Dia." Tunjuk Devan ke arah bintang.


"Dia, gadis yang udah buat buat gue jatuh cinta, gadis yang udah gue hancurin masa depannya," jelas Devan membuat Cia semakin tak mengerti.


"Maksud lo itu dia itu siapa sih?"


Devan melirik Cia lagi, ia menoleh menatap Cia serius.


"Dia, Ibu kandung kamu Cia, " ujar Devan.


Cia terbelalak setelah mendengar ujaran Devan mengenai Ibu kandung yang Devan maksud.


"Mungkin Cia udah bisa ngerti setelah gue ceritain semuanya tentang kisah indah dan rumit yang telah terjadi 18 tahun yang lalu."


Devan menghela nafas lalu menyandarkan kepalanya ke dinding.


"18 tahun yang lalu?" Tatap Cia keherangan.