
Cia dan Devan dengan kompak menjilati ice cream rasa coklat sambil jongkok di depan kaca besar tempat penjualan khusus obat yang baru saja mereka beli untuk Fatima. Keranjang biru itu, kini sudah terisi oleh tas hitam belakang serta obat demam yang baru saja mereka beli.
"Kira-kira yang punya mall ini siapa yah?" Tanya Cia disela-sela ia menjilati ice cream.
Devan tak menjawab ia terus saja menjilati ice cream coklat dengan wadah kerupuk khusus ice cream di tangannya.
"Van, kira-kira lo bisa nggak beliin gue gaun yang tadi?" tanya Cia.
Jilatan itu terhenti menatap Devan yang nampak menjilat pergelangan tangannya ketika cairan ice cream coklat itu mengalir ke pergelangan tangannya.
"Van! bisa nggak sih lo itu, kalau gue ngomong itu didenger?" kesalnya.
"Emm, iya apa sih?"
"Yah, Lo tinggal jawab ajah! lo bisa nggak beliin gue gaun yang tadi?"
"Bisa," jawab Devan.
"Beneran?" Cia menatap tak percaya.
Devan masih kembali menjilat punggung tangannya yang terdapat cairan ice cream yang mengenai Penggung tangannya.
"Ih, jorok lu!" Tatap Cia jijik sambil menyenggol Pelan sikut Devan.
"Nanti deh, gue beliin."
"Beneran?" Kedua mata Cia membulat dengan wajah antusias.
Devan mengangguk berusaha meyakinkan.
"Kapan?" Wajah Cia kembali kegirangan.
"Nanti kalau, ada orang yang bisa mindahin air laut pake sendok, Hahahaha," Devan tertawa di akhir kalimatnya lalu bangkit dari lantai meninggalkan Cia yang kini melongo.
Devan baru saja mengerjainya.
"Ih, ngeselin lo yah!!!" Teriak Cia kesal lali melompat ke arah Devan dengan cepat dan dengan penuh kekesalan i menjambak rambut Devan.
"Ah, sakit, Ci!" Aduh Devan.
"Rasain lo." Cia melepas jambakannya lalu melangkah meninggalkan Devan yang nampak sedikit tertawa setelah mendapat amukan dari Cia.
"Kualat lo, Ci!!! Dosa loh itu kalau, mukul orang tua!!!" teriak Devan.
"Emang lo tua?" tanya Cia sembari memandang Devan yang kini terdiam, tak tau harus menjawab apa.
..._____****_____...
... ...
"Totalnya empat ratus lima puluh ribu," Ujar karyawan kasir itu sambil tersenyum menatap Devan yang kini merogoh dompetnya.
"Van, bayangin deh kalau, kita beli gaun yang lima juta itu! Pasti Mbak kasirnya bilang kalau, totalnya lima juta empat ratus lima puluh ribu," Bisik cia penuh dengan nada hasut bahkan Devan mampu merasakan jika, lengannya terasa hangat ketika Cia berbisik kepadanya.
Devan menjulurkan uang pas ke arah karyawan kasir itu lalu menatap Cia yang berdiri membelakangi barisan panjang antrian.
"Dan itu hanya mimpi," Ujar Devan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Cia lalu malangkah pergi dengan kresek hitam di tangannya.
Ujung bibir Cia terangkat menatap Devan sinis. Ayahnya ini seperti ibu-ibu yang pelit kepada anak perempuannya yang sungguh kasihan ini.
"Tungguin gue!" Teriak Cia lali berlari mengejar Devan.
"Van!!!"
"Yuhu, Ayah gue yang paling baik!!!"
"Tapi, duit lo kan banyak," ujar cia lagi yang berada di belakang Devan, mengikut seperti ekor.
Langkah Devan terhenti lalu menoleh memutar tubuhnya menghadap ke arah Cia.
"Gue nggak-" ucapan Devan secara tiba-tiba terhenti. Bibir Devan masih menganga dengan kedua bola matanya yang menyorot pria berjas hitam yang berdiri di tangga lift bersama dengan pengawal pribadinya. Nafas Devan terasa sesak menatap pria yang kini sudah berada di lantai satu.
Devan begitu ingat betul pria itu, pria tua bregsek yang telah banyak merebut orang-orang yang Devan sayangi. Ayah Devan, dokter Yusuf serta gadis yang sangat Devan cintai.
Cia terdiam menatap heran Devan yang nampak terdiam entah apa yang Devan lihat sekarang. Cia mengerakkan kepalnya berniat untuk menoleh tapi, dengan cepat Devan memegan erat kepala Cia lalu mendekapnya denga erat.
