Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 216



"Ayaaaah!!!" teriak Cia lalu menangis.


Cia menatap lantai itu dengan kedua mata yang memburam karena terhalang air mata. Apakah Cia memang sangat menyusahkan sehingga ditinggalkan oleh Devan?


"Ayaahh!!! Jangan tinggalin Cia!!!" teriak Cia.


"Ciaaa!!!" suara teriakan terdengar dari luar rumah membuat Cia menghentikan tangisannya. Suara samar-samar yang ditandingi oleh guyuran derasnya air hujan terdengar samar-samar namun masih bisa Cia dengar.


"Ciaa!!!" suara teriakan itu kembali terdengar diiringi suara ketukan pintu.


Cia segera melangkah dengan cepat, Cia kenal dengan suara itu, itu sudah jelas suara Devan.


"Apa itu Ayah?" tanya Cia sambil membuka pintu dengan kunci rumah.


"Iya," jawab dari luar.


Cia membuka pintu dengan perlahan membuat Cia sangat terkejut menatap sosok Devan yang basah kuyup dengan kresek hitam yang ada di pelukannya. Wajah Devan terlihat pucat dengan tubuh yang mengigil. Devan berusaha tersenyum walau bibir bawahnya bergetar karena mengigil. Cia tahu, Devan pasti kehujanan hingga seperti ini.


"Ayah dari mana aja?" tanya Cia.


"Ayah...Ayah bawa nasi bungkus bu...bu...buat kamu, Cia," ujar Devan lalu melangkah masuk ke dalam rumah membuat lantai basah karena pakaian Devan yang meneteskan air.


"Siapkan piring! Kamu pasti lapar," ujar Devan yang kini melangkah menuju meja makan.


Cia berlari masuk ke dalam kamar milik Devan dan meraih handuk dan kembali menyusul Devan yang kini sudah duduk di kursi dengan tubuh menggigilnya.


"Ayah kenapa bisa basah?" tanya Cia yang kini menyelimuti tubuh bahu Devan dengan handuk.


"Ambil piring!" Tunjuk Devan ke arah lemari membuat Cia dengan cepat melangkah ke arah lemari.


"Ayah basah waktu mau pulang ke rumah. Ayah dapat pekerjaan tadi sore," jelas Devan.


"Pekerjaan apa?" tanya Cia yang kini meletakkan piring ke meja.


"Ayah bantu angkat beras di pasar dan Ayah dapat sepuluh ribu setelah itu Ayah langsung beli nasi bungkus untuk kamu," jelas Devan yang kini meletakkan nasi bungkus itu ke atas piring.


"Ayah tahu kamu lapar," ujar Devan lalu bangkit dan meraih sendok sementara Cia kini hanya terdiam menatap apa yang Devan lakukan.


Devan membuka nasi bungkus itu hingga lauk sayur kangkung, telur rebus dengan sambal saus tomat, tahu serta tempe terlihat di depan Cia, terlihat begitu sangat nikmat. Devan mengaduknya dengan sendok lalu menjulurkan nya ke arah Cia.


"Ayo makan!" ujar Devan dengan tangan gemetarnya namun dengan cepat tangan kiri Devan memegang pergelangan kanannya agar tak gemetar.


"Ayo!" suruh Devan dengan kedua matanya yang memerah, yah Devan ingin menangis.


"Ayah bagaimana?" tanya Cia.


"Ayah udah makan kok," jawabnya berbohong. Jujur tangan gemetarnya bukan karena kedinginan tapi karena ia sedang lapar.


"Ayo makan!" pintah Devan sambil tersenyum membuat Cia dengan cepat membuka mulutnya.


Setiap suapan yang masuk membuat Devan selalu tersenyum. Ia hanya ingin membuat Cia tidak merasa tersiksa tinggal bersamanya. Devan takut jika Cia akan pergi meninggalkannya.


"Terima kasih, Ayah," ujar Cia lalu mengecup pipi Devan dan melangkah masuk ke dalam kamar.


Devan mengangguk, ia mengelus kepala Cia dan menyuruhnya masuk ke dalam kamar. Senyum Devan sirna dari bibirnya saat pintu kamar milik Cia benar-benar sudah tertutup.


