Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 41



"Saya benar-banar tidak tau pak dan saya tidak menanyakan nama pria itu pak," Jawab pria berkepala plontos itu jujur.


"Lalu bagaimana kamu bisa menemukannya?" tanya Jef lagi.


Pria itu terdiam sejenak berusaha mengingat sesuatu mengenai hal ini.


"Oh, saya baru ingat pak jadi, Ratna yang membawa pria itu ke ruang pemotretan."


"Ratna?"


"Iya, pak. Jadi, Ratna adalah salah satu karyawan di mall Bapak yang membawa pria itu ke ruangan pemotretan," jelas pria itu dengan semangat.


"Jef!"


"Iya bos," jawab Jef cepat.


"Bawa karyawan bernama Ratna itu ke ruangan saya!"


"Baik bos!"


Jef melangkah keluar dengan tergesah-gesah keluar dari ruangan. Pria itu terdiam lalu memutar tubuhnya pelan berniat untuk ikut keluar dari ruangan.


"Mau kemana kamu?"


Pria itu menoleh lalu tersenyum bodoh menatap Abraham yang menatapnya tajam. Pria itu menelan ludah seakan takut berhadapan dengan bos besar pemilik mall Brahmana.


"Ma...mau keluar, Pak."


"Siapa yang mengisinkan kamu keluar dari sini?"


Pria itu kini terdiam tak tau apa yang ia harus lakukan jika, sudah di dalam kondisi yang seperti ini.


"Tetap di sini!" pintanya singkat sambil kembali menaikkan kedua kakinya di atas meja.


"Baik, Pak." Pria itu mengangguk terpaksa dan berdiri di sudut ruangan sambil tertunduk.


Triiiiiiiiing!!!


Suara telepon putih di meja itu kembali berbunyi membuat Abraham melirik .


"Ada telfon, Pak!" ujar pria itu.


Abraham menatap pria itu yang nampak tersenyum lalu menunjuk dengan ibu jarinya ke arah telepon.


"Tugasmu hanya berdiri bukan memberi tauku tentang telepon itu!"


Seketika senyum pria itu lenyap dari bibirnya mendengar perkataan bos besar itu. Entah apa salahnya kepada Abraham sehingga mendapat jawaban seperti itu.


...___***___...


"Angkat, Pak! angkat!" mohon pembantu Abraham yang bernama Naini sambil mendekatkan telpon rumah ke telinganya.


Naini merupakan pembantu tertua di rumah besar Abraham, bahkan Naini sudah bekerja sebagai pembantu selama dua puluh tahun lamanya. Beberapa helai rambutnya sudah nampak beruban walau baru sedikit yang menghiasi rambutnya yang selalu ia konde.


"Aaaaaaaaaaaa!!!"


Naini menoleh menatap ke arah pintu kamar berwarna coklat yang nampak terkunci rapat. Gadis itu masih mengamuk di dalam kamarnya sejak tadi. Suara teriakan itu diiringi suara barang-barang yang terdengar terhempas sangar. Entah apa yang terjadi di dalam sana. Naini tak berani untuk membuka pintu, ia begitu takut jika, Kasya si gadis gila itu menyerangnya lagi seperti perawat yang telah dipukul oleh Kasya hingga harus dilarikan ke rumah sakit.


Tak terjawab.


Naini bergetar sambil menekan nomor telepon kantor Bosnya itu dengan jari yang gemetar. Naini mengigit bibirnya lalu terdiam lagi mengharap Abraham mengangkat teleponnya.


"Angkat, Tuan! angkat!" Harap Naini.


Tok tok tok


Pintu diketuk pelan dari luar membuat Abraham dan pria berkepala plontos itu menoleh menatap ke arah pintu.


"Masuk!"


Pintu terbuka lebar memunculkan Jef bersama dengan seorang gadis berseragam hitam yang tak lain adalah Ratna, si karyawan mall .


"Berdiri di situ!" Menunjuk ke arah pria itu dengan telunjuknya.


Ratna mengangguk mengiyakan perintah Jef lalu melangkah dan berdiri di samping pria yang tak lain adalah teman kerjanya itu.


Ratna melirik pria berkepala plontos yang berada di sampingnya.


Plak!


Ratna tertawa setelah memukul kepala pria itu membuatnya tersentak ke depan.


"Ngapain lu di sini?" Tanya Ratna tertawa menatap teman kerjanya.


Pria itu melirik tajam seakan memberi tau jika, Bos besar itu berada di hadapannya.


"Kenapa sih?" Ratna masih tak mengerti. 


"Ehem!"


Ratna terbelalak menatap Abraham yang kini berada di kursi hitam. Ratna ingat betul dengan pria ini, pria yang mengunting pita di saat peresmian mall Brahmana.


"Kamu kenal dengan pria dan wanita itu?"


"Yang Mana?" tanya Ratna heran.


