
Suara kicauan burung-burung terdengar membuat Cia tersadar dari tidurnya yang lelap. Cia menggeliat di atas kasurnya, tidurnya benar-benar lelap malam ini. Cia bangkit menatap seisi kamarnya yang nampak rapi, tak seperti biasanya yang terlihat berantakan. Cia menoleh ke kiri dan kanan menatap ruangan kamarnya yang terlihat tertata rapi. Tak ada pakaian di keranjang atau pun di lantai, kemana pakaian kotor itu pergi? Cia kini menoleh menatap buku-buku Cia yang kini telah tersusun rapih di rak buku.
Cia segera bangkit dari kasurnya lalu segera melangkah turun dari tempat tidur. Kedua mata Cia terbelalak dan dengan cepat mengangkat kaki kanannya yang telah berhasil menyentuh lantai yang terasa dingin dan basah. Apakah lantai ini telah dipel hingga lantai itu terasa dingin dan basah. Cia kini berlutut ke lantai lalu menyentuh lantai itu yang tak kotor sedikit pun. Kini di pikiran yang terlintas adalah siapa yang telah membersihkan kamar Cia.
Cia kini menatap kembali ke seluruh kamarnya dengan takut, entah mengapa suasana kamarnya menjadi horor seperti ini. Bau apel dari lantai itu membuat indra penciuman Cia terasa segar.
Cia kini melangkah keluar dan membuka pintu dengan hati-hati seakan pintu itu akan meledak. Cia mengerakkan kepalanya menatap ke sekeliling rumah yang nampak telah bersih bahkan lantai rumah di ruangan tv terlihat basah, sepertinya lantai ini baru saja telah di pel seperti kamarnya.
Cia terbelalak kaget menatap suasana ruangan TV yang terlihat sangat rapih. Dengan langkah yang penuh hati-hati Cia melangkah ke arah dapur, ada suara kebisingan di sana seperti suara wajan yang bergesekan.
Langkah Cia kini terhenti menatap Devan yang kini tengah asik mengoreng nasi dengan lihai, kini Devan mirip seorang chef yang terkenal dan lihai dalam memasak tanpa mengalami kendala sedikitpun.
"Pagi," sapa Devan tersenyum lalu mematikan api dari kompor dan melangkah ke arah Cia yang kini melongo.
Cia masih terdiam seakan menatap Devan dengan takut.
"Cia hari ini hari senin, jadwal pelajaran kamu bahasa Indonesia, matematika dan bahasa Inggris. Ayah sudah siapin buku pelajaran di tas kamu, pulpen, penggaris, pinsil dan penghapus."
"Oh iya tas kamu yang rusak itu sudah Ayah jahit jadi tasnya sudah bisa dipakai lagi. Nanti kalau mau kita pergi beli tas yang baru untuk kamu tapi untuk sekarang pakai yang lama dulu. Oh iya sepatu kamu sudah Ayah lap dan Ayah semir jadi sepatu kamu sudah mengkilat dan tidak berdebu lagi."
"Seragam sekolah kamu sudah Ayah strika terus seragamnya sudah wangi karena Ayah sudah semprot pake pewangi bunga mawar waktu Ayah strika jadi kamu nggak usah pake parfum lagi, nanti parfumnya di simpan aja dulu! Nanti kalau pewanginya sudah habis parfumnya baru dipakai biar irit."
Cia melongo setelah mendengar Devan yang bicara tanpa henti.
"Tapi-"
"Oh iya sekarang kamu makan dulu baru mandi biar nanti kamu nggak gosok gigi dua kali jadi mulutnya ngga bau kalau kamu ke sekolah dan satu lagi kita irit pasta gigi," jelas Devan berhasil membuat Cia tak melanjutkan ujarannya.
"Oh iya jangan lupa bawa sapu tangan untuk membersihkan mulut kamu setelah sarapan! Ayah liat baju seragam sekolah kamu selalu kotor karena kamu lap mulut kamu di ujung seragam putih kamu."
"Hari ini kamu bawa bekal ke sekolah yah jadi uang jajan kamu tidak berkurang."
Mulut Cia menganga begitu lebar, penjelasan Devan benar-benar membuatnya melongo, ini bukan Devan yang biasanya. Kemana Devan yang setiap hari selalu mengajaknya berkelahi?
"Lo nggak sakit kan?" Tatap Cia penuh heran.
"Sakit?" Tatap Devan heran
Cia mengangguk cepat.
"Nggak Ayah nggak sakit, kamu sakit?" tanya Devan.
Cia menganga tak percaya dengan apa yang baru saja Devan katakan kepadanya.
