Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 235



Cia membuka kedua matanya setelah suara kebisingan terdengar dan berhasil menganggu tidur nyenyaknya.


Cia mampu melihat Baby, Tara, Haikal, Yuang, Mamat, Adam, Baby dan Deon yang sedang duduk di kursi yang ada di depannya.


"Cieeee," ejek mereka.


Cia menoleh menatap Adelio yang telah i gunakan dadanya untuk menyadarkan pipinya dan ia telah tertidur di sana.


"Assek!!!" goda Mamat yang membuat para montir tertawa.


Cia dengan cepat bangkit lalu merapikan rambutnya yang berantakan itu dan menyisir rambutnya dengan sela-sela jari tangannya.


"Lanjut aga kita mah nggak masalah," ujar Jojon.


"Jangan dosa itu namanya," ujar Adam.


"Ah lo juga udah dosa yang pas malam ulang tahun itu," sahut Haikal membuat Adam menghela nafas.


Yah dosa itu tak akan pernah bisa Adam lupakan.


Adelio membuka kedua matanya lalu mengusapnya dan menoleh menatap Cia dan para montir.


"Tuh udah bangun tuh!!!" teriak Tara.


"Em manis banget deh," ujar Baby yang terlihat mengusap wajahnya dengan bedak.


Tak berselang lama suara langsung high heels terdengar melangkah membuat semua orang menoleh menatap Firdha yang terlihat melangkah bersama dengan Kasya.


Semua para montir kembali saling bertatapan dengan wajah takutnya.


"Aduh, datang lagi si perempuan gila itu," bisik Jojon.


"Heran gue, siapa sih dia itu?" tambah Haikal.


"Mana gue tau!!!" teriak Tara.


"Tapi kayaknya dia itu punya hubungan deh sama si Bos Ceo," tambah Deon membuat semua para montir menoleh menatap kaget pada Deon.


"Sehat nggak tuh? Baru kali ini dia ngomong bener," tegur Jojon.


Firdha menghentikan langkahnya lalu tersenyum menatap montir yang sedang ketakutan melihat Kasya.


"Apa kalian semua lapar?"


Semuanya terdiam.


Firdha menjulurkan sekantung roti sambil tersenyum dan ia melirik Cia yang terlihat mengalihkan pandangannya berusaha untuk tidak bertemu pandang dengan Firdha.


"Ayo ambil!"


Haikal menyikut perut Jojon yang dengan cepat menoleh.


"Udah cepetan ambil!" bisiknya.


Jojon mau tak mau meraih kantung kresek berisi roti itu di susul para montir yang dengan cepat saling berebut sambil tertawa sementara Baby terlihat menjerit.


"Keluarga saudara Devan!" panggil suster yang melangkah keluar dari ruangan rawat Devan.


"Yah sus," jawab semuanya lalu segera beranjak dan mendekat ke arah suster itu.


"Ayah saya bagaimana, sus?" tanya Cia dengan wajah khawatirnya.


"Saudara Devan sudah siuman."


"Alhamdulilah," ujar semuanya secara bersamaan.


"Kita boleh masuk, sus ?" tanya Mamat.


"Boleh tapi kalian masuk secara bergantian, yah ini demi kebaikan dan kenyamanan pasien."


"Iya sus," jawab mereka lagi dengan kompak.


Suster itu melangkah pergi setelah berpamitan dengan mereka membuat Cia dan para montir yang lain segera berlarian masuk ke dalam ruangan Devan tanpa memperdulikan ucapan suster untuk bergantian masuk ke dalam ruangan .   


"Sya!" panggil Firdha membuat Kasya yang mematung tempat duduknya kini menoleh.


"Devan sudah sadar!"


Cia berlari masuk dan segera memeluk tubuh Devan yang kini nampak berbaring di sebuah kasur.   


"Eh, eh !" tegur Devan ketika perutnya yang  telah dijahit itu ditekan oleh Cia.


Cia yang terkejut itu segera menjauh dari Devan yang nampak meringis.


"Bos Ceo!!!" teriak para montir sambil berlari memasuki ruangan rawat Devan tak lupa juga meraka merentangkan kedua tangannya seakan siap untuk memeluk tubuh lemas Devan yang masih terbaring.      


"Eh jangan! Jangan!" teriak Cia cepat.


"Ayah kan baru di operasi," ujar Cia memberitahu.


"Oh iya yah," ujar mereka kompak sambil mengangguk pelan.


"Bos ceo baik-baik ajah kan bos?" tanya Adam.


"Baik-baik ajah, kok," jawab Devan dengan nada suaranya yang terdengar lemah.


"Cieeee yang udah di operasi," colek Jojon ke lengan Devan dengan tatapannya yang seakan menggoda.


