Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
227



"Aku sayang sama Ayah."


"Tolong Ayah jangan ninggalin Cia!"


"Ayah tahu kan, Cia nggak bisa kalau nggak ada Ayah."


"Cia mohon, tetap ada di dunia ini untuk Cia."


Cia menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat. Rasanya begitu sangat menyakitkan jika harus melihat keadaan Devan yang seperti ini. Tak ada rasa semangat yang ada di dalam diri Cia, semua nya terasa hampa.


Kedua mata Cia tak henti-henti nya menatap wajah pucat Devan yang masih tak sadar kan diri di atas tempat tidur.


"Ini semua karena Pak Jef yang udah nembak Ayah sampai-sampai Ayah harus kayak gini. Ayah kritis dan ini semua karena Pak Jef."


Cia kini terdiam dengan tatapan melamun nya hingga suara langkah kaki berhasil membuat Cia menoleh. Kini wanita yang tak asing lagi bagi Cia kini melangkah mendekatinya membuat Cia mendecapkan bibirnya dan menoleh ke sisi yang lain seakan tak senang melihat wanita itu. Yap siapa lagi jika bukan Firdha yang kini telah Cia ketahui sebagai Nenek nya.


Firdha menghentikkan langkahnya dan berdiri tepat di samping Cia yang masih enggang untuk melihat Firdha. Kedua sorot mata Firdha kini menatap ke arah ruangan di mana Devan ada di sana yang di halang oleh dinding kaca.


Suasana keduanya kini terasa canggung seiring kedua nya yang tak berbicara sedikit pun. Firdha menoleh menatap Cia sejenak dan kembali menatap Devan.


"Kamu marah?" tanya Firdha.


Cia terdiam dengan perasaanya yang begitu tak bersemangat dan tak ada niat sedikit pun untuk membalas pertanyaan dari Firdha.


Firdha menghela nafas pendek dan kembali menatap Cia yang kini kembali fokus menatap Devan.


"Kamu marah kepada siapa? Tuan Abraham atau Jef? Hem?"


Cia diam tanpa jawaban sedikit pun.


"Aku tahu kamu marah kepada aku, Tuan Abraham dan Jef. Yah aku bisa mengerti semuanya."


"Aku tahu perasaan seorang Anak jika melihat Ayahnya terbaring kritis seperti ini setelah di tembak oleh Jef yang merupakan bawahan dari Tuan-"


"Orang asing," potong Cia yang kini menoleh menatap Firdha yang kini beradu tatap dengannya.


"Orang asing?" tanya Firdha tak mengerti.


Cia tersenyum sinis lalu kembali menatap Devan yang masih terbaring di atas sana.


"Bagi Cia, kalian semua adalah orang asing. Cia nggak ngerti kenapa kalian semua harus muncul di kehidupan Cia yang sudah hidup bahagia bersama dengan Ayah Cia."


Cia menoleh menatap Firdha yang kini masih terus menatap nya tanpa henti.


"Dulu kehidupan Cia udah bahagia."


"Setiap pagi ada Nenek Fatima dan Devan yang selalu bangunin Cia. Ada Nenek Fatima yang selalu masakin sarapan buat Cia."


"Nenek Fatima, Deon , Haikal yah mereka semua yang selalu nganterin Cia ke sekolah setiap hari secara bergantian."


"Di sekolah Cia emang Anak nakal, saya akui itu dan dengan cara itu nggak ada yang gangguin Cia."


"Cia selalu bolos pelajaran, Cia selalu ikut tauran dan bahkan Pak Martin si satpam sekolah sering manggil Cia dengan sebutan si gadis berandal."


"Setelah pulang sekolah Cia selalu ada di bengkel dan kumpul bersama semua montir yang baik."


"Semuanya sudah seperti keluarga bagi Cia."


"Mamat, Deon, Yuang, Jojon, Adam, Tara, Baby dan Haikal semua nya udah Cia anggap sebagai keluarga Cia sendiri."


"Harus bagaimana lagi, hanya mereka yang Cia punya."


Cia mengembuskan nafas berat dan menatap Firdha sejenak lalu tersenyum sinis dan kembali menatap Devan.


"Nyonya Firdha, seperti yang saya katakan tadi, Anda, Tuan Abraham dan Pak Jet adalah orang asing bagi Cia."


"Ini kebenaran Nyonya."


"Keluarga asli menjadi orang asing dan orang asing menjadi keluarga."


"Cia tidak mengerti mengapa semua orang kaya begitu sangat jahat-"


"Cia tapi saya-"


Firdha terdiam seakan tak tahu harus berkata apa lagi.


