
Keduanya kini melangkah berdampingan di lorong kelas melewati beberapa pintu kelas yang kini sudah tertutup rapat.
Cia dan Adelio memutuskan untuk kembali ke sekolah setelah menghabiskan waktu di rumah sakit.
Sekarang jam sudah menunjukan pukul 3 sore dan yah pasti semua siswa dan siswi Garuda bangsa sudah dipulangkan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
Lorong kelas kini terasa sunyi dan yang terdengar hanya langkah ketukan sepatu yang mendarat di lantai sekolah. Cia menghentikan langkah lalu menatap jaket yang terikat di pinggangnya itu terasa longgar.
"Lio!" panggil Cia membuat Adelio yang kini masih melangkah terhenti.
"Kenapa?"
"Gue ke toilet dulu, yah," ujar Cia.
"Mau saya tunggu?" tanya Adelio.
"Nggak! Nggak usah! Lo masuk duluan aja ke kelas nanti gue susul!" ujar Cia.
Adelio mengangguk diiringi senyuman dari bibirnya. Adelio kini terdiam sambil menatap Cia yang kini berlari menuju toilet yang tak terlalu jauh darinya.
"Kalau dia menoleh, berarti dia suka sama aku." Pikir Adelio menatap harap ke arah Cia yang masih berlari.
"Liat aku Cia! Ayo liat aku!"
"Aku mohon!"
Cia masih terus berlari tanpa menoleh menatap Adelio namun, Adelio tetap menanti Cia di belakang sana sembari terus menatap Cia dengan tatapan penuh harap.
"Ayo Cia!"
Adelio menelan ludah sambil menarik nafasnya yang sesak di dadanya. Rasanya Adelio masih mengharap agar Cia menoleh menatapnya. Cia sangat berharap jika Adelio menoleh untuknya.
"Satu!"
"Dua!"
"Tiga!" Hitung Adelio.
Cia yang sedari tadi masih berlari kini menoleh menatap Adelio yang nampak tersenyum lebar di sana. Adelio tak menyangka jika Cia akan menoleh untuknya.
Senyum Cia terlihat mengembang dari kejauhan menatap Adelio yang masih terdiam di sana. Adelio ikut tersenyum sembari menatap senyum Cia yang berada di kejauhan namun cukup jelas bagi Adelio.
"Ngapain di situ?" tanya Cia mengeraskan suaranya hingga suara Cia menggema.
Adelio tertunduk sejenak lalu menggeleng setelah menatap Cia.
"Udah sana masuk!" pintah Cia lalu kembali membalikkan tubuhnya menuju toilet.
Adelio tertawa kecil sambil mengacak-acak rambutnya sendiri seakan merasa bodoh hari ini. Bagaimana mungkin perasaan suka seseorang hanya dilihat dari ia menoleh atau tidak.
Adelio kini memutar tubuhnya lalu melangkah ke arah kelas. Ia tak henti-hentinya tersenyum seperti orang gila yang sudah kehabisan akal. Untung saja tak ada orang di sini, jika ada mungkin ia sudah mengira Adelio gila karena senyum-senyum sendiri.
"Sadar Adelio!"
"Sadar!"
"Cia punya pacar!" ujar Adelio sambil memukul lembut kedua pipinya.
Langkah Adelio terhenti menatap seorang gadis yang nampak terdiam sambil duduk di atas sebuah meja tak jauh dari tasnya dan tas milik Cia.
Adelio menghentikan langkahnya lalu memperhatikan gadis yang masih duduk itu. Entah siapa gadis yang duduk sendiri di dalam kelas yang sunyi tanpa seorang yang menemani. Tak lama Gadis berkaca mata itu menoleh menatap Adelio dengan mata yang sembab seperti orang yang telah menangis dengan rambut yang nampak acak-acakan.
Kedua mata Adelio terbelalak kaget setelah mengetahui siapa gadis yang duduk di bangkunya, Fika, yah dia yang ada di sana.
Adelio tak mengerti mengapa Fika berada di dalam kelas sendirian tanpa ada seseorang yang menemaninya dan ada apa dengan Fika yang terlihat seperti orang yang habis menangis.
Fika bangkit dari meja lalu menatap Adelio dengan wajah sedihnya. Senyum Fika tercipta seakan begitu bahagia menatap kedatangan Adelio.
