
Cia yang mendengar suara Fatima itu segera bangkit dari sofa lalu dengan langkah cepat ia menuju ke arah pintu kamar Fatima yang tertutup rapat lalu membukanya dengan perlahan seperti orang yang sedang mengintip.
Dari dalam kamar yang terlihat disinari cahaya lampu itu membuat Cia mampu melihat tubuh Fatima yang terbaring di atas kasur.
Fatima menoleh menatap Ke arah pintu.
"Cia!" panggil Fatima dengan suara yang terdengar merintih.
Cia kini tersenyum lalu segera membuka lebar pintu kamar Fatima dan segera melangkah masuk.
"Apa Ma?" tanya Cia dengan nada lembutnya.
"Ciaaaa," panggil Fatima lagi.
Cia tersenyum setelah duduk di pinggir kasur ia mengusap pelan rambut Fatima yang telah beruban itu. Fatima membuka kedua matanya yang sedari tertutup rapat itu. Fatima kini meraih jari-jari Cia setelah merasakan sesuatu mengusap kepalanya.
Cia mampu merasakan kehangatan yang sekarang tengah menyelimuti punggung jari-jarinya dari genggaman tangan Fatima.
"Cia...aaa!" panggil Fatima lagi, terdengar merintih.
"Apa Ma?" tanya Cia dengan nada lembut.
Fatima tak menjawab membuat Cia kembali mengusap rambut Fatima dan tersenyum penuh kasih dan sayang.
"Mama mau minum?" tanya Cia dengan suaranya yang pelan. Ia tak mau membuat Fatima menjadi risih dan terganggu dengan suaranya yang selalu terlontar dengan kasar.
Fatima tak menjawab lagi pertanyaan Cia namun, jari-jarinya bergerak berusaha mengelus jari-jari Cia yang Fatima raih dari kepalanya dan menggenggamnya dengan erat.
"Ciaaa," panggil Fatima.
"Iya Ma, Mama mau apa?" tanya Cia.
"Ci....aaaa." Suara putus-putus itu terdengar serak memanggil nama Cia.
Fatima memejamkan kedua matanya dan mimik wajahnya terlihat sangat gelisah. Cia kini menyentuh dahi Fatima yang panas dan berkeringat cukup banyak. Demam Fatima tak kunjung reda walau telah diberi minum obat dan di kompres. Apakah Fatima kembali demam? Devan pernah mengajak Fatima untuk periksa ke rumah sakit namun, Fatima menolak ajakan Devan dengan mentah-mentah.
Cia yang merasakan panas di dahi Fatima dengan perlahan melepas genggaman jari-jari Fatima dan mulai memeras handuk kecil di dalam baskom berukuran kecil dengan air hangat. Cia sangat berharap dengan kompres ini bisa menurungkan demam Fatima.
"Ma, Cia kompres dulu yah," ujar Cia.
Tak menuggu jawaban atau persetujuan dari Fatima, Cia kini meletakkan lipatan memajang dari handuk kecil yang hangat itu ke dahi Fatima dan mengelus kain kecil itu dengan lembut.
"Ma!" panggil Cia.
"Ciaaaaa!" panggil Fatima.
"Apa Ma? Mama mau ke rumah sakit? Kita ke rumah sakit yah? Cia panggil Ayah yah buat bawah Mama ke rumah sakit?"
"Cia," panggil Fatima.
Jari-jari Fatima meraba ke atas berusaha mencari tangan Cia. Dengan cepat Cia meraih jari-jari Fatima dan menggenggamnya dengan erat.
"Cia di sini," ujar Cia memberitahu sambil meraih tangan Fatima dan menggenggamnya dengan erat.
"Kita ke rumah sakit yah? Mama mau kan?" tanya Cia.
"Maa," langgil Cia lagi.
"Ciaaaa!" panggil Fatima tapi kini sudah terdengar lebih jelas.
Cia kini merebahkan tubuhnya ke kasur lalu segera memeluk tubuh Fatima yang kini telah mengurus karena sakitnya yang tak kunjung redah hingga nafsu makan Fatima juga ikut menurun.
"Ma!" panggil Cia yang kini menatap wajah Fatima dengan jarak yang dekat.
