Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 174



Devan kini mengigit roti itu dengan tubuh gemetarnya, ia cukup kelaparan kali ini, tak ada bedanya dengan bayi itu. Bibir Devan juga ikut gemetar rasanya ia tak kuat menahan tangisnya. Bagaimana bisa ia kini menjadi Anak yang kini hanya dapat makan dengan sepotong roti yang diberi oleh seorang pria yang nampaknya seperti pemulung dan bahkan Devan tak mengenal pria tua ini. Devan kini teringat dengan Mamanya, apakah dia baik-baik saja lalu bagaimana dengan Bapaknya? Apakah semuanya baik-baik saja.


"Hah," keluh Devan membuat air matanya tumpah ruah membasahi pipinya.


Pria itu melirik Devan cepat menatap bingung pada Devan yang menangis.


"Kamu kenapa?" tanya pria itu.  


Devan menggeleng sambil mengusap pipinya. Pria itu tersenyum lalu kembali ke posisi awalnya, yakni menatap toko-toko yang ada di hadapannya.


"Kamu dibuang oleh Ibumu?" tanya pria itu membuat Devan menatap cepat ke arah pria itu.


Devan terdiam seakan tak tahu harus menjawab apa.


"Itu Adikmu?" tanya pria itu lagi sambil melirik bayi yang kini masih ada di pelukan Devan.


Devan mengangguk cepat, ia tak mungkin mengatakan jika bayi ini adalah Anaknya. Ini akan menjadi bencana baginya.


"Kenapa kamu dibuang?" tanya pria itu.


Devan terdiam, ia belum memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu.


"Bapak ini siapa?" tanya Devan, mengalihkan pembicaraan.


Pria itu tersenyum lalu tertunduk, tak lama ia mengangkat pandangannya kembali menatap toko-toko itu.


"Baru kali ini ada yang memanggilku dengan sebutan Bapak di sini. Kamu lihat semua orang itu?" Tunjuk pria itu ke arah orang-orang yang sudah tertidur.


Devan mengangguk ragu.


"Dia tak pernah memanggilku dengan sebutan itu," ujar pria lalu kembali menunjuk ke arah kendaraan yang berlalu-lalang.


"Dan itu."


Devan menoleh.


"Mereka memanggilku dengan sebutan orang jalanan dan pria tua tak berguna."


Devan terdiam, itu bukan jawaban yang ia minta.


"Kamu sepertinya Anak baik tapi bagaimana bisa kamu di buang oleh Ibumu?"


Devan tertunduk setelah mendengar hal itu membuat pria itu menghembuskan nafas panjang.


"Yah tapi aku sadar kehidupan ini penuh dengan tekanan, Ibumu punya alasan untuk membuang kamu," sambungnya.


"Apa kau tahu Nak? Kehidupan kita terbalik, kamu di buang oleh Ibumu dan aku dibuang oleh Anakku."


Pria itu mengeluh lalu tertunduk sedih.


Devan yang mendengar hal itu dengan cepat menoleh menatap pria itu dengan tatapan tak menyangka. Bagaimana bisa ada Anak yang membuang Ayahnya seperti ini.


"Kenapa?" tanya Devan dengan penuh hati-hati, ia takut jika pria tua itu tersinggung.


"Menurutnya aku beban," jawab pria itu lalu ia tersenyum, ia terpaksa menutupi kesedihannya membuat Devan tertunduk seakan menyesal dengan pertanyaannya yang membuat pria itu nampak terlihat sedih. 


"Nama kamu siapa, Nak?" tanya pria itu membuat Devan menggerakkan kepalanya menatap pria itu.


"Nama saya De-" Ucapan Devan terhenti, kini ia teringat dengan Tuan Abraham. Devan takut jika mereka mencarinya dan menyebut namanya. 


"Siapa?" tanya pria itu.


Devan kini menggerakkan kepalanya menatap kesegala arah lalu terdiam menatap sebuah toko yang bertuliskan 'Ceoma' itu mungkin nama toko yang diambil dari nama pemilik toko itu.


"Nama saya Ceo," jawab Devan cepat menatap pria itu yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan serius.


Pria itu mengangguk, sepertinya dia tidak curiga dengan nama samaran itu.


"Lalu Adikmu?"


Dasar bodoh, rasanya pria tua ini sudah sejak tadi melontarkan pertanyaan yang belum Devan pikirkan jawabannya.


"Emmm namanya...Cia," jawab Devan.


Devan tak tahu entah dari mana otak bodohnya ini mendapatkan nama seperti itu, namun harus apa lagi yang terlintas hanya nama itu.


Pria itu kembali mengangguk.


"Takdir," jawab pria itu cepat lalu tersenyum.


Kini giliran Devan yang mengangguk membuat Takdir tersenyum lalu menepuk hangat bahu Devan layaknya seperti keluarga sendiri membuat Devan terasa nyaman dengan tepukkan itu.


