
"Yoooooi dong, Ci. ekye udah nggak sabar mau makeover, Chiaaaa." Bujuk Baby.
Cia masih terdiam, memang yang Devan katakan tadi ada benarnya. Jika ia datang ke acara ulang tahun Loli dengan penampilan yang biasa saja pasti Loli akan mengejek dan menertawakannya seperti di kelas tadi, cia tak mau kejadian itu terjadi.
Cia melirik wajah sok seksi itu yang terpancar dari Baby. Apa Cia perlu menuruti permintaan Devan? Tapi melihat penampilan Baby dengan make up menor seperti itu rasanya sangat Cia ragu.
Jujur Cia sangat-sangat ragu. Cia malu jika hasil makeup yang baby lakukan sama seperti make up menor di wajah Baby.
"Ci!" panggil Devan lagi.
Cia menoleh menatap Devan dengan tatapan ragu.
Kini Cia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Apa Cia harus menolak? Tapi itu tak mungkin. Devan pasti akan memaksanya, terlebih lagi Baby yang kini sedang menantinya di depan cermin rias.
"Ci, lo mau kan?" tanya Devan.
Cia melirik Devan yang masih mengarahkan kursi itu ke arah Cia.
Cia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan dari ujung bibirnya lalu dengan perlahan Cia mengangguk mwmbuat Devan tersenyum.
"Ya udah, gue tunggu di luar, yah sekalian gue ambil motor di bengkel," ujar Devan lalu melangkah keluar dari kamar.
Cia terdiam menatap Devan yang kini melangkah jauh dan menghilang dari pintu masuk kamar.
Cia menghembuskan nafas berat. Semoga ini adalah keputusan yang tepat yang pernah Cia lakukan. Semuanya ada di tangan Baby.
"Cia!" panggil Baby.
Cia menoleh menatap Baby yang memegang sebuah gaun berwarna hitam.
"Pake ini!" bisik Baby.
Sentuhan spons make up menyentuh pelan kulit wajah Cia yang telah diberi foundation di kulit mulus wajah Cia.
Baby menarik pelan kelopak mata Cia lalu mendekatkan softlens berwarna hitam dengan ukuran besar ke arah bola mata Cia.
"Eh, apa tu?!!!" teriak Cia cepat sambil mendorong pergelangan tangan Baby.
"Ini tuh softlens biar mata Cia itu mhakin syulalalala."
"Ah nggak mau ah!!! Mana gede banget lagi, mana muat?"
"Muat keleeeeees." Baby melotot.
Cia menarik nafas panjang. Kali ini Cia takut, pasalnya Cia tak pernah mengunakan softlens sebelumya.
"Jangan gerak-gerak dong matanya, Ci!" pintah Baby kesal ketika bola mata Baby bergerak-gerak kekiri dan kekanan ketika Baby berusaha memasukkan softlens itu ke bola mata Cia.
"Gue takut!"
"Yah ditahan dong, Ci!" Kesal Baby.
"Yah Gue takut Bencong!!!"
"Aaaaaa!!! Please deh, Ciaaa!!!" jerit Baby.
"Ok, gue tarik nafas dulu!"
"Em," sahut Baby menatap Cia yang kini mengeluarkan udara berulang kali dari ujung bibirnya.
"Aaaaa!!!" Jerit Cia ketika softlens itu menyentuh bola matanya.
"Ihhhh nyebelin deh!" Garuk Baby kesal.
"Udah masuk belum?" Tatap Cia khawatir.
"Masuk apanya sih Ciiii?!!! Ih nyebelin deh ahhhh!!! Nih softlensnya masih ada di jari Baby."
"Yang bener dong, By!" ujar Cia kesal sambil memasang wajah sedih.
"Yah udah coba lagi !" Ujar Baby kesal.
Baby kembali menarik pelan kelopak mata Cia berusaha memasukkan softlens ke mata Cia.
"Aaaaaa!!!" jerit Cia.
"Tuh kan masyukkkkkk," ujar Baby kegirangan.
"Ahhhhhh perih!!!"
"Aduuuuh seabar dong! Emang kayak gitu thyu." Baby tersenyum lagi sambil mengibaskan jari-jarinya ke arah mata Cia.
"Aaaaaaaaaaa!!!" Tangis Cia pecah.
