
BRUK
BRUK
BRUK
"Mas Ceo!!! Mas Ceo!!!"
"Buka pintu Mas Ceo!!!"
"Mas Ceo tolong cepat!!!"
"Mas!!!"
Suara teriakan yang disertai pukulan itu terdengar membuat Devan mengeliat di atas kasurnya, rasanya suara itu telah menganggu tidur Devan yang begitu sangat lelap.
"Mas Ceo!!!"
"Tolong Mas Ceo!!!" teriakan itu terdengar lagi.
BRUK
BRUK
BRUK
Devan membuka matanya cepat, entah siapa yang berani memukul pintu utama rumahnya dengan sangat keras, bahkan Devan khawatir jika pintu itu akan hancur setelah dipukul begitu sangat keras. Suara yang keras itu kini semakin keras terdengar hingga berhasil membangunkan tidur lelapnya itu.
Devan bangkit dari kasurnya lalu melangkah dan menyalakan lampu ruangan kamarnya. Devan menoleh menatap ke arah jam dinding yang masih menunjukan pukul 2 pagi, ini masih terlalu pagi untuk orang datang bertamu.
"Mas Ceo!!!" Teriakan itu kembali terdengar tetap nada teriakan dan pukulan pintu.
"Cepat!!!"
"Siram di sana!!!"
"Di sebelah sana!!!"
"Tolong!!!"
"Ini semakin besar!!!"
"Telfon pemadam!!!"
"Cepat! Cepat!"
Devan mengkerutkan alisnya ketika suara kebisingan dan teriakan histeris dari luar sana terdengar ditambah lagi suara yang memanggil namanya dan pukulan di pintu itu membuatnya semakin mempercepat langkah menuju pintu utama yang masih dipukul.
Jantung Devan berdetak cepat, entah apa yang terjadi di luar sana hingga terjadi keributan seperti itu. Suara keributan yang kini mampu membuat tubuh Devan gemetar.
Devan membuka dengan cepat pintu rumah membuatnya terbelalak ketika melihat kobaran api yang menyala-nyala membakar bengkelnya dengan sangat berkobar.
"Mas Ceo bengkel!!! Mas Ceo bengkel terbakar!!!" teriak pria itu yang merupakan hansip yang bertugas untuk menjaga keamanan, pria itu menunjuk ke arah bengkel dengan tubuh gemetarnya.
"Oh Tuhan," panik Devan menatap bengkelnya.
Dengan wajah paniknya Devan dengan cepat berlari ke arah bengkel dimana semua orang kini tengah berlarian sambil berusaha memadamkan api dengan air yang mereka bawa menggunakan ember. Namun apalah daya amukan si jago merah tak memberi ampun bahkan api yang berkobar itu telah merobohkan atap bengkel.
Devan memegang kepalanya dengan kedua tangannya itu ketika kedua matanya melihat dengan jelas kobaran apa yang kini menyala di hadapan kedua matanya. Ini seperti mimpi bagi Devan, mimpi yang begitu sangat buruk.
Bom!!!
Suara ledakan terdengar membuat semua orang berteriak kaget, itu mungkin ledakan dari salah satu mesin yang ada di dalam bengkel.
"Tidaaak!!!!" teriak Devan sambil mengusap rambutnya dengan keras.
Devan berlari dengan wajah panik, jujur saat ini ia tak tahu harus lari kemana. Keadaan mendadak dan tak pernah ia bayangkan membuatnya tak mampu untuk berpikir dengan jernih.
"Air!!! Tolong bawa air!!!" teriak Devan.
Devan menghentikan larinya lalu menarik ember berisi air dari tangan salah satu warga yang ikut memadamkan api. Devan berlari kembali dan menyiram ke arah bengkel yang terasa panas menyengat pori-pori kulit Devan.
"Aaaa!!! Sial!!!" teriak Devan saat air yang ia gunakan tak mengenai api yang masih menyala.
"Cepat ambil air!!!"
"Cepat!!!"
"Siram di sana!!!"
"Di sebelah sana!!!"
"Tolong!!!"
"Apa masih ada air di sana?"
"Ini semakin besar!!!"
"Di bagian belakang!!!"
"Telfon pemadam!!!"
"Cepat! Cepat!"
Devan tersentak kaget setelah ia ingat dengan sesuatu. Entah mengapa ia baru ingat dengan hal ini.
"Telfon pemadam!!! Telfon pemadam!!!" teriak Devan dengan tatapannya yang menatap ke segala arah.
