
"Iya, iya boleh. Saya senang sekali kalau Cia mau berkunjung lagi ke rumah ini, bahkan saya akan membayar mahal Dek Cia agar mau datang ke sini lagi," Jawab Abraham cepat.
"Dibayar?"
"Sepertinya putri saya suka sama kamu."
"Heem, bukan bidadari yang suka sama Cia tapi Cia yang suka sama bidadari," ujar Cia.
Abraham mengangguk pelan.
"Cia pulang dulu, nanti Ayah sama mama Cia nyariin Cia."
"Iya, mau saya antar?"
"Nggak usah! Cia bisa pulang sendiri."
Cia tersenyum lalu berpaling membelakangi Abraham yang kini menatapnya melangkah pergi.
Cia tak tau mengapa Cia sekarang merasa sebahagia ini, bahkan perasaan bahagia ini lebih terasa dibandingkan waktu Cia mendapat tas baru dari Devan.
Dia tidak gila. Seseorang boleh beranggapan jika bidadari itu gila, yah otaknya gila tapi tidak dengan hatinya.
Dia spesial!
Dia berbeda dari yang lain!
Dan, yah itu yang Cia rasakan.
..._____*****_____...
Cia melangkah turung dari angkot berwarna biru setelah angkot itu menepih di pinggir jalan tepat di depan bengkel.
Cia menoleh menatap ke arah bengkel dan menatap semua montir yang nampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing dan yang membuat Cia mampu melihat tak ada Devan di sana.
Cia melangkah menyebrangi jalan raya lalu membuka pagar dengan pelan. Tak lupa juga pagar yang ditutup kembali dengan rapat, Cia tak mau jika si Mita masuk ke rumah hanya untuk bertemu Devan.
"Aaaaaaaaaaaa!!!" teriak Cia sambil melangkah masuk ke dalam rumah sambil menjinjing Sepatu hitam di tangannya. Rasanya pengumuman di mading itu sangat menyiksa otak Cia.
Fatima mengkerutkan alisnya ketika mendengar teriakan Cia dari luar sementara Devan meletakkan gelas kosong itu lalu terdiam ikut terhenyak mendengar suara teriakan dari luar.
"Itu Cia kenapa?" tanya Fatima dengan wajah yang lemas.
"Nggak tau, Ma!"
"Diliat dulu, Van! Itu si Cia kenapa?"
Devan terdiam.
"Yah udah biar Mama ajah yang liat Cia!" Dengan sekuat tenaga Fatima berusaha bangkit dari kasur dengan tubuhnya yang gemetar.
"Eh nggak usah, Ma!" Ujar Devan dengan pelan.
"Yah udah, itu si Cia diliat dulu!"
"Udahlah Ma! Palingan tasnya hilang lagi," Jelas Devan dengan wajah kesalnya.
"Devan!" Tatap Fatima seakan memohon.
Devan menarik nafas panjang, rasanya ia tak mampu menolak perintah Mamanya itu. Entah apa yang terjadi oleh Cia sehingga berteriak seperti itu.
Dengan rasa malas, Devan bangkit dari kasur lalu melangkah keluar dari kamar, tak lupa juga Devan menutup pintu kamar Fatima dengan rapat.
"Aaaaaaaaaaaa!!!" teriak Cia yang kini telah terkapar di lantai.
Devan berlari cepat menatap Cia yang nampak terkapar di lantai rumah sambil berteriak tak jelas. Devan menatap tas hitam Cia, tasnya tidak hilang! Lalu Cia menangis karena apa?
"Ci! Cia!!!" panggil Devan sembari berlutut.
"Devan!" Bangkit Cia menatap Devan yang kini sudah ada di depan matanya.
"Devan, Aaaaaaaaa!!!" teriak Cia lagi.
"Lo kenapa lagi sih?"
"Tolongin Cia!"
"Lo kenapa?"
"Aaaaaaaa!!!" teriak Cia lagi.
Devan mengkerutkan alisnya heran.
"Hai, sadar Cia!!!" Pukul Devan pelan di permukaan pipi Cia yang mulus dan memegang kedua pipi Cia.
"Aaaa!!!" teriak Cia.
"Astagrullah, ya Allah. Allahu Akbar!!!" teriak Devan sambil mengusap dahi Cia dan meniupnya dengan keras.
"Piuh, Vaaaan!!!" teriak Cia sembari memukul tangan Devan.
"Gue nggak kesurupan tolol!" Ujar Cia lalu menghempas tangan Devan.
Cia terdiam. Bagaimana bisa Cia mengatakan jika ia sekarang sedih, karena sudah berjanji untuk datang keacara ulang tahun Loli dengan membawa pacar.
Cia malu dan bahkan sangat malu!
"Heh!!! Lo kenapa sih?" Devan melambai.
"Gue-"
"Kenapa?"
Cia masih terdiam.
