Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 200



Suara tawa terdengar begitu licik di dalam sebuah ruangan kerja setelah ia melihat sebuah foto yang baru saja diperlihatkan oleh Anak buahnya.


Pria berjas itu menoleh, itu adalah Tuan Abraham yang kini sedang tertawa puas karena Jef telah berhasil menjalankan perintahnya untuk membakar bengkel Devan.


Rasanya ia sangat puas, benar-benar sangat puas. Abraham kembali tertawa saat ia menatap foto dimana kobaran api menyala membakar sebuah bengkel beserta peralatannya. Ini benar-benar membuat Abraham puas.


Abraham tahu jika Devan tak akan memberikan Cia kepadanya kerena Devan masih punya penghasilan lewat bengkelnya tapi, jika bengkel yang merupakan satu-satunya sumber mata pencaharian Devan lenyap berarti Devan tak punya lagi pemasukan dan itu bisa membuat Devan memberikan Cia begitu saja kepadanya karena tak punya uang untuk menghidupi Cia.


Ini sepertinya baru sebuah permainan yang ampuh untuk membungkam mulut sombong Devan yang telah berani menghinanya di dalam rumahnya sendiri. Devan harus tahu dengan siapa ia berhadapan, Devan harus tahu siapa itu Abraham.


"Bagus! Bagus! Bagus Jef!!!" teriak Abraham sambil menepuk bahu kokoh Jef yang kini tersenyum puas karena telah berhasil menjalankan tugas.


"Ini sudah sesuai perintah Tuan, bahkan pemadam kebakaran pun sudah saya ajak kerja sama dalam hal ini," jelas Jef.


"Kerja sama?" tanya Abraham.


"Iya Tuan. Saya sudah membayar para tim pemadam kebakaran dengan harga yang mahal untuk tidak menerima telfon peristiwa kebakaran dari siapapun untuk malam tadi dan itu membuat bengkel Devan tak mendapat bantuan dari tim pemadam kebakaran," jelas Jef.


"Wah bagus, bagus sekali Jef. Saya benar-benar bangga dengan kamu," ujar Abraham.


"Ini sudah tugas saya Tuan," ujar Jef.


"Lalu apa yang kamu lakukan lagi?" tanya Abraham dengan wajahnya yang begitu sangat penasaran dan antusias seakan tak sabar untuk mendengar semuanya.


"Saya juga sudah membayar sebagian orang-orang yang tinggal di sekitar rumah Devan untuk tidak membantunya memadamkan api."


"Wah, jenius sekali. Saya benar-benar kagum dengan kamu, Jef."


"Terimakasih Tuan," ujar Jef.


"Lalu apa lagi?" tanya Abraham dengan penasaran.


"Bengkelnya sudah rata dengan tanah, Tuan."


"Hangus dan hancur. Saya yakin Tuan, tak ada satupun barang yang tersisa di sana."


Abraham mengangguk lalu segera melangkah ke arah jendela yang kain gordennya terbuka memperlihatkan suasana kota di bawah sana. Pemandangan kota, kemacetan dan beberapa pepohonan. Pemandangan yang sudah biasa ia lihat tapi ini semua kali ini terlihat berbeda yah sangat berbeda. Hari ini Abraham sangat bahagia atas penderitaan yang Devan rasakan.


Abraham tertawa lagi namun, kali ini terdengar begitu sangat lebih licik.


"Devan, Devan, Bagaimana sekarang?"


"Saya tahu, kamu sekarang sedang menangis meratapi puing-puing sisa penderitaan yang telah aku berikan."


"Hah Devan, lihat! Betapa angkuhnya kamu beberapa hari yang lalu dan saking angkuhnya kamu sehingga tak mau memberikan Cia kepada aku."


"Hah, sekarang lihat apa yang terjadi dengan nasib kamu?"


"Kamu belum tahu denganĀ  siapa kamu berhadapan, Devan."


"Kamu salah dalam mencari lawan. Sehebat apa pun kamu tetap aku yang akan menjadi pemenang karena aku punya banyak uang yang bisa mengatur semuanya dengan uang dan uang. Tak ada yang bisa mengalahkan aku. Balas dendam ku belum terbayarkan Devan."


"Jika Putri ku bisa menderita karena ulah kamu maka hidup kamu juga harus lebih menderita."


"Oh Devan, aku tidak akan pernah berhenti untuk menyakiti dan membuat hidup kamu menderita sebelum mayat kamu benar-benar aku lihat dengan mata kepala aku sendiri."


"Oh Devan, pria angkuh tapi miskin. Jika derajat kamu sudah rendah sejak awal maka kamu tidak akan bisa merubah derajat kamu yang rendah itu."


"Jangan pernah mau bersaing dengan aku!"


"Aku, aku adalah Abraham Brahmana, Tuan terhormat," ujar Abraham sambil memukul dadanya.


"Jef!" panggil Abraham.