Sepertinya tak ada yang mendengar perintah Devan saat ini, semuanya masih sibuk berlarian sambil membawa ember berisi air yang mereka ambil dari rumah tetangga sambil berteriak histeris.
"Tolong!!! Cepat!!!" teriak Devan.
Devan menoleh menatap pria tua yang kini ikut membawa ember berisi air dengan susah payah. Devan yang begitu sangat panik itu tanpa pikir panjang segera berlari lalu meraih ember yang dibawa oleh pria tua itu dan kembali berlari lalu menyiram api yang kini tepat sasaran namun tak membuat api itu mati. Ini sepertinya usaha yang sangat sia-sia bagi Devan dan tak membuat kobaran api yang besar itu mati.
Devan ingin menangis tapi ini bukan waktu yang tepat baginya untuk menangis. Devan berlari lagi dengan kakinya yang tak beralas sambil memandangi setiap orang-orang yang masih berteriak histeris bahkan ada beberapa dari mereka yang sibuk merekam kejadian kebakaran ini.
"Tolong telfon pemadam!!!" teriak Devan namun tak satupun ada yang mendengarnya, mereka semua terlalu sibuk dengan api.
Devan berlari menghampiri salah satu pria dengan handphone di tangannya yang masih merekam kejadian kebakaran itu. Devan kenal dengan pria ini, dia adalah pria yang tinggal di sekitar rumahnya.
"Tolong!!! Tolong telfon pemadam!!!!" teriak Devan sambil menyentuh kedua bahu pria itu.
"Maaf, Mas Ceo. Saya tidak punya pulsa," jawab pria itu membuat Devan menggerutuh kesal dan mendorong pria yang bagi Devan tak berguna itu hingga jatuh ke aspal.
"Telfon pemadam!!!"
"Tolong siapa pun itu saya mohon telpon pemadam!!!" teriak Devan sambil menatap semua orang yang kini lebih banyak yang berdiri dibandingkan menolong untuk memadamkan api.
"Tolong telfon pemadam!!!" teriak Devan lagi dengan wajah yang memerah berusaha untuk tak menangis.
Devan menelan air liurnya berusaha untuk membasahi tenggorokannya yang telah sakit setelah sejak tadi berteriak.
"Apa yang kalian semua lakukan?!!! Tolong bantu saya untuk memadamkan api!!!"
"Kenapa kalian semua diam?!!!" teriak Devan sambil menatap orang-orang yang kini hanya terdiam.
"Maaf Mas tapi kita sudah lelah, kami sudah tak sanggup untuk menyiram api itu dengan air yang hanya kami bawa dengan ember," jelas salah satu dari mereka membuat Devan melepaskan tangisannya namun dengan cepat ia menahannya sambil mengigit bibirnya dengan keras.
"Mas Ceo!!!" teriak hansip yang tak lain adalah pria yang telah membangunkan Devan dari tidurnya. Pria itu berlari menghampiri Devan yang kini menoleh dengan wajahnya yang begitu sangat panik.
"Tolong telfon pemadam, Pak! Saya mohon!" ujar Devan cepat penuh dengan wajah dan nada suara penuh kepanikan dengan tubuhnya yang begitu gemetar.
"Maaf Mas, bukanya saya tidak mau tapi kami semua sejak tadi sudah berusaha menghubungi pemadam kebakaran tapi tidak bisa terhubung," jelas hansip itu.
Devan menganga. Bagaimana bisa ini terjadi kepadanya, seharusnya pemadam kebakaran harus bisa menerima laporan dan datang cepat ke lokasi yang mengalami kebakaran.
Devan menelan ludah dengan susah payah, Devan harus mencobanya sendiri.
"Sini!" minta Devan menjulurkan tangannya berniat untuk meminta handphone hansip itu.
Hansip itu kelihatanya mengerti dengan juluran tangan Devan membuatnya kini memberikan handphonenya membiarkan Devan mencoba untuk menghubungi pemadam kebakaran.
Devan mengigit bibirnya begitu kuat ketika handphone itu berada di telinganya. Devan berharap agar tim pemadam kebakaran segera mengangkat telfonnya, ini sungguh benar-benar sangat darurat.
Devan menghembuskan nafas berat, tak ada jawaban membuat Devan menangis lalu kembali mencoba untuk menghubungi pemadam kebakaran itu dengan gemetarnya.
Ini sudah percobaan yang ke puluhan kalinya untuk menghubungi pemadam kebakaran namun, sepertinya usaha untuk menghubungi nomor pemadam kebakaran itu sepertinya tak berhasil tersambung.
Oh Tuhan ada apa ini?