"Ih bikeeeeeees deh aaah!!! Jangan nangis dong, chwiiii! Foundationnya luntur thuuu," ujar Baby kesal sambil menghentakkan kakinya.
Polesan pensil alis berwarna hitam menyentuh permukaan alis mengikuti garis lengkung alis hitam Cia.
Baby mengeluarkan maskara dari koper ungunya lalu memutarnya berniat untuk membukanya sambil menatap Cia yang nampak memasang wajah takut di depan cermin.
"Apaan tuh?" tanya Cia cepat sambil mendorong tangan Baby yang memegang maskara.
"Ini maskara!" Baby melotot.
"Itu mau diapain?"
"Aduuuuhhh Ampung deh ah!!! Ciaaaaa diem ajah deh!" gerutuh Baby kesal.
Cia terdiam lalu mengigit bibir bawahnya.
Sisir maskara hitam itu nampak menyisir bulu mata Cia ke atas membuat bulu mata Cia nampak lebih hitam, panjang dan lentik. tak lupa juga bulu mata bagian bawah mata Cia disisir ke bawah.
Polesan Blush on di pipi serta listip berwarna pink menyentuh bibir kecil Cia.
Baby memang ahlinya dalam bagian memake up, apalagi dengan Cia yang memang memiliki wajah yang sudah cantik jadi Baby tak perlu banyak mengunakan banyak polesan di sana.
"Nah selesai," Ujar Baby menutup koper.
Cia terbelalak menatap wajahnya di cermin.
Apa ini?
...____****_____...
"Ini si Cia mana sih?" tanya Devan kesal sambil duduk di jok motor hitam.
Kali ini Devan tak lagi mengunakan motor merah tua milik dokter Yusuf yang selalu berteriak dan mengeluarkan asap setiap kali di nyalakan.
Devan tak mau jika teman-teman Cia menertawakan Cia hanya karena motor butut yang mereka tungangi ke acara ulang tahun.
Devan menatap wajahnya di kaca spion motor lalu melirik rambut belah tengahnya itu yang terlihat sangat berminyak, Devan mampu merasakan minyak yang mengalir di kulit kepalnya itu.
"Gila jelek banget," ujar Devan menatap wajahnya di kaca spion.
"Masa penampilan gue kayak gini?" komentar Devan lagi.
"Bos Ceo!!!" teriak dan panggil seseorang sambil berlari dari sebrang jalan melewati jalan beraspal yang nampak ramai.
Devan menoleh menatap Deon yang kini berlari sambil membawa sebuah kado berbentuk kotak berwarna merah.
"Bos... bos Ceo!" ujar Deon ngos-ngosan sambil menjulurkan kado itu.
"Ini isinya apa?" tanya Devan meraih kado itu.
"Kata si Adam isinya jilbab bos."
"Jilbab?" tanya Devan heran.
"Iya bos."
"Kok jilbab?"
"Kata Adam biar tobat orangnya bos."
Devan mengangguk lalu meletakkan kado itu ke dalam bagasi motornya.
"Bengkel masi aman kan, Deon?"
"Masih, bos."
"Montir-montirnya."
"Masih hidup, bos," jawab Deon lugu.
Devan menghembuskan nafas berat membuat Deon terheran.
"Kenapa bos?" tanya Deon.
"Maksud gue montir-montir nya masih aman? Masih ada semua?"
"Si Adam nggak ada bos."
"Si Adam ke mana?" Tatap Devan heran.
"Nggak tau bos, dia perginya sama si Haikal."
"Kok bisa pergi."
"Kan si Adam punya kaki bos," jawab Deon lugu.
Devan membuang nafas berat sambil mendecapkan bibirnya setelah mendengar jawaban dari Deon.
"Yah udah sana!"
"Saya pamit dulu, yah, bos."
"Em," sahut Devan.
Devan kembali duduk di jok motor besarnya menanti cia yang tak kunjung keluar rumah. Apakah selama ini jika perempuan sedang memakai make up .
Dasar betina!
"Van!" panggil seseorang dari belakang Devan.
Devan mengkerutkan alisnya ketika suara yang tak lazim itu terdengar memanggilnya, itu Cia.
Devan menoleh lalu menatap Cia yang kini melangkah ke arahnya membuat Devan terbelalak.