Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 136



"Saya-"


"Kamu mau kan?" Tatap Abraham penuh harap.


"Saya-"


"Cia, saya harap kamu mau. Ini demi kebahagiaan Putri saya."


"Saya nggak bisa Pak," jawab Cia.


"Loh, kenapa?"


"Mama saya sakit dan pastinya nggak ada yang jaga Mama saya di rumah."


"Terlebih lagi Ayah saya nggak mungkin izinin saya tinggal di sini Pak," tambah Cia.


Abraham menarik nafas panjang lalu mengeluh berat setelah mendengar alasan Cia.


"Kalau kamu tidak mau menginap di sini karena Mama kamu yang sakit, maka saya janji akan memberikan fasilitas kesehatan untuk Mama kamu sampai dia sembuh," jelas Abraham membuat Cia hanya mampu terutunduk.


"Boleh saya ketemu sama Ayah kamu?"


"Ayah saya?" tanya Cia.


Abraham mengangguk mengiyakan ucapan Cia.


"Bagaimana kalau Senin depan?"


Cia kini terdiam dengan kedua matanya yang terbelalak kaget.


"Saya ingin meminta izin langsung dengan Ayah kamu, hari Senin depan di rumah saya sepulang kamu sekolah, bagaimana?"


"Senin depan?" tanya Cia panik.


"Iya, lebih cepat lebih baik kan, Cia?" Tatap Abraham diiringi senyuman.


Cia kini tersenyum kaku sementara batinnya mengeluh dengan dirinya sendiri yang berbicara tentang Ayah. Semua orang tahu jika Ayah Cia, dokter Yusuf telah meninggal sementara Devan tak mau jika semua orang tahu jika Cia adalah anak dari Devan.


...____***____...


Langkah pincang Adelio kini melangkah masuk ke dalam rumah setelah membuka pintu sambil menggendong tas besar berisi pakaian Julia. Hari ini Julia telah diizinkan pulang oleh dokter, kondisinya sekarang mulai membaik walau hanya di rawat semalam saja.


Pak Yanto kini menutup pintu mobilnya lalu segera berlari dan membuka pintu untuk Julia yang kini tersenyum menyambut Pak Yanto yang membuka pintu itu. Julia melangkah keluar dari mobil dengan pelan dan hati-hati.


Adelio nampak menuntun ibunya itu walau tadi sempat menolak dan mengatakan jika ia baik-baik saja, namun karena Adelio bersih keras maka Julia hanya membiarkan Adelio menuntunnya dan membiarkannya untuk membantu Julia berbaring di atas kasur.


Adelio kini terdiam setelah keluar dan menutup pintu kamar Julia dengan rapat, menatap Pak Yanto yang kini terdiam menatap wajahnya sambil memasang wajah sangar di sana.


Adelio menelan ludah menatap gugup pada tatapan Omnya yang terlihat begitu serius menatapnya. Adelio berharap Pak Yanto tak menyadari luka biru di wajahnya.


Adelio membelakangi Pak Yanto berusaha menjauhi tatapan Pak Yanto yang tak henti-hentinya menatap Adelio.


"Em, Om mau makan?" tanya Adelio mengalihkan perhatian Pak Yanto.


"Muka kamu kenapa?" tanya Pak Yanto tanpa basa-basi membuat kedua mata Adelio membulat kaget.


"Kenapa? muka saya tidak apa-apa," jawabnya.


"Tak perlu berbohong, Adelio. Muka mu terlihat membiru, apa kamu sudah berkelahi?" tanya Pak Yanto penuh curiga.


"Saya hanya terbentur," jawab Adelio lalu melangkah melintasi Pak Yanto yang nampaknya tak percaya dengan ucapan Adelio .


"Kamu berbohong Adelio."


Langkah Adelio kini terhenti ketika ucapan Pak Yanto begitu jelas terdengar di telinga Adelio. Sekarang adelio tak tahu harus memberi alasan apa kepada Pak Yanto yang nampaknya sangat curiga dengan luka di wajahnya itu.


"Kamu dipukul oleh ketua gang motor?" tanya Pak Yanto namun dengan wajah yakinnya.


