
"Iya dong tobat," jawab Devan dengan bangga.
Cia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali seakan tak menyangka jika ini baru saja diujar kan oleh Ayahnya.
"Kok bisa?"
"Apa?"
"Yah kok Ayah tiba-tiba mau tobat?"
"Iya sih, Ayah mau berdoa sama Tuhan, mana tahu kan Ayah dikasi kerjaan sama Tuhan. Lagian kamu itu kenapa teriak-teriak dan lompat-lompat kayak monyet gini?"
"Nggak apa-apa kok hehe," jawab Cia sambil tersenyum malu membuat Devan mengkerutkan alisnya menatap heran pada sikap Cia.
"Kenapa sih?"
"Nggak."
"Terus kenapa senyum-senyum kayak gitu?"
"Emang kenapa nggak boleh?"
"Yah boleh aja sih. Yah udah Ayah mau lanjut zikir dulu. Jangan teriak-teriak kamu!" Tunjuk Devan ke arah Cia yang kini dengan cepat mengangguk.
Sekali lagi Devan menatap penuh selidik ke arah Cia lalu dengan perlahan ia menutup pintu kamar meninggalkan Cia yang kini tertawa geli dengan rasa bahagianya.
Senyum Cia lenyap dengan seketika saat Devan kembali membuka pintu membuat Cia mematung di atas kasurnya.
"Turung kamu! Ayah nggak punya uang buat beli ranjang kalau papannya patah!" ancam Devan sambil menunjuk Cia yang kini dengan cepat duduk di atas kasurnya.
Devan tersenyum lalu mengangguk, rasanya ia menjadi Ayah yang baik kali ini.
"Assalamualaikum," ujar Devan lalu menutup pintu.
"Wa...walaikumsalalam," jawab Cia dengan nada yang seakan berbisik.
Demi Tuhan, entah apa yang mengenai otak Ayahnya sehingga bisa jadi sholeh seperti ini.
Cia kini menghembuskan nafas panjang. Terkadang suatu musibah bisa mengubah seseorang. Cia kembali menatap layar handphonenya dan menatap setiap sudut chat Adelio. Hanya sebuah kata Hay yang Adelio kirim tapi, entah mengapa ia begitu bahagia. Bahkan jantungnya berdetak sangat cepat. Rasanya ada kupu-kupu yang berterbangan di hatinya dan keluar mengelilinginya.
"Ah ya ampun," gemas Cia sambil menyentuh sebelah pipinya yang terasa hangat.
"Aku harus bales," ujar Cia begitu semangat.
Kediaman Adelio~
"Wah centang biru." Tatap Adelio, begitu terkejut menatap tanda centang biru yang menandakan jika Cia telah melihat pesannya.
"Ini beneran kan?" tanya Adelio dengan nafasnya yang sudah sesak.
Adelio tersenyum ketika menatap kata mengetik di nama Cia, sepertinya tak lama lagi balasan chat dari Cia akan terkirim, yah walaupun ini cukup lama baginya.
TING
Nada tanda pesan masuk terdengar membuat adelio dengan cepat membuka chat Cia.
Kediaman Cia~
"Hah?" Tatap Cia terkejut dengan kedua matanya yang terbelalak ketika chatnya langsung dilihat oleh Adelio.
"Langsung dilihat dong sama Adelio, ya ampun ih gemes banget."
"Aaaaa!!!" jerit Cia sambil melompat-lompat kegirangan di atas kasurnya lagi dan lagi.
"Cia!!!" suara teriakan Devan terdengar bersamaan ketika Devan membuka pintu kamarnya membuat Cia kini terdiam kaku lalu kembali duduk.
"Ngapain sih?" tanya Devan.
"Nggak."
"Ikut ritual kamu?"
"Ritual apaan sih?"
"Ritual monyet ngepet. Dari tadi lompat-lompat sama teriak-teriak melulu."
"Enak aja, nggak!" bantah Cia.
"Awas yah kamu kalau lompat-lompat lagi!" ancam Devan lalu kembali menutup pintu membuat Cia kini menghembuskan nafas legah dan kembali menatap layar handphonenya.
____
Ashia Akanksha.
Online.
^^^| Hay |.^^^
^^^20.20 ✓✓^^^
| Hay jg |.
20.22 ✓✓
___
"Wah," kagum Adelio setelah melihat isi balasan chat Cia untuknya.
Adelio tersenyum lalu tanpa sadar melipat bibirnya ke dalam. Rasanya Adelio sangat malu kali ini.
"Si Cia lucu banget sih, kata juga-nya itu nggak ada u nya."
Adelio tersenyum simpul.
"Hah jantung ku." Sentuh Adelio ke arah dadanya yang terasa sesak.
"Aku harus balas!" ujarnya semangat.
____
Adelio Dzaky Aruf.
Online.
| Hay |.
