
Cia berlari mengejar Devan yang sudah melangkah agak jauh darinya.
"Tunggu!!! Vaaaan!!!" Teriak Cia sembari berlari.
Devan tetap melangkahkan kakinya sambil sesekali mengusap matanya yang terasa perih dengan baju berpola kotak-kotaknua itu ketika minyak kemiri itu mengenai matanya.
"Tunggu Ceo!!!" teriak Cia cukup keras membuat pria dan wanita berkaus pink itu menoleh menatap ke arah sumber suara.
Devan menghentikan langkahnya cepat dengan tatapan kaget ditambah lagi tatapan itu mengarah kepada Devan.
"Hahaha, itu siapa tuh?"
"Ya ampun, culun banget."
"Dia nggak nyasar kan, hahaha."
"Jelek banget," bisik mereka.
Devan terdiam menanti Cia yang kini kembali berlari menghampirinya.
"Nggak kayak gitu dong, Van!" Tegas Cia yang kini berdiri di depan Devan.
"Apa?" tanya Devan tak tau apa-apa.
"Lo pernah pacaran nggak sih?" tanya Cia kesal.
"Nggak!"
"Udah gue duga. lo tuh sama orang yang ngelahirin gue masa nggak pacaran?"
"Emang kenapa?"
"Yah, masa lo nggak ngerti etika jalan sama pacar di acara ulang tahun?"
"Yah, etikanya gimana?"
"Yah, lo harusnya ngegandeng gue dong," kesal Cia gemas sendiri.
"Kenapa harus di gandeng?"
Cia terdiam dengan wajahnya yang memerah karena marah.
"Lo nggak bisa jalan?" tanya Devan lagi.
"Lo niat nggak sih, Van bantuin gue?"
"Yah, terus ini apa?" tanya Devan sambil memperlihatkan penampilan culunnya itu.
"Ih lo tu nyebelin banget tau nggak sih." Kesal Cia menghentakkan kedua kakinya sambil melangkah meninggalkan Devan yang nampaknya masih terdiam menatap Cia.
Cia begitu sangat kesal dengan Devan yang tak bisa bersikap romantis kepadanya. jika seperti ini maka Cia tidak bisa menyakinkan Loli dan tamu-tamu yang lainnya jika Cia telah punya pacar.
"Cantik banget."
"Iya, yah cantik banget."
"Itu siapa?"
"Sepanjang tamu yang datang cuman ini yang paling cantik," bisik mereka ketika Cia melangkahkan kakinya menaiki anakan tangga menuju pintu utama.
"Selamat datang di acara ulang tahun Loli," sambut mereka.
Cia tersenyum.
"Boleh perlihatkan undangannya!"
Cia mengangguk sembari tersenyum dan merogoh undangan berwarna pink dari tas kecil hitamnya lalu meletakkanya ke atas meja tepat di hadapan pria itu.
"Nama kamu siapa?"
"Cia," jawab Cia.
Pria itu meraih pulpen yang berada di dekat sikunya lalu menggeser jarinya di permukaan buku tamu undangan mencari nama Cia di sana.
"Namanya nggak ada, Dek?" Tatap pria itu.
"Oh, maksud saya Ashia Akanksha, kak," ujar Cia sedikit tersenyum .
Pria itu kembali menunduk lalu mencentang nama lengkap Cia yang tertera didaftar tamu undangan.
"Pacar kamu?"
"Pacar sa-" tunjuk Cia .
Ucapan Cia terhenti ketika ia menoleh menatap Devan yang sudah tak berada di tempat terakhir kali Cia melihatnya.
"Loh kok Devan nggak ada?" panik Cia.
"Tadi ada kok di situ."
"Yang culun itu?" tanya salah satu wanita yang berdiri di samping pintu masuk sambil tertawa.
"Culun?"
"Iya Dek yang pakai kaca mata, baju kotak-kotak dan celana kebesaran itu kan hahaha." Wanita itu tertawa membuat orang-orang yang ada di sana ikut tertawa.
Cia tertunduk malu, jadi benar yang dikatakan Devan jika penampilan yang ia lakukan kepada Devan itu culun dan itu semua bukan keren.
