Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 76



Cia melangkah turung dari angkot kuning yang Cia tumpangi sambil menggelantung di pintu masuk persis seperti anak monyet yang bergelantung di dahan pohon, yah sebenarnya supir angkot itu telah melarang Cia bergelantung seperti itu dikarenakan bahaya dan telah belasan kali menyuruh Cia untuk duduk di dalam angkot. Namun Cia menolak hal itu karena seragam pramuka Cia yang basah.


Cia tak mau membuat tempat duduk angkot itu basah karenanya dan menyusahkan sopir angkot itu.


Cia membuka pagar rumah dan segera masuk ke dalam rumah setelah membuka sepatu di teras.


"Van!!! Devan!!!" teriak Cia sesampainya di dalam rumah.


Cia menoleh menatap ruangan Tv yang nampak sunyi tak ada Devan di sana, entah kemana pria dengan otak dengkul itu berada. Apakah dia kabur, karena tak mau datang di acara ulang tahung Loli?


"Hah!" Cia menutup mulutnya yang ternganga karena takut hal itu terjadi. Jika memang itu terjadi maka Cia benar-benar akan memindahkan bibir Devan ke dahinya itu dengan sekali pukulan.


Dasar bodoh!


"Devaaaaan!!!" teriak Cia.


"Vaaaan!!!"


"Ci !" Suara panggilan itu terdengar dari belakang Cia membuatnya segera menoleh menatap ke sumber suara.


Devan mengkerutkan alisnya menatap seragam Cia yang nampak basah bahkan di tempat Cia berdiri terdapat genangan air di sana. Kedua mata Devan terbelalak sembari menatap dari ujung atas sampai ujung kaki Cia.


"Astaga, Cia!!!"


"Lo kenapa?" tanya Devan sedikit tertawa, namun tetap syok.


Cia menghembuskan nafas berat menatap wajah bodoh Ayahnya itu yang sangat menyebalkan.


"Lo habis kebanjiran, Ci? Hah? Di mana? Hahaha!!!" Devan tertawa lagi.


"Ya ampun, Cia...Cia." Devan menggeleng sambil tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang berbaris rapi.


"Kena hujan di mana lo, Ci sampai basah kuyup kayak gini?" tanya Devan.


"Udah ketawanya?" tanya cia dengan wajah datar.


Devan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan lewat ujung bibirnya. Devan kembali menatap wajah Cia sambil melipat bibirnya ke dalam berusaha menahan tawa.


"Jangan ketawa!" ancam Cia sembari menunjuk.


"Siapa yang ketawa sih?"


"Lo!!!" teriak Cia.


Devan kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya lewat ujung bibirnya dan...


"Hahahahahahahaha!!!" tawa Devan meledak seketika membuat Cia terbelalak.


Devan menertawakannya!


"Lo ketawa!!!" teriak Cia sangat kesal.


"Nggak! Hahaha!!!"


"Diam nggak lo!"


"Em, Hahaha!!!"


"Gila lo, yah?" Tatap Cia dengan wajah datar tak terpancing dengan tawa Devan yang sedari tadi memenuhi ruangan.


Cia memutar tubuhnya membelakangi Devan berniat melangkah masuk ke dalam kamarnya. Rasanya sangat membuat darah tingginya naik jika berhadapan dengan Devan.


"Loh kok pergi?"


"Ciaa!!!"


"Cia lo mau ke mana?!!!"


"Ci!!!" teriak Devan lagi sembari membulatkan matanya menatap tas Cia yang separuhnya sudah terkena cat berwarna ungu.


"Apa lagi sih?" ujar Cia menoleh dengan wajah malasnya.


"Tas lo kenapa? Kok kotor?"


"Aa?" Cia menganga dengan kedua matanya yang terbelalak kaget serta takut.


Cia tak mengharapkan jika Devan melihat noda cat di tasnya itu. Apa yang harus Cia lakukan?


"Itu tas lo!" Devan melangkah mendekati Cia lalu menyentuh noda cat yang telah mengering itu.


"Ini cat kan, Ci?"


Cia terdiam, kaku.


"Ci!"


"Emm," sahut Cia.


"Ini cat kan?"


"Em, Iya itu cat."


"Hah!!! Lo main apaan di sekolah, Ci sampe basah dan tas lo, ya ampun, kok bisa kotor kayak gini?"


Cia mendecapkan mulutnya, benar saja Devan kini menanyakan tentang tasnya.


"Kenapa, Ci?"


"Em, itu gue-"


"Apa?"


"Em, Cia dari rumah bidadari," ujar Cia sambil tertunduk dan memainkan kakinya.


