
"Lo bisa kan putus sama pacar lo itu?" tanya salah satu siswi itu lagi.
Cia menganga, tak menyangka. Ucapan macam apa yang baru saja tetangga kelasnya itu katakan kepadanya? Cia tak mungkin mengatakan jika ia akan memutuskan hubungan dengan Devan, mereka pasti akan semakin mengejar-ngejar Ayahnya itu.
"Hah?!!! Gila lo, yah? Hahahaha." Cia tertawa garing sementara mereka semua terdiam menatap Cia yang tertawa di tengah-tengah keheningan. Perlahan tawa Cia terhenti lalu ikut memasang wajah datar. Rasanya ia seperti orang asing diantara mereka semua.
"Bagaimana?" tanya salah satu dari mereka.
"Gue nggak bisa!" ujar Cia singkat lalu memutar tubuhnya, melangkah keluar dari kerumunan itu.
"Cia tunggu!! " teriak seseorang.
Dengan spontan Cia menghentikan langkahnya lalu tak lama salah satu siswi itu menghampirinya dan meletakkan sebuah coklat serta biskuit yang sempat jatuh ke lantai.
"Jangan lupa kasi idola gue!" bisik siswi itu dengan pipi yang memerah, karena malu.
Cia hanya terseyum hambar lalu kembali melangkah meninggalkan kerumunan siswi itu yang kini saling berbisik.
Langkah Cia pelan melangkahkan kakinya ke lantai melewati Adelio yang kini masih menatapnya. Tatapan Cia nampak kosong, tubuhnya nampak di usahakan kuat memeluk titipan ini.
Cia sesekali menunduk menatap ribuan titipan dari berbagai jenis itu. Apakah ini serius untuk Ayahnya?
Cia melangkah masuk ke dalam kelasnya, ada Bu Nani di sana. Yah mungkin pak Adam telah selesai memberikan pelajaran matematika dan digantikan oleh Bu Nani yang kini terdiam menatap kaget dengan apa yang Cia bawa masuk ke dalam ruangan kelas.
Semua terdiam menatap Cia dengan tatapan serius. Mata Cia nampak membulat sempurna menatap kaget ke arah mejanya yang nampak dipenuhi dengan bunga, coklat, makanan ringan bahkan ada boneka beruang berukuran besar di sana.
"Cia!" panggil Bu Nani kegirangan lalu bangkit dari kursinya menghampiri Cia sambil membawa sebuah kotak bekal.
"Cia! Ini buat pacar kamu!" Bu Nani menjulurkan kotak makan itu dengan tatapan yang berbinar, begitu sangat bahagia.
"Aa?" Tatap Cia tak mengerti.
"Yang datang di acara ulang tahun Loli, itu pacar kamu kan?" tanya Bu Nani memperjelas.
"I...iya, Bu," jawab Cia terbata-bata.
"Kamu kasih kue brownis spesial ini, yah! Ini itu Ibu buat dengan Cinta jadi rasanya pasti enak. Tolong kamu kasih ke pacar kamu, yah!" jelasnya dengan wajah yang begitu sangat bahagia, bahkan Cia tak pernah melihat gurunya itu sebahagia ini.
"Tapi itu bener pacar kamu?"
Cia melongo, tak menyangka. Apakah Bu nani juga suka dengan Ayahnya itu. Ah ini tidak mungkin. Cia hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Bu Nani yang baru saja membuatnya terkejut.
"Ini Bu Nani punya kue coklat yang enak, tolong di kasi, yah!"
"Aa?" Tatap Cia semakin tak menyangka.
Bu Nani dengan rasa semangatnya itu mulai meletakkan kotak makanya yang berwarna pink itu di atas tumpukan titipan dari siswi-siswi tadi. Beberapa coklat nampak berjatuhan di tekan beratnya kotak makan. Namun, dengan cepat Bu Nani meraihnya dari lantai dan kembali meletakkanya di pelukan Cia sambil tertawa.
"Sudah sana duduk!" pintahnya lalu memutar tubuh Cia dan sedikit mendorongnya membuat Cia melangkah.
"Eh kamu juga Adelio!" Tunjuk Bu Nani sembari menatap Adelio yang berdiri di pintu masuk.
Cia melangkahkan kakinya pelan ke lantai putih ruangan kelas. Tumpukan coklat, bunga dan berbagai jenis cemilan di mejanya itu, apakah itu semua titipan untuk Ayahnya yang mereka jadikan idola?
Cia masih tak menyangka jika rencananya yang hanya menjadikan Devan sebagai pacar pura-puranya diacara ulang tahun Loli kini membuatnya dalam masalah baru. Cia tak menyangka jika mereka semua bisa jatuh cinta dengan Devan, Ayahnya.
Cia hanya mampu menghela nafas berat sembari terus melangkah dengan wajahnya yang terlihat datar, pikirannya kini tertuju pada Devan
"Gue nggak pernah *nyangka semua ini bakalan tejadi."
