Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 114



"Oaaaaaaam." Devan menguap cukup lebar sambil mengerakkan kepalanya ke kiri dan kanan menghasilkan bunyi di sana.


Devan meraih kertas batik yang telah ia warnai, Senyumnya kini membias dari bibirnya sembari menatap kertasnya itu. Devan menggeleng pelan, Tak sia-sia Devan begadang sampai larut malam hanya untuk mewarnai kertas batik Cia. 


Gambar batik ini ternyata sangat indah jika diberikan warna coklat dan kuning emas dipadukan dengan corak warna yang begitu indah.


"Gila, gue keren juga di bagian mewarnai. Apa bakat gue di bagian mewarnai yah? Tapi kok dulu waktu gue ikut lomba nggak menang?" ujar Devan mengigat pada saat ia masih kecil dan ikut lomba mewarnai tingkat TK.


Devan bangkit dari lantai lalu meraih kunci bengkel dari meja yang Yuang bawa ke rumah setelah menutup bengkel. Devan menggantung kunci itu kembali di sebuah paku bersama dengan kunci motornya yang menggantung di sana.


Devan melangkah menuju kamarnya namun, langkahnya tertahan ketika tatapan sekilasnya ke arah pintu kamar Cia yang nampak terbuka. Pasti gadis itu lupa untuk menutupnya.


Devan melangkah masuk menatap kamar Cia yang nampak terbuka dengan lampu yang nampak menyala itu.


Devan terdiam menatap Cia yang kini telah tertidur di atas kasurnya. Devan menghembuskan nafas berat sambil sedikit tersenyum, bagaimana bisa seseorang gadis memiliki gaya tidur seburuk itu. Lihat saja, sekarang Cia tidur seperti seekor ayam yang telah di sembelih atau gaya Cia jauh lebih mirip dengan pesilat yang tengah mengambil jurus burung elang yang siap tempur.


Devan kini duduk di pinggir kasur sambil menatap wajah Cia yang masih tertidur lelap. Dengan ragu Devan mengerakkan jari-jarinya lalu mengelus rambut hitam Cia dengan lembut.


Senyum Devan timbul di sana merasakan kepala anaknya yang terasa hangat.


"Ayah sayang sama Cia," bisik Devan perlahan, ia takut jika Cia mendengarnya. Sejujurnya Devan tak pernah mengatakan hal ini kepada putri yang sangat keras kepala dan tak berguna itu.


"Ayah sayang sekali," Ujar Devan lagi.


"Maafin Ayah yang selalu ngasih makan Cia nasi hangus, yah Cia,"  suara kecil Devan begitu terdengar lembut.


Jujur saja ini kalimat yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam dari seorang Devan.


"Maafin Ayah yang..." ucapan Devan terhenti, rasanya ini sangat berat untuk mengungkapkannya. Devan menghela nafas berat bahkan terasa sulit untuk melakukannya.


"Maafin Ayah yang nggak bisa kasi tahu Cia tentang apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu."


"Ayah nggak bisa kasi tahu apa yang terjadi kepada Ayah yang punya muka tampan, keren dan masih muda ini." Devan mengigit bibirnya dengan pelan berusaha menahan tawanya . Dasar bodoh, saat seperti ini juga ia bisa bercanda.


"Maafin Ayah yah! Maafin Ayah yang nggak bisa ceritain semua kisah Ayah dulu."


"Apa yang gue rasain dulu, Cia nggak perlu tahu kisah itu. Kisah masa lalu seorang Devan.


Devan kini terdiam beberapa menit, cukup lama seakan terasa sangat sedih dan bersalah mengigat kejadian masa lalu itu. Perlahan tanpa Devan sadari sebuah tetesan air mata menetes membasahi pipi Devan. Devan mengerjapkan kedua matanya beberapa kali seakan terkejut dengan air mata yang berhasil lolos dari kedua matanya.


Devan mengusap pipinya dengan cepat. Devan tak mau jika Cia bangun dan melihat dia menangis.


"Maafin Ayah, Cia. Maafin Ayah yang nggak bisa bahagiain Cia, nggak bisa beliin Cia sesuatu yang Cia selalu mau dan Ayah nggak bisa ceritain kisah itu, kisah yang selalu Cia mau dengar."