"Cieee yang udah di tembak," goda Mamat lengkap dengan tatapannya yang penuh dengan godaan.   


"Ciee yang hampir mati," tambah Deon membuat semua yang mendegar perkataan bodoh Deon langsung menoleh menatap Deon dengan tatapan terkejut sementara Deon terlihat santai seakan merasa tak berbuat kesalahan.


"Devan!" panggil seseorang membuat semuanya menoleh menatap Kasya yang kini melangkahkan kakinya yang pincang itu mendekati Devan.


Para montir kini melangkah mundur seakan masih takut dengan wanita yang berpenampilan kuntilanak itu.


Devan terdiam dengan wajah sedihnya menatap Kasya.


"Kasya."


Suara kecil Devan terdengar dengan tatapannya yang kini memburam menatap kasya yang kini menangis menatapnya.


Devan yang masih terbaring itu kini segera bangkit dari kasurnya seakan tak menghiraukan bekas operasi yang masih terbalut dengan perban.


"Pelan-pelan, yah!" ujar Cia sambil membantu Devan Duduk di kasurnya.


"Kasya." Tatap Devan yang kini seakan tak percaya jika kasya kini sudah berdiri di hadapannya.


Devan mengangkat jari-jarinya yang gemetar lalu menyentuh pelan pipi Kasya yang terasa hangat. Tangis Devan pecah begitu saja, ini bukan lah sebuah mimpi melaingkan ini adalah kenyataan.  


Kasya tersenyum lalu ikut menyentuh pipi Devan dengan air mata yang masih mengalir. 


"Ini beneran kamu kan?" tanya Devan.


Kasya mengangguk cepat dengan kedua bahunya yang bergetar karena tangisan. 


Devan tersenyum lalu segera memeluk tubuh Kasya yang Kini membalas pelukan Devan begitu erat. Keduanya begitu lama berpelukan seakan menyuarakan rasa rindunya setelah hampir tujuh belas tahun terpisah.


Para montir, Adelio dan Firdha kini ikut menangis seakan ikut terbawa suasana yang begitu mengharukan.


"Ayah!" panggil Cia membuat Devan dan kasya segera melepaskan pelukannya.


"Cia! Cia, ini mama!" ujar Devan sembari menyentuh pelan lengan Kasya.


"Kasya, itu anak kita, ini Ashia akanksha!" tunjuk Devan.


Kasya tersenyum.


"Cantik," ujar kasya lalu ia tersenyum.


"Sini, Ci!" panggil Devan membuat Cia menangis dan segera memeluk Devan disusul kasya yang kini ikut memeluk erat tubuh Devan dan Kasya. 


Semua yang berada di ruangan kini tersenyum dengan air matanya yang masih mengalir. Ini seperti akhir yang begitu membahagiakan di mana sebuah keluarga kecil akhirnya bersatu di tempat ini.             


Haikal yang sedari tadi terdiam dengan  tangisannya kini menatap sekantung darah yang kini terlihat  menetes melewati selang infus.  


"By, darah lo, nih!" Tunjuk Haikal lalu tertawa.


"Apa?" Tatap Devan terkejut lalu segera melepas pelukan kedua wanita yang sangat  Devan sayangi.


"Siapa, Kal?" tanya Devan dengan tatapannya yang nampak terbelalak.


"Si Baby!" jawab Haikal.


"Ehem," sahut baby sambil tersenyum jahil ke arah Devan.


"Bos, darah bencong sudah mengalir di tubuh mu" ujar Mamat membuat semuanya kini tertawa terongkal-pinkal.


"Pantes ajah gue ngerasa letoy," ujar Devan membuat semuanya semakin tertawa.


Cia tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di dada kasya. Kali ini Cia benar-benar begitu sangat bahagia, akhirnya ia bisa merasakan pelukan hangat dari sosok seorang Ibu yang ia rindukan sejak dulu.


Seperti inilah kehidupan di mana kisah yang selalu berawal dengan kepedihan akan selalu berakhir dengan kebahagiaan.


Kehidupan ini seperti badai hujan yang selalu datang untuk menguras air mata dan diakhir dengan biasan pelangi yang akan menguras senyuman lewat pandangan mata.


Apa yang selalu ia harapkan memang tak bisa ia rasakan dulu tapi kini yang terjadi adalah kebahagiaan yang begitu indah.


Senyum yang terbias di bibir Cia tak bisa diutarakan dengan sebuah penggalan kata-kata untuk menggambarkan hari ini.


Wanita yang selalu Cia pikir sebagai bidadari dan orang menyangka-nya seorang wanita gila ternyata adalah Ibunya. Dia wanita yang telah melahirkan Cia ke dunia ini.