"Lo ngapain ke sana lagi?".l


Cia mengangkat pandangannya menatap Devan setelah kalimat itu terlontar dari mulut Devan.


"Ok, gue nggak ngelarang lo datang ke sana, tapi kok bisa basah dan..." Devan melirik tas dan menariknya pelan.


"Ini kok kotor?" sambungnya.


"Tas Cia kotor." Ujar Cia.


Devan mengangguk pelan sembari mengusap dahinya dengan perasaan menahan kekesalan.


Tas itu mahal.


"Cia bantu bidadari ngehias kamar bidadari jadi catnya kena tas Cia," jelas Cia.


"Ngehias kamar?"


Cia mengangguk.


"Terus kok basah? Rumah bidadari lo ada di dalam sungai sampai basah kuyup kayak gini?"


"Yah nggaklah," ujar Cia cepat.


"Terus?"


"Catnya kena seragam Cia jadi Cia Siram pake air, eeeeh terus basah," ujar Cia.


Devan terdiam lalu mengangguk pelan.


"Udah tanya-tanya, Cia?" tanya Cia melipat kedua tangannya.


"Emm," sahut Devan.


Cia memoyongkan bibirnya lalu memutar tubuhnya membelakangi Devan.


"Eh gue lupa," ujar Cia menoleh.


"Apa?"


"Lo sekarang siap-siap!" tunjuknya.


"Siap-siap untuk apa?"


Cia menghembuskan nafas berat, bagaimana bisa Devan lupa dengan acara ulang tahun Loli.


"Kita kan mau ke acara ulang tahun Loli. Lo lupa?"


"Oh," sahutnya singkat.


Cia mengkerutkan alisnya apakah kata singkat 'oh' yang terlontar dari mulut Devan adalah sebuah jawaban.


"Kok cuman oh doang?"


"Terus apa?"


"Terserah! Sekarang Cia mau Devan ganti baju dan ingat penampilan Devan harus sepeti yang Cia mau!"


"Yang mana?" Tatap Devan heran.


Cia menghembuskan nafasnya yang sungguh berat itu. Bagaimana bisa Devan lupa dengan hal itu? Hal yang sangat penting.


"Masa lo lupa?"


"Ya emang gue lupa."


"Ih lo itu nyebelin tau nggak."


"Yah, gue nggak tau, Ci!"


Cia terdiam lalu menatap tajam ke arah Devan yang terdiam.


"Lo kenapa?" tanya Devan takut.


...____****____...


Cia memutar kursinya menatap Devan yang kini duduk di kursi hitam tepat di depan cermin riasnya. Kali ini Cia sangat berhadapan dengan Ayahnya itu yang kini sedang memasang wajah datar di sana. Tanpa ekspresi.


Baju kotak-kotak berwarna biru, celana hitam panjang yang kebesaran dengan tali pinggang merek kulit yang terpasang sampai ke perut Devan.


Cia mengeluarkan minyak kemiri kepermukaan telapak tangannya lalu mengosoknya dengan pelan. Cia menatap serius ke arah rambut Devan sambil mengigit bibir bawahnya dengan pelan.


Devan hanya terdiam menatap wajah Cia itu dengan tatapan sedikit ketakutan, yah wajah Cia sedikit menyeramkan di sana.


Sentuhan rapi itu kini mengelus pelan permukaan rambut Devan dengan minyak kemiri.


Cia kembali menuangkan minyak kemiri itu ke telapak tangannya cukup banyak lalu menekan kuat rambut Devan dengan gaya belah tengah berminyak.


Devan meringis merasakan tekanan dari kepalanya. Beberapa kali kepala Devan tersentak ke bawah ketika Cia menekan kepala Devan. Devan merasa jika Cia ingin membuat kepalanya meledak.


"Ci pelan-pelan dong, Ci!" ujar Devan kesal.


"Ini udah pelan!" Tatap Cia tajam sambil menghentikan tekanan di kepala Devan.


Devan terdiam sambil memonyongkan bibirnya ke depan ketika tatapan tajam itu menyorot Devan.


Cia kembali mengelus rambut Devan, menekan kembali rambut hitam Devan yang berminyak itu membuat Devan menganga merasakan tumbukan dari atas kepalanya.


Cia melangkah mundur lalu menatap serius wajah Devan.


"Berdiri!" Tunjuk Cia.


Devan dengan malas itu bangkit dari kursi lalu Memasang wajah datar di sana. Cia melangkah mendekat, ada yang kurang dari Devan, Tapi apa?


"Apa sih, Ci?"


Cia terdiam.


"Ada yang kurang!" ujar Cia dengan nada pelan.