Adelio terbelalak setelah mendengar ucapan Pak Yanto. Adelio sama sekali tak menyangka jika pak Yanto tahu dengan hal itu, Adelio tak tahu entah dari mana Pak Yanto mendapatkan informasi jika ia dipukul oleh ketua gang motor.


"Ti...ti...tidak, Om. Si...siapa yang bilang ?" tanya Adelio gugup.


Pak Yanto menghembuskan nafas panjang dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Kamu tak perlu berbohong, Adelio. Saya tahu dari penjaga keamanan di rumah sakit."


Adelio terdiam.


"Saya tidak sengaja lewat di depan ruangan penjaga keamanan dan mendengar mereka bicara," jelas Pak Yanto.


"Saya tidak menyangka jika bocah kecil yang selalu menangis dan kini tumbuh besar dengan sikap pendiam, sopan dan baik bisa juga berkelahi."


"Ayo katakan! Kamu berkelahi karena apa? Hem?" tanya Pak Yanto.


"Oh, iya ini belum selesai. Kamu dipukul atau saling memukul?" tanya Pak Yanto.


"Saya-"


"Adelio, Adelio," sebut Pak Yanto lalu melangkah duduk ke kursi sofa.


"Om," ujar Adelio cepat lalu menoleh menatap Pak Yanto.


"Saya mau Om ngerahasiain tentang pemukulan itu sama Ibu. Om, saya ngga mau ibu sedih," ujar Adelio degan raut wajah sedihnya.


Pak Yanto kini menarik nafas panjang lalu segera mengangguk, seakan mengatakan jika ia setuju dengan hal yang baru saja di katakan Adelio.


Adelio tersenyum.


"Terimakasih."


"Oh Iya, ngomong-ngomg kamu punya masalah apa sama ketua geng motor itu?" tanya Pak Yanto.


"Nggak ada kok Om," ujar Adelio cepat.


Adelio kini berpaling lalu melangkah meninggalkan Pak Yanto yang kini hanya mampu menghela nafas.


"Adelio, Adelio. Siapa yang telah memukulmu, si pria baik hati."


...____***____...


Adelio dengan langkahnya kini bergerak melintasi jalan trotoar yang nampak begitu ramai dilalui orang-orang yang berlalu-lalang.


Adelio kini hanya butuh ketenagan. Sesekali Adelio menatap kakinya yang keseleo itu karena di tekan oleh pacar Cia disaat pacar Cia memukul Adelio di malam kejadian pemukulan itu.


Adelio tahu, pasti semua pasangan akan marah jika melihat orang yang ia sayang dekat dengan orang lain dan itu mungkin alasan pacar Cia memukulnya. Yah, Adelio sadar jika ia salah.


Sekarang jam telah menunjukkan jam lima sore, kini sinar matahari hanya memberikan sensasi hangat di saat menerpa kulit. Cia nampak begitu lelah, lelah disaat harus berpikir mengenai ucapan Pak Abraham kepadanya. Cia tak tahu apakah Devan mau bertemu dengan pak Abraham dan memberinya izin untuk tinggal di rumah megah itu.


Cia sejujurnya sangat berharap dan menginginkan tinggal bersama dengan bidadari tapi ia juga tak mungkin tinggal bersama keluarga pak Brahmana. Tinggal di rumah megah bak istana itu adalah impian semua orang dan juga impian Cia. Tapi tak mungkin bagi Cia bisa mendapatkan izin dari Devan.


Sejujurnya Cia tahu sifat asli Devan. Devan pasti tak akan mengizinkannya tinggal di rumah megah itu. Jangankan menginap di rumah orang, masuk saja ke rumah orang tak akan dibiarkan oleh Devan. Devan bahkan melebihi sikap sensitif seorang ibu yang begitu sangat menyayangi anaknya.


Cia menghela nafas panjang. Kini langkah lelahnya di trotoar itu cukup lambat membiarkan orang-orang berlalu begitu saja melewati Cia. Beberapa kali Cia menendang beberapa kaleng dan batu-batu kecil yang ia lintasi berusaha menghilangkan kebosanannya.


Tiba-tiba langkah Cia terhenti cepat ketika menatap Adelio yang berada di kejauhan. Senyum Cia mengembang begitu saja melihat Adelio yang kini melangkah ke arahnya.


"Adelio!!!" teriak Cia dengan spontan lalu melambaikan tangannya.