Cia terdiam dipelukan Devan. Entah apa yang terjadi dengan Devan sehingga tubuhnya terasa bergetar hebat seperti orang yang sangat ketakutan.
Devan masih menatap pria itu lalu melangkah pergi berusaha menyembunyikan wajah Cia dari pria brengsek itu. Devan sangat takut. Kenangan buruk itu menghantam pikirannya begitu menyakitkan.
Sesampainya di parkiran tepat di samping motor merahnya itu, Devan melepas pelukannya lalu meraih helm hitam di atas jok dengan tangan yang gemetar.
"Ada apa, van?" tanya Cia heran.
Bibir Devan nampak mengering ditambah wajahnya yang terlihat pucat sambil memasang helm ke kepalanya.
Devan tak menjawab pertanyaan Cia lalu memasang helm ke kepala Cia dengan wajah penuh kecemasan.
"Naik!!!" Bentak Devan ketika sudah berada di atas motor.
Cia tersentak kaget, baru kali ini Devan membentaknya dengan wajah seserius itu. Selama ini Devan tak pernah membentaknya seperti itu bahkan jika, Devan marah besar kepadanya Devan tak pernah membentaknya.
Cia duduk di jok belakang motor dengan wajahnya yang masih kebingungan dengan sikap Devan yang nampak ketakutan.
Devan meraih kedua tangan Cia lalu melingkarkan ke tubuhnya. Cia mampu merasakan denyut jantung Devan yang berdebar itu sampai ke perut Devan.
"Jangan menoleh!" pintanya
Cia mengangguk cepat sambil terus memeluk tubuh Devan dengan erat. Motor itu melaju begitu cepat melesat di jalan beraspal kota Jakarta. Rambut Cia berayun kasar membuatnya terhempas oleh kencangnya angin ketika motor merah itu melaju cepat dikendalikan oleh Devan.
Para pengendara motor yang melihat motor merah Devan yang melaju cepat hanya mampu menggeleng melihat kecepatan motor yang baru saja melintasinya.
Devan menarik pergelangan tangan Cia menuju masuk kedalam rumah dengan cepat. Sesampainya Devan menutup pintu rumah dengan rapat dan tak lupa Devan mengguncinya. Devan mengerakkan gorden merah itu, menutup jendela sehingga ruangan tamu nampak gelap.
Cia masih kebingungan dengan tingkah Devan yang membuatnya sedari tadi bertanya. Devan kembali melangkahkan kakinya dengan penuh gesah menuju kamar Cia.
"Van, lo kenapa?" Tanya Cia.
Devan tak menjawab. Dengan cepat Devan mendorong tubuh Cia masuk ke dalam kamar beserta tas dan obat yang masih berada di dalam kresek. Cia terhempas ke lantai menatap Devan yang kini menutup pintu rapat dan menguncinya dengan rapat.
"Van, buka pintunya!!!" Teriak Cia sambil memukul pintu dengan keras berulangkali.
Devan menarik nafasnya yang sesak itu dengan jari yang gemetar ia menghempas kunci kamar Cia ke kursi.
"Van, kamu kenapa, Nak?" Fatima mendekat menyentuh tubuh Devan yang masih gemetar.
"Kamu kenapa, Nak?"
"Ma...u...u di...dia datang, Ma," Aduh Devan gemetar sambil menangis.
"Siapa, Nak? Siapa?" Fatima mengusap rambut Devan pelan.
Cia terdiam di dalam kamar mendengar percakapan Devan dan Fatima di luar.
"Dia...dia... Dia."
"Siapa, Nak?"
Devan ambruk di lantai disusul Fatima yang ikut duduk di lantai mengusap air mata Devan yang mengalir di pipi Devan yang terlihat mengigil.
"Siapa, Nak?" Tanya Fatima lagi.
"To...to...tolongin Dev...va..an, Ma!!!" Suara tangisan Devan terdengar diiringi pelukan erat yang melingkar di tubuh Fatima.
"Siapa, Nak?" Fatima ikut menangis, tak kuasa melihat putranya dalam kondisi seperti ini.
Cia masih terdiam di balik pintu kamar, Entah siapa sosok yang Devan takuti sampai-sampai Devan mengeluarkan suara tangisan yang begitu menyayat hati. Untuk pertama kalinya Cia mendengar suara tangisan devan. Bagaimana bisa pria gagah ketua geng motor itu menangis ketakutan hanya karena satu orang.
"Jawab, Nak?"
"Dia, Ma."
"Siapa?"
"Pak Abraham!!!" jawab Devan terisak.