Jef melangkah lalu menyodorkan sebuah foto di tangannya. Ratna meraih foto itu lalu terdiam manatap pria tampan dan gadis ini yang datang kemarin di mall dan mendapat sweater gratis.


"Oh, yang ini, kalau yang ini saya kenal pak solanya mereka jadi, model terus dapat sweater," jelas Ratna.


"Aduh, siapa, yah?" Ratna menutup ke dua matanya berusaha mengingat sesuatu.


"Oh, iya, Ratna baru ingat nama yang cowok ini itu adalaaaaah... De...de...devan, iya, Devan!"


Abraham menutup kedua matanya cepat seakan tak mampu mendengar nama itu. Semua sudah benar jika, bocah itu ternyata masih hidup.


"Kalau gadis itu?" Tanya Jef.


"Kalau yang itu Ratna kurang paham, lupa, hehehe! Tapi yang jelas perempuan itu pacarnya." Ratna tertawa.


"Kamu tau di mana pria itu tinggal?"


"Saya nggak tau!"


"Kenapa kamu tidak tau?" Tanya Jef lagi.


"Yah, soalnya saya nggak nanya, Pak."


"Jadi, perempuan itu pacarnya?" Tanya Abraham.


"Yang saya lihat seperti itu."


"Bagaimana, Bos?" Bisik Jef.


Abraham menggerakkan jarinya seakan menyuruh Jef untuk menyuruh dua karyawan itu pergi dari ruangannya membuat Jef mengangguk.


"Baik, kalian boleh pergi! Jika, kalian melihat pria itu datang ke mall maka segera hubungi saya!" Jef menjulurkan kartu namanya yang ia keluarkan dari jas hitam dan diletakkan di atas meja.


"Baik, Pak," jawab Ratna lalu meraih kartu nama itu dan melangkah pergi disusul pria berkepala plontos itu.


Abraham bangkit dari kursi lalu melangkah pelan menatap tajam ke arah Jef yang kini nampak tertunduk.


"Apakah kamu mendengarnya?"


Jef terdiam.


"Kamu denger nggak?!!!" teriak Abraham tepat di hadapan Jef.


"Dengar, Pak," jawab Jef ragu.


Abraham melangkah melintasi Jef yang nampak tertunduk takut lalu menatap foto putrinya itu.


"Kamu bilang kamu telah membunuhnya lalu pria itu siapa?" Abraham menoleh menatap Jef yang masih tertunduk.


"Jef!"


"Iya, Bos," jawab Jef cepat.


"Dia kembali! dia kembali!" teriak Abraham mengelegar di dalam ruangan.


"Aaaaaaaaaaaa!!!" Teriak Abraham lalu menghambur buku-buku di meja dengan kasar.


"Sabar bos!"


Abraham menoleh menatap Jef yang kini masih tertunduk.


"Sabar?" Abraham tertawa.


"Jef! pria itu kembali! dia kembali setelah sekian lama. Aku tak percaya dia telah mati," teriak Abraham lagi .


"Mungkin ini kesalah pahaman, Bos. Saya akan mencari informasi tentang pria itu."


Abraham mengangguk lalu menghembuskan nafas yang terasa mengganjal di tenggorokannya. Jef melangkah cepat meninggalkan Abraham yang masih dibakar amarah.


Kriiiiiiiing!!!


Telepon putih itu kembali berbunyi membuat Abraham melangkah lalu meraih cepat telepon itu dan menempelkannya ke pipi.


"Halo tuan," suara gelisah Naini terdengar.


"Ada apa lagi?"


"Non kasya ngamuk Tuan, saya takut!" jawab Naini cepat namun, terdengar bergetar.


"Urus saja dulu saya masih banyak kerjaan!"


Naini menghapus air matanya yang membasahi pipinya seakan tak mampu menahan ketakutan ketika gadis itu mengamuk di dalam kamar dan mengendor pintu dengan brutal.


"Tapi, Pak."


"Bu, Naini!!! Itu Non Kasya duduk di pinggir jendela! Saya takut kalau dia lompat!!!" teriak Madi yang merupakan penjaga keamanan di rumah Abraham.


"Yang bener, Pak Madi?"


"Bener, Bu Naini. Ayo cepetan kita bujuk dia sebelum dia lompat dari jendela!"


"Baik, Pak."


Naini menutup telepon itu lalu berlari membuat Abraham terdiam setelah mendengar percakapan pembantunya itu. Abraham tak mau jika, putri satu-satunya itu sampai terluka ditambah lagi sekarang dia berada di jendela sementara Abraham ingat betul jika, jendela kamar anaknya itu berada di lantai tiga.


Abraham berlari keluar ruangannya dengan cepat membuat puluhan karyawan itu menoleh menatap heran .


"Astagfirullah, ya Allah, Non Kasya!!!" teriak Naini histeris menatap Kasya yang sedang duduk di jendela sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya.


"Non jangan di situ, Non!!!" terial Madi dengan khawatir.


"Pindah dari situ, Non!" teriak salah satu pembantu.