Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 27



"Maaf, Bu tapi, papan tulisnya masih bersih, Bu." Faririn menunjuk.


Adelio menatap Cia yang nampak menggaruk dahinya pelan. Adelio tau jika, gadis itu tak punya buku untuk dipakai menulis tugas yang akan diberikan oleh Bu Lia. Ini memang kesalahannya jika, saja ia tak membawa tas gadis itu pulang ke rumah dan mencucinya pasti Cia tak akan kebingungan mencari tasnya seperti ini. Rasanya Adelio belum siap memberi tau Cia jika, tas hitamnya itu ada di rumahnya, ditambah lagi gadis itu selalu marah-marah.


Adelio meraih buku yang masih baru itu dari tasnya lalu meletakkan di meja tepat di hadapan gadis itu. Kedua alis cia mengerut menatap buku yang diletakkan murid baru bernama Adelio itu. Cia menoleh, dengan cepat Adelio menatap jendela menghindari tatapan Cia.


"Pulpennya Mana ?"


Jam 9 : 30 menunjukan waktu istirahat SMA Garuda bangsa. semua murid-murid bergegas ke kantin untuk mengisi lambung mereka yang kelaparan. Ada beberapa murid yang nongkrong di belakang kelas, di bawah pohon pinggir lapangan, di taman sekolah dan perpustakaan.


"Yuna !" Panggil Cia menghampiri.


Langkah Yuna terhenti menatap serius Cia yang sudah ada di hadapannya. Rasanya berhadapan dengan murid paling berandal di kelas bahkan di sekolah merupakan hal yang paling langkah yang Yuna lakukan. Entah kesalahan apa yang ia telah perbuat kepada Cia sehingga Cia memanggilnya.


"Si Fika sakit ?" tanya Cia tanpa basa-basi.


"Nggak tau," jawab Yuna cepat.


"Ada surat atau apa gitu ?" Tanya Cia penuh serius.


Yuna menggeleng cepat membuat Cia menghembuskan nafas panjang disusul kepergian Yuna bersama dengan Faririn dan Cahaya yang menunggunya di pintu masuk kelas.


Entah kemana Fika sekarang ? Kini pertanyaan itu terus terngiang dipikiran Cia. Jika, sudah seperti ini cara lain untuk mencari Fika adalah mendatangi rumahnya. Cia pernah ke sana ketika kerja kelompok seni budaya dan mungkin Cia perlu menghampirinya langsung.


Cia mengangguk, ia harus pastikan jika, Fika itu baik-baik saja tapi, bagaimana caranya Cia ke sana sedangkan Cia tak bawa motor ke sekolah. Jika, mengajak Andi ke rumah Fika pasti Andi akan memberi tau Devan jika, ia ke rumah Fika tanpa seizin Ayahnya.


Cia melirik Adelio si irit ngomong itu, mungkin pria ini bisa membantunya lagipula dia juga tidak akan mengadu kepada Devan karena dia tidak mengenal Devan ditambah lagi dia orangnya irit ngomong. jika, kepadanya saja jarang bicara apa lagi memberi tau orang.


"Lo bawa motor ?" Cia berdiri di hadapan Adelio sembari menatap serius.


Adelio terdiam mendengar pertayaan itu. Mengapa tiba-tiba gadis pemarah ini mengatakan hal tentang itu kepadanya.


"Lo bawa motor nggak ?!!!" Teriak Cia.


"Iya." kalimat pertama yang Adelio ucapkan kepada gadis itu. Untuk pertama kalinya Adelio bicara dengan gadis Jakarta. Semoga saja ini adalah kata terakhir yang dia ucapkan tanpa sepengetahuan pacarnya.


Tanpa pikir panjang Cia menarik pergelangan tangan pria itu membuatnya bangkit dari kursi mengikuti langkah Cia yang masih menariknya keluar dari kelas. Jujur Adelio masih tak mengerti dengan gadis ini. Ia juga tak tau mau dibawa kemana dia oleh Cia, si gadis pemarah ini.


Tiba-tiba langkah Cia terhenti disusul Adelio yang ikut menghentikan langkahnya.


"Motor Lo dimana ?"


"Di... diParkiran."


"Aduh, kenapa disimpan di parkiran ?"


"Loh, terus ?"


Cia mendecapkan bibirnya mengeluh. Jika, sudah seperti ini harus bagaimana ? pak Martin pasti tak mengisinkannya keluar ditambah lagi pak Martin sangat membenci Cia karena ke nakalannya yang selalu membuat pak Martin marah.


"Lo bisa kan ambil motor Lo di luar, terus jemput gue di depan warung dekat sekolah ?".l


"Aa ?" Adelio mengkerutkan alisnya tak mengerti.


