Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 188



"Devaaaaaaan!!!" teriak Abraham sambil mengarahkan pistol itu ke arah Devan yang masih berlari.


Kini ia mengingat kejaduan itu saat mendengar nama pria yang masih berdiri di hadapannya.


BRUK


Tubuh Abraham terhempas ke dinding ketika dengan cepat Kasya mendorong tubuh Abraham hingga peluru yang berasal dari pistol berwarna hitam itu menghantam dinding kamar sangat keras dan menghasilkan lubang di sana.


PLAK


Tubuh Kasya ikut terlempar hingga kepalanya mengenai dinding kamar, tatapan Kasya kini memburam ditambah lagi tatapan yang memburam itu berubah menjadi gelap hingga kepalanya bergeser ke bawah membuat sebuah garis berdarah di permukaan dinding  dan jatuh pinsang ke lantai.  


"Kasyaaaaaaaa!!!" teriak Firdha begitu sangat histeris lalu dengan cepat ia segera berlari dan memeluk tubuh putrinya itu yang kini lemas dengan kepalanya yang berdarah.


Abraham yang kini ingin mengejar kepergian Devan tertahan dengan jatuhnya Kasya hingga kepalanya berdarah mengotori dinding dan lantai.


"Biar saya yang kejar Tuan," ujar Jef lalu melangkah.


"Tak usah Jef, kita urus Kasya dulu!" suruh Abraham membuat Jef menghentikan langkahnya.


"Mas tolong Kasyaaa!!!" jerit Firdha begitu histeris, ia sangat takut kehilangan Kasya.


Abraham kini terdiam sambil menatap Devan yang kini masih berlari dan hilang setelah melompat dari tembok dinding pagar pembatas. Kedua sorot mata Abrahan tajam dengan warnanya yang kini memerah karena marah.


"Devan, aku tak akan membiarkanmu hidup. Kamu boleh saja pergi dari sini tapi ingat saja! Aku tak akan membuat hidupmu jadi bahagia, akan aku jamin hidup kamu penuh dengan penderitaan. Aku tidak akan pernah berhenti mencari mu sampai kabar kematian kamu ku dengar."


"Mas tolong Kasya!!!" teriak Firdha membuat Abraham menoleh.


"Jef siapkan mobil!!!" teriak Abraham.


...___***___...


Abraham terdiam sembari duduk di kursi panjang rumah sakit, ini sudah ketiga harinya Abraham menanti perkembangan putrinya itu setelah di operasi oleh tim dokter yang terkenal . Firdha masih menangis dengan tangannya yang gemetar serta ketakutan yang mendalam dengan keadaan putrinya. Firdha takut jika ada sesuatu yang terjadi dengan putrinya kesayangannya itu.


Tak lama pintu ruangan terbuka memperlihatkan seorang dokter pria melangkah keluar dari ruangan dimana Kasya dirawat. Abraham dan Firdha langsung bangkit dan menghampiri dokter itu dengan wajah yang begitu sangat cemas.


"Bagaimana Dokter? Bagaimana dengan keadaan Anak saya?" tanya Abraham.


"Ada sistem syaraf di otak putri Bapak yang rusak karena benturan yang terjadi dan itu menyebabkan gangguan pada sistem pemikirannya."


"Jika saya lihat putri Bapak sepertinya mengalami tekanan dan itu membuatnya depresi yang sangat berlebihan."


"Mungkin juga separuh ingatnya hilang namun, bukan berarti putri bapak lupa dengan semuanya."


"Jadi dia lupa dengan semuanya Dokter?" tanya Firdha yang kedua matanya telah banjir dengan air mata.


"Masih ada beberapa yang dia ingat tapi entah lah kita tunggu perkembangan dari putri bapak," jelas Dokter itu.


Firdha yang tak tahan mendengar kabar itu segera memeluk tubuh suaminya lalu lagi dan lagi ia menangis.


"Dokter tolong lakukan pengobatan agar putri ku bisa baik-baik saja!"


"Tuan Abraham, kami dari tim Dokter telah melakukannya dan hasilnya adalah ini."


Darah Abraham kini seakan mendidih penuh amarah. Ini semua karena bocah sialan itu yang telah merusak kehidupan Kasya hingga seperti ini. Kali ini ia tak akan pernah melepaskan bocah bernama Devan itu begitu saja.


Ini adalah janjinya.