20.20 ✓✓
^^^| Hay jga |.^^^
^^^20.22 ✓✓^^^
| Cia lagi apa ? |.
20.22 ✓✓
___
"Ah, gue ditanya lagi apa sama Adelio," ujar Cia sembari menyentuh sebelah pipinya yang kini telah memanas.
"Gue lagi mikirin lo Adelio."
"Aaaaa!!!" jerit Cia kegirangan.
Cia tertawa lalu segera mengacak-acak rambutnya sendiri. Ini membuatnya gila.
Devan membuka matanya setelah mendengar teriakan Cia yang membuatnya konsentrasinya untuk memanjatkan doa kini harus buyar dan terganggu karena teriakan Cia.
"Ciaaa!!!" teriak Devan.
"Itu yang terakhir!!!" teriak Cia.
___
^^^| Lg ddk aj |^^^
^^^20.25 ✓✓^^^
20.25 ✓✓
^^^| Y |^^^
^^^20.28 ✓✓^^^
| Cia udah makan ? |
20.28 ✓✓
^^^| Udh |^^^
^^^20.30 ✓✓^^^
| Aku ganggu nggak ? |
20.30 ✓✓
^^^| Nggk |^^^
^^^20.33 ✓✓^^^
| Cia mau tidur jam berapa ? |
20.33 ✓✓
^^^| Ngg tau jga nih |^^^
^^^20.35 ✓✓^^^
| Aku juga :-D |
20.35 ✓✓
^^^| Apa ? |^^^
^^^20.37 ✓✓^^^
| Nggak tau mau tidur jam berapa |
20.37 ✓✓
^^^| Hhh oh yah |^^^
^^^20. 39 ✓✓^^^
| Iya |
20.39 ✓✓
___
Cia menghembuskan nafas yang begitu sangat lega. Setiap kali ia membaca chat Adelio membuatnya selalu tersenyum. Ini sebuah rasa yang begitu sangat spesial.
Apakah ini yang dinamakan sebuah cinta yang perlahan mulai tumbuh seiring waktu yang berputar. Pria yang paling Cia benci karena ulahnya sehingga ia dihukum tapi kini pria itu menjadi pria yang paling Cia cintai. Ini sukar untuk dipikir tapi inilah yang terjadi sekarang.
Rasanya Cia tak merasakan rasa seperti ini sebelumnya. Rasa yang begitu menggebu di dalam hatinya yang paling dalam.
Setiap kali ia membaca balasan chat Adelio, membuatnya selalu tertawa dan tersenyum malu. Cia begitu sangat bahagia, Cia akui hal ini.
Kini jam telah menunjukkan pukul sebelas malam namun, keduanya masih sibuk untuk saling mengirim pesan chat. Entah mengapa rasanya waktu itu bergerak sangat cepat tanpa mereka duga.
Cia menguap lebar, jam tidurnya telah lewat. Biasanya di jam seperti ini Cia sudah tertidur lelap namun, sekarang ia masih stay di depan layar handphonenya, membalas setiap balasan chat Adelio.
___
| Ci ,aku udah ngantuk |
23.11. ✓✓
^^^| Y udh tdr jh |^^^
^^^| Gw jga udh ngntk |^^^
^^^23.11. ✓✓^^^
^^^|^^^
Yah udah |
23.11 ✓✓
^^^| Y |^^^
^^^23.11 ✓✓^^^
| Selamat malam ci |
20.12 ✓✓
^^^| Y |^^^
^^^20. 12 ✓✓^^^
| Mimpi indah cia |
20.12 ✓✓
^^^| Y |^^^
^^^20.12 ✓✓^^^
|Mimpi yang indah |
20.12 ✓✓
^^^| Y |^^^
^^^20.12 ✓✓^^^
| I Love you ci (♡ω♡ ) ~ |
12 ✓✓
| Tidak usah di balas. Aku off yah |
20.12 ✓✓
___
"Hah?" Tatap Cia tak percaya menatap isi chat Adelio.
Cia melongo sembari menyandarkan layar handphone ke arah dadanya. Rasanya ini sebuah mimpi.
"Adelio bilang I love you sama gue?" tanya Cia tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca di layar handphonenya.
Cia kembali menatap layar handphonenya. Senyum Cia mengembang indah, tanpa ia sadar ia mengigit bibir bawahnya lalu mengeliat seperti cacing kepanasan di atas kasurnya.
Cia menghembuskan nafas legah lalu segera menyampingkan tubuhnya dan menyentuh permukaan layar handphone yang telah ia matikan.
"Selamat malam juga Adelio."
"I love you to," bisik Cia ke handphonenya.
******
Hay semuanya, maaf banget hari ini saya tidak bisa up 5 Bab dan hanya up 2 bab sisanya besok yah!
soalnya hp Author jadi lalot karena kebanyakan ngetik, hehe.