"Lo izin pulang sama pak martin ! Tuh !" Cia menunjuk pak Martin dengan seragam satpamnya yang duduk di samping gerbang membuat Adelio ikut menoleh menatap ke arah mana telunjuk gadis itu mengarah.


"Lo izin sama dia !"


"Izin apa ?"


"Yah, ampun ! Lo bilang ajah kalau, Lo sakit perut atau apa, kek ?"


"Tapi kan, gue nggak sakit."


"Yah, Lo tinggal bohong Ajah !" gemas Cia seakan ingin memakan Adelio di detik ini juga.


"Tapi kan, gue-"


Buk


"Hah !" Pria yang keluar dari perpustakaan itu terkejut dengan pukulan Cia yang memukul Adelio membuatnya mempercepat langkahnya, pergi.


Adelio sama sekali tak mengerti dengan Cia yang berhasil memukulnya tanpa ada sebab. Adelio melepas pegangan dari hidungnya dengan pelan setelah merasakan sesuatu yang hangat pada telapak tangannya. Mata Adelio membulat menatap darah yang mengalir dari lubang hidungnya itu.


"Ah, darah !!!" teriak Adelio sembari menatap darah segar di ujung jarinya dengan mata yang terbelalak. Adelio kembali menyentuh hidungnya berusaha untuk memastikan jika, yang ia lihat adalah salah namun, betul saja darah segar itu berasal dari lubang hidungnya.


Adelio dengan cepat menatap wajah Cia dengan serius seakan menanyakan apa kesalahannya.


"Lo kan nggak sakit jadi, gue pukul. Yah, udah sana Lo bilang sama pak Martin, kalau Lo tu sakit !"


"Hah ?" Tatap Adelio tak percaya jika, alasan Cia memukulnya hanya karena itu.


"Aa-"


"Heh, nggak ada penolakan !"


Adelio terdiam dengan tatapan herannya.


"Gue tunggu Lo di depan warung dekat sekolah !"


Cia berpaling meninggalkan Adelio yang mematung menatap Cia yang kini berlari.


Adelio menghela nafas panjang lalu kembali menyentuh hidungnya yang masih mengeluarkan darah. Untuk pertama kalinya ia dipukul dan untuk pertama kalinya seorang gadislah yang memukulnya. Dengan langkah sedang Adelio melangkah melintasi jejeran Pintu-pintu kelas sembari menutup darah di hidungnya .


Langkah Adelio terhenti ketika ia sudah berhadapan dengan Pak Martin yang menatapnya dengan serius.


"Siang, Pak."


"Kamu kenapa ?" Tanya Pak Martin cepat.


"Sa....sa... saya sakit, pak," ujarnya masih menutup hidungnya itu.


"Sakit apa ?"


Adelio melepas jari-jari dari hidungnya itu dengan perlahan membuat mata Pak Martin terbelalak menatap darah yang mengalir dari hidung Adelio.


"Loh, itu kenapa ?"


"Sa...saya mau izin pulang pak, boleh ?"


"Oh, iya, iya silahkan !"


***


Cia menyandarkan tubuhnya yang di permukaan tas hitam Adelio yang diletakkan di batang pohon kelapa tepat di samping warung makan setelah berhasil keluar dari sekolah lewat dinding belakang.


"Tuh, orang mana, sih ? Awas ajah kalau, nggak ke sini," gerutuh Cia kesal.


Wajah Cia sedari tadi gelisah berubah menjadi, girang setelah melihat Adelio yang menunggangi motor ke arahnya.


"Lama banget sih Lo ?" Cia membulatkan matanya lalu segera duduk di jok motor belakang Adelio. Adelio mengerutkan alisnya ketika menatap tas hitamnya ada pada bahu Cia. Sejak kapan gadis pemarah itu mengambil tasnya ?


"Jalan !" Pintah Cia membuat Adelio merasa jika, dirinya seperti supir ojek.


"Ke mana ?"


"Rumah Fika."


"Kamu nggak pake helm ?"


"Dah lah, jalan Ajah ! Banyak ngomong Lo, yah ?" ujarnya sinis sembari menepuk bahu Adelio.


Adelio memejamkan kedua matanya ketika Cia memukul bahunya. Mungkin bagi Cia ini hanya tepukan tapi, bagi Adelio ini pukulan keras. Entah mengapa gadis ini punya pukulan yang keras.


Adelio menghembuskan nafasnya dengan berat ketika pukulan itu mendarat di bahunya. Tanpa ada bantahan lagi Adelio memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang melintasi jalan beraspal.