Fatima tak menyahut, kedua matanya terlihat tertutup.
"Ma!" panggil Cia lagi.
"Mama," panggil Cia namun, kini dengan nada khawatir.
"Mamaaa!!!" teriak Cia membangkitkan sedikit kepalanya di dada Fatima dengan nafas yang sesak menatap serius ke arah wajah Fatima yang kini masih menutup matanya.
Fatima tak bersuara sedikit pun membuat Cia panik.
"Ma...Mama!!!" teriak Cia dengan sangat takut.
"Ciaaa," sahut Fatima.
Cia menghembuskan nafas legah dengan setelah mendengar suara yang di keluarkan oleh Fatima, Mamanya itu baik-baik saja dan akan terus baik-baik saja. Cia kini semakin memeluk tubuh Fatima dengan erat dan jari-jari tangan kanannya membelai lembut pipi kanan Fatima yang telah keriput.
"Cia sayang banget sama Mama," ujar Cia.
Tak ada jawaban dari Fatima, kini suasana terasa sunyi dan sepi.
"Ma!" panggil Cia lagi.
Tak ada jawaban dari Fatima.
"Mamaa!!!" panggil Cia lagi sambil mengerakkan kepalanya menatap wajah pucat Fatima yang terlihat begitu lemah .
"Mama!!!" panggil Cia setengah berteriak.
"Iya Cia..aaa," jawab Fatima dengan suara samar-samar namun masih bisa terdengar jelas di telinga Cia.
Cia kini tersenyum setelah lagi dan lagi Mamanya itu menjawab panggilannya. Cia kini memeluk kembali tubuh Fatima yang terasa hangat itu.
"Ma Mama dengar Cia kan? Cia sayang sama Mama."
"Cia sayang banget sama Mama."
"Ma, walaupun Mama itu bukan Mama kandung Cia dan Mama ini sebenarnya cuman Nenek Cia tapi Cia ngerasa kalau Cia punya Mama kandung."
"Apa yang selama ini selalu Mama lakuin ke Cia itu telah mengganti sosok Mama buat Cia."
"Salama ini Mama yang selalu ngikat rambut Cia setiap hari walaupun Cia udah gede."
"Masakin Cia setiap hari sarapan."
"Cuciin baju Cia."
"Maafin Cia yah Ma kalau Cia punya banyak salah sama Mama."
"Cia sekarang sadar kalau Cia lebih butuh Mama dari pada Ibu kandung Cia. Sekarang Cia nggak bakalan lagi mau nanyakin tentang Ibu kandung Cia."
"Ma! Cepat sembuh yah, Cia capek makan nasi hangus terus."
"Ayah nggak tahu masak, Ma."
"Ma, Mama."
"Mama," panggil Cia lagi lalu menggerakkan kepalanya yang masih bersandar di dada Fatima.
Tiba-tiba cahaya kilat terlihat dari luar jendela diiringi suara gemuruh yang begitu nyaring membuat Cia menjerit lalu memeluk tubuh Fatima. Cia memejamkan kedua matanya itu dengan jantung Cia begitu berdetak sangat cepat ditambah tubuh Cia yang gemetar hebat.
Bruak
Pintu jendela terhempas ke dinding dengan sangat keras membuat Cia kembali memeluk tubuh Fatima. Hawa dingin yang berhembus itu berhembus kencang memasuki ruangan kamar.
Beberapa detik kemudian Cia membuka kedua matanya lalu menatap ke arah jendela yang terbuka, dengan sigap Cia bangkit dari kasur lalu melangkah ke arah jendela. Cia mendongak menatap langit yang terlihat cukup gelap, tak ada kerlap-Kerlip bintang satupun yang menghiasi langit gelap itu bahkan beberapa pohon yang Cia lihat terlihat bergoyang diterpa hembusan angin. Sepertinya akan turung hujan, itu yang Cia pikirkan sekarang.
Cia menutup jendela dan menguncinya. Cia menarik kain gorden itu membuat jendela kaca yang memperlihatkan pemandagan di luar itu tertutup. Cia kini menghela nafas lalu memutar tubuhnya menatap Fatima yang masih terbaring di atas kasur dan tak pernah membuka kedua matanya.