Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 20



Cia melangkah Turung dari motor hitam milik Andi setelah Andi menghentikan motornya tepat di depan rumah cia. Cia menatap Devan dan para montir-montir yang sedang duduk di teras rumah. Entah mengapa mereka tak berada di bengkel dan mengapa mereka tak memakai pakaian kerja seperti biasa ? Kini hal itu yang memenuhi pikiran Cia kali ini.


Cia yang sudah berada di samping Andi mulai menatap kearah bengkel. Mata Cia langsung membulat menatap pagar bengkel yang nampak diperbaiki oleh beberapa pria di depan bengkel sana juga terdapat ban hitam yang telah di bakar.


"Gue balik dulu yah, Ci."


"Oh, iya makasih yah, Ndi."


Cia menepuk bahu Andi pelan lalu sedikit tersenyum menatap wajah andi.


"Oi, Bos !" Teriak Andi sambil mengacukan telapak tangannya menatap Devan sambil tersenyum lebar.


"Oi Kampret !!!" Teriak Tara.


"Apa, Lo ?!!" Teriak Andi lagi sambil memasang wajah sok sangar disana.


Tara melangkah sedikit seakan mengancam Andi dengan tatapan sangarnya membuat Andi tertawa lalu menancapkan gas meninggalkan Cia di pinggir jalan.


Cia melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah setelah dari tadi menatap serius kearah bengkel.


"Siang, Ci!" Sambut Jojon sambil tersenyum manis.


Cia duduk di pinggir lantai sambil membuka tali sepatunya yang berwarna hitam tak memperdulikan ucapan Jojon yang memang selalu menggodanya di setiap waktu tanpa mengenal tempat dan waktu.


"Lu udah pulang, Ci?" Tanya Yuang serius.


"Menurut, Lo?"


Yuang menelan ludah seakan tak berani lagi untuk berkata-kata setelah Cia menggeretak-nya. Cia bangkit sambil menjinjing ke dua sepatunya dengan tangan kiri lalu melangkah melintasi Devan dan para montir-montir yang menatap cia penuh serius.


"Ci !" Teriak Devan.


"Apa lagi sih ?" Cia memutar tubuhnya menatap kesal kearah Devan yang masih duduk dilantai.


"Tas Lo mana ?"


"Aa ?" Tatap cia heran lalu dengan cepat menatap bahu kiri dan kanan serta punggungnya, betul saja tak ada tasnya.


Cia terdiam sejenak berusaha memikirkan kemana tasnya. Sudah jelas pasti Cia melupakan tasnya itu di meja. Cia memukul dahinya pelan.


"Oh, iya ketinggalan di kelas."


"Kok bisa ?" Tanya Devan lagi.


"Aduh tadi cia dihukum gara-gara nggak kerja tugas dari pak Yanto."


"Gara-gara Lo semua yang ngajakin gue nonton bola makanya gue nggak kerja tugas," tambah cia lagi.


"Yanto yang botak itu kan ?" Ujar haikal.


Haikal cukup tau mengenai pak Yanto itu pasalnya Haikal selalu mengantar cia ke sekolah dan cia selalu menceritakan kejelekan guru yang bernama pak Yanto itu.


"Emmm," sahut cia.


Cia menatap lagi pagar bengkel yang masih diperbaiki itu, baru kali ini pagar bengkel itu rusak dan baru kali ini juga para montir mogok kerja tanpa ada tanggal merah. Cia menoleh menatap wajah bagian kening Deon yang nampak membiru, batang hidung Mamat pun nampak membiru entah apa yang telah terjadi kepada mereka.


"Pagar bengkel kenapa ?"


"Anu semala-" Ucapan Adam terhenti ketika Jojon yang berada di samping Adam menyikut perut Adam cukup keras membuat adam nampak meringis kesakitan.


Cia mengkerutkan kedua alisnya. Sepertinya memang ada hal yang mereka sembunyikan darinya. Cia melirik Devan yang nampak mengosok hidungnya. Cia tau betul jika, Ayahnya itu sedang menutupi kecemasannya huh, dari gerak gerik Devan sudah mencurigakan.


