Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 79



Devan terbelalak.


Sentuhan high heels hitam polos mendarat dip permukaan teras rumah ketika Cia melangkahkan kakinya ke arah Devan, high heels itu milik Baby. 


Gaun hitam dengan taburan kerlap-Kerlip berwarna putih nampak bersinar ketika diterpa cahaya lampu. Gaun hitam terusan dengan model Bridesmaid dengan pita kecil berwarna hitam terlihat di bagian depan gaun yang sangat indah. Gaun hitam itu nampak terlihat cantik di kulit Cia yang putih mulus.


Polesan make up sederhana itu nampak membuat Cia sangat terlihat lebih cantik dari biasanya. Bola matanya nampak terlihat indah dengan bulu mata yang nampak lentik.


Kali ini Baby membuktikan jika ia handal dalam soal ber-make up, buktinya wajah Cia membuktikan semuanya. Siapa yang akan menyangka ini semua hasil polesan Baby.


Untuk pertama kalinya Cia mengurai rambut hitam sepinggangnya itu keluar rumah. Biasanya Cia hanya selalu mengingatnya.


Cia terus melangkahkan kakinya ke arah Devan. Hembusan tiupan angin nampak menerpa rambut Cia membuat rambut hitamnya nampak berayun-ayun ke belakang ketika angin itu berhembus.


Sangat cantik.


Tak lupa juga Cia menjinjing tas hitam kecil di tangannya, tas itu milik Fatima yang Cia ambil di lemari Fatima atas izin Fatima juga.


Dilain posisi Devan ternganga.


Devan sama sekali tak menyangka jika gadis yang semakin mendekat ini adalah Cia, anaknya. Tapi apa benar itu Cia atau...


"Van!" Pukul Cia ke bahu Devan yang nampak terdiam di jok motor.


"Yok berangkat!"


Devan masih terdiam membuat Cia menatap keherangan.


"Van!!!" teriak Cia.


"Lo, Cia, yah?" Tunjuk Devan bercanda membuat Cia tersenyum.


"Ih, lo Cia kan?" tanya Devan lagi diiringi suara tawa kecil.


"Terus lo kira gue ini si Baby? Hah?" kesal Cia sembari menopang pinggang.


"Ya mana tau kan." Devan menggaruk rambut berminyaknya. 


"Kenapa? Gueeeee cantik kan?" Tatap Cia serius sambil melipat tangannya ke depan dan mengehentakan ujung high heels sebelah kanannya. Persis seorang preman pasar.


Devan terdiam, senyuman lebar nampak merekah di bibirnya memperlihatkan lesung pipinya.


"Ehem! Sekarang Cia mau ulang pertanyaan Cia!"


Devan mengkerutkan alisnya, tak mengerti.


"Pertanyaan apa?"


"Em, sekarangkan Cia udah cantik, Kalau misalnya Cia bukan anak Devan, Devan mau jadi pacar Cia?"


Senyum Devan kini berubah menjadi tawa sambil memasang helm hitam ke kepalanya.


"Kok ketawa?"


"Gila lo, hahaha!!!" tawa Devan.


"Gimana?" tanya Cia lagi.


"Gue menolak!" ujarnya singkat.


"Hah?!!!" Kejut Cia tak menyangka.


Cia sama sekali tak mengerti dengan pikiran Devan, sebenarnya tipe Devan itu seperti apa?


"Udahlah, lo nggak usah aneh-aneh," ujar Devan sembari menjulurkan helm hitam ke arah Cia lalu menaikan standar kaki motor.


Cia meraih helm hitam itu dengan wajah yang masih heran dengan penolakan Devan.


"Tapi kan gue udah cantik."


Dengan jawaban itu Cia langsung terdiam, jawaban singkat dengan ribuan makna. Ternyata masih ada pria yang tak memandang fisik seperti Devan, Ayahnya. Betapa beruntungnya ibu Cia bisa mendapatkan Ayahnya itu.


"By!!! Jangain Mama gue, yah!" Teriak Devan.


"Ok yayang bos Ceoooooo!!!" teriak Baby yang nampak terseyum lalu melambaikan tangannya.


Motor melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Loli melintasi jalan beraspal yang begitu ramai dilalui kendaraan roda empat dan roda dua.


