Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 140



Cia melangkah turun dari motor Devan yang kini telah berhenti di depan gerbang sekolah yang kini telah ramai.


Cia kini merapikan seragam sekolahnya yang kusut dan segera tersenyum menatap Devan yang kini terdiam. Cia tak mampu melihat wajah Devan dengan jelas karena tertutup oleh penutup helm berwarna Hitam itu namun, Cia yakin jika Devan sedang terheran dengan senyumnya itu.


"Uang," ujar Cia sambil menggerakkan jari-jari tangannya di depan Devan.


Devan mendecapkan bibirnya lalu segera melepas helm dari kepalanya. Cia kini memasang wajah kesal di sana setelah melihat Devan yang kini hanya merapikan rambutnya yang acak-acakan itu tanpa memberinya uang jajan seperti apa yang baru saja Cia minta.


"Van," panggil Cia dengan nada kesalnya.


Devan yang masih menatap wajahnya dan merapikan rambutnya di kaca spion motor itu kini terhenti lalu menggerakkan kepalanya menatap Cia yang masih menjulurkan tangannya.


"Minta uang," minta Cia sambil tersenyum paling manis.


"Turunin tangan lo! Lo mirip bocah depan supermarket tau nggak," ujar Devan ketus.


Cia mengangkat sudut bibirnya yang cemberut itu lalu segera menurungkan tangannya. Cia ingat betul dengan bocah supermarket yang Devan maksud itu, bocah dengan pakaian lusuh yang mendatangi para pengunjung supermarket dan meminta uang dengan wajah yang di lemas-lemas kan agar pengunjung supermarket itu merasa iba.


Devan kini mengeluarkan dompet dari jaket hitamnya lalu segera membukanya dengan cepat.


Cia kini mengigit bibir bawahnya sambil tersenyum gembira lalu segera mendekatkan wajahnya ke arah dompet Devan yang terbuka itu degan bibir Cia yang nampak menganga berusaha melihat isi dompet Devan .


"Heh," tegur Devan menutup dompetnya cepat.


"Pelit banget sih? Cuman mau liat doang," ujar Cia kesal.


"Mundur!"


"Hah?" Tatap Cia heran.


"Mundur!" pintah Devan lagi.


"Tapi-"


"Mundur nggak?!" ancam Devan, bersi keras.


Cia mendecapkan bibirnya kesal lalu segera melangkah mundur selangkah ke belakang menjauhi Devan yang kini masih memantaunya dengan sorot mata serius. Kini Cia harus menurut dengan ucapan Devan jika tidak maka Devan tak akan memberinya uang jajan untuk hari ini.


Devan kini mengerakkan jarinya seakan menyuruh Cia untuk kembali melangkah mundur.


"Dev-"


"Mundur!" pintah Devan singkat berhasil memotong ucapan Cia. 


Cia mendecapkan bibirnya lalu menghembuskan nafas berat. Cia kini melangkahkan kakinya, mundur sambil terus menatap Devan.


"Lagi!" suruh Devan.


Cia mengigit bibirnya kesal dengan ucapan Devan yang lagi-lagi menyuruhnya untuk melangkah mundur. Cia tak tahu seberapa banyak uang Devan di dompetnya itu hingga Cia tak dibiarkan untuk melihatnya.


Cia kini membalikkan tubuhnya lalu segera melangkah cukup jauh bahkan kini Cia berhenti nyaris mencapai ruangan kantor.


"Yap!!!" teriak Devan sambil mengangkat tangannya ke arah Cia.


"Udah? atau gue harus masuk ke dalam kelas?!!" teriak Cia dengan nada kesal.


Para siswa dan siswi kini hanya mampu terdiam menatap heran ke arah Cia yang kini menjadi sorotan di pagi ini.


Devan kini tak menanggapi ucapan Cia, dengan cepat Devan membuka dompet hitamnya itu dan meraih lembaran uang dua puluh ribu.


Devan yang berniat untuk menutup dompetnya itu kini terdiam menatap sebuah foto kecil yang terdapat di sisi dompetnya, foto seorang gadis berseragam Smp itu nampak tersenyum bahagia. Devan sedikit tersenyum manis ketika menatap senyum dari gadis itu. Wajah paras cantik dan imut itu membuatnya teringat dengan kejadian masa lalunya.