Air mata Devan menetes membuatnya menangis tersedu-sedu. Mengapa Tuhan memberikan nasib seperti ini kepadanya. Mengapa dia setiap cerita orang jahat lah yang bisa hidup dengan nyaman sementara yang baik akan hidup sensara.


...___***___...


Suara jam pulang berbunyi membuat semua siswa dan siswi kini bergegas keluar dari kelas masing-masing setelah para guru-guru yang mengajar berpamitan keluar dari ruangan kelas.


Cia tersenyum begitu sangat malu dikala Adelio menggandengnya sembari melangkah keluar dari kelas. Para siswa dan siswi kini hanya mampu menatap heran dengan hal yang mereka lakukan.


"Misi yah Bund," ujar Loli yang sengaja menerobos hingga berhasil membuat gandengan tangan Cia dan Adelio terlepas.


Cia tertawa pelan sembari melirik Adelio yang kembali mengandeng jari-jari Cia.


"Permisi!" Terobos Marisa, berhasil membuat Adelio dengan cepat mengangkat tangannya yang masih menyatu dengan tangan Cia.


"Pacaran melulu nih," ujar Fika yang kini merangkul bahu Medika begitu Mesra.


Cia melongo, entah sejak kapan Fika dan Medika bisa akrab seperti itu.


"Enak yah punya pacar," tambah Faririn sambil menatap jahil ke arah Cia dan Adelio.


"Hust !" ujar Yuna sembari meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, tak lupa juga ia merangkul sahabatnya itu.


"Ingat Rin, kita jomblo!" ujar Yuna berhasil membuat Cia menggeleng pelan.


Langkah Cia yang kini sudah berada di gerbang sekolah kini terhenti dengan tiba-tiba ketika menatap Devan yang nampak terdiam di atas motor metik yang Devan tunggangi. Entah siapa motor yang Devan gunakan.


Cia dengan cepat melepas gandengan Adelio, Cia takut Jika Devan marah. Ditambah lagi dengan tatapan Devan yang begitu serius menatapnya.


"Tunggu di sini yah!" bisik Cia membuat Adelio mengangguk.


Tatapan Cia yang masih heran itu segera melangkah mendekati Devan yang masih menatapnya dengan serius.


"Kok Ayah ada di sini? Terus motor ini punya siapa? Ayah beli motor?" tanya Cia yang telah berada di hadapan Devan.


"Naik sekarang!" suruh Devan lalu segera menjulurkan helm ke arah Cia.


Cia mengkerutkan alisnya lalu menatap ke arah Adelio yang masih menunggu di gerbang sekolah.


"Tapi-"


"Naik sekarang!" pintah Devan lagi sembari menyalakan mesin motornya.


Cia menurut membuatnya kini memasang helm ke kepalanya. Tatapannya kini mengarah ke arah Adelio yang terlihat mengangguk pelan dengan senyuman yang begitu tulus.


Cia segera naik ke atas motor membuat motor itu kini melaju ketika Devan mulai menancapkan gas meninggalkan area SMA Garuda bangsa. Cia menoleh menatap Adelio yang kini hanya terdiam, Cia tahu jika Adelio juga merasa ada yang aneh pada Devan. Biasanya Devan akan menyapa Adelio atau bahkan tersenyum tapi kini Devan tak mengatakan apa-apa kepadanya atau bahkan tersenyum.


Di perjalanan Cia hanya mampu terdiam di belakang Devan, rasanya ada yang berbeda dengan Devan tapi entahlah rasanya Cia sungkan untuk berucap kali ini.


Motor yang masih dikendalikan oleh Devan kini terhenti tepat di hadapan rumah yang begitu sangat megah. Cia terbelalak kaget dan tak pernah menduga, bagaimana mungkin Devan membawanya kerumah ini. Ini rumah Tuan Abraham, Cia ingat dengan rumah yang super megah ini.


"Yah kok kita ke sini?" tanya Cia yang kini sudah berdiri di samping motor dengan wajah takut.