"Silahkan masuk, Dek!"
"Tapi pacar saya, kak-"
"Nanti kalau dia ada saya biarkan dia langsung masuk saja."
"Namanya siapa, Dek?" tanya pria itu lagi.
"Emm, Ceo mobepan," ujar cia.
Pria itu mengangguk lalu menulis nama Devan di sana.
Cia menoleh menatap ke arah pekarangan serta motor Devan yang nampak terparkir dari kejauhan, tak ada Devan di sana. Entah kemana Devan pergi sementara acara sudah hampir dimulai.
"Semoga saja Devan tidak kabur." Pikir cia.
Suara musik DJ terdengar membuat suasana menjadi sangat meriah di hadiri para tamu undangan yang berdatangan bersama pasangannya masing-masing.
Lampu kerlap-Kerlip nampak menghias di taman di sertai sebuah panggung berukuran sedang di depan kolam renang yang cukup luas. Pantulan cahaya lampu berbagai macam warna nampak terpantul di permukaan air kolam yang jernih.
Di panggung itu terdapat tulisan besar dengan tulisan 'Happy birthday Loli ke 17 tahun' Yang dihiasi balon dan beberapa hiasan lainnya. Sangat megah.
Di panggung juga itu terdapat kue ulang tahun bertingkat 17 yang disesuaikan dengan umur Loli di atas sebuah meja. Kue berwarna pink itu nampak terlihat megah dengan warna pink yang ditaburi dengan taburan kerlap-Kerlip yang nampak bersinar ketika di terpa cahaya lampu.
Puluhan jenis berbagai makanan berat nampak terjamu di sebuah meja panjang. Begitu banyak makanan yang terjamu di sana.
Berbagai jenis cup cake dengan berbagai macam rasa dan warna nampak tersedia di meja, tak lupa juga ratusan gelas-gelas kaca dengan berbagai macam jenis rasa yang nampak sudah tersedia di meja.
Di sebelah sisi di bagian taman terdapat sebuah panggung dengan alat musik yang bertuliskan band torak yang akan menghibur para tamu undangan yang kini semakin ramai.
Para pelayan dengan seragam pink nampak berlalu-lalang sambil membawa sebuah nampan melayani para tamu.
Langkah salah satu seorang pelayan nampak terhenti sambil menatap makanan di meja dengan tatapan berbinar.
"Waaaaaaaaaaah!!!"
"Kal!" panggil Adam sambil menutup matanya.
Haikal menoleh menatap Adam yang kini berada di belakangnya.
"Ini beneran kita kerja di sini?"
"Yah, iya lah."
Adam membuka sebelah matanya. Dari kejauhan Adam mampu melihat gadis-gadis dengan pakaian seksi di sana.
"Astagfirullah." Tutup mata Adam lagi sambil menggantung di bahu Haikal yang memegang sebuah nampan berisi gelas-gelas.
Gelas-gelas itu sedikit bergetar mengahasilkan bunyi dentingan ketika Adam menggantung di bahu Haikal.
"Kal, kalau aku tahu kerjanya ngelayanin tamu-tamu seksi, aku nggak bakalan ikut, Kal!" bisik Adam sedikit menangis.
"Ahh, yang penting tuh bisa dapat duit terus makan gratis."
Adam masih terdiam dengan wajah khawatir.
"Tuh lo liat cewek-cewek cantik! Mana tahu kan kita bisa dapat jodoh di sini," ujar Haikal lagi.
"Ah kalau itu mah saya nggak mau, ingat kal! Neng Maya tetap nomor satu di hati Adam," ujar Adam memukul dadanya.
Haikal meletakan nampan berisi gelas-gelas itu ke atas meja lalu memasang wajah datar ke arah Adam yang nampak cemas.
"Udah lah, Dam!"
"Tapi, Kal-"
"Udahlah, Dam. Lo harusnya tuh bersyukur gue ajak ke sini."
"Emang ini acara apa sih, Kal?"
Haikal terdiam lalu mengerakkan bola matanya menatap ke arah setiap sisi, gerakan bola matanya terhenti menatap sebuah panggung.
"Tuh, lo liat!" Tunjuk Haikal.