Devan menghela nafasnya lalu segera menutup dompetnya dan memasukannya ke dalam saku jaketnya.


"Sini!" teriak Devan sambil mengerakkan jari-jarinya, memangil Cia.


Cia menghempas-hempaskan kakinya dengan kesal, seakan ingin memperlihatkan kepada Devan jika ia sedang kesal dengan sikap Devan. Cia kini segera melangkah mendekati Devan sambil memasang wajah cemberut.


Devan terdiam lalu segera memakai helm hitamnya itu ke kepalanya.


"Uangnya mana?" tanya cia menjulurkan telapak tangannya.


"Balik badan!" pintah Devan.


"Apa lagi sih?"


"Balik badan! Lo mau uangkan?" tanya Devan.


Cia mendecapkan bibirnya lalu segera membalikan tubuhnya menuruti perintah Devan.


Devan kini membuka resleting tas hitam Cia dan segera memasukkan uang dua puluh ribu itu ke dalam tas Cia lalu kembali menutupnya.


"Nah udah!" Tepuk Devan pelan ke tas hitam Cia, membuat Cia yang masih membelakangi Devan itu kini memutar menghadap Devan sambil memasang wajah cemberutnya.


"Ngambek?" tanya Devan.


Cia tak menjawab. Kini Cia terdiam sambil melipat kedua tanganya menatap ke arah lain.


"Senyum!"


"Nggak!" tolak Cia dengan wajah ketus.


"Senyum nggak!"


"Nggak," tolak Cia bersi keras.


Devan meghembuskan nafas beratnya lalu kini terdiam sambil sesekali menatap Cia.


"Senyum nggak! Atau gue ambil tuh duit!" Tunjuk Devan ke arah tas Cia.


PLAK


Pukulan keras kini meghantam helm hitam yang terpasang di kepala Devan menghasilkan suara yang cukup keras di sana. Devan hanya mampu memejamkan kedua matanya ketika pukulan itu mendarat begitu saja.


Dengan kesal Cia memutar tubuhnya lalu melangkah meniggalkan Devan yang kini hanya mampu terdiam.


Langkah Cia yang kesal itu kini melangkah melewati pintu-pintu ruangan kesal yang berbaris rapi di lorong kesal. Di tengah-tengah Cia melangkah, ia mulai merogoh tasnya itu lalu segera meraih uang yang Devan tadi masukkan ke dalam tasnya.


"Dua puluh ribu."


"Hah, Cuman dikasih duit segini terus harus ribet kayak tadi? Disuruh mundurlah, apa lah, emang harus ngejauh gitu kayak tadi?"


"Heh,o!!!" Tunjuk Cia ke arah gambar tokoh pahlawan di uang lembaran itu.


"Ada apa di dompet Devan?" Tatap Cia tajam.


"Nggak ada foto si Mita kan, si janda kegatelan itu di dompet Devan?" tanya Cia yang terus melangkah itu sambil terus menatap uang lembaran di tangannya.


Para siswa dan siswi kini hanya mampu terdiam menatap heran ke arah Cia yang nampak berbicara sendiri sambil menatap uang yang ada di tangannya.


Langkah Cia kini telah memasuki ruangan kelasnya yang telah ramai dihuni oleh siswa dan siswi yang kini telah duduk di kursinya masing-masing.


Langkah Cia memelan menatap Adelio yang nampak sendiri di kursinya sambil mengerak-gerakkan pulpen di jarinya, yah seperti biasa. Kini Cia melajukan langkahnya ke arah Adelio yang nampak menatapnya lalu beberapa detik kemudian Adelio tertunduk lagi.


Rasanya Cia ingin menanyakan apakah ia baik-bsik saja dan apakah luka di wajah itu masih sakit? Apa perlu Cia minta maaf atas perbuatan dan kebodohan Devan yang memukul Adelio.


Yah, sepertinya Cia harus minta maaf karena hal itu. Tanpa pikir panjang Cia menarik nafas dalam-dalam dan tersenyum lalu melangkah mendekati Adelio.


"Hay," sapa Cia lagi sambil tersenyum.


Adelio hanya terdiam tak menanggapi sapaan Cia dan yah yang Cia takutkan kini benar-benar terjadi kini Adelio bertindak seperti orang lain. Dia seakan bertindak seperti orang asing yang sama sekali tak mengenali Cia yang kini masih tersenyum.