"Apa ini serius*?"
"Untuk pertama kalinya gue sadar, kalau Ayah gue lebih ganteng dari apa yang gue pikirin."
"Untuk pertama kalinya gue sadar, cowok yang tiap hari gue ajak berantem ternyata diincar orang banyak."
"*Sekarang gue harus apa?"
"Ini semua karena kesalahan gue. Gimana kalau misalnya mereka sampai tahu kalau Devan itu bukan pacar gue tapi Ayah gue!"
"Gue nggak tahu lagi harus ngapain!"
"Ini yang namanya Father or Boyfriend*!"
Sreak!!
Suara gemuruh dari ratusan titipan itu berhambur di atas meja membuat semua siswa dan siswi menoleh menatap ke arah Cia.
Cia menoleh menatap mereka semua dengan tatapan Cia yang tak enak karena telah membuat keributan.
"Sorry," ujar Cia dengan nada berbisiknya.
"Nggak apa-apa kok!" jawab Bu Nani sembari tersenyum.
Cia hanya tersenyum dengan wajah kebingungan. Baru kali ini Bu Nani tak marah.
Cia kini duduk ke bangkunya dan menatap semua titipan itu.
"Wah, ini kalau dijual bisa beli gaun di mall Brahmana nih." Senyum licik Cia membias dari wajahnya menatap kagum dengan titipan ini.
"Cia, lo tau nggak? Banyak banget yang datang terus bawa makanan ke sini," bisik Fika begitu semangat.
"Oh, yah?" Tatap Cia yang masih tak menyangka.
"Iya, Cia, gue serius. Hampir semua loh yang datang."
Cia hanya terdiam masih memikirkan titipan itu.
Cia kini tersadar ketika tubuh Adelio yang berniat duduk di kursi sedikit menyentuh tubuh Cia yang masih berdiri dengan pikiran liciknya.
Kini Adelio terduduk di kursi milik Cia yang berada di samping jendela sambil menyingkirkan beberapa jenis coklat di mejanya.
Fika tersenyum, dengan pelan ia duduk di kursi miliknya yang berada di tengah-tengah, tempat Cia biasa duduk.
"Cia, gue duduk di sini, yah!" ujar Fika tersenyum.
Cia hanya mengangguk, mengiyakan ucapan Fika. Mungkin ini cara untuk mereka semakin dekat. Cia bingung dengan Adelio, mengapa ia tak jujur saja dengan Fika jika Adelio memang suka.
Cia yang kini duduk di samping Fika kini membuka tasnya lebar-lebar lalu dengan wajah liciknya itu memasukkan ribuan coklat, bunga, cemilan dan boneka.
Cia mengkerutkan alisnya menatap boneka beruang berbulu coklat dengan pita berwarna pink. Entah siapa yang telah mengorbangkan uangnya untuk membeli boneka beruang sebesar ini dan apa ini semua untuk Ayahnya? Cia menggeleng pelan. Wah, Ayah Cia bukan Anak kecil yang suka main boneka tapi mereka pasti akan mengorbankan apa pun untuk meluluhkan hati Ayahnya itu. Jika boneka ini dijual mungin harganya bisa sampai jutaan, yah, pikiran licik Cia kini mulai berkembang.
Cia meletakkan tas yang sudah penuh itu ke lantai tepat di samping kursi milik Fika yang kini harus berbagi dengan Cia. Cia menepuk pelan tasnya yang nampaknya siap meletus karena dipenuhi dengan titipan itu. Cia tak peduli jika coklat serta ribuan jenis cemilan itu hancur di dalam sana.
Suara bel berbunyi menandakan jam memasuki waktu istirahat untuk SMA Garuda bangsa. Ribuan siswa dan siswi dari berbagai tingkatan berbondong-bondong ke kantin untuk mengisi lambung mereka yang kosong. Beberapa ada yang nampak ke perpustakan, taman sekolah, belakang kantin, lapangan basket dan masih banyak lagi.
Bu Nani segera merapikan buku bimbingan pelajaran lalu melangkah keluar ruangan setelah berpamitan dengan murid-murid.
Cia memasukkan buku catatannya ke dalam laci meja dimana puluhan bukunya terkumpul di sana.
"Cia!!!"
"Cia!!!"
"Cia!!!" Suara teriakan itu terdengar membuat Cia tersentak kaget dan menoleh berusaha mencari asal suara itu.
Gerombolan gadis-gadis itu nampak berlari masuk ke kelas sambil membawa coklat, bunga dan berbagai jenis cemilan yang tak jauh beda yang ada di dalam tas Cia. Cia terbelalak kaget, entah dari mana gerombolan gadis-gadis ini berasal dan kini berlari menerobos Yuna yang berusaha menahan gerombolan itu di pintu masuk.