5 Tahun kemudian...


Suara telpon Abraham terdengar berdering membuat Abraham meraih telpon itu dan mendekatkannya ke pipinya.


"Ada apa?" tanya Abraham yang kini tengah sibuk menandatangani sebuah berkas penting.


"Maaf Tuan Abraham, kami menemukan tentang info mengenai Devan, Tuan." Suara dari sebrang itu terdengar membuat Abraham terbelalak lalu segera bangkit dari tempat duduknya membuat kertas dan pulpen itu jatuh ke lantai.


"Katakan apa yang kamu ketahui!"


"Apa kamu serius?" tanya Abraham.


"Saya serius Tuan."


"Apakah kamu tidak salah lihat?" tanya Abraham.


"Tidak Tuan. Ini diperkuat dengan data yang kami dapatkan Pak. Nama orang tua, alamat tempat tinggal bahkan Nik pun sama Pak. Dia adalah Devan, orang yang Tuan cari selama ini," jelas seseorang dari sebrang dengan sangat yakin.


"Lalu dimana dia sekarang?"


"Kalau itu belum saya tahu, Tuan."


"Bukankah di identitas itu ada nama tempat tinggalnya?"


"Iya Tuan tapi setelah kami telusuri tak ada nama Devan yang tinggal di alamat yang tertera ."


Abrahan meremas telpon itu lalu dengan marahnya ia berteriak sangat keras lalu membanting telpon itu.


Bruak


Suara hempasan itu terdengar membuat telpon itu berhamburan di lantai.


"Tenyata pria itu masih bergentayangan di Surabaya. Entah dimana bocah sialan itu berada," ujar Abraham dengan penuh tekanan.


...___***___...


Abraham melangkah beriringan dengan Jef menuju pintu utama rumah sakit. Kini waktunya Abraham untuk mengetahui perkembangan tentang Kasya walaupun sudah lima tahun ini, Kasya tidak mengalami perubahan. Dia tetap saja tak merespon seseorang yang memanggilnya.


Jef kini menoleh menatap pria yang berdiri di samping mobil berwarna putih. Rasanya pria itu tak asing lagi bagi Jef, rasanya Jef pernah bertemu dengannya.


"Tuan Abraham!" panggil Jef membuat Abraham menghentikan langkahnya lalu menoleh.


"Ada apa?" tanya Abraham.


"Perhatikan orang itu Tuan!" Tunjuk Jef.


Tanpa sepata kata kini Abraham menuruti perintah Jef lalu terdiam menatap pria yang kini nampaknya menghentikan langkahnya. Tak lama pria itu menoleh dengan tatapannya yang terlihat terkejut.


Tak lama pria itu berlari masuk ke dalam mobilnya, sepeti seorang pencuri yang ketahuan dengan pemiliknya.


"Itu Devan Tuan Abraham," ujar Jef sambil menunjuk membuat Abraham terbelalak.


Mobil itu kini melaju dengan kecepatan sangat tinggi membuat Abraham dan Jef dengan cepat berlari masuk ke dalam mobilnya dan mengejar kepergian mobil itu.


Kecepatan mobil yang dikendarai mobil itu sangat kencang membuat Jef semakin memacu kendaraannya. Tak lama mobil yang mereka kejar berhenti secara tiba-tiba membuat Jef segera turun dari mobil.


Langkah Jef semakin dekat namun, belum sempat Jef mengetuk kaca jendela mobil itu, mobil itu kembali melaju cukup kencang.


"Sial," kesal Jef hingga tanpa pikir panjang membuat Jef kembali masuk ke dalam mobilnya dan kembali mengejar kepergian mobil itu.


Tak lama suara handphone Abraham berdering membuat Abraham segera merogoh saku jasnya dan segera mengangkat handphone itu.


"Halo-"


"Mas Kasya ngamuk Mas." Suara panik itu terdengar membuat Abraham terbelalak kaget. Entah apa yang membuat Kasya mengamuk.


"Cepat Mas datang ke rumah sakit!"


"Jef turunkan aku di sini!" pintah Abraham membuat Jef segera menancapkan rem dengan tiba-tiba membuat mobil mewah itu menepi di pinggir jalan lalu dengan cepat pula Abraham segera turun dari mobil.


"Tapi Tuan bagaimana dengan pria itu?" tanya Jef.


"Jangan biarkan dia lolos kali ini! Kejar dia dan bila perlu tembak dia dan bawakan berita baik tentang kematiannya!" pintah Abraham dengan nada tertekan.