"Tidurlah, Nak!" ujar Takdir lalu melangkah ke arah kardus yang di gelar di atas lantai yang terlihat agak kotor tepat di samping sebuah gerobak tua.


Devan terdiam sejenak lalu menatap bayi kecil yang telah tertidur.


"Kemari, Nak! Aku punya kardus untukmu malam ini," ujar pria itu.


Devan terdiam sejenak lalu menghembuskan nafas berat dan setelahnya ia bangkit dan ikut membaringkan tubuhnya ke permukaan kardus sembari memeluk tubuh bayi mungilnya.


...____***____...


Suara kicauan burung-burung terdengar diiringi dengan suara pintu toko yang terdengar dibuka ketika matahari mulai memperlihatkan sinarnya dengan perlahan.


Devan kini bangkit dari sebuah alas kardus pemberian Pak takdir yang telah membantunya agar tak kedinginan dari lantai yang begitu dingin. Bayi yang diberi nama Cia itu pun nampak tertidur lelap di pelukan Devan semalam.


"Sudah bangun?" tanya Takdir sambil membereskan alas kardus bekasnya tidur dan memasukkannya ke dalam sebuah gerobak.


Devan mengangguk.


"Sebaiknya kamu ikut Bapak, tidak lama lagi satpol PP akan segera datang dan menangkap kita satu persatu," ujar Takdir sambil melangkah pergi dengan gerobaknya yang ia tarik.


Devan terdiam sejenak lalu segera mengendong Cia dan membawanya pergi mengejar Takdir tetap dengan kotak susu dan dot bayi yang berada dalam sebuah kresek hitam yang kedua lubangnya di sambung degan tali rafia hingga tali itu nampak menyilang di tubuh Devan persis seperti tas.


Takdir tersenyum ketika ia menatap Devan yang kini sedang melangkah di sampingnya.


"Bapak mau kemana?" tanya Devan.


"Mencari hidup," jawab Takdir membuat Devan kebingungan.


"Maksudnya?"


Langkah Takdir terhenti di sebuah tong sampah yang nampak begitu penuh, banyak sampah plastik di sana.


Pria itu tak menjawab lalu segera mengotak-atik isi tong sampai itu dengan semangat.


"Maksud Bapak mencari hidup itu maksudnya mencari sampah?" tanya Devan sembari menatap Takdir yang kini masih mengotak-atik tong sampah itu.


"Ini bukan sampah," jawab Takdir yang kini tengah memegang sebuah botol plastik dan meletakkanya ke dalam gerobak.


"Ini hidup," sambung Takdir lalu kembali melangkah sambil menarik gerobaknya.


"Hidup?" tanya Devan


Takdir mengangguk.


"Dengan sampah ini aku bisa hidup tanpa harus menjadi beban bagi Anakku," jelas Takdir lalu melangkah sambil menarik gerobaknya.


Ucapan Takdir kini mampu membuat Devan terdiam, namun terus mengikuti langkah Takdir.


"Kau sepertinya lelah," ujar Takdir.


Devan menggeleng cepat lalu tersenyum.


"Naik saja ke gerobak!"


"Tapi Pak-"


"Tidak apa-apa, naik saja!" suruh Takdir sambil tersenyum penuh ikhlas.


Devan terdiam, memikirkan sesuatu. Bagaimana bisa ia naik ke gerobak dan membiarkan pria tua ini menarik gerobaknya, ini hanya menambah beban buat Takdir . Di saat Devan yang masih berfikir Dari kejauhan Devan mampu melihat barisan mobil-mobil yang nampak bergerak di jalan beraspal, mobil mewah itu mirip dengan mobil Tuan Abraham dan lalu benar saja dari salah satu mobil itu ada Tuan Abraham yang sedang duduk manis di dalam mobilnya sementara Jef yang sedang mengendalikan laju mobil itu.


Tak lama beberapa mobil itu berhenti di tepi jalan, membuat Tuan Abraham dan para Anak buahnya turun dari mobil.


"Cari Devan dan bayi itu sekarang juga dan bunuh dia!!!" teriak Abraham kepada Anak buahnya, tanpa memperdulikan orang-orang yang nampak syok setelah mendengar teriakkan itu.


Tubuh Devan langsung gemetar dan tanpa pikir panjang ia segera naik ke dalam gerobak. Devan menarik sebuah karung berukuran besar dan menutup tubuhnya beserta bayinya itu. Nafas Devan sesak, ia benar-benar sagat takut sekarang.


Pak takdir terdiam kebigungan setelah menatap apa yang Devan lakukan. Dengan tatapan perlahan ia mulai menatap gerombolan berseragam hitam yang kini telah menyebar ke segala arah. Pak takdir tersenyum pelan lalu segera melangkah sembari menarik gerobaknya.


"Berhenti!!!" teriak Jef lalu menghampiri Takdir yang kini menghentikan langkahnya.