"Fika." Suara kecil Adelio terdengar samar-samar.
...___***___...
Cia melangkah keluar dari toilet setelah merapikan jaket Adelio yang terasa longgar tadi. Cia melangkahkan kakinya ke lantai menuju kelas sambil tersenyum. Cia masih bingung mengapa hari ini perasaanya terasa sangat bahagia. Apakah karena Adelio si pria pendiam dan baik hati itu?
Langkah Cia terhenti tepat di pintu masuk menatap Adelio dan Fika yang kini saling bertatapan. Dengan cepat Cia bersembunyi di balik pintu dengan tatapan terkejutnya.
Cia tak mengerti mengapa ada Fika di sana dan kini ia sedang berdiri tepat di depan Adelio. Entah mengapa ini terjadi? Bukankah Fika seharusnya sudah pulang?
Cia menggerakkan tubuhnya bersembunyi di balik pintu lalu sedikit mengintip ke arah Fika dan Adelio yang kini masih bertatapan muka. Wajah Fika terlihat sangat serius dengan mata yang sembab tanpa pernah berhenti mengalihkan tatapannya.
"Gue mau ngomong sama lo," ujar Fika dengan suaranya yang terdengar serak.
Cia tetap terdiam sambil terus menatap ke arah Fika. Entah apa yang akan dikatakan Fika kepada Adelio.
"Apa?" tanya Adelio.
Fika menghembuskan nafas berat setelah menarik nafasnya dalam-dalam. Cia mengigit bibirnya seakan takut dengan apa yang akan dikatakan oleh Fika.
"Gue suka sama lo," ujar Fika.
Cia terbelalak setelah mendengar ucapan Fika. Mulut Cia nampak menganga seakan tak percaya jika sahabatnya itu baru saja menyatakan perasaanya kepada Adelio si pria pendiam.
Cia menyandarkan tubuhnya ke dinding lalu menyentuh dadanya yang terasa sakit, entah apa alasan dada ini terasa sakit setelah mendengar ungkapan Fika. Cia menutup mulutnya yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Apa ini benar terjadi? Apa ini mimpi?
Cia kembali mengintip menatap Fika dan Adelio yang kini masih bertatapan muka di sana, mereka masih terlihat sangat serius.
"Aku..."
Cia menutup telinganya cepat seakan tak mampu mendengar jawaban yang akan dilontarkan Adelio kepada fika. Ini rasanya aneh tapi rasanya Cia tak mampu mendengar jawaban dari Adelio. Mungkinkah Adelio akan menerima perasaan Fika dan membuat mereka menjalin sebuah hubungan, pacaran? Hah!!! Apa mereka akan pacaran setelah ini?
Cia menarik nafas panjang, menutup kedua matanya yang terasa panas lali mengigit bibir bawahnya cukup kuat lalu kembali mengintip menatap ke dalam kelas.
Mata Cia terbelalak menatap Adelio dan Fika yang kini saling berpelukan cukup erat di dalam sana. Seakan disambar petir Cia melihat kejadian ini.
Cia menutup mulutnya dengan jari-jarinya seakan tak menyangka. Apa pelukan itu adalah sebuah jawaban jika mereka kini telah berpacaran ditambah lagi Fika yang nampak menangis, mungkinkah tangisan Fika itu adalah tangisan kebahagiaan saat mengetahui jika Adelio juga menyukainya.
Cia melangkahkan kakinya mundur, menjauh dari pintu masuk. Nafas Cia seakan sesak seperti ada yang menghantam dadanya cukup keras hingga rasa sakit sakit itu muncul begitu saja.
Cia berlari dengan cepat meninggalkan Adelio dan Fika yang masih berpelukan di dalam sana.
Cia yang masih berlari itu kini hanya mampu menangis sejadi-jadinya, rasanya begitu sangat menyakitkan. Cia tahu jika ia dan Adelio tidak memiliki hubungan apa-apa tapi di hati Cia ada sebuah rasa yang membuatnya berhasil menangisi apa yang telah terjadi di sana.
Cia menyandarkan tubuhnya di dinding tepat di samping gudang sekolah yang pastinya tak ada orang di sana. Cia menghempas tubuhnya begitu saja diiringi gesekan kasar dari belakang tubuhnya di permukaan dinding.