
Devan terbaring lemah sembari menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih dengan lampu yang dibiarkan menyala di atas sana. Jendela kamar Devan kini dibiarkan tertutup rapat dengan kain gorden merah yang menutupi permukaan jendela yang telah di tutup rapat oleh Cia dengan alasan takut jika, Mita, si janda yang setiap hari menggodanya itu mengintip di jendela.
Cahaya lampu itu menyinari wajah tampan Devan yang terdiam di atas ranjang. Tubuhnya masih panas walau telah minum obat penurun demam. Obat demam yang ia beli di mall untuk Fatima kini harus berbagi dengannya, jujur ia tak tau jika, ia akan sakit seperti ini.
Devan menggerakkan tubuhnya menghadapkan wajahnya ke arah tembok bercat abu-abu dan bergerak menatap pintu kamarnya hingga perlahan matanya mulai menyipit ketika suara kebisingan langkah terdengar.
"Bos Ceo!!!" teriak montir-montir kompak sembari mengetuk pintu kamar.
Mata Devan terbelalak mendengar teriakan manusia bernyawa iblis itu di depan pintu kamarnya. Ganggang pintu bergerak hingga pintu yang tertutup rapat itu kini terbuka lebar memperlihatkan para montir yang berlari masuk sambil berteriak.
"Bos Ceo!!!" teriak mereka serentak.
Devan terbelalak mendapati pelukan erat yang mendarat di tubuh lemasnya yang masih terbaring.
"Apa-apaan nih?!!!" Jerit Devan yang tak siap dengan pelukan dari Jojon dan Mamat.
"Bos kenapa sakit, Bos?" ujar Jojon sembari menangis.
"Huh, Haaaaa, Heeh, Heeeeee!!!" Mamat ikut menangis sambil terus Memeluk Devan yang memberontak lemas berusaha melepas pelukan keduanya.
"Lo kenapa sih?" Devan bertanya heran.
"Sini Bos gue cium dulu!" Jojon memajukan bibirnya.
"Ih najis!" Devan mendorong Jojon dengan sekuat tenaga sebelum ujung bibirnya itu mengenai pipinya.
Jojon terhempas setelah didorong oleh Devan yang menatapnya herangan setelah mendorong pelan lagi tubuh Mamat.
"Ah, Si Bos. Walaupun sakit tapi tetep ajah kuat," keluh Jojon.
"Bos Ceo!" Tangis Yuang yang bersandar di dinding kamar.
Devan semakin kebingungan menatap montir-montirnya yang menangis. Jujur saja baru kali ini Devan melihat montir-montirnya itu menangis. Ditambah lagi Adam yang menangis tersedu-sedu di ujung kasur dengan mulutnya yang menganga seakan tengah berada di tempat kematian.
"Lo semua kenapa?"
"Bos Ceo jangan tinggalin kita? Huaaaa!!!" Jojon menangis lagi.
Devan menatap dengan wajahnya yang masih heran. Entah apa yang mereka katakan? Siapa yang akan pergi?
"Lo semua kenapa sih?"
"Jadi bener, Bos Ceo sakit?!!!" teriak Tara yang berdiri di samping Yuang sambil memegang kresek berisi roti isi coklat dan kaleng susu itu nampak menghentikan tangisannya kemudian terisak pelan seakan tak sanggup menahan kesedihannya.
"Lo semua kenapa ? Kenapa harus nangis sih?"
"Jawab dulu, Bos Ceo!" Yuang mengigit bibir.
"Iya, Bos Ceo," tambah Adam.
Devan menatap semua montir-montir yang nampak menangis kecuali, si deon yang hanya terdiam di pintu masuk kamar. Devan menghembuskan nafas pelan seakan tak mengerti dengan mereka semua.
"Bos, jadi, Bos Sakit?" Jojon bertanya lagi.
Devan menghela nafas dan mengangguk lalu berujar, "Iya gue sakit."
"Huaaaaaaaaaaaaaa!!!" Mereka menangis secara bersamaan setelah mendengar perkataan Devan membuat Devan melongo .
"Loh, loh, lo semua kenapa?"
"Hueeeee, jadi, bener Bos? kalau Bos sakit?!!!" teriak Tara sembari memeluk sedih tubuh kurus Yuang.