"Iya Tuan," sahut Jef dengan cepat .


"Awasi pergerakan Devan dan buat dia tidak mendapatkan pekerjaan sedikit pun. Biarkan dia menderita karena tidak punya uang dan buat Devan, si bocah sialan itu menyerahkan Cia kepada aku," jelas Abraham.


"Baik Tuan," sahut Jef cepat.


"Apa kamu mengerti?" tanya Abraham lalu menoleh menatap Jef.


"Pergi! Dan ingat buat dia menderita!" suruh nya dengan nada tertekan.


"Baik Tuan, siap laksanakan," ujar Jef lalu beranjak pergi meninggalkan Abraham yang masih tersenyum. Kali ini dia begitu sangat-sangat bahagia.


Tak lama senyum Abraham lenyap dari bibirnya saat ia melihat Firdha yang kini berdiri di pintu masuk ruangan kerjanya. Abraham khawatir jika Istrinya itu mendengar semuanya.


"Apa yang kamu lakukan di sana? Dan sejak kapan kamu ada di sana, Firdha?" tanya Abraham.


Sorot mata Firdha kini terlihat memerah dengan genangan air di sudut matanya yang nyaris menetes. Kedua bibir Firdha terbuka seakan begitu sangat-sangat terkejut.


"Sejak kapan kamu di sana?" tanya Abraham lagi.


"Sejak Jef menceritakan semuanya," jawab Abraham membuat Abraham mendecapkan bibirnya kesal sambil menghela nafas panjang dan berat. Kekhawatiran yang selalu Abraham takuti kini terjadi, Firdha, Istrinya sudah tahu semuanya.


"Firdha aku-"


"Cukup!"


Abraham kini terdiam, rasanya Istrinya terlihat sangat marah.


"Mas Abraham, kenapa Mas lakukan semua ini?"


"Karena Devan adalah-"


"Iya aku tahu!!!" teriak Firdha berhasil membuat Abraham terdiam.


"Jangan berani membentak aku Firdha!" Tunjuk Abraham.


"Kenapa? Hah? Kenapa kalau aku membentak Anda Tuan yang terhormat? Kenapa? Sampai kapan aku harus diam melihat semua kelakukan dan tingkah jahat kamu? Sampai kapan?"


"Aku muak melihat semuanya."


"Firdha tapi Devan adalah-"


"Iya, aku tahu!!! Aku tahu dan aku mendengar semuanya jika Devan adalah Anak laki-laki yang telah membuat Kasya hamil."


"Lalu kenapa kamu marah?" tanya Abraham.


"Mas, jika saja kamu tidak melarang Kasya dan Anak itu bersama mungkin nasib mereka tidak akan jadi seperti ini," jelas Firdha.


"Jadi kamu menyalahkan aku?" Tunjuk Abrahan ke arah wajahnya.


"Iya, ini semua karena salah kamu, Mas. Ini salah kamu. Jika saja kamu tidak mendorong Kasya sampai kepalanya berdarah mungkin dia tidak akan lupa ingatan dan gila seperti ini!!!" teriak Firdha dengan tubuh gemetarnya karena marah.


Abraham kini terdiam, teriakan Firdha seakan menusuk gendang telinganya.


"Sekarang dengan rasa angkuhnya, Mas sampai-sampai Mas mau merebut Cia dari Devan."


"Firdha, cukup!!! Cia adalah Cucu aku!!!" teriak Abraham.


"Tapi dia adalah Anak Devan!!! Devan yang telah merawatnya dan membesarkannya bukan kamu!!!" teriak Firdha sambil menunjuk ke arah Abraham yang kini terdiam.


"Devan yang merawat Cia sampai besar bukan kamu!!!" teriak Firdha lagi.


"Dan dengan teganya kamu meminta Cia, dimana hati kamu, Mas? Dulu kamu bersikeras untuk membunuh dan menolak kelahiran Anak Kasya tapi sekarang kamu malah bersikeras untuk mendapatkan Anak Kasya. Kamu kenapa sih Mas?" tanya Firdha dengan nada suaranya yang pelan.


"Dimana hati kamu?"


"Dimana? Hah?"


"Tolong berfikir sedikit dan bawah hati serta otak kamu baru kamu bertindak. Jangan selalu mendahulukan ego kamu sendiri, Mas," jelas Firdha lalu melangkah pergi meninggalkan Abraham yang kini terdiam di dalam ruangannya.


"Aaaaa!!!" teriak Abraham lalu menghamburkan semua berang-barang yang ada di atas meja kerjanya membuat semua barang-barang seperti laptop, vas bunga dan buku-buku berhamburan ke lantai diiringi suara hempasan.


Kali ini ia benar-benar marah.


"Aaaa!!!" teriak Abraham lalu meninju permukaan meja dengan keras.


"Devan, kamu bahkan telah merebut hati Istri ku dan membuatnya berpihak kepada kamu," ujarnya dengan nada tertekan.