Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 120



Mereka tertawa membuat orang-orang yang berada di dalam kantin nampak terdiam menatap serius ke arah sebuah meja yang di huni oleh Cia, Adelio, Fika, Yuna dan Faririn.


"Akhirnya kita bisa presentasi juga dan yang lebih terpenting warnanya keren banget," ujar Yuna kegirangan.


"Iya gue juga seneng banget," tambah Fika ikut kegirangan.


Cia yang mendengar hal tersebut kini hanya mampu tersenyum tipis sambil sibuk mengaduk kuah baksonya. Yah sebenarnya gambar batik itu bukan ia yang mewarnainya tapi Devan. Cia sadar jika Devan juga berguna.


"Warnanya keren banget loh," tambah Faririn.


"Itu lo yang warnain, Ci?" tanya Yuna.


Cia yang sedari tadi hanya sibuk mengunyah baksonya langsung mengangguk mengiyakan. Lagi dan lagi kebohongan jadi santapan setiap hari bagi Cia. Wahai malaikat, tolong jangan catat kebohongan yang ini!


Berbeda dengan Faririn yang nampak memasang wajah sedih di sana sambil mengaduk bakso buatan mang Adang. Faririn masih tak menyangka jika pria tampan itu memiliki penyakit seperti aneh seperti itu. Apa itu serius? Dengan tatapan sedih Faririn menoleh menatap Cia yang hanya sibuk dengan baksonya itu.


"Cia," panggil Faririn dengan raut wajah sedihnya.


Cia mengangkat pandangannya menatap Faririn yang masih menatapnya. Semuanya kini ikut menatap Faririn sambil menghentikan makannya. Entah masalah apa yang dihadapi oleh gadis pengila perut sixpack Devan itu hingga nampak memasang wajah sesedih itu.


"Apa?" tanya Cia membuat Yuna dan Fika ikut menoleh, kecuali Adelio. Baginya tak ada kalimat penting yang selalu orang-orang ini bicarakan.


"Emm, gue mau tanya," ujar Faririn.


"Apa?"


"Em, tapi lo jangan marah! Jadi gini, em pacar lo emang sakit?" tanya Faririn membuat batin Cia mengeluh hebat. Pertanyaan itu harus ia dengar dan bagaimana dengan jawaban yang harus ia berikan.


"Pacar lo emang sakit siluman monyet?" tanya Faririn ragu.


Cia kini terdiam dengan tatapannya begitu serius menatap Faririn.


"Yah nggak sih maksud gue gini loh, gue...em ..hah...gue nggak percaya kalau pacar lo itu sakit," jelas Faririn.


Cia menghela nafas. Ternyata Faririn belum percaya dengan apa yang mereka lakukan tadi. Semuanya ikut terdiam di dalam keributan orang-orang yang sedang memesan makanan dan beberapa suara gadis-gadis pengosip yang sibuk bicara.


Loli, marisa dan Medika, mereka sedari sibuk membahas tentang penyakit pacar Cia yang sama sekali tak pernah mereka duga selama ini bahkan Loli yang berniat untuk merebut pacar Cia pun rasanya sangat ragu. Loli takut jika penyakit pacar Cia itu menular ke tubuhnya.


Dari kejauhan gerombolan pria gang torak nampak menatap dengan tatapan serius ke arah Cia yang nampak asik berbincang dengan orang di sekitarnya. 


Ogi tersenyum sinis dengan tatapan licik yang siap merencanakan rencana jahat. Ogi tak akan pernah lupa dengan apa yang pacar Cia lakukan kepadanya di acara ulang tahun Loli. Ketua gang exoplanet itu memang harus diberi pelajaran dan salah satu caranya agar ketua exoplanet itu hancur adalah dengan Cia, yah gadis itu adalah kelemahan ketua geng exoplanet.


Cia adalah pacar dari ketua geng exoplanet dan berarti pria itu sangat suka dan cinta dengan Cia.


"Gi," panggil Bastian menepuk bahu Ogi yang nampak terdiam sedari tadi.