"Kalian semua orang jahat."


"Kalian semua," ujar Cia lagi dengan nada yang terdengar berat.


Cia mengigit bibirnya berusaha untuk tidak menangis menatap kedua mata Firdha yang terus menatapnya.


Cis menghembuskan nafas berat lalu berpaling membelakangi Firdha dan ia melangkah berniat untuk meninggal kan Firdha.


"Cia!" panggil Firdha sembari terus menatap Cia yang tak menghenti kan langkah nya.


"Cia! Tolong jangan marah dengan saya dan juga Tuan Abraham! Semua ini terjadi bukan karena Suami saya tapi ini semua karena kesalahan Jef dan seharusnya kamu-"


"Seharusnya apa?!!" teriak Cia yang berhasil membuat Firdha tak melanjutkan ujarannya.


"Seharusnya apa? Ha? Apa?" tanya Cia yang kini melangkah mendekati Firdha beberapa langkah.


"Anda bilang ini bukan kesalahan Anda dan Tuan Abraham?"


"Saya tidak habis pikir dengan apa yang Anda pikirkan."


"Anda bilang ini bukan kesalahan Tuan Abraham?"


"Anda buta? Atau Anda pura-pura buta dan tak mau melihat semua kenyataan jika Tuan Abraham adalah penyebab Ayah saya terbaring di rumah sakit dalam kondisi kritis."


"Ini kesalahan Tuan Abrahan."


"Cia! Yang menembak bukan suami saya tapi Jef, Jef yang melakukan semuanya."


"Ya Cia tahu tapi Tuan Abraham adalah dalang dari semua masalah yang terjadi kepada saya dan juga Ayah saya."


"Karena suami Anda, Dokter Yusuf meninggal, Kakek saya meninggal dan dia orang ini meninggal karena di tembak oleh Jef dan semua dalangnya adalah Tuan Abraham."


"Bengkel yang sudah Ayah saya bangun harus hancur hangus terbakar."


"Para montir yang sudah Cia anggap sebagai keluarga saya juga harus kena imbasnya sehingga mereka semua kehilangan pekerjaan dan semua itu karena Tuan Abraham."


"Karena semuanya kehilangan pekerjaan karena bengkel terbakar dan mereka sekarang nggak punya pekerjaan."


"Tanya kan pada suami Anda, bagaimana nasib salah satu montir Ayah saya yang bernama Deon. Deon adalah salah satu Anak yatim piatu yang sekarang hanya tinggal bersama dengan Nenek nya yang tidak bekerja."


"Pernah nggak orang kaya kayak kalian mikir tentang nasib mereka hanya hanya karena memikirkan kepentingan diri Anda sendiri."


"Semua nya baik-baik saja sebelum kalian semua datang."


Cia kini melangkah setelah membelakangi Firdha membuat Firdha kini menarik nafas dalam-dalam.


"Kamu tidak tahu apa-apa," ujar Firdha membuat langkah Cia terhenti.


"Masalah sudah ada sebelum kamu ada."


"Ini semua karena kesalahan Ayah kamu sendiri."


Cia menoleh menatap Firdha yang kini melangkah mendekatinya.


"Kamu pernah berpikir bagaimana rasanya mempunyai Anak yang hamil di usia yang masih muda. 14 tahun, Anak saya mengandung di usia itu. Di mana waktu yang seharusnya ia sibuk belajar, jalan-jalan, liburan dan mengejar prestasi harus mengalami tekanan batin yang harus ia tanggung sendiri."


"Kasya menanggung semuanya karena kesalahan Devan."


Cia tersenyum lalu tertawa sinis membuat Firdha mengkerutkan alisnya tidak mengerti.


"Anda membicarakan masalah itu dan hasil masalahnya ada di depan Anda," ujar Cia membuat Firdha tersadar jika ia sedang berbicara dengan Anak dari Kasya dan Devan.


"Saya tahu semuanya berat dan saya tahu Anda dan suami Anda melakukannya karena ingin membalas kan dendam. Anda buka mata Anda dan lihat Ayah saya di dalam sana! Anda dan Tuan Abraham sudah berhasil," jelas Cia.


"Semuanya baik-baik saja sebelum Anda datang dan menghancurkan semuanya," ujar Cia lagi lalu melangkah pergi.


"Cia!" panggil Firdha berusaha untuk menghentikan langkah Cia yang tak kunjung berhenti.


"Cia!" panggil Firdha lagi.