
Cia melangkah turun dari angkot biru setelah menepi di siring jalan tepat di depan rumah pemilik mall Brahmana itu. Rasanya Cia sangat rindu dengan bidadarinya yang berparadls cantik.
"Eh, non Cia," sambut Pak Madi dengan ramah.
Pak Madi segera membuka pagar besar itu dan mempersilahkan Cia untuk masuk. Hari ini Pak Madi cukup bahagia melihat kedatangan Cia. Beberapa hari ini Pak Madi tak pernah melihat Cia datang ke rumah dan hari ini Cia datang dengan wajah murungnya itu. Yap, Pak Madi bisa melihat jelas kesedihan itu dari sorot mata Cia.
"Bidadarinya ada?" tanya Cia yang telah berada di halaman rumah.
"Ada Non," jawab Pak Madi semangat.
"Oh iya Non Cia, Non Cia dari mana aja bidadarinya Non Cia beberapa hari belakangan ini suka ngamuk nggak jelas," jelas Pak Madi.
"Ngamuk?" tanya Cia tak percaya.
"Iya, Non Cia. Bidadarinya suka ngamuk.
Cia terdiam beberapa saat setelah mendengar perkataan Pak Madi.
...___***___...
... ...
Langkah Cia yang pelan itu kini melangkah di anakan tangga menuju ruangan bawah tanah tepatnya ke kamar bidadari.
Wajah Cia masih murung, di pikirannya itu masih terlintas perilaku Ogi tadi di halte. Cia tak mengerti mengapa Ogi berlutut hanya untuk memintanya menjadi seorang sahabat. Sepertinya otak Ogi yang fuckboy itu semakin gila.
Langkah Cia terhenti tepat di depan pintu masuk kamar bidadarinya itu yang nampak tertutup rapat. Cia menarik nafas panjang lalu segera menggerakkan gangang pintu berwarna kuning emas itu.
Pintu terbuka memperlihatkan tubuh lemas bidadari yang nampak ditutupi oleh rambut panjang bidadari yang hitam. Baju putihnya nampak terlihat kotor tak ada bedanya disaat pertama kali Cia melihatnya dulu. Yang lebih parah lagi kaki bidadarinya yang berdarah itu nampak dipasung serta tangannya yang diikat dengan rantai besi berkarat.
Mata Cia yang terbelalak kaget itu kini terasa hangat membuat pengihatannya kabur dihalangi genangan air mata yang menyelimuti mata putihnya.
Cia tak tahu mengapa kondisi bidadarinya itu seperti ini. Seingat cia, bidadarinya itu baik-baik saja disaat mereka terakhir bertemu.
Dengan lari yang cukup kencang Cia segera menghampiri bidadarinya itu yang kini mulai mengangkat pandangannya, menatap wajah Cia yang kini menangis tersedu-sedu sambil berusaha membuka pasung dengan susah payah.
"Kak bidadari!!! Kenapa?" tanya Cia yang kini sudah menangis.
Cia menyentuh permukaan pasung itu berusaha membukanya namun suara jeritan sakit berhasil lolos dari bibir bidadarinya. Cia tahu kaki bidadarinya itu sakit karena di tekan oleh pasung kayu yang begitu sangat erat.
Cia terdiam dengan tangisnya, menatap pasung itu yang nampak digembok. Cia yang ngos-ngosan itu kini bangkit dari lantai lalu segera berlari menuju rantai yang nampak begitu erat mengikat kedua tangan bidadari menjadi satu.
"Aaaaaaaaa!!!" teriak Cia dengan sekuat tenaga berusaha membuka rantai besi itu.
Cia menangis sejadi-jadinya, usahanya itu hanya sia-sia dan tak berhasil membuat rantai itu terbuka.
"Kak bidadari kenapa dipasung?" tanya Cia.
"Kenapa Kak bidadari nggak nolak buat di pasung?"
"Kenapa Kak?"
"Kakak ini bukan orang gila yang harus di pasung."
"Harusnya Kakak marah!"
"Kenapa...kenapa Kakak nggak marah?"
"Kakak ini bukan orang gila," ujaran Cia itu terlontar dengan nada kesalnya. Cia tak tauh mengapa ia sangat kesal bahkan Cia seakan ingin memukulnya sendiri karena tak pernah datang bertemu dengan bidadari hingga membuat bidadari dipasung seperti ini.
"Ke...ke...kenapa Kak?" tanya Cia degan suara gemetarnya.
Cia terdiam beberapa saat membiarkan tangannya mengusap pipinya yang basah karena air mata.
"Kakak bidadari nggak boleh dipasung," ujar Cia lalu kembali berusaha membuka pasung itu dengan menariknya.
Bidadari hanya terdiam lalu perlahan air matanya ikut jatuh membasahi pipinya yang kotor itu. Apakah ia mengerti dengan ucapan Cia?