"Lo semua semalam berantem ?"


"Iya," jawab Adam cepat membuatnya kembali disikut oleh Jojon.


Adam mengigit bibir bawahnya lalu memukul bibirnya pelan. Jangan ulangi lagi.


Cia menghembuskan nafas berat ternyata betul jika Devan lagi-lagi berkelahi entah karena apa.


Mereka semua terdiam sambil saling bertatapan satu sama lain tak ada satu pun yang angkat bicara di antara mereka.


"Kenapa ?!!" Teriak cia.


Mamat tersentak kaget lalu dengan cepat menyikut perut Yuang yang berada di sampingnya seakan memberi kode agar Yuang mengatakan yang sebenarnya, Yuang menggeleng cepat tak berani mengatakannya, Sementara Deon juga terdiam tak berani menjelaskan.


"Lu Deon yang jawab kan lu yang tau semua!"  Tatap Haikal yang nampak bersembunyi di balik Tara.


"Si Baby ajah yang jelasin !"


"Eh, enak ajah, ekye nggak tau apa-apa tentang problema ini. Ekye buka mata eh, udah pukul sama mhusyuh pliss deh ekye nggak tau apa-apa" jelas baby sambil mengompres pipinya yang nampak membiru dengan es batu yang di balut dengan kain tipis.


"Terus yang mau jelasin siapa ?!!" Teriak cia lagi.


Tara menyikut lutut Haikal yang duduk di belakangnya lalu menunjuk Deon dengan ujung bibirnya. Haikal menatap Deon yang nampak ragu untuk menjelaskan semuanya kepada Cia.


"Ci, si deon mau jelasin!" Teriak Haikal sambil menunjuk Deon yang nampak terkejut mendengar ucapan Haikal.


"Nggak ci" jawabnya cepat.


"Udah, Deon jelasin ajah !!!" Tambah Tara.


Deon menggeleng cepat menatap Tara yang kini memasang wajah sangar di sana.


"Ngomong Lo Deon, "bisik Haikal.


"Gue cekik Lo yah !!!" Teriak Tara sambil mengangkat jari-jarinya seakan sudah siap untuk mencekik leher Deon.


"I... i... iya Tar," Ujar Deon terbata-bata.


Deon menatap wajah Cia yang sudah dari tadi menanti jawaban darinya.


"Ja... ja...ja... jadi semalam itu...."


...___****___...


"Nah pisang gorengnya sudah siap !" Deon tersenyum bahagia sambil membawa pisang goreng di piring putih yang Deon goreng sejak tadi. 


Senyum Deon tertahan seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Semuanya telah tertidur tak ada lagi pertandingan sepak bola di tv. Tak ada lagi mereka yang bersorak di depan tv.


Kini mereka sudah berbaring di karpet dan yang lebih jelasnya tak ada yang menunggu pisang goreng buatannya.


Deon duduk terpatung di lantai sambil memandangi pisang goreng di atas piring putih yang ia letakkan di lantai. Pisang goreng yang setengah mati ia buat untuk para sahabatnya itu kini hanya mampu di tatapnya.


Deon menuangkan kopi hitam yang terdapat di teko sisa para montir-montir itu yang kini sudah tertidur lelap.


"Haaaah."


Seteguk kopi hitam itu kini mengalir di tenggorokannya sambil menatap montir-montir itu yang nampak tertidur.


"Bakar-bakar !!!"


"Hancurin semua !!!"


PLAK !!!


BRUK!!!


Tak Tak!!!


KREK!!!


Deon mengkerutkan kedua alisnya ketika mendengar kebisingan diluar rumah. Entah suara itu berasal  dari mana. Bagaimana mungkin di jam 2 subuh masih ada orang yang berkeliaran dan dari mana suara kebisingan itu berasal.


Deon bangkit dari lantai dengan pelan lalu melangkah ke arah ruangan tamu. Deon menelan ludahnya seakan tak berani melangkahkan kakinya. Dengan pelan Deon mengerakkan kain gorden berwarna merah dengan telunjuknya.


Mata Deon melebar seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.