"Maaf Cia, tapi Ayah nggak bisa ceritain semuanya karena Ayah takut, kalau Cia tahu yang sebenarnya dan Cia bakalan benci sama Ayah. Ayah nggak mau kalau Cia benci sama Ayah dan ninggalin Ayah begitu aja."


"Ayah yang ngerawat Cia dari kecil sampai besar dan Ayah nggak mau Cia ninggalin Ayah setelah tahu semuanya."


"Cia itu udah seperti nafas Ayah yang jika hilang maka nggak ada gunanya tubuh ini ada."


"Maafin Ayah yah Cia."


"Emmm." Geliat Cia di atas kasurnya.


Devan sontak terkejut dan kedua matanya terbelalak kaget. Jujur Devan begitu sangat terkejut dengan gerakan Cia yang bergerak secara tiba-tiba.


Devan menghembuskan nafas lega untung saja Cia masih tidur dan tak mendengar ucapannya tadi.


Devan melangkah sedikit menjauh dari putri bodohnya itu. Menunduk pelan untuk memasukan jika putrinya itu benar-benar masih tidur atau dia sudah bangun sekarang.


Dengan langkah pelan Devan melangkah keluar dari kamar setelah mematikan lampu lalu menutup pintu dengan rapat bahkan berhasil tak mengeluarkan sedikit saja.


Di suasana hening, gelap dan sunyi kedua mata Cia terbuka menatap pintu yang telah tertutup rapat itu. Wajah Cia yang selalu ceria itu mendadak sedih. Jujur Cia mendengar semuanya. Cia terbangun dari tidurnya saat Cia merasakan seseorang mengelus kepalanya.


"Apa yang terlah terjadi, Van? Apa yang akan membuat gue benci sama lo kalau gue tahu semuanya?"


"Apa yang lo lakuin dulu?"


"Kenapa lo susah banget buat ngatain itu?"


Cia menghela nafas bersamaan dengan air matanya yang menetes membasahi bantal yang ia gunakan.


"Tapi apapun yang terjadi, gue tetap nggak bakalan ninggalin lo, Dev."


"Maafin, Cia yang selalu kurang ajar sama Ayah."


"Jujur, Yah. Cia nggak pantas dapat kasih sayang seorang Ayah yang seperti Devan."


Senyum tipis membias di bibir Cia lalu memutar tubuhnya membekakangi pintu yang sudah tertutup rapat. 


"Cia juga sayang sama Ayah."


...____****____...


Pagi ini Cia terdiam membelakangi Fatima yang kini tengah menyisir rambutnya yang telah kering setelah diberi sampo tadi. Cia yang kini duduk di lantai lengkap dengan seragam sekolahnya kini menyantap nasi bungkus yang Devan beli di pasar tadi.


"Nah udah," ujar Fatima lalu membelai rambut Cia berbau minyak kemiri setelah diikat dengan kuat. 


"Makasih, Mama ku yang sangat Cia sayang."


Fatima tersenyum lalu mencium rambut Cia yang masih mengunyah itu. Fatima begitu sangat menyayangi Cia, cucu satu-satunya itu.


"Mama."


"Iya," jawab Fatima lembut. Tubuhnya masih panas dan lemas.


"Mama kapang sembuh?"


Fatima tertawa pelan. Cia meneguk habis air di gelasnya lalu memutar tubuhnya menatap Fatima.


"Cia capek makan nasi hangus terus," ujarnya sedih.


"Masa Cia setiap hari makan nasi hangus terus sih Ma?"


Fatima hanya tersenyum sembari terus membelai rambut hitam Cia.


"Ayah nggak bisa masak Ma," bisik Cia.


"Dia kalau masak nasi selalu hangus terus masakannya nggak pernah enak. Goreng telur aja nggak punya rasa."


Aduh Cia dengan tatapan sedikit mengompori Fatima yang hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Yah, yah, yah, terus! terus!" Ujar Devan yang kini berdiri di pintu masuk sambil memegang sebuah kertas berisi tugas kelompok Cia yang telah Devan warnai.


Cia dan Fatima kini menoleh menatap Devan dengan tatapan serius. Pria ini kini berdiri dengan tatapan sok maco yang siap membacok orang yang tengah membicarakannya.