"Oh may Goooood!!!" jerit Cia lalu melangkah mendekati Devan dengan cepat dan segera menyentuh dahi Devan sambil menatap seluruh sisi kepala Devan berusaha memastikan tak ada luka di kepala Devan.
"Apa yang terjadi dengan otak lo Devan! Otak lo kebentur di mana?!!" jerit Cia sambil memasang wajah paniknya.
Devan mendecapkan bibirnya lalu memegang pergelangan tangan Cia dan menatapnya dengan tatapan serius.
"Kamu-"
"Tuh kan!!! Lo manggilnya kamu bukan lo atau Cia lagi tapi lo manggilnya kamu. Lo sakit yah?"
"Lo, Lo, Lo. Apaan sih? Panggil Ayah! Ayah ini Ayah Ciaaaa bukan teman yang dipanggil dengan sebutan lo," jelas Devan.
Cia mengkerutkan alisnya dan menyentuh dahinya dengan serius. Cia bahkan lupa jika semalam mereka telah sepakat untuk bersikap sebagaimana Ayah dan Anak.
"Hah!!!" Tatap Cia heran lalu, melangkah mundur, ia sangat syok dengan perubahan Devan.
"Sekarang udah jam 6 : 15 jadi masih ada waktu buat kamu makan terus mandi."
"Apa?" Kaget Cia.
"Cepetan makan!" lintah Devan lalu meletakkan sepiring nasi goreng ke atas meja.
"Kasian Anak Ayah," ujar Devan lalu mengelus rambut Cia yang berantakan itu dengan lembut lalu melangkah ke arah wastafel.
Cia masih terdiam, mematung di tempat berdirinya.
"A...A...Ayah sehatkan?" Tatap Cia sambil berusaha tersenyum.
Devan menoleh lalu menyentuh dahinya sendiri lalu beberapa detik kemudian ia tersenyum.
"Sehat," jawabnya dengan wajah gembira.
Cia menggeleng pelan, ini bukan Devan yang biasanya. Dia berubah drastis. Dengan langkah pelan ia segera duduk di kursi, tatapannya terlihat kosong namun pikiranya seakan dipenuhi oleh Devan.
Cia tertunduk lalu dengan pelan ia menyendok nasi goreng itu dan menghirup bau nasi goreng itu, ini tidak hangus. Cia kembali menyendok nasi goreng yang lain berusaha memastikan jika nasi goreng yang lain tidaklah hangus. Dengan pelan Cia mendekatkan sesuap nasi goreng itu ke lubang hidungnya, Cia hanya memastikan jika nasi ini aman-aman saja. Dengan pelan ia menghirup aroma nasi goreng itu dan perlahan sambil menutup kedua matanya.
"Ya ampun Cia!!!" kaget Devan sambil menopang pinggangnya membuat Cia terbelalak kaget dengan segera menatap ke arah Devan.
"Makan itu pake mulut bukan pakai hidung," ujar Devan sambil menyentuh mulut dan hidungnya secara bergantian.
"Hah?" Tatap Cia tak mengerti.
Devan melangkah lalu duduk di samping Cia dan meraih sendok serta piring Cia.
"Buka mulut!"
"Aa?" Tatap Cia tak mengerti.
"Buka mulut!" pintah Devan lagi sambil membelalakkan matanya.
Cia masih terdiam bahkan mulutnya masih tertutup rapat membuat Devan mendecapkan bibirnya. Devan bangkit dari kursi sambil memegang sendok berisi nasi goreng buatannya itu sementara Cia masih terdiam.
"Liat sini! Ada pesawaaaaaat," ujar Devan sambil berlari kecil dan meliuk-liukkan sendok itu persis seperti seorang Ibu yang akan menyuapi Anaknya untuk makan.
Cia melongo. Apa yang Devan lakukan?
"Syuuuuuuu pesawatnya mau mendaraaat!" ujar Devan lagi lalu mendekatkan sendok itu ke arah mulut Cia yang masih tertutup.
"Buka mulut!" pintah Devan sambil tersenyum.
Cia masih terdiam kaku di tempatnya duduk.
"Buka mulut!" pintah Devan lagi dengan nada yang tertekan sambil melototkan kedua bola matanya.
Cia menelan ludah, tatapan ini seperti pemaksaan pada dirinya. Dengan cepat Cia membuka mulutnya membiarkan Devan memasukkan sesuap nasi goreng itu ke dalam mulutnya.
"Wah! Pinter!" girang Devan sambil mengelus rambut Cia dengan lembut.
Apa yang terjadi dengan Devan? Bahkan Devan kini mengelus rambutnya seperti seekor Anak kucing.