"Lo kenapa sih, Ci?"
"Nggak!" jawabnya sambil menggeleng.
Kini Cia bangkit dari lantai tak lupa juga Cia meraih tasnya yang tergeletak di lantai itu, lalu melangkah berpaling membelakangi Devan yang masih terheran di sana.
"Lo dari mana?"
Cia seketika menghentikan langkahnya lalu terdiam dengan wajah takut. Jujur Cia takut untuk menjawab pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan yang sangat tidak ia harapkan kini terdengar.
Rasanya Cia ingin lenyap di tempat ini.
Devan bangkit lalu melangkahkan kakinya dan berhenti tepat di depan Cia yang kini terdiam dengan wajah bodohnya.
"Aaaaaaaaaw!!!" suara jeritan terdengar dari dalam dapur.
Cia dan Devan dengan serentak menoleh menatap ke arah pintu masuk bagian dapur ketika mendengar suara jeritan itu. Itu sudah jelas bukan suara Fatima, karena Fatima sedang sakit dan berada di dalam kamar, tapi itu suara siapa?.
"Yayang Ceooooooooo!!?" Baby berlari keluar dari dapur memasang wajah sedih di sana.
Wajahnya yang menyeramkan itu nampak terpoles dengan make up tebal, tak ketinggalan juga bulu mata panjang berwarna ungu yang disesuaikan dengan warna listip dan rok mini sebatas paha memperlihatkan bulu hitam di betisnya.
Cia melongo. Bagaimana bisa Baby, si bencong itu ada di dalam rumah dengan penampilan seperti itu, pantas saja di bengkel Cia tak melihat Baby di sana.
"Oh yayang Ceoooooooo!!!" jerit manja Baby sambil mengeliat.
"Kok ada si Baby di sini ?" Tanya Cia sambil menunjuk.
"Mama kan sakit, jadi untuk hari ini Baby yang masak," jelas Devan.
"Lo kenapa sih by?" tanya Devan.
"Yayamg Ceo, ekye kena cipratan minyak goreng, ahhhh panwas!!!" aduh Baby memperlihatkan tangan kanannya yang terlihat berotot.
Devan menggosok dahinya pelan seakan tak sanggup mendengar suara manja dari Baby yang membuatnya seperti ingin muntah.
"Jadi si Baby yang masak?" tanya Cia lagi.
Devan mengangguk pasrah.
"Kenapa harus si Baby sih?"
"Eh Cia!!! Cia itu harusnya ithu kamyu bersyukur di maswakin sama ekye, si Baby yang khoooot!! Iya kan yayang Ceo?" Baby melirik Devan dengan mengedipkan sebelah matanya membuat Devan menghembuskan nafas berat.
"Van, eh, emm maksud gue Ceo, kenapa harus si baby sih? kenapa bukan si Deon atau si Mamat ?" tanya Cia.
"Yah, karena bos Ceo suka sama ekye, ah hihihi!" Baby tertawa sementara dua makhluk yang ada di depannya sedang melongo.
"Si Deon sama si Mamat punya banyak kerjaan tadi di bengkel terus cuman si baby yang nggak sibuk, jadi dari pada si Baby pergi ke salon mending suruh masak ," jelas Devan.
Cia hanya mampu menghembuskan nafas berat setelah mendengar penjelasan tersebut.
"Ei masakan ekye enak loh!" Tatap Baby seakan menggoda.
"Emang udah masak semua?"
"Udah dong bos Ceooooo!!!" jeritnya manja.
Devan mengangguk dengan wajahnya yang sangat malas meladeni Baby, apalagi dengan jeritan manja yang menurut Baby itu suara seksi.
"Yah udah, Ci! yuk makan!"
Cia terdiam mengalihkan pandangannya menatap ke dinding rumah dengan raut wajah sedih. Jujur mood Cia kini berantakan dibebani dengan janjinya kepada Loli. Dimana Cia harus mendapatkan pacar dalam jangka waktu satu hari. Sekarang hari jumat sedangkan acara ulang tahun Loli di rayakan hari Sabtu tepatnya malam Minggu, bagaimana bisa Cia mendapatkan pacar secepat itu?
"Yuk, Ci!" ajak Devan lagi.
Cia melangkah dengan langkah malas menuju dapur disusul Baby dan Devan yang mengikut di belakang Cia.
"Lo ngapain ikut?" Tanya Cia menghentikan langkah menatap Baby yang berdiri di samping meja makan.
"Yah Baby cuman mau liat Cia makan masakan buatan Baby," ujarnya di akhiri tawa.
Cia menoleh menatap masakan Baby yang sudah tersedia di atas meja. Telur sambal goreng, nasi putih yang masih panas nampak sudah tersedia di meja makan dan sayur tumis. Semuanya nampak mengiurkan.
"Ini beneran lo yang masak by?" Tunjuk Cia tak menyangka.