Devan tahu jalan dan rumah teman Cia yang bernama Loli itu, pasalnya Cia pernah berteriak di atas motor saat Devan membonceng Cia ke arah kompleks.


Di saat itu Cia berteriak dengan kalimat 'sok cantik perebut idola!!!' Dan saat Devan tanya mengapa Cia berteriak seperti itu, cia hanya menjawab jika rumah itu adalah rumah Loli yang telah merebut idolanya.


Sejujurnya Devan sangat penasaran, siapa sebenarnya idola Cia dan setampan apa dia sehingga putrinya itu sangat tergila-gila dengan idolanya yang bernama Ogi.


Ban motor Devan berputar memasuki sebuah pekarangan rumah yang cukup luas, ada banyak motor dan mobil yang terparkir di luar pagar dan di pekarangan rumah.


Tamu-tamu secara berpasangan melangkah memasuki pintu utama yang nampak terbuka lebar di sana.


Dari kejauhan Devan mampu melihat kerlap-Kerlip lampu berwarna putih yang menghias di pintu utama. Puluhan balon berbentuk hati berwana merah segar nampak ikut menghiasi di sana seakan menyambut kedatangan tamu-tamu yang berdatangan sambil menggandeng pasangannya masing-masing.


Beberapa pria dan wanita yang menggunakan kaos berwarna pink dengan tulisan 'Happy birthday Loli' nampak berdiri di pintu utama menyambut tamu-tamu.


Salah satu dari mereka nampak duduk di sebuah kursi sambil memeriksa nama-nama tamu yang berdatangan. Acara ulang tahun Loli sepertinya dijaga sangat ketat sehingga acaranya hanya mampu dihadiri oleh orang yang memiliki undangan.


Devan melepas helm hitamnya itu membersihkan dahinya yang nampak dicucuri minyak kemiri, Ini semua karena gadis si keras kepala itu yang memberikan minyak kemiri ke rambutnya terlalu banyak.


Suara musik DJ dari dalam mampu devan dan Cia dengar begitu jelas dari luar. Cia menarik nafas berulang kali lalu menghembuskannya lewat ujung bibirnya, jantungya terasa ingin copot.


"Acaranya udah mulai belum, yah?" bisik Devan menyipitkan matanya menatap ke arah pintu.


Cia menunduk menatap tangannya. Cia mendecapkan bibirnya, Cia lupa jika ia tak memakai jam tangan. Hanya ada gelang emas di tangannya, gelang yang Fatima pinjamkan untuk Cia tadi.


Cia membuka tas kecilnya lalu meraih handphone dan menyalakannya.


"Udah lewat jam tujuh," ujar Cia cemas lalu kembali menaruh handphonenya.


"Berarti udah mulai dong."


"Wah banyak makanan tuh pasti. Masuk, yuk, Ci! Gue udah lapar nih. Aduuuuh," runtih Devan sambil meringis ketika minyak kemiri itu masuk ke matanya.


Devan mengedipkan matanya kuat sambil menyingkirkan minyak kemiri di mata kanannya dengan jaket kulitnya.


"Devan kenapa?" tanya Cia khawatir.


"Ah, lo juga sih yang kasih minyak kemiri kebanyakan," ujar Devan kesal.


"Gue mulu yang di salahin," kesal Cia memutar tubuhnya membelakangi Devan.


"Yuuk!" ajak Devan sembari bangkit dari jok motor Sambil memegang kado merah itu. 


Cia menarik nafas panjang lalu melangkahkan kakinya mengikuti langkah Devan yang kini melangkah seperti preman yang siap untuk menaklukkan musuhnya.


"Van!" panggil Cia yang kini terdiam.


Devan tetap melangkah, tak mengabaikan teriakan Cia yang memangilnya di belakang sana.


"Devan!!!" teriak Cia.


"Jangan panggil gue Devan!" ujar Devan tak menoleh menatap Cia.


"Iya, iya terserah. Tapi tungguin gue dong!" kesal Cia.


"Vaan, eh maksud gue, Ceoooo!!!" teriak Cia.


"Udahlah cepetan!" ujar Devan tanpa menoleh membuat Cia melongo.


"Emang susah, yah ini yang namanya Father or Boyfriend!"