"Sini gue peluk dulu!" Jojon melangkah merentangkan kedua tangannya ke arah Devan.
"Eits nggak usah!" tahan Devan cepat.
Syut
Pelukan dari Mamat tiba-tibamendarat di tubuh Devan yang pasrah saat Mamat memeluknya.
"Bos!!!" Jeritnya Mamat.
"Bos kenapa nggak bilang sih, kalau sakit parah?"
"Astaga siapa yang sakit parah sih?"
"Si Bos lah yang sakit, siapa lagi?!!!" Teriak Tara.
"Bos kok kepala bos nggak botak?" Jojon membelai lembut rambut Devan dengan wajah seriusnya.
"Apa sih lo?!!! Ah!!!" Devan menghempas cepat tangan Jojon membuat Jojon tersentak tapi tak membuatnya melepaskan pelukannya.
"Katanya, kalau sakit kanker otak biasanya kepalanya botak, iyakan Mat?" tanya Jojon membuat Mamat mengangguk dengan wajah sedihnya.
Devan melongo mendengar perkataan Jojon dan anggukan Mamat. Entah siapa yang mengatakan hal bodoh itu kepada Jojon sehingga mengatakan jika, dia sakit kanker otak sementara ia hanya demam biasa.
"Tunggu-tunggu! Siapa yang sakit kanker sih?"
"Bos Ceo!!!" jawab mereka serentak.
"Gue?" tunjuk Devan ke arah wajahnya.
"Iya, Bos," jawab mereka sambil mengangguk.
"Uaaaaa!!!" tangis Tara pecah lalu melangkah dan memeluk Yuang sementara Yuang ikut menangis sambil membelai lembut rambut gondrong Tara yang kepalanya bersandar di bahu Yuang.
Devan menyentuh dahinya pelan dengan rasa lelahnya meladeni ujaran serta tangisan mereka. Devan yakin jika, semua para montirnya pasti telah salah paham. Devan kembali melirik Mamat yang masih menangis di pelukannya itu.
"Eh lepas!!!" pintah Devan sembari menyentuh kedua pergelangan tangan Mamat lalu mendorongnya pelan, namun tak membuat pegangan itu terlepas dari tubuh Devan.
"Jangan Bos!" ujar Mamat.
"Iya bos biarkan Mamat memeluk Bos Ceo untuk yang-" Ucapan Jojon terhenti lalu menatap seluruh wajah para montir yang terlihat sangat sedih.
"Uaaaaaaa!!!" Tara menangis lagi.
"Haaaaa, Oe nggak sanggup!!!" teriak Yuang.
"Bos Ceo!"
Devan menoleh ketika Adam memanggilnya. Devan menatap Adam yang menyapu air matanya yang mengalir itu menggunakan seprei hello Kitty kamarnya.
"Insya Allah, pasti Bos Ceo masuk surga, kalau meninggal nanti."
"Gila lo yah?"
"Itu bukan gila, Bos. Itu doa iyakan, Dam?" tanya Yuang.
"Iya Bos, yang dikatakan Yuang benar," tambah Jojon.
"Heh!!! dengerin gue! gue nggak sakit kanker!!!"
"Hah?!!!" teriak mereka kompak .
Devan terhempas ke kasur ketika Mamat mendorongnya dengan kuat setelah mendengar hal tersebut.
"Jadi bos nggak sakit?" Tatapnya sambil menyapu air mata yang mengalir di pipinya.
Tara terdiam dengan wajah melongonya sembari masih memeluk tubuh kurus Yuang yang ikut terdiam menatap Tara yang menoleh lalu dengan kompak mereka menatap pelukan yang sedari tadi terjadi.
"Ih!!!" Tara dan Yuang mengeliat geli sambil melepas pelukan itu.
"Iya, gue nggak sakit" Jelas Devan lagi sambil berusaha bangkit dari kursi.
"Emangnya siapa yang bilang sih kalau gue sakit?" tanya Devan.
"Si Deon yang-" Mamat menghentikan ucapannya lalu menoleh menatap Deon yang ternyata tak sama sekali menangis di pintu masuk.
Tatapan tajam Mereka semua menatap Deon yang kini terdiam sambil memasang wajah bodoh di sana seakan tak mengerti apa-apa.