"Lo kenapa?" tanya Bastian lalu sesekali menatap Cia. Gadis itu sudah sedari tadi ditatap oleh Ogi tanpa henti.


"Lo suka sama Cia?"


Ogi yang mendengar ujaran Bastian dengan cepat menoleh menatap Bastian yang terlihat menahan tawanya. Tak berselang lama Ogi langsung tertawa membuat Bastian mengangkat sudut bibirnya.


"Beneran?" tanya Bastian lagi dengan tatapan lebih serius.


Mendengar ucapan Bastian, Ogi kembali tertawa lalu menggeleng sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.


"Lo yang bener aja, masa gue suka sama pacar dari musuh kita."


"Maksud lo? Ceo?" tanya Bastian.


"Gue punya rencana buat ngehancurin ketua gang exoplanet, Bas."


"Oh ya? Apa?"


Ogi tersenyum jahat lalu melempar puntung rokok itu di lantai lalu menginjaknya. Ogi bangkit dari kursinya lalu melangkah menuju ke arah Cia yang nampaknya tak menyadari jika Ogi mendekat. Sementara Bastian dan Dirga nampak menatap ke arah mana sahabat mereka pergi.


"Hay Cia," sapa Ogi setibanya di sana.


Semuanya mengangkat pandangannya lalu terdiam menatap Ogi yang terlihat berdiri di samping meja Cia. Tak ada satu pun yang bicara sementara Cia nampak melongo dengan ekspresi tak menyangka jika Ogi baru saja menyebut namanya di tambah lagi Ogi yang tersenyum dengan tatapannya yang terus menatap Cia .


Cia menoleh ke belakang memastikan jika ada orang selain ia yang ditatap oleh Ogi. Cia ragu jika bukan ia yang ditatap oleh Ogi, si pria populer di sekolah ini. Jujur Cia tak menyangkan jika Ogi akan menatapnya seperti ini, pasalnya Ogi tak pernah menatapnya seperti itu sebelumnya.


"Hay Cia," sapa Ogi lagi sambil melambaikan jari-jarinya.


"Cia, dia sapa lo tuh!" Sikut Yuna cepat.


Cia yang sedari tadi tak berkedip itu kini tersentak, tersadar dari lamunannya dan menoleh menatap Yuna dengan tatapan yang masih ragu. Apa ini serius?


Ogi tersenyum lalu segera meraih kursi dari meja lain lalu duduk tepat di samping Adelio. Kini kedua wajah tampan pria itu kini saling berdekatan membuat Cia hanya mampu terdiam. Sementara Fika, Yuna dan Faririn nampak melongo. Dua pria dengan paras tampan dan sifat yang jauh berbeda nampak duduk berdekatan.


"Hay Cia," sapa Ogi lagi tapi kini tak mengerakkan jari-jarinya lagi melainkan ia nampak mengulurkan senyum yang terlihat begitu tulus.


"Gue?" Tunjuk Cia ke arah wajahnya seakan masih tak percaya jika Ogi sedang menyapanya.


"Yah iya lah, siapa lagi yang namanya Cia di sini selain lo coba?" jelas Ogi diiringi suara tawa.


Disatu sisi lain Fika yang sedari tadi terdiam itu nampak memikirkan sesuatu melihat Ogi yang mulai menyapa Cia. Mungkin Ogi adalah salah satu jalan agar Cia bisa dekat dengan Ogi, yah walaupun Fika tahu jika Cia punya pacar yakni pria tampan tadi tapi jujur, Fika tau mau jika Cia berpasangan dengan pria tampan itu, Ceo bahkan Adelio. Mungkin Cia memang cocok dengan pria fuckboy yang kini sedang duduk di samping Adelio.


Fika tak suka jika Cia bisa bahagia dengan pria yang begitu tampan, seperti Ceo atau bahkan Adelio. Seharusnya bukan Cia yang merasakan itu semua tapi Fika. Sejujurnya Fika pernah sesekali memperhatikan Adelio yang diam-diam nampak memperhatikan Cia bahkan Adelio sampai tersenyum tipis dan memilih untuk tunduk. Rasanya Fika bisa merasakan jika Adelio punya rasa suka pada Cia.