Cia terdiam lalu segera memeluk tubuh lemas bidadari itu, menyandarkan kepalanya di atas dada bidadari lalu segera menangis sejadi-jadinya mencurahkan isi kesedihannya. Kini Cia merasakan hanya bidadari lah yang mampu membuatnya nyaman ketika semuanya menjauh, menjauh dari hidupnya.
"Kak bidadari," panggil Cia sambil menatap kedua sorot mata bidadarinya yang ikut memerah, sepertinya kedua mata itu telah lelah menangis.
"Siapa yang udah buat kakak nangis?"
"Kakak nggak boleh nangis!"
"Kakak nggak pantas buat nangis."
"Cia nggak tahu mau ngomong hal ini sama siapa lagi."
"Semuanya kayak sengaja menjauhi Cia."
"Sahabat Cia sekarang udah pacaran sama orang yang Cia suka."
"Cia udah kasih tahu Ayah tentang hal ini, tapi kayaknya dia nggak ngerti masalah yang kayak ginian."
Ucapan Cia kini terhenti digantikan oleh suara tangisan Cia yang memenuhi ruangan bawa tanah ini.
"Cia," panggil seseorang dari luar pintu sambil menatap Cia yang masih memeluk tubuh bidadari.
Cia menghentikan tangisannya lalu segera menoleh menatap orang yang baru saja menyebut namanya. Cia segera bangkit dari lantai lalu terdiam menatap Abraham yang kini menatapnya dengan tatapan penuh berwibawa.
...____***____...
"Saya sama sekali nggak ngerti, Pak Brahmana. Kenapa? Kenapa Kak Bidadari harus di pasung seperti itu?" tanya Cia kesal.
Kini keduanya nampak duduk di sebuah sofa berwana hitam. Cia tak pernah masuk ke dalam ruangan ini yang seakan menggambarkan sosok Abraham yang berwibawa.
"Pak, bidadari juga manusia. Dia juga butuh kasih dan sayang. Bidadari bukan hewan yang diikat dan dipasung kayak gitu."
"Bidadari bukanya putri bapak tapi kenapa-"
"Cia," sebut Abraham membuat Cia terdiam.
"Dia ngamuk Cia," ujar Abraham memotong ucapan Cia.
"Tapi nggak harus dipasung juga Pak?" tanya Cia cepat berhasil membuat Abraham kini hanya mampu terdiam .
"Emang kalau orang ngamuk harus dipasung kayak gitu?" tanya Cia membuat Abraham terdiam.
"Pak," panggil Cia.
"Bidadari bukan orang gila yang harus di pasung." Tatap Cia tajam.
"Dia gila," ungkap Abraham.
"Nggak!" bantah Cia cepat, menyambar begitu saja.
"Tapi putri saya memang gila."
"Nggak! Nggak! Nggak!" bantah Cia lagi sambil menutup kedua telinganya.
Kini Abraham terdiam.
"Bidadari nggak gila!" ujar Cia sambil menggeleng pelan.
"Bidadari beneran nggak gila, Pak! Percaya sama Cia."
"Cia tahu itu."
"Di mata Cia, bidadari bisa ngerasain apa yang Cia rasain."
"Bidadari ngerti apa yang Cia omongin Pak Brahmana, bidadari ngerti!" oceh Cia sambil menangis.
"Cia," ujar Pak Abraham memotong ucapan Cia. Cia kini terdiam mematung menatap Pak Abraham yang kini menarik nafas panjang.
"Terserah kamu bilang apa."
"Kamu nggak tahu kan, kalau dia ngamuk dan mukul Naini sampai dia koma di Rumah Sakit kemarin?"
"Hah?" Tatap Cia tak percaya.
Cia sama sekali tak menyangka jika bidadarinya itu telah melakukan hal itu kepada Naini. Cia ingat betul dengan wanita setengah baya itu, Naini yang selalu berusaha menyuapi bidadarinya itu setiap hari bahkan sering kali mendapat tamparan dan pukulan oleh bidadari sekarang masuk Rumah Sakit.
"Tapi-" ujar Cia masih tak menyangka.
"Dia gila! Putri saya memang gila," potong Abraham berusaha meyakinkan Cia.
"Tapi dia nggak pernah mukul Cia, Pak. Bidadari nggak pernah mukul Cia."
Abraham mengangguk, Abraham mengerti apa maksud Cia yang telah Cia ucapkan sejak tadi kepadanya.
"Saya ingin memberi tawaran untuk kamu."
"Tawaran apa, Pak?" tanya Cia.
"Saya mau kamu tinggal di sini untuk menemani putri saya, yah saya tahu kami semua ini masih baru di Jakarta, tetapi sepertinya cuman kamu yang bisa dekat dengan putri saya."
"Putri saya rasanya nyaman dan suka sama kamu," tambah Abraham lagi.
Cia kini hanya mampu terdiam setelah mendengar tawaran dari Pak Abraham. Cia tak mungkin tinggal di rumah megah ini dan merawat bidadari, Devan tak akan mengijinkannya untuk tinggal di sini.
"Bagaimana?" tanya Abraham.